NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Tempat yang Ditentukan

Pagi itu, halaman utama Akademi Kerajaan Averion dipenuhi oleh para peserta yang telah lolos seleksi.

Langit cerah.

Namun suasananya tidak hangat.

Justru terasa seperti tekanan halus yang menggantung di udara.

Seolah setiap anak yang berdiri di sana sudah memahami satu hal

hari ini, mereka tidak lagi dipandang sama.

Di tengah halaman berdiri sebuah papan besar.

Nama-nama terukir rapi di atasnya.

Bukan sekadar daftar.

Tapi penentuan posisi.

Siapa yang dihormati.

Siapa yang diabaikan.

Dan siapa yang hanya “cukup untuk bertahan”.

Seorang pengawas melangkah maju.

“Perhatikan baik-baik,” ucapnya tegas.

“Pembagian kelas di Akademi Kerajaan Averion tidak hanya berdasarkan hasil seleksi.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi juga potensi, stabilitas mana, dan prediksi perkembangan.”

Bisik-bisik kecil langsung muncul di antara peserta.

“Di akademi ini,” lanjutnya,

“tidak semua orang akan diperlakukan sama.”

“Yang kuat akan naik.”

“Yang lemah akan tertinggal.”

“Dan yang tidak berkembang… akan tersingkir.”

Sakura berdiri di pinggir kerumunan.

Tidak mendekat lebih dulu.

Matanya hanya mengikuti papan itu dari kejauhan.

Bukan karena takut.

Tapi karena ia sudah terbiasa tidak mengharapkan banyak hal dari sistem seperti ini.

Namun pada akhirnya, ia tetap melangkah.

Pelan.

Tenang.

Matanya menyusuri nama-nama di papan.

Satu per satu.

Lalu berhenti.

Kelas C — Sakura

Sederhana.

Tanpa gelar.

Tanpa catatan khusus.

Seolah keberadaannya hanya cukup untuk “diterima”, bukan untuk dihargai.

Sakura diam.

Tidak tersenyum.

Tidak menunduk.

Tapi jari-jarinya sedikit menegang.

Bukan marah.

Lebih seperti menerima sesuatu yang sudah ia duga sejak awal.

Suara di sekitarnya mulai muncul.

“Dia itu yang tidak punya sihir, kan?”

“Kenapa masih ada di sini?”

“Kenapa tidak dikeluarkan saja?”

Sakura menutup telinganya secara tidak sadar—lalu berhenti.

Ia menarik napas kecil.

“Setidaknya aku masih di sini,” gumamnya pelan.

Bukan kemenangan.

Tapi pengakuan kecil bahwa ia belum kalah.

Di bagian atas papan

sebuah nama bersinar jelas.

Kelas A — Putri Mahkota Claudia

Tidak ada yang mempertanyakan itu.

Tidak ada yang terkejut.

Seolah posisi itu bukan hasil seleksi…

tapi sesuatu yang sudah ditentukan sejak ia lahir.

Claudia berdiri tidak jauh dari papan.

Posturnya tegak.

Tenang.

Dan tidak terburu-buru.

Ia tidak perlu membaca namanya.

Ia sudah tahu di mana posisinya.

Di sampingnya berdiri dua gadis bangsawan.

Yang pertama berbicara lebih dulu.

“Seperti yang diharapkan, Putri Mahkota,” ucap Fuko dengan nada datar.

Rambut peraknya berkilau di bawah cahaya pagi.

“Kelas A memang tempat yang seharusnya Anda tempati.”

Claudia tidak menjawab langsung.

Ia hanya mengalihkan pandangan sedikit.

Gadis kedua, Yuki, tersenyum kecil.

“Elemen Cahaya yang stabil dan kuat… benar-benar cocok untuk posisi teratas.”

Nada suaranya lembut.

Namun matanya lebih tajam dari itu.

Seperti sedang menilai sesuatu di kejauhan.

Tatapan Yuki perlahan bergeser.

Menuju Sakura.

“Aku tidak merasakan mana darinya,” ucapnya pelan.

Fuko langsung menanggapi.

