Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Beberapa hari kemudian, lorong rumah sakit Arkatama tak lagi terasa mencekam.
Ariel akhirnya diperbolehkan pulang dengan perban yang sudah lebih ringkas di tangannya.
Sesuai janji setianya, tidak ada tempat lain yang mereka tuju selain bandara.
Sebuah jet pribadi telah siap menunggu untuk menerbangkan mereka menuju pulau dewata.
Di depan pintu keberangkatan, Mama Wahyuni memeluk keduanya erat-erat.
Wajahnya yang tegar menyimpan sedikit gurat kecemasan yang tak bisa disembunyikan.
"Relia, Ariel, nikmatilah waktu kalian. Tapi Mama mohon, jangan lengah sedikit pun," bisik Mama Wahyuni sambil menatap Ariel dalam-dalam.
"Polisi baru saja memberi kabar bahwa Tino, tangan kanan Markus yang paling setia, masih buron. Dia licin dan berbahaya. Dia mungkin masih menyimpan dendam atas penangkapan tuannya."
Ariel mengangguk mantap, ia merangkul bahu Relia lebih protektif.
"Mama jangan khawatir. Satrio dan tim keamanan terbaik sudah berada di Bali lebih dulu untuk memastikan villa kita steril. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Relia."
"Hati-hati, Sayang," ucap Mama Wahyuni terakhir kalinya sebelum melepaskan mereka.
Relia tersenyum lembut, mencoba menenangkan ibu mertuanya.
"Terima kasih, Ma. Kami akan segera kembali dengan kabar bahagia."
Mereka melangkah masuk ke dalam pesawat. Begitu pintu kabin tertutup, suasana sunyi yang mewah menyelimuti mereka.
Ariel membantu Relia duduk di kursi first class yang nyaman, lalu duduk di sampingnya.
Meski tangan kanannya masih dalam penyangga, tangan kirinya tetap setia menggenggam jemari Relia.
Pesawat mulai bergerak di runway, perlahan naik menembus awan-awan kelabu Jakarta menuju langit biru yang cerah.
Relia menempelkan keningnya di jendela pesawat, melihat daratan yang perlahan mengecil.
"Mas..." panggil Relia tanpa mengalihkan pandangan.
"Ya, Sayang?"
"Apa menurutmu Tino akan benar-benar menemukan kita? Aku tidak ingin ketakutan ini mengikutiku sampai ke Bali."
Ariel membawa tangan Relia ke bibirnya, menciumnya dengan penuh kasih.
"Biarkan Tino menjadi urusan polisi dan tim keamananku. Di atas awan ini, dan di Bali nanti, hanya ada kita berdua. Anggap saja Tino hanyalah debu yang akan segera disapu angin."
Relia menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kegelisahannya.
Ia mengeluarkan iPad retaknya dari dalam tas, namun kali ini ia tidak membuka draf novelnya.
Ia membuka aplikasi kamera, lalu mengambil foto tangan mereka yang saling bertaut dengan latar belakang awan putih yang indah.
“Perjalanan menuju kesembuhan yang sesungguhnya baru saja dimulai,” tulis Relia dalam hati.
Pramugari berseragam rapi itu mendekat dengan langkah anggun, namun wajahnya tak bisa menyembunyikan rona antusias.
Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan kecil dan sebuah pulpen mahal.
"Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya, Nyonya Arkatama," ucap pramugari itu dengan nada sangat sopan.
"Saya adalah salah satu pembaca setia tulisan Anda di platform digital. Kisah Anda memberikan kekuatan bagi saya dan adik saya. Jika diperkenankan, bolehkah saya meminta tanda tangan Anda?"
Relia tertegun sejenak. Ia menatap wajah tulus pramugari itu, lalu menunduk menatap tangannya yang masih sering gemetar.
Perasaan rendah diri yang telah mengakar bertahun-tahun itu mendadak muncul kembali.
"Ah, saya bukan penulis," ucap Relia pelan sambil tersenyum canggung.
"Saya hanya seseorang yang sedang bercerita agar tidak gila. Saya rasa saya belum pantas disebut penulis."
Mendengar itu, Ariel yang sejak tadi menyimak langsung menoleh.
Ia gemas melihat istrinya yang selalu saja merendah padahal keberaniannya telah menginspirasi satu negara.
Dengan tangan kirinya yang bebas, Ariel menjangkau wajah Relia dan mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Aduh! Mas Ariel!" pekik Relia pelan sambil memegang pipinya yang memerah.
"Habisnya kamu ini keras kepala sekali," goda Ariel sambil terkekeh kecil.
