NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Suasana villa yang tadi terasa ringan perlahan berubah. Yang tersisa hanya percakapan yang menggantung di udara. Tentang Ronald dan tentang Valencia. Tentang kemungkinan yang semakin sulit untuk diabaikan.

Fania duduk di sofa, diam. Punggungnya bersandar, namun tidak benar-benar rileks. Tatapannya lurus ke depan, kosong. Seolah melihat sesuatu yang jauh padahal tidak benar-benar melihat apa pun.

Di tangannya, gelas yang tadi ia pegang sudah lama tidak disentuh. Es di dalamnya mencair perlahan. Airnya naik sedikit demi sedikit. Seperti waktu yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun siap.

Livia berjalan mondar-mandir kecil di depannya. Langkahnya tidak jauh namun cukup untuk menunjukkan kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan. Sesekali ia menyilangkan tangan lalu melepasnya lagi. Menarik napas dan menghela nafas.

Chaerlina duduk lebih tenang. Namun ketenangannya bukan berarti tidak peduli. Matanya terus mengamati Fania. Membaca setiap perubahan kecil. Setiap jeda napas dan setiap gerakan yang tidak disadari.

“Ini tak bisa didiamkan,” ujar Livia akhirnya. Langsung, nada suaranya tegas. Tidak lagi mencoba terdengar santai.

Fania tidak langsung merespons. Ia hanya menghela napas pelan dan lama.

“Kenapa harus dibesar-besarkan?” balasnya. Datar namun jelas itu bukan sekadar pertanyaan. Itu penolakan.

Livia berhenti berjalan kemudian menatapnya. Lebih serius sekarang. “Karena ini bukan hal kecil, Fan.”

Hening.

Fania menoleh sedikit. “Apa yang tak kecil?” Nada suaranya tetap tenang namun ada ujung yang tajam. Seperti sesuatu yang mulai tergores.

Livia mendekat, langkahnya lebih pasti. “Suami mu pergi ke luar negeri.” Ia berhenti, memberi ruang agar kalimat itu masuk.

“Dan perempuan yang sedang dekat dengannya pergi di waktu yang sama.” Kalimat itu jatuh apa adanya tanpa dilunakkan. Tanpa dibuat lebih nyaman. “Dan kau bilang ini kecil?”

Sunyi.

Fania tidak langsung menjawab. Karena ia tidak punya jawaban yang benar-benar kuat. Namun tetap ia bertahan. “Itu urusan dia.” Pendek dan dingin. Seperti dinding yang sengaja ia bangun.

Chaerlina akhirnya ikut bicara. Nada suaranya lebih pelan dan lebih hati-hati. “Fan…”

Fania menatapnya.

“Kau masih mau mempertahankan kesepakatan itu?” Pertanyaan itu tidak menyerang namun tepat. Dan langsung ke inti.

Fania terdiam beberapa detik. “Iya.” Jawaban itu keluar. Namun tidak sekuat biasanya. Ada jeda, seperti keraguan yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.

Livia langsung bereaksi. “Kenapa kau masih memaksakan perasaan mu?” Nada suaranya naik. Frustrasi mulai terlihat. “Kau tau kau tidak benar-benar melepaskannya.” Menusuk dan langsung. Tidak memberi ruang untuk menghindar.

Fania menggeleng refleks.

“Aku tak memaksakan apapun.” Cepat.

“Aku hanya konsisten.” Namun bahkan ia sendiri merasakan kalimat itu tidak berdiri sekuat yang ia harapkan.

Chaerlina mencondongkan tubuh sedikit, tatapannya lebih dalam. “Kadang konsisten itu bukan berarti benar, Fan.” Pelan namun kuat. “Kadang itu hanya takut berubah.”

Sunyi.

Kalimat itu masuk dan mengenai. Namun Fania tetap menahan. Tidak mau mengakuinya.

“Lalu maksud kalian aku harus melakukan apa?” tanyanya. Nada suaranya mulai defensif, tipis. Namun jelas.

Livia langsung menjawab. “Susul dia.” Langsung tanpa ragu.

Fania membeku sepersekian detik. Lalu tertawa kecil dan pendek. Tidak percaya.

“Serius?” Nada suaranya tipis. Namun ada ketegangan di dalamnya.

Livia tidak tersenyum. “Serius.”

Hening.

Fania menggeleng. “Itu tak masuk akal.” Cepat, menolak. Seolah jika ia menolak cukup cepat maka ide itu tidak akan punya tempat.

“Kenapa tak masuk akal?” balas Livia. “Kau istrinya.” Langsung. “Kau punya hak.”

