Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Dia Memanggil Namaku
📖 BAB 32: Saat Dia Memanggil Namaku
Jatuhnya tidak lama.
Namun cukup untuk membuat tubuh terasa remuk.
Qingyan menghantam permukaan keras, berguling dua kali, lalu berhenti di lantai beton dingin. Debu beterbangan. Bahunya nyeri, lututnya terbentur, napas tercekat.
Di sampingnya, Liora mendarat dengan lebih rapi—menekuk tubuh, berguling, lalu berdiri hampir seketika.
“Aku benci mengakuinya,” kata gadis itu sambil terengah, “kau jatuh seperti orang kaya.”
Qingyan mengaduh sambil bangun.
“Aku akan tersinggung nanti.”
Lampu redup menyala otomatis.
Mereka berada di ruang bawah tanah berbentuk lorong bundar. Dinding batu tua bertemu struktur logam baru. Tempat ini jelas direnovasi dari ruang bawah tanah lama menjadi fasilitas rahasia.
Di atas kepala, pintu jebakan sudah tertutup rapat.
Qingyan memukul panel besi.
“Bagus. Aku suka dikhianati di bangunan bersejarah.”
Liora menyandarkan tubuh ke dinding.
“Kau tetap datang.”
“Kau tetap tertangkap.”
“Aku sengaja.”
Qingyan menoleh tajam.
“Apa?”
---
Liora menghela napas.
“Aku biarkan diriku diambil supaya bisa masuk ke pusat operasi Vivienne.”
“Kau gila.”
“Terima kasih.”
“Bukan pujian.”
“Aku jarang dapat pujian.”
Qingyan menatap wajah gadis itu. Semakin lama, semakin banyak kemiripan kecil terlihat—cara menyipit saat kesal, garis rahang saat menahan emosi, kebiasaan menjawab tajam untuk menutupi gugup.
“Aku seharusnya marah.”
“Biasanya orang begitu.”
“Tapi aku terlalu lelah.”
Liora hampir tersenyum.
“Hm. Kita memang saudara.”
Qingyan membeku sesaat.
Lalu berkata pelan,
“Kau mengakuinya sekarang?”
Liora memalingkan wajah.
“Jangan buat momen aneh.”
---
Di atas sana terdengar ledakan samar.
Beichen.
Qingyan menoleh ke langit-langit seolah bisa melihat menembus beton.
“Dia marah.”
Liora mengangkat alis.
“Pria bermuka pemakaman itu?”
“Ya.”
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Orang seperti dia kalau marah, orang lain menderita.”
Qingyan tak membantah.
---
🔥 Di Atas Panggung – Teater Lama
Gu Beichen menembak lampu gantung terakhir.
Ruang teater gelap total, hanya diterangi percikan api dan alarm merah berkedip.
Dua anak buah Vivienne menyerbu dari kanan.
Ia menjatuhkan yang pertama dengan satu tembakan ke bahu, menghantam yang kedua ke kursi hingga pingsan.
Han bersembunyi di balik patung dekorasi.
“Saya ingin dicatat bahwa saya tidak dibangun untuk perang.”
Mira menendang satu pria dari balkon.
“Kita semua punya kekurangan.”
Xue melempar botol anggur ke kepala penjaga lain.
“Aku dibangun untuk drama.”
Beichen tak menanggapi siapa pun.
Tatapannya mencari satu hal saja:
jalan ke bawah tanah.
Vivienne berdiri di balkon atas dengan tenang, memandangi kekacauan seperti konduktor orkestra.
“Kau selalu terlalu mudah dipancing, Beichen.”
“Dan kau selalu terlalu hidup.”
Ia menaiki tangga dua anak tangga sekaligus.
Vivienne tersenyum.
“Masih melindungi wanita yang bukan milikmu?”
Ia berhenti sesaat.
Sangat singkat.
Namun cukup untuk membuat udara berubah berbahaya.
“Ulangi.”
Vivienne tertawa kecil.
“Ah. Jadi benar.”
---
⛓️ Lorong Bawah Tanah
Qingyan dan Liora bergerak menyusuri lorong.
Di ujung terdapat tiga pintu baja.
Satu bertanda ARCHIVE.
Satu bertanda MEDICAL.
Satu lagi tanpa nama.
“Vivienne menyimpan apa di sini?” tanya Qingyan.
“Rahasia, uang, trauma masa kecil,” jawab Liora.
“Kau selalu begini?”
“Lebih buruk kalau lapar.”
Qingyan membuka pintu ARCHIVE.
Rak-rak tinggi berisi kotak file, hard drive, dan dokumen lama.
Liora langsung menuju laci belakang.
“Aku datang ke sini untuk ini.”
Ia menarik map hitam tipis bertuliskan:
ELENA PROJECT – DUAL HEIRS
Jantung Qingyan berdebar.
“Dual Heirs?”
“Dua pewaris.”
“Untuk apa?”
Liora menatapnya.
“Untuk sesuatu yang semua orang mau tapi tak seorang pun bisa buka sendirian.”
“Jangan bicara seperti penjahat di film.”
“Aku dibesarkan Vivienne. Maaf kalau terpengaruh.”
---
Qingyan membuka map.
Di dalam ada foto laboratorium, simbol perusahaan lama, dan satu diagram genetik bercabang dua.
