Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: UNDANGAN TERBUKA
[ BAB 13 : BAB 13: KONJUNGSI PLANET DAN UNDANGAN TERBUKA ]
Cuaca Surabaya siang itu terasa lebih menyengat dari biasanya. Matahari seolah-olah sedang melampiaskan amarahnya pada aspal Jalan Raya Darmo, menciptakan fatamorgana yang menari-nari di kejauhan. Namun, panas yang dirasakan Keyla Aluna di dalam kelas XI IPA 2 bukan berasal dari matahari, melainkan dari saku rok abu-abunya yang terasa membara.
Di sana, tersimpan sebuah kertas tempel—sticky note berwarna kuning neon—yang baru saja ia ambil dengan manuver nekat dari bawah pot tanaman lidah mertua di koridor dekat ruang BK. Itu adalah lokasi pertukaran baru yang disepakati secara implisit lewat kode angka di surat sebelumnya.
"Muka kamu merah banget, Key. AC kelas rusak ta?" tegur Dinda yang sedang mengipasi lehernya dengan buku tulis Fisika. Keringat tipis mengalir di pelipis gadis tomboy itu.
Keyla menggeleng cepat, matanya melirik waspada ke arah pintu kelas, takut kalau-kalau Vanya atau antek-anteknya tiba-tiba muncul. Sejak insiden di kantin kemarin, Keyla merasa ada mata yang selalu mengawasinya. Firasatnya tidak enak, seolah gravitasi di sekitarnya semakin berat, tanda sebuah *black hole* sedang mendekat.
"Bukan AC-nya," bisik Keyla, menarik lengan kemeja Dinda agar mendekat. "Dia mbales, Din. Cepet banget. Padahal aku baru naruh surat *Spectroscopy* itu tadi pagi sebelum bel masuk."
Dinda membelalakkan mata, lalu menyeringai lebar. "Waduh, gercep! Gas pol rem blong iki jenenge. Kapten Basket kita kayaknya udah nggak sabar. Ayo, baca di rooftop. Mumpung Pak Bambang lagi rapat guru."
Mereka berdua menyelinap keluar kelas. Koridor SMA Cakrawala Terpadu cukup sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung. Sesampainya di rooftop, angin panas langsung menyambut mereka, menerbangkan rambut Keyla yang dikuncir kuda. Di kejauhan, gedung-gedung pencakar langit Surabaya berdiri gagah, menjadi saksi bisu drama remaja ini.
Keyla duduk di balik tangki air—tempat persembunyian favoritnya—dan dengan tangan gemetar membuka lipatan sticky note itu. Tulisan tangan Bintang yang tegas dan rapi langsung menyapa matanya.
*Untuk Cassiopeia,*
*Teori Spektroskopi-mu benar. Selama ini aku cuma memantulkan cahaya putih yang orang lain ingin lihat. Tapi kamu... kamu prisma yang berhasil menguraikan cahayaku, membuatku sadar kalau aku punya warna sendiri. Terima kasih sudah melihatku, bukan cuma sebagai kapten basket atau anak orang kaya, tapi sebagai Bintang.*
*Minggu depan ada Cakrawala Fest. Akan ada fenomena Konjungsi—saat dua benda langit bertemu di satu garis bujur yang sama. Aku ingin kita mengalami konjungsi itu.*
*Temui aku di depan stand Astronomi, jam 7 malam, saat puncak acara kembang api. Pakailah sesuatu yang berwarna biru dongker, seperti warna langit malam favoritmu. Aku akan menunggu. Jangan sembunyi lagi. Aku ingin tahu siapa yang selama ini memegang kendali atas gravitasiku.*
*- B.R.*
Napas Keyla tercekat. Oksigen di paru-parunya mendadak hilang, seolah ia benar-benar terlempar ke ruang hampa udara. Kertas kuning itu terlepas dari jari-jarinya, melayang pelan sebelum ditangkap dengan sigap oleh Dinda.
Dinda membaca pesan itu dalam sekejap. Hening sejenak, sebelum akhirnya suara cempreng khas Suroboyoan-nya memecah kesunyian rooftop.
