Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Langkah Carisa sempat tertahan di depan pintu gedung itu. Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, menatap pantulan dirinya di kaca, rapi, tenang, seolah tidak membawa apa-apa. Padahal dadanya penuh, sesak oleh hal-hal yang belum selesai. Ia menarik napas, lalu masuk.
Lobi terasa dingin. Terlalu bersih. Terlalu asing, meski tempat ini bukan pertama kali ia datangi. Suara langkahnya pelan, nyaris tenggelam di antara bunyi sepatu orang lain dan dengung pendingin ruangan. Ia menuju meja resepsionis, menyebut nama yang sudah terlalu lama ia simpan sendiri.
“Pak Reynanda ada?” suaranya terdengar stabil, walau jari-jarinya saling menggenggam di depan tubuhnya.
"Ada. Bu Carisa?" tanya resepsionis
"Iya."
"Silahkan, anda sudah di tunggu."
Setelah diarahkan, ia berjalan ke lift. Pintu tertutup, dan di dalam ruang sempit itu, semua yang tadi ia tahan mulai terasa lebih jelas. Jantungnya berdetak tidak teratur. Ia menatap angka yang terus berubah di atas pintu, berharap lantai tujuan datang lebih cepat atau justru berharap sebaliknya.
Saat pintu lift terbuka, langkahnya sempat ragu. Tapi ia tetap keluar.
Koridor kantor itu sunyi. Beberapa karyawan masih sibuk di meja masing-masing, tetapi tidak ada yang benar-benar ia lihat. Pandangannya lurus ke depan, ke satu pintu yang ia tahu tanpa perlu membaca nama di sana.
Tangannya terangkat, hendak mengetuk. Namun berhenti di udara. Untuk sesaat, ia hanya berdiri, menatap permukaan pintu itu seolah di baliknya ada sesuatu yang bisa mengubah segalanya atau menghancurkannya sekalian.
Akhirnya, ia mengetuk. Pelan.
“Masuk.”
Suara itu terdengar dari luar. Carisa membuka pintu.
Dan di sana, Reynanda berdiri di dekat meja kerjanya. Tatapannya langsung bertemu dengannya.
Ada jeda yang aneh, cukup untuk membuat napas Carisa terasa berat. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.
“Ada perlu apa kamu meminta kita bertemu?” katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan sekarang, tidak sekuat saat di lobi tadi.
Reynanda tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sana, memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit ia baca.
Carisa mengalihkan pandangannya sejenak, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia datang ke sini dengan banyak hal di kepala. Banyak kalimat yang ingin ia katakan.
Tapi sekarang, berdiri di depan Reynanda seperti ini, semuanya terasa kosong. Yang tersisa hanya satu pertanyaan yang menggantung di dadanya, apakah datang kesini sudah benar?
“Duduklah,” kata Nanda, menunjuk sofa tamu di ruangan itu.
“Tidak perlu. Aku tidak berniat lama di sini.”
Reynanda terdiam sebentar. “Kita tidak mungkin bicara sambil berdiri,” ujarnya, lalu berjalan mendekat ke arah Carisa.
Carisa otomatis melangkah mundur dua langkah.
“Aku lebih nyaman bicara begini,” katanya.
“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu duduk.”
Ia berhenti, menjaga jarak.
“Langsung saja. Apa yang mau kamu bicarakan?”
Reynanda menarik napas sejenak, lalu mengembuskannya perlahan sebelum bicara.
“Yuda tahu tentang kejadian kita di tangga darurat.”
Carisa mengernyit. “Tentang kita?” ulangnya pelan. Lalu ia menggeleng. “Bukan ‘kita’, Nanda. Kamu yang menyeretku ke sana.”
Reynanda tidak membantah. Ia hanya menatap Carisa sebelum berkata.
"Yuda menemuiku kemarin malam." Suaranya rendah. "Di sebuah cafe."
Carisa terkejut mendengarnya, tapi tidak menyela. Ia menunggu Reynanda melanjutkan.
"Dia memperingatkanku."
"Tentu saja." Carisa menjawab datar. "Itu yang wajar dilakukan seorang suami saat melihat istrinya di dekati pria lain."
"Carisa..."
"Lanjutkan! apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya." Ia memotong. "Aku yakin bukan sekedar itu saja yang ingin kamu katakan."
Reynanda menatapnya sebentar. Lalu berjalan ke jendela membelakangi Carisa, menatap kota di bawah yang bergerak tanpa peduli. "Aku ingin tanya satu hal."