"Sayang, satu dunia sudah tahu siapa kamu. Kamu tidak hanya penulis, kamu adalah pahlawan bagi orang-orang seperti Mbak pramugari ini. Jangan sombong dengan cara merendah terus, ya?"
Ariel kemudian menatap pramugari itu dan mengangguk ramah.
"Berikan bukunya padanya, Mbak. Dia hanya sedang malu karena suaminya terlalu tampan hari ini."
Pramugari itu tertawa kecil, sementara wajah Relia sudah semerah tomat.
Dengan malu-malu, Relia akhirnya menerima buku tersebut.
Ia menuliskan sebuah kalimat pendek sebelum membubuhkan tanda tangannya:
Untuk jiwa yang sedang berjuang, jangan pernah biarkan orang lain memegang penamu. Tulislah takdirmu sendiri.
"Terima kasih banyak, Penulis Relia. Selamat menikmati perjalanan ke Bali," ucap pramugari itu dengan mata berbinar sebelum berpamitan.
Setelah pramugari itu pergi, Relia menyandarkan kepalanya di bahu Ariel.
"Mas, aku masih merasa aneh dipanggil penulis."
"Biasakanlah," bisik Ariel sambil mengusap rambut Relia.
"Karena di Bali nanti, aku akan menjadi asisten pribadimu. Aku yang akan menyiapkan kopi, menyiapkan meja kerjamu, dan tentu saja aku yang akan mencium tangan penulis favoritku ini setiap pagi."
Relia tersenyum manja. Ketakutan soal Tino atau Markus perlahan memudar, tertutup oleh hangatnya pelukan Ariel di ketinggian tiga puluh ribu kaki.
Pesawat jet pribadi itu mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Internasional Ngurah Rai.
Saat pintu kabin terbuka, aroma khas udara laut yang hangat dan wangi dupa Bali langsung menyambut indra penciuman mereka.
Langit Bali yang biru bersih seolah menjadi kanvas selamat datang yang sempurna.
Ariel membantu Relia turun, tangannya yang dibalut perban tetap terjaga di pinggang istrinya.
Di bawah tangga pesawat, Satrio sudah berdiri tegap di samping mobil SUV hitam yang mengkilap.
"Selamat datang di Bali, Tuan, Nyonya," sapa Satrio dengan nada waspada yang tetap terjaga.
"Semua sudah siap."
Ariel mengangguk, lalu menoleh ke arah Relia. "Sayang, perutmu pasti sudah lapar. Sebelum kita masuk ke ketenangan villa di Ubud, ayo kita cari makan siang dulu. Aku tahu tempat makan nasi campur Bali yang sangat enak dan tempatnya cukup privat."
Relia tersenyum, matanya berbinar melihat deretan pohon kamboja di pinggir jalan bandara.
"Boleh, Mas. Aku ingin mencoba makanan lokal yang otentik."
Mobil pun melaju meninggalkan bandara. Satrio mengemudi dengan sangat hati-hati, sementara matanya sesekali melirik spion, memastikan tidak ada kendaraan mencurigakan yang mengikuti mereka—terutama bayang-bayang Tino yang sempat diperingatkan Mama Wahyuni.
Ariel membawa Relia ke sebuah restoran di tepi pantai yang memiliki area private gazebo.
Di sana, mereka memesan nasi campur Bali lengkap dengan sate lilit, ayam betutu, dan sambal matah yang segar.
"Wah, aromanya enak sekali, Mas!" ucap Relia saat makanan dihidangkan.
Ariel mencoba memegang sendok dengan tangan kanannya yang masih dibalut perban, namun ia sedikit meringis karena ototnya masih kaku.
"Jangan dipaksa, Mas," ucap Relia sigap. Ia mengambil piring Ariel dan mulai memotong-motong ayam betutu itu menjadi ukuran kecil.
"Gantian. Tadi di rumah sakit Mas yang menyuapiku, sekarang biarkan aku yang melayanimu."
Relia menyuapi Ariel dengan telaten. Di bawah naungan atap jerami dan suara deburan ombak yang menenangkan, momen itu terasa sangat intim.
Ariel menatap wajah Relia yang mulai merona terkena sinar matahari Bali.
"Mas tahu?" bisik Relia setelah menyuapi Ariel.
"Ini pertama kalinya aku makan di tempat terbuka tanpa merasa seseorang sedang mengawasiku dengan kemarahan."
Ariel menggenggam tangan Relia di bawah meja. "Mulai sekarang, itulah hidupmu, Relia.
Tidak ada lagi pengawas, yang ada hanya penjaga. Dan penjagamu ini sedang sangat menikmati suapan ayam betutunya."
mudah"an relia selamat