Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 8
Langit sore menggantung pucat ketika mobil hitam itu berhenti sempurna di pelataran gedung utama. Bangunan tinggi dengan bergaya klasik- modern itu berdiri angkuh- simbol nama besar keluarga yang sudah dijaga turun-temurun.
Dipta keluar tanpa buru-buru. Setelan abu gelapnya rapi, langkahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih tajam dari seperti biasanya.
"Pak Dipta,"
Seorang sekretaris perempuan muda menghampiri dengan langkah cepat namun terukur. "Maaf mengganggu, tadi kami sudah mencoba menghubungi Bapak. Ada klien yang bersikeras ingin bertemu hari ini juga. Beliau sudah menunggu di ruang tamu utama."
Dipta menghentikan langkahnya tepat di depan lift privat. Ia menoleh sedikit, alisnya terangkat tipis.
"Nama?"
"Pak Bram, Pak."
Hening sejenak.
Tidak ada perubahan berarti pada ekspresi Dipta- tetap datar, tetap profesional. Namun dalam satu detik yang nyaris tak terlihat, sesuatu melintas di benaknya.
Ia mengangguk singkat.
"Siapkan ruang meeting."
Lift terbuka, dan ia masuk tanpa kata tambahan.
~
Ruang tamu utama di lantai eksekutif dipenuhi cahaya alami dari jendela kaca besar. Seorang pria tua duduk di sofa kulit, tongkat kayu bertumpu disampingnya. Rambutnya sebagian memutih, jasnya mahal, namun ada aura keras yang tak bisa disembunyikan dari cara ia menatap sekeliling seolah dunia harus tunduk pada keberadaannya.
Pintu terbuka.
Dipta memasuki ruang tamu tersebut.
Langkahnya mantap, bahunya tegak, kehadirannya langsung mengisi ruangan dengan wibawa yang tak perlu di umumkan. Ia tidak terburu-buru mengulurkan tangan. Ia hanya berdiri sejenak, menatap pria itu dengan tenang, seperti tengah mengukur, membaca.
"Pak Bram."
Suaranya rendah, halus, namun tegas.
Pria itu berdiri, tersenyum samar. "Akhirnya kita bertemu juga, Pak Dipta. Saya sudah banyak mendengar tentang anda."
Baru kali ini Dipta melangkah mendekat dan menjabat tangan itu- sekilas, cukup, tanpa basa-basi berlebihan.
"Duduklah."
Mereka mengambil tempat masing-masing.
Dan disitulah, dalam jarak beberapa meter, dalam pencahayaan yang tenang dan tak menyisakan bayangan- ingatannya muncul.
Sebuah toko dessert.
Parkiran yang cukup ramai.
Suara tamparan yang terlalu keras untuk diabaikan.
Wajah Laras yang menoleh, terkejut, pipinya memerah...
Dan pria di hadapannya sekaran, dengan sorot mata yang sama dinginnya.
Dipta tidak berubah posisi. Tidak pula mengerutkan dahi. Bahkan napasnya tetap stabil.
Seolah ia tidak mengenali apa pun.
"Jadi," ujarnya, menyilangkan jari-jarinya di atas meja kaca dengan gerakan santai namun terkontrol, "apa yang bisa perusahaan kami bantu, Pak Bram?"
Nada suaranya profesional. Bersih. Tanpa cela.
Tak ada emosi. Tak ada tuduhan.
Hanya seorang CEO yang sedang berbicara dengan klien penting.
Namun jauh dari balik ketenangan itu, ingatannya tidak pernah keliru. Matanya, yang terlihat tenang, sebenarnya sedang mengamati setiap gerak kecil di hadapannya.
Pak Bram menyandarkan punggungnya perlahan, ujung tongkatnya diketukkan ringan ke lantai marmer sekadar kebiasaan, atau mungkin sebagai penegasan kehadiran dirinya.
Dipta memberi isyarat halus. Seorang staf masuk membawa tablet dan beberapa berkas, lalu meletakkannya di atas meja sebelum menghilang tanpa suara.
"Perusahaan anda," ujar pak Bram, membuka percakapan dengan nada yang terdengar santai namun seperti tengah menilai, "sudah saya perhatikan. Desainnya berkelas. Tidak banyak yang bisa mempertahankan konsistensi seperti itu."