“Tanyakan saja. Tanyakan semua yang ingin kamu tahu. Karena setelah ini, kita tidak akan punya kesempatan untuk bicara sesantai ini lagi.”
"Apakah kamu baik-baik saja?"
Carisa hampir tertawa. "Itu yang kamu ingin tanyakan?"
"Ya."
"Aku baik-baik saja, Nanda." Suaranya pelan tapi ada ujung yang tajam di dalamnya. "Aku baik-baik saja sejak lima tahun lalu. Aku baik-baik saja waktu keluar dari rumah sakit sendirian. Aku baik-baik saja waktu menikah. Aku selalu baik-baik saja."
Reynanda menoleh.
"Kamu tidak perlu berpura-pura."
"Berpura-pura?" Carisa menjawab dengan bertanya. "Tentu saja tidak, Nanda. Aku bahagia dan aku baik-baik saja."
Hening. Hujan di luar mulai rintik. Pelan. Seperti tidak yakin apakah akan turun sungguhan atau tidak.
"Aku masih memikirkanmu." Reynanda berkata tiba-tiba. Berjalan semakin mendekat dan menatap Carisa langsung. "Setiap hari. Sejak kamu masuk ke lobi kantor ini pertama kali. Sejak di Bandung. Sejak..."
"Nanda." Carisa menghentikannya. "Jangan membuat rumit."
"Aku hanya ingin jujur, Carisa."
"Kamu sudah jujur." Suaranya tidak naik. Justru turun. "Di lift. Di Bandung. Di tangga darurat itu. Kamu sudah sangat jujur." Ia menatapnya lurus. "Tapi kejujuranmu bukan sesuatu yang bisa aku terima. Bukan karena aku tidak mendengar. Tapi karena tidak ada gunanya."
Reynanda diam.
"Lima tahun lalu kamu pergi." Carisa melanjutkan. Kalimat itu keluar pelan. "Tanpa satu kata. Dan aku tidak tahu alasannya sampai sekarang."
Reynanda sempat membuka mulut, tetapi Carisa lebih dulu bicara.
“Kamu tidak ada saat aku benar-benar butuh kamu,” katanya. “Waktu aku di rumah sakit. Waktu aku di rumah sakit. Waktu aku kehilangan sesuatu… sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu ketahui.”
Reynanda mengerutkan dahinya. "Sesuatu apa?"
Carisa tidak menjawab.
"Carisa. Sesuatu apa?"
Ia menatapnya lama, dengan cara mengukur sesuatu yang hanya ia yang tahu timbangannya. Lalu menggeleng. "Tidak penting sekarang."
"Penting bagiku." kata Reynanda.
"Tapi tidak mengubah apa pun." Ia menarik napas. "Dengarkan aku, Nanda. Aku ke sini bukan untuk bertengkar. Bukan untuk membongkar masa lalu. Aku ke sini karena kamu mengajak dan karena aku ingin kamu mendengar satu hal dengan jelas."
Reynanda menunggu.
"Tidak ada yang tersisa." Kata Carisa akhirnya. "Di antara kita. Bukan karena aku membencimu, tapi karena terlalu banyak yang sudah hilang. Dan aku tidak akan berdiri di reruntuhan yang sama untuk kedua kalinya."
Reynanda menatapnya lama. Lalu tertawa kecil. Tawa yang keluar tanpa ia rencanakan. Tawa seseorang yang tidak terima kenyataan.
"Tidak ada yang tersisa." Ia mengulang kalimat itu pelan. Seperti menimbangnya. "Kamu yakin dengan itu?"
"Ya."
"Carisa." Ia melangkah semakin mendekat. "Aku di tangga darurat itu. Aku tahu apa yang aku rasakan. Dan aku juga tahu..." ia berhenti sebentar, "kamu tidak langsung mendorongku."
Carisa tidak menjawab. Ia menyadari kesalahannya itu.
"Walau hanya satu detik." Reynanda berkata pelan. "Mungkin hanya satu detik. Tapi kamu tidak langsung mendorongku."
"Itu bukan..."
"Bukan apa?" Suaranya tidak naik. Justru lebih rendah. Lebih berbahaya. "Bukan berarti apa-apa? Atau bukan sesuatu yang mau kamu akui?"
"Reynanda." Suara Carisa memperingatkan.
"Aku tidak menuduhmu." Ia mengangkat tangannya hendak menyentuh pipi Carisa. Tapi Carisa langsung mundur satu langkah. Membuat Reynanda menahan diri.
