Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia di Dalam Kendi
" Festival Lelang Batu?" Banyu mengernyitkan dahi. Istilah itu asing baginya.
Pak Monir tersenyum maklum, lalu menjelaskan sambil menuangkan teh. "Iya, Jade Gambling atau Judi Batu. Itu acara tahunan di perbatasan Myanmar. Para penambang akan mengeluarkan stok batu giok mentah (raw stone) terbaik mereka. Pembeli seperti kita harus menebak isinya. Kalau kita beli batu seharga 100 juta dan ternyata isinya giok kualitas Imperial, harganya bisa jadi 10 Miliar. Tapi kalau isinya zonk, ya uang hilang."
Pak Mo menyesap tehnya, lalu menatap Banyu serius.
"Saya lihat kamu punya bakat alami untuk melihat isi batu. Saya mau ajak kamu jadi konsultan pribadi saya. Kalau tebakan kamu benar, saya kasih komisi 10% dari nilai keuntungan bersih. Gimana?"
Mata Banyu berbinar. 10% itu angka raksasa jika nilai batunya miliaran.
"Tawaran menarik, Pak," jawab Banyu. Tapi otak bisnisnya langsung jalan. "Tapi ada satu syarat, Pak. Boleh nggak saya juga ikut beli batu buat diri saya sendiri? Pake modal saya pribadi."
Pak Mo terdiam sejenak, menatap Banyu dengan tatapan menyelidik. "Memangnya kamu siap modal berapa, Nak Banyu?"
Ini pertanyaan jebakan. Kalau Banyu punya modal triliunan, Pak Mo pasti menolak karena Banyu bakal jadi saingan berat. Tapi kalau modalnya receh, Pak Mo tidak keberatan.
Banyu tertawa canggung. "Yaa... paling cuma ada dana nganggur Lima Ratus Juta sampai Satu Miliar lah, Pak. Nggak lebih."
Pak Mo langsung tertawa lepas, bahunya rileks kembali. Di dunia Judi Batu Myanmar, uang satu miliar itu cuma cukup buat beli batu kerikil atau batu buangan. Banyu bukan ancaman.
"Hahaha! Tenang saja. Kalau cuma segitu, kamu boleh nebeng kuota impor saya. Deal?"
"Deal, Pak Mo! Senang berbisnis dengan Bapak."
Mereka bersalaman. Pak Mo mengantar Banyu sampai ke pintu depan galeri, membuat para staf dan pelanggan lain melongo kaget. Seorang anak bau kencur diantar langsung oleh Pak Mo Sang Legenda? Status Banyu di mata mereka langsung naik pangkat jadi "Suhu Muda".
---
Malam harinya, di kamar hotel bintang tiga di Bandung.
Banyu mengunci pintu rapat-rapat. Dia membuka tas ransel yang penuh dengan bongkahan batu giok mentah senilai seratus juta yang baru dibelinya.
"Waktunya makan malam, Kendi," bisik Banyu.
Dia menempelkan Kendi Penyuling Jiwa ke tumpukan batu itu. Seperti biasa, Kendi menyerap essence batu-batu itu dengan rakus. Dalam hitungan menit, batu-batu mahal itu berubah jadi debu abu-abu.
Setelah batu habis, Banyu segera melakukan meditasi untuk masuk ke dalam Dimensi Kendi.
Dan begitu dia membuka mata di dalam sana... Banyu ternganga.
"Wow..."
Dunia di dalam kendi telah berevolusi.
Luas tanahnya melebar drastis, sekarang mungkin sekitar 500 meter persegi (setengah hektar). Tapi yang paling mengejutkan adalah munculnya Elemen Air.
Mata air pusat yang tadinya cuma genangan kecil, kini memancarkan air deras yang mengalir membentuk sungai kecil selebar satu meter. Sungai itu bermuara ke sebuah cekungan baru yang membentuk Danau Alami seluas 40 meter persegi.
Airnya sejernih kristal. Saking jernihnya, dasar danau yang penuh kerikil terlihat jelas, seolah-olah danau itu dangkal. Padahal saat Banyu mencelupkan tangannya, kedalamannya lebih dari dua meter.
"Gokil... ada danau pribadi!" seru Banyu girang. "Ini tempat yang sempurna buat budidaya ikan 'Dewa' nanti!"
Perubahan tidak berhenti di situ.
Pohon Misterius di dekat mata air (yang menjadi sumber tetesan ajaib) juga berubah. Di pucuk tertingginya, muncul kuncup tunas baru berwarna hijau muda yang bersinar. Sepertinya kemampuan produksi Cairan Ajaib akan meningkat lagi.
