Gadis 19 tahun, yang dijual sang Ibu tiri kepada pria asing. Pria itu mengakui dirinya adalah suami dari, Alena Grazia, gadis 19 tahun yang menikah tanpa sepengetahuannya. Hubungan satu malam terjadi, panas. Dendam pada sang ibu tiri dan kakak tirinya yang telah membuatnya menjadi tidak suci, bahkan diusir oleh ayahnya, membara. Dendam itu membutakan matanya, Alena bertekad untuk merebut kembali aset perusahaan sang ibu, yang meninggal ketika dirinya masih sangat kecil, dan mencari tahu, apa penyebab kematian sang Ibu yang mendadak itu.
Alena harus membesarkan kedua anaknya tanpa seorang suami. Dia membesarkan buah hatinya di negeri orang. Alena kembali, dengan dendam. Dia berusaha mendekati orang terkaya se-Asia. Arga Wilson, pria beristri. Identitas nya sangat tertutup, bahkan sang istri lebih misterius dari dirinya. Alena bertekad, mendekati Arga Wilson, untuk membantunya mengambil alih perusahaan sang Ibu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Black Lotus Ice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14. -Mengunjungi Buah Hati-
Chapter 14. -Mengunjungi Buah Hati-
Besoknya, Alena terbangun. Dia keluar kamar dan seluruh ruangan tengah maupun ruangan tamu kosong melompong.
"Apa pria itu sudah pergi? Baguslah!"
Gumamnya Alena, dia pergi mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi.
Saat sudah membersihkan diri, Alena keluar dari kamar mandi dan menuju kamar untuk memakai baju.
Ponsel yang berada di meja rias di ambilnya. Dia menyalakan benda itu dan melihat jadwalnya.
"Jadwal hari ini kosong. Aku mau berkunjung ke rumah Helena terlebih dahulu. Apakah dia sudah sembuh?"
Gumam Alena sembari pergi menuju mobilnya yang terparkir di luar.
Alena berkendara dengan lambat. Perkiraan dia sampai pada pukul 10.32. Dia langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah Helena.
Tok..!!! Tok..!!! Tokk!!!
Alena mengetuk pintu rumah Helena, karena tak ada Jawaban, Alena langsung masuk ke dalam rumah itu.
"Helena...!!! Alvin!? Aluna!?"
Teriak Alena dari dalam rumah itu sembari memeriksa setiap ruangan.
Pandangan Alena tertuju pada satu kamar yang belum di periksa olehnya, yaitu kamar kosong Helena. Sudah beberapa tahun kamar itu tak di buka karena kepercayaan Helena yang katanya pamali.
Saat hendak memutar gagang pintu itu, Alena terhenti sejenak. Dan tiba tiba saja ada yang menepuk pundaknya.
Sontak saja, alena langsung menoleh kaget.
"Helena..." Pekiknya Alena.
"Apa? Kenapa kau hendak membuka pintu ini? Apa kau mau aku kena kutukan!?"
Tanyanya Helena sembari menahan tangan Alena.
"Maaf Helen, tapi aku khawatir padamu. Aku tak bermaksud untuk membuatmu terkena kutukan!"
Jawabnya Alena merasa bersalah. Helena menghela nafas panjang.
"Sudahlah. Alvin dan Aluna berada di depan. Cepat temui mereka, sedari keberangkatan mu, Aluna tak mau makan sedikitpun."
Tutur Helena membuang nafas kasar. Alena langsung pergi keluar.
"Alvin, Aluna..., Apa kalian rindu Mama!?"
Tanya Alena yang hendak memeluk kedua buah hatinya, tapi Aluna malah menghindari. Dengan beribu ribu pertanyaan yang terngiang di kepala Alena dia menatap lirih anak bungsunya.
"Aluna...,"
Mata Alena sudah berkaca kaca melihat putrinya menolak pelukan dari nya. Alvin terdiam melihat kesedihan hati Mamamnya.
Aluna tak menghiraukan Alena, dia tetap pada posisinya. Helena yang melihat kejadian itupun ikut merasa kesedihan hati Alena.
Air mata Alena seketika meleleh melihat respon acuh dari putri nya. Hatinya sangat amat terpukul. Rasa bersedih, khawatir dan kecewa bercampur adik di pikirannya.
"Aluna..., Mama minta maaf. Ya, Mama tahu Mama salah... Tapi nak, apa yang bisa Mama lakukan untuk menebus kesalahan Mama!?"
Tanya Alena dengan nada Sendu. Sebenarnya hati aluna sudah sangat ingin di peluk oleh ibunya itu, tapi ntah mengapa respon dari tubuhnya sangat bertolak belakang.
"Mama sangat sayang Aluna makanya Mama berkerja siang dan malam..."
Jalas Alena dengan nada lirih, Aluna melirik Alena yang sedang terduduk di tanah menunggu sang putri datang ke pelukannya itu.