"Tidak ada yang terjadi di antara kita."
“Kita berciuman, Carisa.” Ia memotong. Nada suaranya datar, tapi matanya tidak. “Lima tahun mungkin mengubah banyak hal. Tapi tidak perasaan kita.”
Carisa menatapnya lama, lalu menggeleng tipis.
“Kamu yang memaksaku,” katanya pelan. "Bukan kita berciuman. Itu dua hal yang berbeda, Nanda.”
Reynanda terdiam. Untuk sesaat, wajahnya seperti kehilangan arah seolah tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari Carisa.
"Tapi aku yakin kamu masih mempunyai perasaan yang sama seperti yang aku rasakan." Kata Reynanda.
"Kamu sudah menikah, Nanda."
"Aku tahu."
"Kamu punya istri. Kamu punya anak."
"Aku tahu." Suaranya lebih pelan sekarang. Tapi tidak mundur.
"Lalu apa yang kamu mau?" Carisa akhirnya bertanya. "Kamu mau aku bilang apa? Bahwa aku masih merasakannya? Bahwa satu detik di tangga darurat itu membuktikan sesuatu?" Ia menatap Reynanda lurus. "Lalu apa, Nanda? Kita akan apa setelah itu?"
Reynanda membuka mulutnya. Menutupnya lagi.
"Tidak ada jawaban yang bagus untuk pertanyaan itu." Carisa melanjutkan. "Dan kamu tahu itu. Kamu selalu tahu itu." Ia menggenggam tasnya. "Itulah kenapa tidak ada yang tersisa. Bukan karena perasaannya tidak nyata. Tapi karena tidak ada tempat untuknya."
Reynanda memalingkan wajah ke jendela. Di luar, hujan semakin deras.
"Kamu terlalu mudah menyerah." Suaranya rendah. Hampir berbisik.
"Atau kamu terlalu keras kepala untuk menerima kenyataan." balas Carisa.
Reynanda menoleh. Matanya langsung menemukan mata Carisa dan di dalamnya ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Aku kehilangan kamu sekali." Suaranya retak di tepinya. "Aku tidak mau...."
"Kamu sudah kehilangan aku, Nanda." Carisa memotong pelan. "Lima tahun lalu. Saat kamu pergi tanpa pamit." lanjutnya. "Yang sekarang kamu coba pertahankan itu bukan aku. Itu bayangan yang kamu simpan sendiri selama lima tahun."
Reynanda tidak bergerak.
"Lepaskan bayangan itu." Carisa berjalan ke pintu. "Dan pulanglah ke istrimu."
"Kamu tidak penasaran?" tanya Reynanda akhirnya.
"Dengan apa?" Langkah Carisa terhenti.
"Bagaimana kalau dulu aku tidak pergi."
Carisa diam sebentar.
Dulu pertanyaan itu menghabiskan banyak malamnya. Dulu ia berbaring di ranjang rumah sakit dan membayangkan jawaban-jawabannya satu per satu seperti seseorang yang tidak punya hal lain untuk dilakukan selain menyiksa dirinya sendiri.
"Aku dulu sering memikirkan itu." Suaranya pelan.
"Dan sekarang?"
"Tidak lagi."
"Kenapa?"
Kali ini Carisa menatapnya langsung. "Karena pertanyaan itu tidak pernah menjawab apa pun. Yang terjadi biarlah terjadi. Berhentilah hidup di dalam andai-andai, Nanda. Itu tempat yang tidak baik untuk ditinggali terlalu lama." Ia berjalan ke pintu.
"Carisa."
Tangannya di gagang pintu. Tidak menoleh.
"Kalau suatu hari kamu berubah pikiran..."
"Tidak akan pernah." Pintu terbuka. Suaranya pelan, tapi tidak meninggalkan celah untuk apa pun. "Jaga istrimu baik-baik."
Pintu menutup di belakangnya. Carisa melangkah keluar dengan mantap, terus berjalan tanpa menoleh. Ia meninggalkan gedung itu, turun ke bawah langit yang sudah gelap oleh hujan.
Ia berhenti sejenak di bawah kanopi. Menarik napas dalam-dalam, mencoba merapikan sesuatu yang tadi sempat berantakan di dalam dadanya. Udara dingin masuk, perlahan menenangkan.
Pandangan Carisa terangkat ke langit.
“Sial… tiap ketemu dia, pasti hujan,” gumamnya pelan.
Ia mengusap wajahnya sekilas, lalu melangkah lagi menuju mobilnya.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak