NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RINTANGAN MISTERIUS DAPAT DI PECAHKAN

Debu beterbangan memenuhi jalan setapak sempit itu. Tanah terasa bergetar hebat seolah ada gempa kecil. Matahari yang tadi bersinar terang seketika tertutup oleh bayangan benda besar yang jatuh tepat di tengah jalan, memblokir jalan pulang mereka sepenuhnya.

"Awas!" teriak Genpo seraya menarik tangan Deon mundur beberapa langkah untuk menghindari serpihan batu yang melenting.

Deon Key segera memasang kuda-kuda, matanya yang tajam langsung mengamati objek tersebut. Rasa kesal karena dimaki tadi seketika lenyap, digantikan oleh rasa penasaran ilmiah yang memuncak.

"Itu... batuan besar?" gumam Deon, matanya menyipit menembus kabut debu.

Saat debu perlahan mereda, terlihatlah jelas apa yang menghalangi jalan mereka. Itu bukan batu biasa, melainkan sebuah bongkahan batu raksasa yang bentuknya tidak beraturan, namun permukaannya mengkilap dan memiliki garis-garis lapisan yang sangat indah. Ukurannya begitu besar hingga setinggi dua orang dewasa dan lebarnya menutupi seluruh jalan setapak.

 

Sudut Pandang Deon Key

Aneh sekali.

Aku melangkah maju selangkah, mengabaikan peringatan Kakek. Jari-jariku gatal ingin menyentuh dan memeriksa.

Secara geologi, jenis batuan ini tidak seharusnya ada di area jalur pegunungan ini. Teksturnya padat, berat jenisnya tinggi, dan ada kilauan kristal mikro di dalamnya. Tapi yang paling aneh... batu ini tidak terlihat seperti baru longsor. Tepi-tepinya terlalu rapi, seolah-olah... sengaja diletakkan di sini?

"Kek," panggilku pelan. "Batu ini tidak jatuh karena longsor. Lihat posisinya, dia mendarat sempurna menghalangi jalan. Ini... sepertinya sengaja ditaruh di sini buat menghadang kita."

"Maksudmu?" Genpo masih waspada, tangannya memegang gagang kapak kecil yang terselip di pinggang.

"Maksudku, ada yang nggak beres. Atau mungkin..." Mataku tertuju pada satu titik di sisi batu itu. "Atau mungkin ini bukan sekadar batu penghalang."

Aku berjalan mendekat, menyentuh permukaan batu yang dingin dan keras. Tanganku menelusuri garis-garis alami itu. Dan tiba-tiba, jemariku menyentuh bagian yang agak cekung. Ada pola... pola yang sangat familiar.

"Kakek... lihat ini!"

Genpo segera mendekat. Wajah tua itu seketika berubah pucat pasi.

Di permukaan batu yang besar itu, tertanam sebuah simbol yang terukir sangat halus, hampir menyatu dengan bebatuan.

Sebuah gambar pohon dengan akar yang menjalar ke bawah dan ranting yang melebar ke atas.

Simbol Beringin.

Sama persis dengan batu kecil yang ada di halaman kuil kami!

 

Sudut Pandang Kakek Genpo

Dunya... ini tidak mungkin.

Tanganku gemetar hebat saat menyentuh ukiran itu. Selama 15 tahun aku merawat kuil itu, aku tahu betul simbol itu adalah tanda kesucian dan perlindungan. Tapi apa artinya simbol itu ada di sini, di tengah hutan, di atas batu raksasa yang tiba-tiba muncul?

"Deon... mundur," bisikku dengan suara parau. "Ini bukan urusan kita lagi. Ini urusan yang jauh lebih besar."

"Tapi Kek! Ini bukti! Kuil kita bukan sembarang tempat! Simbol ini sama persis! Berarti ada hubungan antara kuil kita dengan..."

"DIAM DEON!" tegurku keras. Aku melihat sekeliling dengan cemas. "Kita tidak tahu siapa yang menaruh ini. Mungkin ini perangkap. Mungkin ini pesan supaya kita tidak ikut campur urusan tertentu."

Pikiranku langsung melayang ke percakapan tadi di toko Eyrod. Batu Giok Zamrud 3 kg... Klan Awan... Nona Prizeyl yang galak...

