Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: AMUKAN SANG RAJA IBLIS
Dunia di sekitar Arkano seolah melambat. Suara desingan peluru, ledakan granat dari tim Marco, dan teriakan kesakitan anak buah Hendrawan terdengar seperti dengungan samar di telinganya. Fokusnya hanya satu: tubuh Alana yang terkulai di pelukannya, dengan darah merah segar yang mulai membasahi gaun tidur putihnya yang kini compang-camping.
"Alana... Alana, lihat aku! Jangan pejamkan matamu, Sayang! Itu perintah!" suara Arkano bergetar hebat, sebuah nada ketakutan yang belum pernah didengar oleh siapa pun dalam sejarah klan Dirgantara.
Alana terbatuk, darah sedikit keluar dari sudut bibirnya. Matanya yang sayu menatap Arkano dengan tatapan yang masih penuh cinta, meski nyawanya seolah berada di ujung tanduk. "Arkano... kau datang..." bisiknya sangat lirih, sebelum kepalanya terkulai lemas di dada bidang suaminya.
Saat itu juga, sesuatu di dalam diri Arkano patah.
Kemanusiaan yang baru saja tumbuh karena cinta Alana seketika lenyap, digantikan oleh kegelapan murni yang lebih pekat dari malam mana pun. Arkano perlahan membaringkan tubuh Alana di balik pilar beton yang kokoh. Ia mencium kening istrinya yang dingin dengan kelembutan yang mengerikan.
"Tunggu aku di sini, Sayang. Aku akan membawakanmu kepala pria yang sudah menyentuhmu," bisik Arkano.
Arkano berdiri. Ia tidak lagi mencari perlindungan. Ia berjalan tegak di tengah hujan peluru seolah-olah kematian pun takut untuk menjemputnya. Ia mencabut dua pistol Desert Eagle dari pinggangnya. Setiap kali jarinya menarik pelatuk, satu kepala anak buah Hendrawan hancur. Ia tidak menembak untuk melumpuhkan; ia menembak untuk memusnahkan.
"HENDRAWAN! KELUAR KAU, TIKUS KORUP!" raungan Arkano menggelegar, mengalahkan suara ledakan di dalam gudang itu.
Hendrawan, yang melihat Arkano mengamuk seperti iblis yang keluar dari neraka, mulai merasa gentar. Ia segera mundur, mencoba mencapai mobil antipelurunya di pintu belakang. "Tahan dia! Bunuh pria itu sekarang juga!" teriaknya pada anak buah unit khususnya yang tersisa.
Namun, anak buah Hendrawan bukan tandingan bagi kemarahan seorang pria yang sedang melihat dunianya hancur. Arkano menerjang maju. Saat pelurunya habis, ia menggunakan tangan kosong. Ia mematahkan leher seorang penyerang dengan satu sentakan, lalu merebut pisau komando musuh dan menancapkannya tepat di jantung penyerang lainnya tanpa berkedip.
Marco dan tim elit klan Dirgantara yang baru saja masuk tertegun melihat pemimpin mereka. Arkano tidak lagi bertarung sebagai bos mafia; ia bertarung sebagai malaikat maut.
"Jangan ada yang menyentuh Hendrawan! Dia milikku!" perintah Arkano dengan suara yang sangat dingin hingga membuat Marco bergidik.
Arkano berhasil menyusul Hendrawan tepat sebelum pria tua itu masuk ke mobilnya. Dengan satu tendangan brutal, Arkano menghantam pintu mobil hingga menjepit kaki Hendrawan. Suara tulang yang patah terdengar renyah di udara malam.
"AARRGGHH!" Hendrawan melolong kesakitan, jatuh tersungkur di atas aspal yang kotor.
Arkano mencengkeram kerah baju Hendrawan, menyeretnya kembali ke tengah gudang yang kini telah dikuasai penuh oleh klan Dirgantara. Arkano melemparkan tubuh Hendrawan ke depan pilar tempat Alana dibaringkan.
"Lihat dia, Hendrawan," desis Arkano sambil menginjak tangan Hendrawan yang mencoba meraih senjata cadangan. "Lihat wanita yang kau sebut sebagai alatmu. Kau melukainya. Kau membuat malaikatku berdarah."
"Dia... dia hanya seorang polisi, Arkano! Dia menipumu!" Hendrawan masih mencoba memprovokasi dengan napas tersengal.
Arkano tertawa, sebuah tawa kering yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia mengeluarkan pisau lipat yang tadi dibawa Alana dari lantai. "Dia mungkin polisi saat kau mengenalnya. Tapi saat bersamaku, dia adalah nyawaku. Dan kau baru saja mencoba mencabut nyawaku."
