Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Dorothy & Cicil
"CHAAAAA!!!"
"DORIIII!!!"
Teriak mereka berdua menyatu di tengah pusaran angin hitam yang menderu kencang. Tubuh mereka terlempar tak berdaya, terpisah jauh di dalam lorong cahaya yang menakutkan.
Dori merentangkan tangan sekuat tenaga, matanya memburu sosok hijau yang mulai kabur.
"Jangan ... jangan pisahin kita lagi! Aku baru aja dapet dia balik!" batinnya berteriak putus asa, air matanya terbang terbawa angin.
"PEGANG TANGANKU DOROTHY!! JANGAN LEPASKAN!!"
Suara Matcha terdengar samar tapi sangat memelas. Ia juga berusaha meraih tangan Dori dengan putus asa.
Akhirnya ... jari pun mereka bersentuhan!
Ceprat!
Dengan sisa tenaga yang ada, mereka saling menggenggam erat. Sekuat mungkin, genggaman itu adalah satu-satunya harapan untuk tetap hidup.
Mereka saling tarik, lalu bertabrakan dalam pelukan erat. Dori memeluk pinggangnya, Matcha menangkup kepala Dori, menempelkan pipinya di ubun-ubun gadis itu.
"Jangan takut ... aku di sini... aku gak bakal lepasin kamu lagi..." bisik Matcha gemetar, suaranya bergetar hebat.
"Aku takut Cha... kita mau dibawa kemana? Jangan tinggalin aku..." isak Dori membenamkan wajah di dada bidang itu, menghirup aroma khas yang selalu menenangkannya.
"Selama kita berpelukan gini ... gak ada yang bisa pisahin kita. Janji."
BRUK!!!
Hentakan keras terasa di seluruh tubuh. Gelap gulita sejenak, lalu perlahan penglihatan mereka kembali.
Mereka mendarat di lantai dingin yang terbuat dari batu bata merah. Masih saling memeluk kencang, sama sekali tidak mau melepas. Suasana hening. Sangat hening.
Dori perlahan membuka mata dan mendongak menatap sekeliling.
Mereka ada di dalam sebuah aula besar yang megah tapi sudah tua. Dindingnya penuh ukiran bunga dan awan, langit-langitnya tinggi sekali, dan di ujung ruangan... ada sebuah cermin raksasa setinggi pohon kelapa yang bingkainya terbuat dari emas berkarat.
Cermin Kebenaran.
Tapi yang bikin bulu kuduk merinding... di depan cermin itu, berdiri sosok tinggi besar berjubah ungu tua. Punggungnya menghadap mereka.
"Ah... akhirnya sampai juga ya pengantin baru."
Suaranya berat, dalam, dan bergema di seluruh ruangan.
Matcha langsung menegakkan badan, tetap melindungi Dori di belakang punggungnya. Genggaman tangan mereka tidak terlepas sedikitpun.
"Kau ... siapa?! Kenapa bawa kami ke sini?!" tantang Matcha, suaranya keras tapi tangannya yang memegang Dori terasa dingin dan gemetar.
Sosok itu perlahan berbalik. Wajahnya tertutup topeng besi perak, tapi matanya bersinar lembut, tidak menyeramkan seperti yang lain.
"Aku tidak bermusuhan dengan kalian. Aku hanya... mengembalikan kenangan yang hilang. Dan mengembalikan kalian... ke tempat di mana segalanya bermula."
Dori menyelipkan jari-jarinya di sela jari Matcha. Mengecup punggung tangan itu pelan.
"Cha... tanganmu dingin banget. Kamu sakit?"
"Bukan sakit... cuma... perasaanku campur aduk banget Dori. Takut, marah, sayang... semua jadi satu."
Matcha menoleh menatap Dori dalam-dalam. Tatapannya lembut, penuh penyesalan dan cinta yang luar biasa.
"Tadi... maafin aku ya. Aku gak bermaksud bilang tanganmu berdarah. Aku cuma syok parah."
"Iya aku tahu. Aku udah maafin kok. Sekarang kita hadapin bareng-bareng ya?"
Dori tersenyum tipis, air mata masih menggenang tapi senyumnya sangat tulus.
"Janji ya... apapun yang terjadi nanti, apapun yang kelihatan di cermin itu... kita gak boleh saling benci lagi."