Aluna berlari dan memeluk Alena dengan erat. Dia mencium kening ibunya itu dan menangis deras dalam pelukan sang Mama. Alvin ikut mendekat lalu ikut memeluk ibunya itu. Helena tersenyum tipis melihat ke dekatan Keluarga yang sempat renggang itu.
"Kalau begitu Carikan Papa buat kita, Mam..., Supaya Mama bisa diam di rumah dan nggak perlu banting tulang lagi. hiks .."
Sendu Aluna memeluk erat, Alena tercengang mendengar perkataan putrinya itu.
"Apa aku benar benar harus membawa pria tua Bangka itu ke depan anak anak!? Aku tak mau mengecewakan mereka lagi."
Batin Alena cemas. Diri masih membatu di tempat.
"Mam, kenapa anak anak yang lain mempunyai papa?"
Tanya Alvin yang tiba tiba menyahut, Alena terdiam seketika. Apa yang harus dia lakukan sekarang!? Bagaimana ini?
Pikiran Alena kacau balau. Air matanya mengucur deras membasahi wajah nya yang cantik, bajunya sudah basah karena air mata kedua buah hatinya itu berjatuhan.
Helena berjalan mendekati Alena lalu menepuk pundak Alena. Alena langsung menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Mungkin ini adalah saat nya Alena..., kau harus mengungkapkan semuanya"
Ucap Helena mencoba membujuk, Alena menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tapi bagaimanapun mereka harus tahu. Meskipun kau tetap merahasiakannya, mereka akan mengetahuinya suatu hari nanti."
Tutur Helena dengan lirih. Alena termenung sejenak.
"Tidak! Aku tak mau membuat mereka kecewa. Aku mempunyai jalanku sendiri, lebih baik kau tidak ikut campur..."
Tolak Alena agak membentak, Helana terdiam terkaget akan bentakkan Sahabatnya itu.
"Maaf. Aku tak tahu posisi ku.."
Helana berdiri dan pergi ke dalam rumah meninggalkan Alena dan anak anaknya berada di luar. Alena yang merasa bersalah karena tak sengaja telah membentak sahabatnya itu tak enak hati.
"Helena, maafkan aku... Hiks..."
Isak Alena menundukkan kepalanya, sementara Isak Alena terdengar sampai ke dalam rumah Helena.
Di dalam rumah itu, Helena terdiam dan duduk di sofa ruangan tengah. Sebenarnya dia tak tega meninggalkan sahabatnya dalam keadaan seperti itu, akhirnya Helena memutuskan untuk menyiapkan minuman hangat yang dapat menenangkan pikiran.
Beberapa saat kemudian, Helena kembali mendekati Alena dengan membawa 4 cangkir teh di dalam nampan besar. Dia menyodorkan masing masing satu cangkir teh hangat itu.
"Helena, maafkan aku telah membentak dirimu."
Ucapnya Alena meminta maaf, Helena terdiam.
"Tak perlu, akulah yang tak tahu batasan. Aku minta maaf untuk itu..,"
Tutur Helena yang membuat hati Alena terasa sakit.
"Apa kau akan menginap di sini!?"
Tanya Helena sembari menyeruput secangkir teh itu. Alena menganggukkan kepalanya.
"Baguslah, sedari kemarin Aluna belum makan, jadi kau coba bujuk dia. Nanti aku akan membantumu menyiapkan kamar."
Balas Helana hendak berdiri. Tapi Alena menahan tangannya. Helena menoleh.
"Hm?"
Dehem Helena dengan memiringkan kepalanya itu.
"Aku minta maaf. Aku tahu hatimu tersakiti karena perkataan ku. Tolong maafkan aku, aku lepas kendali..."
Helena membalas pegangan tangan sang sahabat itu, dia tersenyum setengah.
"Tidak apa..."
Jawabnya dan berlalu pergi untuk menyiapkan kamar Alena.
...----------------...
Malamnya, semua sudah berkumpul di meja makan. Mereka makan dengan lahap hari itu, saat sesudah makan, Alvin dan Aluna meninggalkan ruangan makan dan hendak menonton tv.
Di ruangan itu hanya tersisa Alena dan Helena berdua. Keadaan canggung menyelimuti keadaan itu.
"Ahem.., Helena, begini..., Apa kau bisa membantu ku?"
Tanya Alena memecahkan keheningan yang sekejap itu. Helena menoleh lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Apa kau bisa membantu ku mengawasi gerak gerik Keluarga Sanjaya?"
Pinta Alena, tentunya Helena mengangguk patuh.
"Baiklah. Besok setelah pulang dari bekerja, aku akan mengawasi Keluarga mereka melalui alat yang tempelkan pada Tn. Bram."
Helena mengiyakan permintaan Alena sang sahabat itu.
akhirnya up
kemana arah ceritanya
ceritanya terlalu banyak rahasia...
next thor...
next....