“Karena dia memang tidak memilikinya.”

Nada itu tegas.

Tidak membuka ruang untuk kemungkinan lain.

Yuki tidak langsung setuju.

“Namun…”

Ia sedikit memiringkan kepala.

“Dia tetap berdiri di sini.” ucapnya polos

Kalimat itu sederhana.

Tapi terdengar seperti pertanyaan yang belum selesai.

Claudia akhirnya berbicara.

“Dia tidak kuat.”

Suaranya tenang.

“Namun dia juga… tidak biasa.”

Ia sendiri tidak yakin kenapa kalimat itu keluar.

Tapi ia mengucapkannya.

🔹 Kelas C

Sakura memasuki ruang kelasnya.

Ruangan itu sederhana.

Dinding polos.

Meja kayu tanpa ukiran.

Tidak ada simbol kehormatan.

Tidak ada aura elit.

Hanya tempat bagi mereka yang dianggap “cukup”.

Beberapa siswa sudah duduk.

Wajah mereka tidak puas.

“Aku seharusnya di kelas B…”

“Ini pasti kesalahan…”

“Kenapa aku di sini?”

Keluhan terdengar pelan tapi terus berulang.

Sakura memilih duduk di pojok belakang.

Tempat yang tidak menarik perhatian.

Tapi cukup untuk melihat semuanya.

Pintu terbuka.

Seorang instruktur masuk.

Langkahnya berat.

Tatapannya tajam.

Tanpa basa-basi.

“Kalian adalah Kelas C,” ucapnya.

“Artinya kalian belum cukup kuat.”

Ia berhenti di depan kelas.

“Di Akademi Kerajaan Averion, kekuatan ditentukan oleh mana, kontrol, dan adaptasi.”

Ia menunjuk satu siswa.

“Api serangan kuat tapi tidak stabil.”

Siswa lain.

“Angin cepat, tapi sulit dikendalikan.”

Lalu tatapannya berhenti di Sakura.

“Dan kau…”

Nada suaranya lebih dingin.

“…tidak memiliki semuanya itu.”

Beberapa siswa tertawa kecil.

Sakura merasakan itu.

Tapi ia tidak bereaksi.

Ia hanya menatap instruktur itu.

“Aku tetap lulus,” ucap Sakura tenang.

Instruktur berhenti.

Menatapnya lebih lama.

Lalu berkata pelan,

“Kalau begitu… aku ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan di sini.”

🔹 Kelas A

Di sisi lain Akademi

ruangan jauh lebih terang.

Lebih luas.

Lebih tenang.

Seolah dunia berbeda.

Claudia duduk di tengah.

Fuko dan Yuki di dekatnya.

Instruktur berdiri di depan.

“Kalian di sini adalah yang terpilih.”

“Bukan hanya karena mana kalian kuat.”

“Tapi karena potensi kalian untuk menjadi masa depan kerajaan.”

Fuko mengangguk kecil.

Yuki mendengarkan dengan tenang.

Namun matanya masih sesekali melirik ke arah pintu.

“Namun ingat,” lanjut instruktur,

“tanpa mana yang stabil… tidak ada masa depan di dunia ini.”

Yuki mengangkat tangan sedikit.

“Kalau seseorang tidak memiliki mana sama sekali…”

“Apa dia masih bisa bertahan di Akademi ini?”

Instruktur menjawab tanpa ragu.

“Tidak.”

Sunyi.

Claudia tidak berbicara.

Tapi pikirannya tidak ada di ruangan itu.

Ia mengingat sesuatu.

Kristal seleksi.

Getaran kecil yang hampir tidak terlihat.

“Kalau dia benar-benar tidak punya mana…”

Tatapan Claudia sedikit mengeras.

“…kenapa aku merasa itu bukan keseluruhan dirinya?”

Di kelas C, Sakura duduk diam.

Di kelas A, Claudia duduk di tempatnya.

Dua dunia.

Dua jalan.

Satu Akademi.

Dan tanpa mereka sadari

ini baru awal dari sistem yang tidak pernah benar-benar adil sejak awal.

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!