Fania langsung memotong. “Aku yang menciptakan batas itu.” Nada suaranya naik. Untuk pertama kalinya emosinya benar-benar terdengar.

“Aku yang mengatakan untuk mengurus urusan masing-masing.” Ia menatap Livia dan lebih tajam.

“Jadi aku tak bisa tiba-tiba berubah hanya karena aku” Ia berhenti, kalimatnya menggantung . Namun jelas itu belum selesai.

“…karena aku apa?” tanya Chaerlina pelan.

Sunyi.

Fania menelan lalu akhirnya “…karena aku tak nyaman.” Lebih pelan dan lebih jujur. Dan itu cukup untuk menjelaskan semuanya.

Ruangan terasa semakin sunyi.

Livia langsung menatapnya. “Exactly.” Kali ini nadanya lebih lembut, tidak menyerang.

“Kau tak nyaman.” Ia mendekat sedikit. “Dan kau hanya akan diam?”

Fania mengalihkan pandangan, tidak menjawab. Namun tangannya perlahan menggenggam lebih erat.

Chaerlina menambahkan. “Fan, ini bukan hanya tentang cemburu.” Pelan dan terukur. “Ini tentang kemungkinan.” Ia berhenti. “Kau siap kalau ternyata mereka benar-benar lebih dari itu?”

Kalimat itu menggantung namun maknanya jelas. Tidak bisa dihindari, Fania membeku. Dadanya terasa sesak lebih berat dari sebelumnya. Karena pertanyaan itu tidak bisa ia jawab dengan logika. Ia menarik napas dalam. Namun tetap terasa sempit.

“Kalau memang benar” Ia mulai, pelan. “…ya berarti itu pilihan dia.” Logika, sekali lagi. Namun kali ini rapuh. Seperti sesuatu yang dipaksakan berdiri.

Livia menggeleng. “Bukan hanya pilihan dia.” Ia menatap Fania. “Tapi juga konsekuensi dari pilihan mu.”

Sunyi.

Dan itu lebih sulit diterima. Karena itu berarti ia tidak sepenuhnya korban. Fania terdiam, pikirannya berputar. Lebih cepat dan lebih dalam.

Apa benar semua ini ada hubungannya dengan dirinya? Dengan keputusan yang ia buat? Dengan jarak yang ia ciptakan? Dengan sikapnya yang selama ini menolak tanpa benar-benar pergi?

Chaerlina melihat perubahan itu. Kecil namun nyata. “Kau tak harus datang untuk ‘mengejar’ dia,” katanya pelan. “Kau datang untuk memperjelas posisimu.” Ia berhenti. “Pada suamimu dan kau sendiri.”

Fania terdiam lebih lama. Karena untuk pertama kalinya itu masuk akal. Bukan sebagai kelemahan. Namun sebagai kejelasan. Namun ego masih ada dan masih berdiri.

“Dan kalau ternyata mereka tak ada apa-apa?” tanya Fania. Mencari celah, mencari alasan untuk tetap diam.

Livia mengangkat bahu. “Ya bagus.” Sederhana. “Berarti kau tak kehilangan apa-apa.” Ia menatap Fania. “Tapi kalau kau tak datang dan ternyata ada sesuatu?” Ia berhenti, memberi jeda. “Kau siap hidup dengan itu?”

Sunyi.

Pertanyaan itu menggantung, berat. Tidak bisa dijawab cepat. Fania menggenggam tangannya lebih erat. Pikirannya berisik, sangat. Namun di tengah itu sesuatu mulai muncul, pelan.

Kesadaran. Bahwa diam bukan lagi posisi netral. Namun pilihan, dan setiap pilihan punya arah.

“Aku tak tau,” ucapnya akhirnya. Pelan dan jujur. Tanpa penyangkalan, tanpa perlindungan.

Livia menghela napas. Namun kali ini tidak memaksa.

Chaerlina tersenyum kecil lembut. “Baiklah.” Ia berkata. “Pikirkanlah dulu.”

Hening kembali.

Namun berbeda, tidak lagi penuh penolakan. Tidak lagi kaku, lebih seperti ruang. Untuk berpikir, untuk jujur, untuk melihat sesuatu tanpa lari. Dan di dalam diri Fania untuk pertama kalinya muncul kemungkinan lain.

Bukan tentang menyangkal, bukan tentang bertahan. Namun tentang menghadapi. Karena mungkin yang ia hindari selama ini bukan hanya Ronald. Namun juga kebenaran yang sebenarnya sudah lama ia tahu namun belum pernah benar-benar ia akui.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!