NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kabut di Simpang Tiga dan Langkah yang Terhenti

Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, mengubah warna langit dari abu-abu mendung menjadi jingga keemasan yang muram. Di Kedai Simpang Tiga—sebuah warung sederhana yang telah lama menjadi semacam pos komando tak resmi bagi anak-anak SMA Bangsa—udara terasa lebih panas dari biasanya. Kepulan asap rokok mengudara, berbaur dengan aroma kopi hitam dan peluh para pemuda yang tengah dibakar oleh gelora permusuhan.

Seno, kawan karib Jenawa, tengah berdiri di atas sebuah bangku kayu, membeberkan rencana balasan dengan suara lantang. Beberapa anak kelas dua dan tiga mengangguk setuju, sesekali memukulkan telapak tangan ke meja sebagai bentuk afirmasi.

Di sudut kedai, Jenawa Adraw duduk bersandar pada dinding papan yang mulai lapuk. Lengan seragamnya masih tergulung rapi hingga siku, namun pikirannya mengembara jauh dari hiruk-pikuk di sekelilingnya. Kalimat demi kalimat yang diutarakan Sinaca di perpustakaan tadi siang terus menggema di rongga kepalanya.

“Kekerasan yang kalian banggakan itu bukanlah sebuah wujud kejantanan, melainkan pelarian dari ketidakmampuan berdialog secara beradab.”

Kata-kata itu tajam, menguliti ego yang selama ini ia bangun dengan susah payah di jalanan. Jenawa menatap kepalan tangannya sendiri. Selama ini, sepasang tangan itulah yang berbicara mewakili dirinya tatkala harga diri sekolah diusik. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa sangsi.

"Bagaimana, Wa? Kau akan memimpin di garis depan seperti biasa, bukan?"

Suara Seno memecah lamunan Jenawa. Semua mata di kedai itu kini tertuju padanya, menanti instruksi dari sang panglima jalanan.

Sebelum Jenawa sempat membuka suara, deru mesin sepeda motor yang memekakkan telinga terdengar dari arah utara. Suaranya menderu bersahut-sahutan, menandakan kedatangan kelompok dalam jumlah besar. Sontak, suasana kedai menjadi tegang. Anak-anak SMA Bangsa berhamburan keluar dari kedai, bersiap menyambut kedatangan seteru abadi mereka: anak-anak SMA Pelita.

Jenawa beranjak dari duduknya dengan tenang. Ia melangkah keluar kedai, memicingkan mata melawan silau matahari sore. Di ujung jalan, belasan sepeda motor yang ditunggangi oleh siswa berseragam serupa namun dengan lambang sekolah yang berbeda telah berhenti, memblokir separuh jalan raya. Provokasi berupa makian dan teriakan meremehkan mulai dilontarkan ke udara.

Seno dan barisan depan SMA Bangsa mulai terpancing, melangkah maju dengan urat leher yang menegang. Jenawa bersiap untuk ikut merangsek ke depan, namun ekor matanya menangkap sebuah pergerakan dari arah trotoar di seberang jalan.

Seorang gadis berjalan sendirian, memeluk dua buah buku tebal di dadanya. Langkahnya teratur, seragamnya rapi tak tercela, dan raut wajahnya tetap tenang meskipun ia tengah berjalan lurus menuju titik didih pertikaian antargeng.

Itu Sinaca Tina.

Jantung Jenawa berdegup satu ketukan lebih cepat. Jalanan yang tadinya merupakan medan pertempuran, kini di matanya berubah menjadi zona bahaya yang mengancam eksistensi gadis itu. Tanpa membuang waktu sedetik pun, dan tanpa memedulikan teriakan Seno yang memanggil namanya, Jenawa memisahkan diri dari barisan teman-temannya. Ia berlari membelah jalanan, menerobos jarak antara kedua kubu yang siap berbenturan.

Beberapa anak SMA Pelita yang melihat Jenawa maju sendirian mengira itu adalah sebuah tantangan. Namun, Jenawa mengabaikan mereka sepenuhnya. Ia terus berlari hingga tiba di hadapan Sinaca, menghentikan langkah gadis itu secara mendadak.

Sinaca mendongak, sedikit terkejut namun dengan cepat menguasai dirinya. "Saudara Jenawa? Ada gerangan apa Anda menghalangi jalan saya untuk pulang?"

"Apakah kau tidak memiliki mata untuk melihat situasi, Sinaca?" nada suara Jenawa sedikit meninggi, didorong oleh rasa cemas yang tak terjelaskan. "Jalanan ini sebentar lagi akan menjadi medan perkelahian. Putar balik dan cari jalan lain!"

Sinaca menatap kerumunan pemuda yang saling melempar makian tak jauh dari mereka, lalu kembali menatap mata Jenawa dengan tatapan yang sama teduhnya seperti di perpustakaan.

"Saya tinggal di ujung jalan ini. Mengapa saya harus memutar arah hanya karena sekumpulan pemuda tidak mampu menahan emosi mereka?" sahut Sinaca lugas. "Lagipula, bukankah tempat Anda seharusnya berada di sana, memimpin apa yang Anda sebut sebagai 'penjagaan kehormatan'?"

Jenawa terbungkam. Sinaca selalu memiliki cara untuk mengembalikan kata-katanya sendiri. Di belakang Jenawa, suara pecahan botol kaca terdengar menghantam aspal, menandakan bahwa bentrokan fisik telah dimulai.

Tanpa berpikir panjang, Jenawa meraih pergelangan tangan Sinaca. "Kali ini saja, turunkan keras kepalamu dan ikut aku."

"Lepaskan tangan saya," tegur Sinaca dengan nada dingin dan baku.

"Aku akan melepaskannya setelah kau berada di tempat yang aman," balas Jenawa tak kalah keras kepala.

Dengan sebelah tangan memegangi lengan Sinaca, Jenawa memosisikan tubuhnya sebagai perisai, melindungi gadis itu dari lemparan batu atau bahaya apa pun yang mungkin meleset dari arena pertikaian. Ia menuntun Sinaca menjauhi simpang tiga, masuk ke sebuah gang kecil yang lebih sunyi.

Di simpang tiga, Seno dan kawan-kawannya yang lain hanya bisa menatap punggung Jenawa dengan raut kebingungan yang luar biasa. Sang panglima telah meninggalkan medan perang, bukan karena gentar, melainkan untuk berjalan berdampingan dengan seorang gadis. Pada sore yang penuh amarah itu, sejarah baru di SMA Bangsa mulai tertulis, dan hati Jenawa telah memilih persimpangannya.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!