"JANCIK! IKI TENANAN?!" Dinda berteriak heboh, mengguncang bahu Keyla. "Key! Heh, sadar! Bintang ngajak ketemuan! Resmi! *Date!* Kencan! Ya ampun, gusti!"
Keyla justru memucat. Ia menekuk lututnya dan membenamkan wajah di antara kedua tangannya. "Mati aku, Din. Mati aku..."
"Lho, kok malah mau mati? Haruse syukuran tumpengan!" Dinda berkacak pinggang, bingung melihat reaksi sahabatnya.
"Kamu nggak ngerti..." suara Keyla terdengar parau. Ia mendongak, matanya berkaca-kaca. "Dia berekspektasi ketemu *Cassiopeia*. Sosok misterius, puitis, cerdas, dan... dan *perfect*. Kalau dia tahu yang datang cuma Keyla... Keyla yang 'invisible', yang cuma remah-remah rengginang di kaleng Khong Guan... dia pasti kecewa berat, Din. Aku nggak sanggup lihat tatapan kecewa di matanya."
Keyla membayangkan skenario terburuk: Bintang melihatnya, senyumnya luntur, lalu berbalik pergi tanpa kata. Atau lebih parah, Bintang tertawa karena merasa dikerjai. Keyakinan diri Keyla yang sudah setipis atmosfer Mars kini runtuh total.
"Aku nggak bisa datang. Aku nggak akan datang," putus Keyla, menggeleng kuat.
"Heh! Lambemu kaku temen!" Dinda jongkok di depan Keyla, menatap tajam manik mata sahabatnya itu. "Dengerin aku ya, Nona Astronomi. Selama dua taun aku liat kamu cuma berani ngelirik punggungnya Bintang dari jauh. Sekarang, dia udah ngulurin tangan. Dia minta ketemu. Dia bilang dia suka *isinya* Cassiopeia, bukan bungkusnya!"
"Tapi fisiknya..."
"Kon iku ayu, Key! Cok, gemes aku!" Dinda menepuk pipi Keyla pelan tapi tegas. "Kamu itu manis. Pinter. Matamu itu bagus kalau nggak ketutupan poni kepanjanganmu itu. Masalahmu itu cuma satu: *Insecure*-mu itu lho, tingginya ngalahin Tunjungan Plaza!"
Dinda menarik napas panjang, mencoba menurunkan nada bicaranya. "Lagian, dia minta kamu pake baju biru dongker, kan? Itu kode, Key. Dia mau mastiin. Kalau kamu nggak dateng, kamu bukan cuma nyakitin hati dia, tapi juga nyakitin hatimu sendiri. Kamu mau selamanya jadi bayangan?"
Keyla terdiam. Kata-kata Dinda menohok tepat di ulu hati. Bayangan Bintang yang kesepian, curhatan tentang ayahnya, tentang mimpi arsiteknya... semua itu nyata. Bintang sudah membuka diri padanya. Apakah adil jika Keyla terus bersembunyi?
"Tapi Vanya..." cicit Keyla. "Vanya pasti ada di sana. Kalau dia tau..."
"Urusan Mak Lampir itu biar jadi urusanku," potong Dinda garang. "Tugasmu cuma satu: Tampil cantik, dateng ke stand Astronomi, dan bilang 'Hai, aku Cassiopeia'. Sisanya, serahin sama semesta."
Dinda berdiri, mengulurkan tangannya pada Keyla. "Gimana? Berani keluar dari orbitmu dan nabrak Bintang?"
Keyla menatap tangan sahabatnya, lalu beralih menatap langit Surabaya yang silau. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara teror dan harapan. Ia ingat kutipan Carl Sagan yang pernah ia tulis: *'Somewhere, something incredible is waiting to be known.'* Mungkin ini saatnya.
Dengan ragu, Keyla menyambut uluran tangan Dinda. "Oke. Aku datang."
Dinda bersorak girang. "Nah, ngono lho! Pulang sekolah kita ke TP. Kita cari *dress* biru dongker paling badai se-Surabaya Raya! Dompetku siap berkorban demi cinta monyet kalian!"