Dan di sudut lain, pohon Ek (Oak) yang Banyu tanam tempo hari kini sudah tumbuh menjadi raksasa. Tingginya setara gedung tiga lantai, dengan dahan yang rimbun menaungi area luas di bawahnya.
Di dunia nyata, pohon Ek butuh puluhan tahun untuk jadi sebesar ini. Di sini? Cuma butuh sebulan.
Melihat pohon Ek raksasa itu, Banyu teringat rencana bisnisnya dengan Chef Gunawan.
"Pohonnya udah gede, akarnya pasti udah kuat. Saatnya nanam Truffle!"
Banyu segera keluar dari dimensi. Dia menyambar HP-nya dan mencari restoran Prancis paling otentik di Bandung.
Ketemu: Le Jardin. Milik seorang chef ekspatriat Prancis bernama Pierre.
---
Setengah jam kemudian, Banyu sudah duduk di meja Le Jardin.
Dia tidak memesan Foie Gras atau Escargot. Dia memanggil manajer dan minta bertemu pemiliknya langsung.
Pierre, pria bule bertubuh subur dengan kumis melintir, keluar menemui Banyu dengan wajah bingung.
"Bonsoir, Monsieur. Ada masalah dengan makanan kami?" tanya Pierre dengan bahasa Indonesia yang logatnya medok Prancis.
"Nggak, Chef. Saya ke sini mau bisnis," kata Banyu to the point. "Saya mau beli Jamur Truffle (Black & White Truffle). Tapi saya mau yang masih utuh, fresh, mentah, dan belum diiris/dimasak."
Pierre mengernyit. "Monsieur, Truffle itu bahan sakral. Kami cuma jual per gram dalam hidangan. Lagipula, White Truffle harus impor dari Alba, Italia. Harganya sangat mahal. Kenapa Anda mau beli utuh?"
"Saya mau buat koleksi... dan eksperimen kuliner pribadi," jawab Banyu asal. "Harga bukan masalah, Chef. Saya bayar cash di muka."
Banyu meletakkan dua ikat uang tunai (Rp 20 Juta) di atas meja sebagai tanda jadi.
Mata Pierre langsung ijo. Prinsip dagang: Ada uang, ada barang.
"Ah! Tres bien! Kalau begitu ceritanya lain," sikap Pierre langsung berubah ramah 100%. "Kebetulan saya ada stok Black Truffle segar. Untuk White Truffle, saya harus pesan dulu, mungkin lusa sampai. Tapi karena Anda bayar cash, saya usahakan yang terbaik!"
"Sip. Kabarin kalau barangnya udah ada ya, Chef."
Banyu keluar dari restoran dengan senyum puas. Misi Truffle: On Progress.
---
Keesokan paginya.
Banyu akhirnya memutuskan untuk menyewa sebuah mobil pikap lengkap beserta sopirnya. Maklum saja, biarpun statusnya sekarang sudah jadi "Petani Sultan" yang rekeningnya gendut, faktanya pemuda ini sama sekali belum bisa nyetir mobil. Ironis banget, kan? Karena gengsinya lumayan tersentil, Banyu bertekad bulat di dalam hati. Fiks! Pokoknya kelar urusan ini, gue bakal langsung daftar kursus mengemudi terus mborong mobil! beserta SPG-nya batinnya nge-gas. Mengingat fisik dan instingnya sudah berevolusi tajam berkat Cairan Ajaib Kendi, Banyu super pede bakal bisa menaklukkan setir mobil cuma dalam hitungan hari.
Singkat cerita, pikap sewaan yang ditumpangi Banyu itu kini meluncur mulus membelah jalanan menanjak menuju kawasan Lembang. Begitu kaca mobil diturunkan, hembusan udara pegunungan yang dingin dan sejuk langsung menyapa wajahnya, seolah menyambut kedatangan sang juragan muda.
Tujuannya adalah sentra pembibitan tanaman buah. Dia sudah riset, di sini ada satu supplier yang punya bibit Blueberry Highbush impor.
Pemilik pembibitan, Pak Dadang, menyambut Banyu dengan antusias begitu tahu Banyu mau memborong bibit untuk lahan bukit.
"Wah, jarang-jarang ada anak muda mau nanam Blueberry. Biasanya pada nanem stroberi atau jeruk," kata Pak Dadang sambil menyuguhkan kopi bandrek.
"Biar beda dari yang lain, Pak," jawab Banyu. "Saya mau pesan 500 bibit kualitas super. Saya bayar lunas sekarang, tapi saya mau bawa barangnya hari ini juga."
Namun, senyum Pak Dadang tiba-tiba hilang. Dia menggelengkan kepala.
"Waduh... kalau bayar lunas sih saya seneng, Den Banyu. Tapi kalau mau dibawa hari ini... kayaknya nggak bisa."