Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Sangkar Emas
Bab 16
“Ya mbak, aku udah sehat loh.” Aya merengek agar diizinkan kembali bekerja. Sudah satu minggu berada di rumah, mulai jenuh.
Andin masih sibuk mengaduk sop, hanya melirik sekilas lalu kembali fokus. Aya ikut bantu didapur, baru saja selesai cuci piring. Bibi baru selesai menjemur, ikut bergabung di dapur.
“Bik, teruskan ini. Kalau wortelnya udah matang, matikan apinya.”
“Iya, mbak.”
“Mbak, please mbak.” Aya mengekor langkah Andin ke dalam, sofa di depan tv.
Hari ini Andin shift malam, ia bisa memanfaatkan waktu dengan bermalasan dengan menonton drama.
“Kamu nggak jujur sama mbak, ada yang kamu sembunyikan. Di sini kamu tanggung jawab kami Aya, kalau kenapa-kenapa dengan kamu. Gimana?”
“Aku nggak sembunyikan apapun mbak.”
“Adit, dia temui kamu. Kenapa nggak cerita?”
Aya menghela nafas lalu mengedikan bahu. “Bukan hal yang penting juga, lagian urusan kami udah selesai.”
“Selesai menurut kamu, dia ke sini cari kamu Aya. Lalu Edward, kalian ada hubungan? Sejak kapan?”
Aya menunduk, perkenalan mereka belum genap satu bulan. Setelah medical cek up lalu Edward sering menemuinya di café dan terakhir insiden ia pingsan minggu lalu. Komunikasi masih intens meski sebatas telpon dan sesekali video call.
“Hubungan apa sih mbak, dia kan dokter aku.” Aya menunduk enggan menatap, belum siap mengatakan komunikasi mereka sangat baik. Edward kadang mengirimkan makanan, seringnya saat Andin tidak ada di rumah.
Om Edward suka aku mbak, aku juga kayaknya suka dia deh. Hanya terucap dalam hati, belum berani jujur. Belum saatnya.
“Mbak lihat loh, gimana dia perhatian sama kamu. Bukan perhatian dokter ke pasien, lebih dari itu. Dia panggil kamu Ay.”
“Biar gampang juga kali. Masa panggil aku lengkap Cahaya Sekar Janitra anaknya Romo Wira Janitra.”
“Serius, Aya. Adit punya pikiran yang sama dengan mbak, kamu dan dokter Edward ada sesuatu. Kalian seperti orang pacaran. Mbak nggak mau kamu susah, kalau romo tahu, gimana?”
“Aduh mbak, kalau romo peduli beliau sudah kemari dari kemarin-kemarin.”
“Dikasih tahunya ngeyel.”
“Boleh ya, aku besok kerja lagi,” rengek aya, memegang tangani Andin dan menggoyangkannya.
“Dokter Edward sering kemari?”
“Nggaklah, ngapain dia kemari. Paling Cuma nganter aku kemarin-kemarin. Eh.” Aya menutup mulutnya karena keceplosan.
“Tidak bisa dipercaya.”
***
Diah menatap sekeliling kamar. Duduk di tepi ranjang, kamar putrinya Cahaya. Foto dengan ukuran besar menempel di dinding, pose Aya tersenyum dengan lesung pipinya. Di bawah foto itu ada dua figura yang lebih kecil, foto wisuda Aya dan foto saat berseragam SMA.
Sudah kehilangan Andin dan sekarang ia akan kehilangan Aya. Karena keegoisan mereka sebagai orangtua. Wira masih keras dengan keinginannya menjodohkan Aya, berakhir gadis itu malah kabur.
“Sedang apa kamu di sini?”
“Kangen. Aku kangen Andin dan Cahaya,” sahut Diah lalu beranjak dari ranjang, melewati suaminya tanpa menoleh. “Entah kamu, mas.”
“Diah.”
Mengindahkan Wira dan keluar dari kamar Cahaya.
“Pantas saja anak-anak melawan, berontak seperti tidak dididik. Ibunya macam tidak punya attitude. Aku ini suami kamu, Diah. Bisa-bisanya kamu mengabaikan aku. Perempuan dipilih karena bibit, bobot dan bebetnya. Seharusnya kamu tekankan itu pada Andin dan Cahaya. Lihat mereka, sekarang kabur.” Wira menempati kursi di ujung meja makan, karena Diah sudah duluan di sana.
“Mereka tidak akan kabur, kalau mas tidak egois.” Diah memberi tanda pada asisten rumah tangga untuk menghidangkan makan siang.
“Bagian mana dari aku yang egois, Diah. Apa yang aku lakukan untuk kebaikan mereka. Jodoh yang aku siapkan demi masa depan mereka. Kamu tahu bagaimana hidup Andin di Jakarta? Melarat. Cahaya, ia kerja jadi pelayan café.”
Diah mendengus pelan meski raut wajahnya tetap berusaha sabar menahan emosinya.
“Bagi mereka pilihan itu mungkin lebih baik, dari pada di sini. Hidup bagai di dalam sangkar emas.”
Brak
Prank
Wira menggebrak meja lalu mengibaskan tangan menjatuhkan piring dan hidangan yang ada di depannya.
“Mas,” pekik Diah.
“Sangkar emas ini berhasil menghidupi kamu Diah. Sangkar emas ini memberikan kamu nama baik dan dihargai di masyarakat.” Wira bicara sambil berdiri dan menunjuk wajah Diah.”
“Generasi kita berbeda kang mas. Zaman sudah berubah. Harusnya kita menghargai prinsip hidup anak-anak,” jelas Diah masih dengan nada pelan dan lembut.
“Prinsip apa? Prinsip hidup melarat. Nama besar Janitra dan Waskita akan membuat bisnis kita semakin maju. Jangan sombong Diah, bisnis butik dan toko perhiasan keluargamu sukses karena kamu bagian dari Janitra."
Diah menghela nafasnya. Percuma bicara dengan Wira. Terlalu keras kepala.
“Kalau Andin patuh, sekarang ini dia sibuk mendampingi suaminya memimpin kabupaten Lihat sekarang, sudah berapa tahun dia menikah. Belum punya anak, tinggal di perumahan, jauh dari sangkar emas. Itu prinsip hidup yang kamu maksud.”
Wira beranjak meninggalkan istrinya.
“Aku masih yakin untuk menikahkan Cahaya dengan Adit!”
lhah2 langsung ijab Sah Pak Dudeeee😂😂😂
tapi bagus juga harus sombong di depan orang sombong 🤭
duh dah kaya mau demo aja🤭