***
Sementara itu, di kantin yang riuh, Vanya Clarissa sedang menyesap *iced americano*-nya dengan anggun. Ia duduk di meja 'The Royals', dikelilingi teman-teman cheerleaders-nya, namun matanya tidak fokus pada percakapan mereka.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari salah satu adik kelas yang ia 'rekrut' sebagai mata-mata dengan bayaran traktiran Starbucks.
*Lapor Kak Vanya. Target K (Keyla) sama D barusan turun dari rooftop. K kelihatan panik tapi abis itu senyum-senyum takut gitu. Mereka ngomongin soal 'biru dongker' sama 'TP'.*
Vanya meletakkan ponselnya di meja dengan gerakan lambat yang penuh perhitungan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya meremang.
"Biru dongker..." gumam Vanya pelan.
"Kenapa, Van? Mau beli baju baru?" tanya salah satu temannya.
"Bukan," jawab Vanya santai, matanya berkilat licik. "Cuma lagi mikir, warna biru dongker itu bagus banget buat warna... *kain kafan* harapan seseorang."
Vanya menoleh ke arah meja Bintang di sudut lain kantin. Cowok itu terlihat melamun sambil memutar-mutar bola basket di jarinya, senyum tipis terukir di wajahnya. Senyum yang bukan untuk Vanya.
*Nikmati senyummu selagi bisa, Bintang,* batin Vanya. *Karena di Cakrawala Fest nanti, aku pastikan kamu akan melihat siapa sebenarnya 'bintang' yang paling bersinar di sekolah ini. Dan tikus kecil bernama Keyla itu... dia akan menyesal pernah mencoba bermain api denganku.*
"Guys," panggil Vanya, membuat semua temannya menoleh. "Rencana berubah. Untuk Pensi besok, kostum kita bukan merah gold. Ganti jadi *Midnight Blue*."
"Lho, kok mendadak, Van?" protes temannya.
"Lakukan saja," desis Vanya dingin. "Kita akan bikin kejutan. Kejutan yang nggak bakal dilupain sama anak-anak *The Commons* seumur hidup mereka."
***
Pulang sekolah, suasana parkiran motor SMA Cakrawala padat merayap. Bintang berjalan menuju motor sport-nya sambil menyenandungkan lagu yang entah kenapa terdengar lebih merdu hari ini. Ia merasa lega. Undangan sudah disebar. Bola sudah dilempar. Sekarang tinggal menunggu apakah Cassiopeia akan menangkapnya.
Saat ia mengenakan helm, Aldi, teman setim basketnya, menepuk bahunya. "Woi, Bos! Seneng amat muka lo. Togel tembus?"
"Lebih dari itu, Di," sahut Bintang, menyalakan mesin motornya. "Gue bakal ketemu dia."
"Dia siapa? Hantu penunggu perpus?" ledek Aldi.
"Cassiopeia," jawab Bintang mantap. "Di Pensi besok."
Aldi melongo. "Serius lo? Wah, gila. Gue harus siapin popcorn nih. Awas loh, Bin, ntar ternyata dia cowok iseng."
"Nggak mungkin," Bintang menggeleng yakin. "Tulisan dia, cara dia mikir... gue tau dia cewek. Dan gue rasa, gue udah mulai tau siapa dia."
Bintang teringat kejadian di koridor beberapa hari lalu. Tabrakan dengan gadis pemalu yang memeluk buku astronomi. Wangi vanilla yang samar. Tatapan mata yang selalu menghindar. Keyla. Gadis yang selalu ada di sekitarnya tapi tak pernah benar-benar ia perhatikan. Mungkinkah?
Keyakinan itu membuat adrenalin Bintang terpacu. Ia memacu motornya membelah kemacetan sore Surabaya. Langit di atas berwarna jingga kemerahan, indah namun menyimpan panas yang belum usai. Bintang tidak tahu bahwa di balik rencana indahnya, awan mendung bernama Vanya Clarissa sedang mempersiapkan badai yang siap menghancurkan segalanya di malam festival nanti.