Tanpa peringatan, Arkano menancapkan pisau itu ke bahu Hendrawan, tepat di titik yang sama di mana Alana tertembak. Hendrawan menjerit histeris.
"Itu untuk peluru yang mengenai bahunya," ujar Arkano datar. Ia kemudian memutar pisau itu di dalam luka Hendrawan. "Dan ini untuk setiap air mata yang dia teteskan karena fitnahmu."
"Tuan! Nyonya Alana butuh pertolongan medis sekarang juga! Detak jantungnya melemah!" teriak Marco yang sedang berlutut di samping Alana, mencoba menekan pendarahannya.
Mendengar hal itu, Arkano seketika melepaskan Hendrawan. Kemarahannya yang meluap digantikan oleh kepanikan yang luar biasa. Ia menatap Hendrawan yang sekarat di lantai.
"Marco, bawa tikus ini ke ruang bawah tanah Sektor 9. Pastikan dia tidak mati. Aku ingin dia merasakan setiap inci kulitnya dikuliti sebelum dia diizinkan pergi ke neraka," perintah Arkano.
Arkano berlari kembali ke arah Alana. Ia mengangkat tubuh istrinya yang ringan itu ke dalam pelukannya. "Siapkan helikopter! Langsung ke rumah sakit pribadi kita! Jika ada satu lampu merah yang menghambat, hancurkan jalannya!"
Selama perjalanan menuju helikopter, Arkano tidak berhenti membisikkan kata-kata di telinga Alana. "Tetaplah bersamaku, Alana. Aku belum minta maaf dengan benar. Aku belum menunjukkan padamu betapa aku sangat memercayaimu. Jangan tinggalkan aku dalam kegelapan ini sendirian, Sayang..."
Setetes air mata Arkano jatuh ke pipi Alana yang pucat. Seorang raja mafia yang ditakuti seluruh negeri, kini menangis seperti anak kecil yang kehilangan dunianya.
Satu jam kemudian, di Rumah Sakit Internasional milik klan Dirgantara, suasana sangat mencekam. Seluruh lantai teratas dikosongkan dan dijaga oleh puluhan pria bersenjata. Arkano duduk di kursi tunggu di depan ruang operasi, pakaian hitamnya masih basah oleh darah Alana.
Marco mendekat, membawakan segelas air, namun Arkano menolaknya dengan lambaian tangan yang lemah.
"Tuan, Pak Hendrawan sudah berada di sel isolasi. Tim intelijen kita juga sudah mulai membersihkan berita fitnah di media. Kita telah mengambil alih semua server yang dia gunakan," lapor Marco.
Arkano tidak merespons. Matanya terus tertuju pada lampu ruang operasi yang masih berwarna merah. "Marco... jika dia tidak selamat, aku akan membakar kota ini. Aku tidak bercanda. Aku akan memastikan tidak ada satu pun orang yang bertanggung jawab atas hidup Alana yang bisa melihat hari esok."
"Nyonya Alana kuat, Tuan. Dia pejuang," hibur Marco.
Tiba-tiba, lampu ruang operasi berubah menjadi hijau. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah namun lega. Arkano langsung berdiri, mencengkeram bahu dokter itu dengan sangat kuat.
"Bagaimana keadaannya?!" tuntut Arkano.
"Operasi berhasil, Tuan Dirgantara. Peluru tidak mengenai organ vital, meski kehilangan banyak darah. Nyonya Alana sudah melewati masa kritisnya. Sekarang dia sedang dalam masa pemulihan di ruang ICU," jelas sang dokter.
Arkano mengembuskan napas panjang yang seolah sudah ia tahan selama berjam-jam. Ia menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit, tubuhnya gemetar karena rasa lega yang luar biasa. "Boleh aku melihatnya?"
"Hanya sebentar, Tuan. Dia masih dalam pengaruh bius."
Arkano masuk ke dalam ruangan yang serba putih itu. Suara mesin detak jantung yang teratur menjadi musik paling indah yang pernah ia dengar. Ia duduk di samping ranjang Alana, menggenggam tangan istrinya yang terpasang infus. Ia mencium jemari Alana dengan penuh pengabdian.
"Terima kasih sudah bertahan, Alana Dirgantara," bisik Arkano. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi rahasia. Tidak akan ada lagi keraguan. Kau adalah ratuku, dan aku adalah pelindungmu. Siapa pun yang mencoba memisahkan kita, bahkan Tuhan sekalipun, harus berhadapan denganku."
Arkano tahu, setelah ini perang melawan sisa-sisa pengikut Hendrawan dan klan internasional akan semakin besar. Namun melihat Alana yang masih bernapas, Arkano merasa ia bisa menaklukkan seluruh dunia asalkan wanita ini ada di sisinya.
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
makasih ya udah dukung karya ku😊