"Janji. Kalau pun kau pembunuhku... maka aku rela dibunuhmu berkali-kali. Karena cintaku padamu melebihi rasa sakit itu."
Jleb!
Hati Dori meleleh luar biasa. Ia naikkan ujung kaki, lalu mencium pipi Matcha cepat.
"Aku sayang kamu. bangett!"
Wajah Matcha langsung merah padam, bahkan di situasi bahaya pun dia masih bisa salting.
"Ehm... i-iya... aku juga sayang kamu."
Sosok misterius di depan sana menghela napas pelan.
"Kasihan sekali kalian... cinta semurni ini harus diuji seberat ini."
"Siapa kamu sebenarnya?!" tanya Matcha kembali waspada, kembali jadi pelindung yang tangguh.
Orang itu menunjuk ke arah cermin besar di belakangnya. "Aku Penjaga Gerbang. Dan di sana... kebenaran sudah menunggu. Lihatlah... dan kalian akan mengerti. Kenapa pedang itu harus menembus dada. Kenapa kalian harus berpisah. Dan kenapa... takdir mempertemukan kalian kembali. SIAPKAN DIRIMU, TUAN CICIL. DAN KAU JUGA, PUTRI DOROTHY."
WUSSS!
Cermin itu tiba-tiba bersinar terang benderang. Gambar mulai muncul perlahan.
Pemandangan istana yang indah, bunga-bunga bermekaran, dan dua sosok kecil yang sedang tertawa bahagia.
Itu mereka ... di masa lalu!
"Tahan tanganku kuat-kuat ya Dori..." bisik Matcha pelan.
"Aku gak bakal lepas Cha ... selamanya."
Mata mereka sama-sama memanas, siap menyaksikan tragedi terbesar dalam hidup mereka. Cerita cinta yang menyakitkan tapi indah akan terungkap sekarang!
"LIHATLAH... INI DIMANA SEGALANYA BERMULA."
Cahaya dari cermin raksasa itu semakin terang, memancarkan aura nostalgia yang menyakitkan. Gambar di dalamnya mulai bergerak hidup, seperti sedang memutar film sejarah yang terlupakan.
Dori dan Matcha berdiri terpaku, tangan mereka saling menggenggam sekuat tenaga, keringat dingin bercucuran di dahi.
"Tuhan ... tolong jadikan ini baik-baik saja. Jangan biarkan dia makin benci aku..." batin Dori berdoa, jantungnya berdegup kencang mau meledak.
Di layar cermin, terlihat jelas pemandangan masa lalu.
Sebuah istana megah di tengah taman bunga yang sangat indah. Di sana, terlihat sosok pria muda (Matcha muda) yang tampan dan gagah, sedang bermain dengan seorang gadis kecil yang lucu.
"Itu ... aku?" Dori menunjuk sosok di cermin.
"Itu kau, Dorothy. Putri kecilku yang manis..." suara Matcha bergetar, matanya tak berkedip menatap bayangan itu.
Suasana sangat hangat dan bahagia di awal video. Mereka tertawa, mereka berjanji setia, mereka saling mencintai melebihi apa pun. Tapi perlahan, awan hitam mulai menutupi langit di dalam cermin.
Wajah-wajah jahat bermunculan. Pasukan musuh menyerbu masuk. Terjadi perang besar besaran yang mengerikan.
"Kita kalah jumlah, Tuan!" teriak prajurit di dalam rekaman.
"Selamatkan Putri! Bawa dia pergi!" seru Matcha di masa lalu dengan suara lantang.
"Aku tidak mau pergi! Aku mau sama kamu!" teriak gadis kecil Dorothy.
"Tidak sayang ... kamu harus hidup. Kamu harus bahagia."
Dan tibalah di adegan terakhir yang ditakuti... Di puncak menara, di bawah hujan deras dan petir yang menyambar.
Matcha terluka parah, dikelilingi musuh. Darah membanjiri bajunya. Di tangannya, ia memegang sebuah pedang panjang.
Tapi yang mengejutkan ... Dia yang menyerahkan pedang itu ke tangan Dorothy!
"AYO DOROTHY! LAKUKAN! TUSUK SAJA!" teriaknya keras di dalam cermin.
Dori di dunia nyata terbelalak. "Hah?! Dia yang minta?!"
"Kenapa?! Kenapa kamu minta aku tusuk Cha?!" tanya Dori terbata-bata, air matanya sudah jatuh membasahi pipi.
