NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Di dapur yang sempit, Ibu Kevin berdiri terpaku menatap mangkuk sup ayam yang kini sudah dingin. Hatinya terasa seperti diremas. Kecewa, sedih, dan rasa tidak berdaya bercampur menjadi satu.

Baginya, penolakan Ashley terhadap masakannya adalah penegasan bahwa jurang antara mereka terlalu dalam untuk diseberangi. Namun, jauh di lubuk hatinya, rasa bersalah yang lebih besar menghantuinya. Ia tidak bisa marah, karena ia tahu betul alasan di balik pernikahan ini. Kevin tidak berada di sana karena cinta pada awalnya, melainkan karena ia dijadikan "jaminan" untuk menebus dosa ayahnya.

​Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang berat dan derit pintu belakang terdengar. Amal, ayah Kevin, masuk dengan napas terengah-engah. Tubuhnya yang sudah tidak lagi muda tampak legam terbakar matahari. Pakaian kerjanya kotor oleh lumpur kering, dan di tangannya ia menjinjing sebuah bakul besar berisi wortel hasil panen hari ini.

​"Bu... ada mobil siapa di depan?" tanya Amal dengan nada panik sekaligus heran. "Mobilnya sangat mewah, aku sampai takut menyenggolnya saat lewat tadi."

​Ibu Kevin hanya menunjuk ke arah kamar dengan dagunya. "Putramu pulang, Pak."

​Amal tertegun. Bakul wortel di tangannya hampir saja terlepas. Ia belum sempat mencerna kalimat istrinya ketika pintu kamar terbuka.

Kevin melangkah keluar setelah memastikan Ashley tertidur lelap akibat kelelahan pasca mual yang hebat.

​Mata ayah dan anak itu bertemu. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Amal menundukkan kepala, ia tidak berani menatap langsung mata putranya yang kini tampak jauh lebih mapan dan gagah. Ada rasa malu yang mendalam; rasa malu seorang ayah yang telah "menjual" masa depan anaknya demi utang judi.

​"Ayah..." panggil Kevin pelan. Ia melangkah mendekat dan meraih tangan ayahnya yang kasar untuk dicium, sebuah tradisi hormat yang tetap ia jaga meski luka lama itu belum sepenuhnya sembuh.

​"Kau... kau datang, Nak?" suara Amal bergetar. Ia menaruh bakul wortelnya di lantai, tangannya yang gemetar menyentuh bahu Kevin. "Maafkan Ayah... Ayah benar-benar merasa bersalah setiap kali mengingat bagaimana kau harus pergi dari rumah ini."

​Kevin tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Sudahlah, Yah. Aku sudah memaafkan itu. Lagipula, aku baik-baik saja di sana."

​"Baik-baik saja?" Ibu Kevin menyela, suaranya terdengar getir. Ia mendekati suaminya sambil melirik ke arah kamar. "Kau tahu, Pak. Kevin datang membawa wanita itu, tapi wanita itu bahkan tidak mau mencium bau sup ayam buatanku. Dia mendorong mangkuknya dengan wajah jijik. Dan lihat Kevin, dia melayani wanita itu seperti pelayan, bukan seperti suami."

​Amal menatap istrinya dengan bingung, lalu kembali menatap Kevin. "Apa itu benar, Nak? Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?"

​Kevin menghela napas panjang, ia tahu kesalahpahaman ini harus segera diluruskan, tapi ibunya sedang terlalu emosional untuk mendengarkan.

"Bukan begitu, Bu. Ada alasan kenapa Ashley bersikap seperti itu. Dia sedang tidak sehat."

​Ibu Kevin tidak mendengarkan. Ia justru menggenggam tangan suaminya dengan erat, matanya berkaca-kaca.

"Pak, apa tidak ada cara lain? Bisakah kita mengumpulkan uang dari hasil panen wortel tahun ini? Aku ingin kita membayar kembali utang itu pada keluarga Giovano. Aku ingin Kevin bebas. Aku tidak tahan melihat putraku harus tunduk pada wanita kota yang angkuh itu hanya karena uang."

​Amal terdiam seribu bahasa. Ia menatap bakul wortel di bawahnya, lalu menatap sekeliling rumah mereka yang reyot. Gaji dan hasil panen seorang petani desa sepertinya tidak akan pernah cukup bahkan untuk membayar satu ban mobil sedan yang parkir di depan rumah mereka, apalagi melunasi utang miliaran yang dulu ia buat.

​"Bu..." Amal berbisik dengan suara parau. "Kau tahu sendiri, uang kita tidak akan pernah cukup. Jangankan membayar utang, untuk memperbaiki atap rumah ini saja kita harus menabung berbulan-bulan."

​Ibu Kevin menutup wajahnya dengan tangan, tangisnya pecah. "Tapi hatiku sakit, Pak! Aku melihat Kevin begitu patuh padanya, seolah dia takut kehilangan kemewahan itu atau takut disiksa jika melakukan kesalahan. Aku merasa kita sudah menghancurkan hidup anak kita sendiri."

​Kevin merasa hatinya tercubit melihat kesedihan orang tuanya. Ia mendekat dan merangkul mereka berdua. "Ibu, Ayah... dengarkan aku. Tidak ada yang disiksa di sini. Ashley tidak seburuk yang kalian kira. Dan soal sikapnya tadi siang..."

​Kevin menggantung kalimatnya sejenak, ia melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup. Ia tahu ini saatnya memberitahu mereka kebenaran yang akan mengubah segalanya.

​"Alasan kenapa Ashley mual dan tidak tahan mencium bau masakan Ibu bukan karena dia jijik," Kevin merendahkan suaranya, memberikan penekanan pada setiap kata. "Tapi karena Ashley sedang hamil. Dia sedang mengandung anakku."

​Seketika, suasana di dapur itu menjadi sunyi senyap. Isak tangis Ibu Kevin terhenti. Amal membelalakkan matanya, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut.

​"Hamil?" ulang Ibu Kevin dengan suara yang hampir tidak terdengar.

​"Iya, Bu. Usia kandungannya baru beberapa minggu. Dokter bilang penciumannya menjadi sangat sensitif. Jadi, aroma sup ayam yang tajam tadi benar-benar membuatnya mual, bukan karena dia membenci masakan Ibu," jelas Kevin dengan lembut.

​Ibu Kevin terduduk di kursi kayu, ia merasa sangat malu sekaligus lega. Rasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada menantunya kini memenuhi dadanya. Sementara Amal, untuk pertama kalinya sejak Kevin pergi, ia merasakan sebuah harapan baru terpancar di wajahnya.

​"Jadi... Ayah akan punya cucu?" tanya Amal dengan mata yang mulai berkaca-kaca, kali ini karena bahagia.

​Kevin mengangguk mantap. "Iya, Yah. Karena itulah aku sangat menjaganya. Aku perhatian padanya bukan karena aku takut akan disiksa, tapi karena aku mencintainya dan bayi yang ada di dalam rahimnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!