Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keluarga yang mengahancurkan
Arumi mencoba merayu pria penjual bakso bakar ,karena hanya dia harapan satu satunya ,orang yang bisa menolongnya saat ini,"Mas tolong saya ,mau ya mas menjadi calon suami saya? ." Kembali Arumi dengan penuh permohonan
Pria itu meletakkan capitan baksonya. Ia menatap Arumi lekat-lekat, seolah sedang mencari tanda-tanda gangguan jiwa atau pengaruh obat-obatan di mata gadis itu. Namun, yang ia temukan hanyalah binar keputusasaan yang begitu dalam, dibalut dengan sisa air mata yang mulai mengering.
"Mbak, saya ini jualan bakso, bukan jualan jasa sewa suami," jawab pria itu dengan nada bicara yang masih tenang, meski keningnya berkerut heran. "Menikah itu bukan seperti beli bakso dua puluh ribu langsung dibungkus, Mbak. Ini urusan seumur hidup."
"Aku serius, Mas!" Arumi berdiri dari kursi taman, melangkah mendekati gerobak motor itu hingga aroma asap arang dan bumbu kacang menusuk indranya.
"Namaku Arumi. Aku tidak sedang gila, tidak sedang mabuk, dan aku benar-benar butuh bantuanmu sekarang juga. Ayahku ... dia akan menjualku pada seorang rentenir tua kalau aku tidak membawa calon suami malam ini."
Pria itu terdiam. Ia membuka topinya sebentar, mengusap rambutnya yang sedikit berantakan karena peluh, lalu memakainya kembali. "Rentenir?
Arumi mengangguk cepat."Iya mas Tolong aku, Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa meminta tolong pada sahabat-sahabatku karena mereka sudah berkeluarga. Hanya Mas yang saat ini ada di depanku. Mas bilang tadi tidak ada yang mau dengan Mas karena Mas miskin, kan? Aku mau! Aku tidak peduli Mas jualan bakso atau apa pun, asalkan Mas mau membantuku keluar dari neraka ini."
Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya sebuah jam tangan yang tampak terlalu kokoh dan elegan untuk seorang pedagang kaki lima, namun Arumi terlalu kalut untuk menyadarinya.
"Waktunya tinggal sedikit lagi, Mbak. Apa Mbak yakin orang tua Mbak akan menerima saya? Saya cuma punya motor tua ini dan gerobak bakso," tanya pria itu dengan nada menantang.
"Harus yakin! Ayah bilang siapa pun pilihanku, asalkan aku membawa calon suami sendiri. Ayo, Mas. Tolong aku ..."
Sementara itu di kediaman pak Rahmat (ayah Arumi ), suasana di rumah besar peninggalan almarhumah ibu Arumi terasa sangat mencekam. Jarum jam dinding yang berdetak di ruang tamu seolah menjadi lonceng kematian bagi kebebasan Arumi.
Pak Rahmad duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah gelisah. Di depannya, sudah tersaji kopi hangat dan aneka penganan yang disiapkan oleh istrinya, Lastri.
"Sudah jam berapa ini, Pak?" tanya Lastri sambil mengelus bahu suaminya. "Arumi belum pulang juga. Aku yakin dia tidak akan bisa membawa siapa-siapa. Anak itu kan antisosial, teman laki-lakinya cuma itu-itu saja dan semuanya sudah menikah."
"Iya, Yah," sahut Rina, kakak tiri Arumi yang sedang asyik memoles kuku jarinya dengan cat merah darah. "Arumi itu cuma gertak sambal. Dia mana berani menentang Ayah. Lebih baik Ayah telepon Juragan Dirga sekarang, beri tahu dia kalau Arumi sudah siap. Lumayan kan, Yah, kalau utang Ayah lunas, kita juga bisa kecipratan sisa maharnya."
Pak Rahmad menghela napas berat. Ada sedikit rasa bersalah di lubuk hatinya, namun ego dan tumpukan utang judi serta kegagalan bisnisnya telah menumpulkan rasa kemanusiaannya
"Aku hanya ingin keluarga ini selamat, Rin," dalih Pak Rahmad. "Juragan Dirga itu kaya raya. Meskipun dia sudah tua dan ... yah, agak kurang tampan, tapi Arumi akan hidup terjamin. Dia tidak perlu susah-susah mencari kerja."