Di bawahnya tertulis:
Kunci Primer – Subjek Q
Kunci Sekunder – Subjek L
Aktivasi hanya valid jika dua garis darah hadir bersama
“Apa-apaan ini…”
Liora menggigit bibir.
“Elena dan beberapa orang dulu menyembunyikan aset besar. Teknologi, akun, data, entahlah. Yang pasti semuanya terkunci memakai identitas biologis kita.”
Qingyan menatapnya tak percaya.
“Jadi kita diciptakan untuk membuka brankas?”
“Kurang lebih.”
“Indah sekali. Aku merasa sangat manusiawi.”
---
Alarm baru berbunyi.
Bukan alarm kebakaran.
Alarm evakuasi.
Liora memucat.
“Itu buruk.”
“Seberapa buruk?”
“Vivienne mau meledakkan tempat ini.”
“Tentu saja.”
Mereka berlari keluar lorong.
Pintu tanpa nama tiba-tiba terbuka otomatis.
Di dalamnya lift tua menyala.
Qingyan menatap curiga.
“Ini jebakan?”
Liora mendengar langkah kaki mendekat dari ujung lorong.
“Kalau kita diam di sini, itu juga jebakan.”
Mereka masuk lift.
Pintu menutup.
Lift bergerak turun.
“Turun?” Qingyan menatap panel. “Kenapa turun?”
Liora mengumpat pelan.
“Karena Vivienne suka lapisan tambahan.”
---
🩸 Balkon Utama Teater
Beichen berhasil menangkap kerah Vivienne dan mendorongnya ke pagar balkon.
Di bawah, kursi-kursi terbakar kecil akibat percikan kabel.
“Di mana mereka.”
Vivienne tak panik sedikit pun.
“Kau sungguh mencintainya.”
“Pertanyaan terakhir.”
“Lucu. Elena pernah melihatmu saat kecil dan berkata kau akan jadi pria berbahaya.”
Mata Beichen berubah dingin.
“Di mana mereka.”
Vivienne menatap jam tangannya.
“Terlambat.”
Seluruh gedung bergetar.
Han berteriak dari bawah:
“Bom kedua aktif! Saya benci wanita tua kaya!”
Vivienne tersenyum puas.
“Ruang bawah akan banjir dalam tiga menit.”
Beichen melepasnya seketika dan berlari.
Untuk pertama kali dalam waktu lama, Vivienne tertawa sungguh-sungguh.
---
🌊 Tingkat Bawah Tanah Kedua
Lift terbuka ke ruang besar setengah gelap.
Bekas stasiun kereta bawah tanah tua yang diubah jadi gudang rahasia.
Pipa besar memenuhi langit-langit.
Air mulai menyembur dari beberapa sisi.
“Dia mau menenggelamkan kita?” tanya Qingyan.
“Ya.”
“Kenapa semua orang di hidupku dramatis?”
“Genetik mungkin.”
Mereka berlari menyeberangi platform tua.
Di sisi lain ada pintu besi bertanda EXIT.
Namun lima pria bersenjata sudah menunggu.
Pemimpin mereka tersenyum tipis.
“Nona Liora. Nyonya Moreau meminta kalian tetap tinggal.”
Qingyan mengangkat tangan kosong.
“Boleh saya menolak?”
“Tidak.”
“Sayang.”
Pria itu maju.
Sebelum sempat tiga langkah, tembakan memecah ruangan.
Peluru mengenai lampu di atas kepala mereka.
Gelap total sesaat.
Lalu suara langkah cepat.
Jeritan.
Benturan.
Tubuh jatuh ke air.
Ketika lampu darurat menyala merah—
Gu Beichen berdiri di antara mereka dan lima pria itu.
Dua sudah tumbang.
Tiga lainnya ragu untuk hidup.
Qingyan menatapnya.
“Kau selalu berlebihan.”
Ia tak menoleh.
“Aku sedang suasana buruk.”
Liora bersiul kecil.
“Sekarang aku mengerti.”
---
Air naik semakin cepat.
Beichen menembak kunci pintu EXIT.
“Buka!”
Mereka bertiga mendorong pintu besi bersama.
Macet.
Air sudah setinggi betis.
Han terdengar di speaker darurat entah dari mana:
“Saya berhasil ambil kontrol sebagian sistem! Kabar baik: kalian dekat jalan keluar! Kabar buruk: kalian juga dekat ledakan!”
“Han!” bentak Qingyan. “Fokus!”
“Saya sedang fokus panik!”
Beichen menendang engsel pintu.
Sekali.
Dua kali.
Ketiga kali, pintu terbuka.
Mereka berlari ke terowongan sempit.
Di belakang, suara ledakan mengguncang ruang bawah tanah.
Gelombang air menerjang seperti monster.
Beichen mendorong Qingyan dan Liora ke depan.
“Lari!”
Mereka berlari sekuat tenaga.
Terowongan menanjak.
Cahaya terlihat di ujung.
Qingyan menoleh.
Beichen masih di belakang—tertahan reruntuhan logam yang jatuh menutup jalur.
“BEICHEN!”
Ia menahan rangka baja dengan kedua tangan, air menghantam pinggangnya.
“Pergi dulu!”
“Aku tidak—”
“SEKARANG!”
Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, dunia hanya dua orang itu.
Lalu Qingyan berbalik, menarik Liora menuju cahaya.
Dan di belakang mereka, suara runtuhan besar menelan lorong.
BERSAMBUNG