Matcha tidak menjawab, ia hanya menatap cermin dengan mata terbelalak, ingatannya kini utuh kembali seratus persen.
Di dalam cermin, Dorothy kecil menangis histeris. "Aku nggak mau! Aku sayang kamu!"
"KAU HARUS! KALAU AKU MATI DITANGAN ORANG LAIN, JIWAKU AKAN HANCUR! TAPI KALAU KAU YANG MELAKUKANNYA..."
Matcha di masa lalu tersenyum sedih, menatap gadis itu penuh cinta.
"JIWAKU AKAN TETAP MILIKMU. AKU AKAN MENUNGGUMU SAMPAI KAPANPUN. KITA AKAN BERTEMU LAGI. PERCAYALAH PADAKU."
Hening ... Satu detik ... Dua detik.
"Ayo tuan Putri kecilku ... selamatkan dirimu. Dan selamatkan aku."
Dengan tangan gemetar dan tangisan yang pecah, Dorothy kecil mengangkat pedang itu tinggi-tinggi.
SRETT!
Pedang itu menusuk perlahan ke dada Matcha. Tapi bukan rasa sakit yang terlihat di wajah Matcha, melainkan rasa lega dan cinta yang luar biasa.
"Terima kasih... Dorothy... sampai jumpa di kehidupan selanjutnya..."
Gambar itu memudar, dan cermin kembali menjadi bening.
Suasana di aula itu hening total. Hanya suara isak tangis Dori dan Matcha yang terdengar bergantian.
"Jadi... gitu ceritanya..." Dori menutup mulutnya tak percaya. "Aku... aku bukan pembunuh. Aku... aku menyelamatkan jiwamu?"
Matcha langsung memutar badan, menarik Dori masuk ke dalam pelukan paling erat yang pernah ada.
"Maafkan aku... maafkan aku ... bodohnya aku!!" isaknya keras, membenamkan wajah ke leher Dori.
"Aku ingat semuanya sekarang! Aku yang memohon padamu! Aku yang memaksamu melakukannya!"
"Kau melakukannya karena kau menuruti keinginanku demi menyelamatkan kita berdua!"
Jleb!
Semua beban, semua rasa bersalah, semua ketakutan... lenyap seketika digantikan oleh air mata haru dan cinta yang luar biasa dalam.
"Jahat banget sih kamu... bikin aku nangis seharian..." Dori memukul pelan punggung Matcha sambil tersedu.
"Maaf... maafkan Pangeranmu yang tolol ini. Aku lupa alasannya, aku cuma ingat sakitnya."
Matcha mengusap air mata Dori dengan ibu jarinya, lalu menatap gadis itu dalam-dalam.
"Kau tahu tidak Dori... cintamu itu sebesar itu. Kau rela jadi penjahat, kau rela dibenci, cuma demi nyawaku. Dan sekarang... aku janji. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi kebohongan. Kita hadapi semuanya berdua."
"Aku sayang kamu Cicil... sayang banget."
"Aku juga sayang kamu Dorothy... lebih dari nyawaku sendiri."
Mereka berciuman hangat di depan cermin kebenaran itu. Penjaga Gerbang di belakang mereka tersenyum tipis di balik topengnya.
"Tapi..." Wajah Penjaga itu kembali serius. "Kebenaran sudah terbuka. Sekarang... tanggung jawabmu dimulai."
Tiba-tiba!
DUG! DUG! DUG!
Lantai aula bergetar hebat. Dinding-dinding mulai retak.
"Apa lagi ini?!" seru Matcha sigap langsung lindungi Dori di belakang badannya.
"Kalian tidak bisa tinggal di sini selamanya. Dunia ini akan runtuh. Dan musuh sebenarnya... sudah menunggu kalian di luar sana."
BRAK!
Pintu besar aula itu hancur lebur!
Muncul puluhan makhluk bayangan yang jauh lebih besar dan ganas dari sebelumnya. Dan di depan mereka semua... berdiri sosok yang sangat familiar tapi jahat.
"Wahai Tuan Cicil ... terima kasih sudah mengingat segalanya. Karena sekarang... aku tidak perlu sungkan-sungkan lagi untuk menghancurkanmu dan mengambil gadis itu!"
Itu sosok yang pernah mereka temui dulu! Ternyata dia dalang utamanya?
"SHADOW?!" seru Dori dan Matcha kompak kaget.