"Tapi Pak, bagaimana kalau Arumi benar-benar membawa laki-laki?" tanya Lastri dengan nada sinis. "Kita harus pastikan laki-laki itu tidak lebih kaya dari Juragan Dirga. Kalau dia cuma gelandangan atau orang miskin,kita punya alasan untuk menolaknya mentah-mentah
"Itu tidak mungkin,aku hafal bener siapa Arumi dia anak yang penurut."
"Pak,jadi benar juragan Dirga akan datang malam ini,untuk melamar dan juga menikahi Arumi ?"
"Iya,sebentar lagi mereka juga akan sampai ."
"Tapi bagaimana nanti Kalau Arumi membelot,dan tidak mau menikah dengan juragan Dirga,nanti kita yang akan repot sendiri."
"Itu tidak akan terjadi Bu,dia tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan kita. "
"Dengan Arumi menikah dengan juragan Dirga,hutang - hutang kita akan lunas."
"Ini juga gara - gara ibu?"
"kok gara -gara aku." Bu Lastri memprotes tidak terima .
"Kalau bukan karena ibu berhutang banyak pada rentenir,kira tidak akan terjerat hutang seperti ini ."
"jadi Bapak menyalahkan ibu ?"
"Bukan begitu.Tapi ...aku sebenarnya merasa kasihan kalau Arumi harus menikah dengan juragan Dirga,dia masih muda ,dia pasti masih punya cita -cita untuk masa depannya ."
"Jadi Bapak berubah fikiran ,ingat pak ,kita sudah menyetujui pernikahan juragan Dirga dan Arumi ,kalau kita tiba- tiba membatalkan semua ,dia pasti marah ."
"Iya,Yah ,kalau sampai ayah membatalkan pernikahan Arumi dan juragan Dirga ,juragan Dirga akan marah,dan pasti akan meminta kita melunasi semua hutang kita."
"Benar itu,yang dikatakan Rina ,apa bapak mau tiap hari kita tidak bisa tenang ,karena tiap hari di kejar - kejar penagih hutang?"
"Rin,bagaimana hubunganmu dengan pacar kamu itu?" pak Rahmad mencoba mengalihkan pembicaraan .
"Baik yah,dia sangat baik ,dia juga memberiku jabatan dan juga brang - barang yang mahal."
"kapan ia akan melamarmu?"
"Nanti yah,sekarang kita lagi banyak pekerjaan,jadi masalah itu kita tunda dulu."
"Sesibuk apa,sampai menunda masalah penting seperti ini ?"
"Pak,pacarnya Rina itu bukan orang biasa,dia itu punya jabatan tinggi di perusahan besar.jadi wajar dia dan Rina sangat sibuk dan tidak sempat membicarakan hal itu ,Rina,tidak seperti Arumi,Arumi tidak punya pacar ,dan di kantor hanya jadi staf bawahan saja,dan tidak ada pejabat yang mau sama dia.
Pak Rahmad nampak terdiam.tak lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah mereka .
"Yah itu sepertinya juragan Dirga dan rombongan sudah datang." teriak Rina setelah melihat dari jendela rumah mereka.
Pak Rahmad dan Bu Lastri nampak panik " Aduh ini gimana pak,Arumi belum siap lagi,bapak sih membiarkan Arumi keluar dan memberi waktu ia berfikir."
"Ya sudah,Rin kamu bukain pintu dulu."
"Aku yah?"
"Iya,kamu ?"
"Nggak lah,aku mau istirahat capek ,Aku juga nggak mau ketemu sama juragan Dirga,aku takut,Aku juga nggak mau terlibat urusan ini." Rani segara berjalan menjauh dari pintu.
"Ran kamu mau kemana?"
"Aku mau kekamar,aku nggak mau terlibat,aku takut,pak Dirga dan orang orangnya galak ." Rani segera berlari menuju kamarnya dilantai dua.
Tidak lama terdengar ketukan pintu
"Sudah Bu,bukain pintunya dulu,nanti juragan Dirga keburu marah."
"Tapi gimana pak? Arumi belum ada."
"Itu,nanti bapak yang ngomong."
"Eh Juragan,sudah datang." Bu Lastri dengan senyum munafiknya menyambut kedatangan Juragan Dirga
"Hmm.sepi? Mana Arumi? Dia sudah siap ?"