Jangan-jangan... batu raksasa ini ada hubungannya dengan semua itu?

 

Deon tidak peduli dengan ketakutanku. Otak jeniusnya bekerja jauh lebih cepat daripada rasa takutnya. Dia mengelilingi batu itu, menghitung sudut, menimbang-nimbang beratnya hanya dari melihat kerutan tanah.

"Kek... coba lihat bagian bawahnya," kata Deon dengan nada serius. "Batu ini bukan batuan alam murni. Ini adalah... kulit luar. Di dalamnya ada rongga."

"Apa yang kamu omongkan?"

"Lihat pantulan cahayanya," Deon menunjuk ke satu titik yang retak tipis. "Ada kilauan hijau di dalam sana. Sangat samar, tapi aku yakin..."

Deon mengambil sebuah batu kerikil kecil, lalu meletakkannya di celah retakan itu, dan dengan sedikit tekanan terhitung...

KRAKK!

Sebagian kecil lapisan luar batu itu pecah dan terlepas.

Dan di sana, terlihat jelas bagian dalamnya.

Bukan bebatuan abu-abu.

Melainkan permata hijau yang memancarkan cahaya lembut namun mempesona di bawah sinar matahari sore. Warnanya hijau tua pekat, bening, dan memiliki serat alami yang sangat indah.

Mata Kakek Genpo terbelalak sampai hampir keluar dari tempatnya. Mulutnya terbuka lebar, tidak bisa mengeluarkan suara.

"Itu..." Genpo menelan ludah dengan susah payah. "Itu warnanya... sama persis seperti yang Eyrod ceritakan."

"Giok Zamrud..." lanjut Deon, napasnya tertahan. "Tapi ini bukan potongan kecil Kek. Ini..."

Deon menatap batu raksasa itu dengan pandangan tak percaya.

"Kulit luarnya hanya batu pelapis biasa untuk menyamarkan. Yang di dalam... ini adalah Bongkahan Giok Zamrud murni! Dan ukurannya... Kakek, bobotnya pasti bukan kiloan lagi..."

"Terus berapa?" tanya Genpo nyaris berbisik.

"Satuannya... PULUHAN KILOGRAM!" seru Deon. "Bahkan mungkin lebih dari satu ton! Ini adalah induk dari semua batu permata!"

Dunia seakan berhenti berputar.

Mereka pikir batu 3 kg di pasar itu sudah luar biasa. Ternyata... yang ada di depan mata mereka sekarang adalah raksasa yang sesungguhnya!

"Tapi kenapa simbol Beringin ada di sini?" gumam Deon bingung. "Kenapa batu ini menghadang jalan kita?"

Genpo langsung menarik tangan Deon dengan kuat, wajahnya panik setengah mati.

"Sudah cukup Deon! Jangan disentuh! Jangan dilihat lagi!"

"Kenapa Kek? Ini penemuan terbesar sepanjang sejarah! Kita bisa..."

"GILA KAMU?!" Genpo memotong kata-kata cucunya dengan suara gemetar. "Kamu lihat simbol itu kan? Itu artinya batu ini milik tempat kita! Milik kuil itu! Dan sekarang... batu ini sengaja ditaruh di sini untuk menguji kita, atau untuk melindungi sesuatu!"

Mata Genpo menatap tajam ke arah Kota Alengka yang mulai tertutup kabut sore.

"Kalau Klan Awan atau klan lain tahu ada batu sebesar ini... perang bakal meletus! Darah akan mengalir! Kita pulang sekarang! Pura-pura tidak tahu apa-apa! Jangan pernah cerita pada siapa pun, termasuk Eyrod! Mengerti?!"

Deon masih terpaku menatap kilauan hijau misterius itu. Rasanya otaknya berputar kencang mencoba menyusun teka-teki ini. Kuil Beringin... Simbol... Giok Zamrud Raksasa... dan Klan Awan yang sedang mencarinya.

"Iya... Deon mengerti," jawab Deon pelan, namun matanya tak lepas dari batu itu. "Tapi Kek..."

"Apa lagi?"

"Kalau batu sebesar ini ada di sini... berarti di dalam kuil kita, mungkin ada lebih banyak lagi kan?"

Genpo terdiam. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!