Dipta tidak langsung menanggapi. Ia menyentuh layar tablet, menampilkan portofolio proyek vila pribadi, hotel butik, hingga ruang eksekutif dengan sentuhan khas, garis tegas, material premium, dan detail yang tidak berisik namun mencolok dalam diam.
"Kami tidak mengejar kuantitas, Pak Bram," jawabnya akhirnya. Suaranya tenang, stabil. "Klien kami datang untuk identitas, bukan sekedar furnitur."
Pak Bram tersenyum tipis. "Bagus. Karena saya tidak tertarik pada sesuatu yang biasa."
Ia mengeluarkan sebuah map tipis dari tas kulitnya, lalu mendorongnya ke arah Dipta.
"Proyek residensial," lanjutnya. "Rumah utama keluarga saya. Saya ingin renovasi total... interior, furnitur, hingga detail terkecil. Saya tidak ingin ada kesan 'generik'. Saya ingin... karakter."
Dipta membuka map itu. Denah rumah lama terbentang, lengkap dengan catatan kasar. Rumah besar, bergaya klasik, dengan struktur yang kuat namun jelas membutuhkan sentuhan baru.
Matanya bergerak cepat, menangkap detail demi detail.
"Lokasinya?"
"Jakarta Selatan."
Dipta mengangguk kecil. Ia menutup map itu dengan rapi, lalu menyandarkan punggungnya, gesturnya menunjukkan ia sudah menangkap gambar besar.
"Bisa," ujarnya singkat.
Jawaban sederhana tapi penuh dengan kepastian.
Pak Bram menaikan alis kirinya, tampak tertarik.
"Anda tidak bertanya banyak."
"Karena saya tahu apa yang anda cari," balas Dipta tanpa ragu. "Klien seperti anda tidak datang untuk opsi. Anda datang untuk hasil."
Hening sesaat.
Lalu Pak Bram terkekeh pelan, jelas menikmati ketegasan itu.
"Percaya diri."
Dipta menatapnya lurus.
"Terukur."
Udara di antara mereka terasa lebih padat, bukan ketegangan, melainkan karena dua karakter kuat yang saling membaca tanpa perlu banyak kata.
Dipta kembali menggeser tablet, kali ini menampilkan beberapa konsep desain: perpaduan kayu solid, marmer Italia, aksen logam matte, dan pencahayaan hangat yang menonjolkan ruang tanpa berlebihan.
"Untuk proyek seperti ini," jelasnya. "Kami biasanya mulai dari story telling ruang. Siapa yang tinggal di sana, bagaimana mereka bergerak, apa yang ingin mereka rasakan setiap kali memasuki ruangan."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang tepat halus, "rumah bukan hanya tentang estetika. Tapi tentang...kendali."
Sekilas, hanya sekilas tatapan Pak Bram berubah. Seperti tengah mencerna setiap kata yang di ucapkan Dipta.
Seolah kalimat itu menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekedar desain.
Namun pria tua itu segera tersenyum lagi, menutupi apa pun yang sempat muncul.
"Saya suka cara anda berbicara, Pak Dipta."
Dipta menutup presentasinya perlahan. "Kamu kebun suka membuktikannya."
Ia memberi jeda singkat, lalu melanjutkan dengan nada profesional yang kembali di gin dan presisi, "tim saya akan melakukan site visit dalam dua hari. Setelah itu, kami ajukan konsep apa dalam satu Minggu. Jika anda setuju, proyek bisa langsung berjalan."
Pak Bram mengangguk. "Cepat."
"Kami menghargai waktu klien kami."
Senyum tipis kembali muncul dinaajah pria tua itu. "Baiklah. saya ingin melihat seberapa jauh anda bisa memenuhi ekspektasi saya."
Dipta berdiri dan diikuti oleh Pak Bram. pertemuan itu secara kasat mata berjalan sempurna. Profesional, efisiensi, bahkan menjanjikan kerja sama besar.
Sepeninggalan Pak Bram, ponsel milik Dipta bergetar halus. Ia merogohnya santai, layarnya menyala. Ada sebuah pesan yang membuat Dipta kembali menatap punggung Pak Bram yang semakin menjauh.
"Dipta, ini aku Laras. Aku menerima tawaranmu itu. Kami akan melakukan sidang pertama di Jakarta Minggu depan."
...****************...
Bersambung...
Hai, hai, hai!!! Jangan lupa komentarnya, dan please banget jangan loncat-loncat bab ya. Tolong bantu author pemula ini agar performa novelku baik, thank you 🫶 🥹 🫶 🫶