NovelToon NovelToon
Legenda Manik Penciptaan

Legenda Manik Penciptaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Light Novel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Slycle024

Di bawah bayang-bayang aturan feodal-kultivasi, di mana jenius dari kalangan bawah pada akhirnya akan terkubur, Chen Yuan memilih mengamati.

Mengetahui bahwa sang ibu angkat telah dimanipulasi dan bahkan menganggapnya, pecahan kesadaran anak kandungnya sendiri, ia memilih untuk membayar hutang budi itu—bukan dengan darah, tetapi dengan memainkan peran untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan saudaranya.

Di dunia yang kejam dan penuh kepentingan, ia memilih mencoba lagi untuk merasakan arti ketulusan, bukan pertukaran.

Demi membuatnya bahagia dan mampu berdiri di dunia ini, ia bahkan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan eksistensinya.

Namun semua itu hanyalah awal.

Di balik semua itu, misteri tentang dirinya sendiri sangat rumit, apalagi segala sesuatu di sekitarnya.

Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang ingin mencoba lagi–bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menemukan arti kehidupan yang tak sempat ia miliki.

Kelanjutan World of Cultivation: Aimless Journey

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slycle024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Seorang manusia biasa, tanpa latar belakang, tanpa keistimewaan, tanpa ingatan masa lalu, terus terombang-ambing dalam arus kehidupan yang tak menentu. 

Entah berapa lama dia menjelajahi dinamika pemukiman dengan insting yang ditempa di hutan iblis yang kejam.

Kehangatan berubah menjadi dingin. 

Kesepian meresap hingga ke tulang. 

Akhirnya, ia memutuskan untuk mengunci segala sesuatu atas dasar pertukaran.

Segalanya berubah ketika dia menyaksikan kematian seorang pelayan—yang selama ini dianggap tak penting. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan muncul. Yaitu keinginan terdalam untuk balas dendam, membara dan menggebu-gebu. 

Namun dia sudah terbiasa melakukan segala sesuatu atas dasar pertukaran. Tanpa dia sadari, keinginan itu berubah menjadi sesuatu yang terus memaksanya jatuh ke dalam keinginan dan kegelapan.

Terganggu oleh kekacauan di dalam dirinya, dia membiarkan sesuatu itu mengambil alih tubuh keduanya, membiarkannya mengamuk sesuka hati. 

Setelah puas menyaksikan kehancuran, dia berjalan di malam hari, di bawah sinar bulan, sampai tiba di sebuah tempat yang menjadi saksi bisu dari betapa menakutkannya sebuah kegilaan.

Tiba-tiba, dari dalam dirinya, sebuah cahaya putih bergetar—sejenis api, tapi bukan api, namun ditakuti oleh api itu sendiri.

Cahaya itu bergetar beberapa kali, seperti memanggil sesuatu.

Dari sisa kehancuran, sebuah cahaya hitam muncul, melayang, lalu keduanya menyatu dengan inti eksistensi miliknya, berputar dalam irama yang menakutkan. 

Dalam satu momen itu, dengan tambahan roh lima elemen murni, dia malah masuk ke dalam kondisi legendaris ketika membentuk eksistensi baru (jiwa baru lahir)

Syarat kondisi ini sangat berat. 

Selain membutuhkan lautan kesadaran yang berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan kultivator biasa, juga memerlukan pemahaman alami terhadap segala sesuatu dan seluruh hukum langit dan bumi. Namun, saat mencapai kondisi ini, sangat sulit untuk menemukan kembali jati diri sendiri.

Pada saat ini, ia  berjalan dalam kegelapan tak berujung, langkahnya pelan namun tak ragu.

Tidak ada tujuan yang jelas.

Tidak ada arah yang pasti.

Hanya satu hal yang diketahui: mencari siapa aku.

Langkahnya akhirnya terhenti.

Di tengah kegelapan yang seharusnya tak memiliki ujung, sesuatu yang asing muncul—sebuah gelembung transparan, mengambang tanpa suara. Permukaannya berkilau lembut, memantulkan cahaya bulan yang bahkan tak seharusnya ada di tempat ini.

Untuk pertama kalinya, ia menemukan hal baru selain kegelapan. 

Ia melangkah mendekati gelembung itu.

Saat jaraknya tinggal selangkah, sesuatu yang terasa akrab tiba-tiba menyentuh telapak tangannya.

Bukan cahaya. Bukan api.

Melainkan seutas benang putih, tipis seperti napas, namun terasa nyata, lebih nyata daripada eksistensinya sendiri saat ini.

Ia berbalik.

Saat langkah pertamanya mengikuti garis putih itu, kegelapan di sekitarnya bergetar. Retakan-retakan tipis menjalar seperti kaca pecah, lalu runtuh perlahan. 

Dari balik kegelapan, cahaya lain tumpah—hangat dan sangat nyata.

Adegan demi adegan muncul.

Ia melihat dirinya tertawa.

Duduk di depan rumah kayu sederhana, dikelilingi wajah-wajah yang terasa asing namun akrab. Aroma makanan hangat, suara obrolan ringan, dan kedamaian yang menusuk dada.

Sesuatu bergejolak dalam dirinya.

Bukan bahagia.

Melainkan perasaan asing yang kelak ia kenal sebagai iri hati.

Langkahnya melambat. 

Sebuah suara halus muncul, bukan dari luar, melainkan dari lubuk kesadarannya sendiri.

Ah-Yuan kamu terlambat lagi.

Kakak Yuan! Kemana saja kamu, aku bosan tau.

Suami, kau baru saja pulih, istirahatlah sebentar. Jangan pergi dulu, cukup disini sampai anak kita lahir.

Adegan demi adegan terus bermunculan.

Terlalu nyata untuk disebut ilusi.

Terlalu rapuh untuk disebut kenyataan.

Langkahnya tiba-tiba terhenti.

Ia melirik dan menyaksikan hutan purba yang sunyi di siang hari, namun dipenuhi gema auman-auman binatang iblis.

ROARR!

Satu auman membuat seluruh penghuni hutan membeku ketakutan.

Tak jauh dari pusat hutan, seekor kera berlengan empat berlari sambil menggendong bayi manusia. kera itu menyeberangi danau hingga tiba di sebuah pulau kecil. Di sana, seekor harimau bersayap hitam berbaring di atas batu, dengan pohon kuno di belakangnya.

Kera itu mendekat, meletakkan sang bayi, lalu menunduk hormat.

Tangisan bayi pun pecah memecah kesunyian.

Waah! Waah!

Melihat adegan ini, sesuatu dalam dirinya tergerak.

Ia melangkah mendekat. 

Pada saat itu, ruang dan waktu seakan berhenti, kecuali bayi yang terus menangis.

Ketika ia mengulurkan jarinya, tangan kecil sang bayi menggenggamnya.

Tangisan pun berhenti.

Ia merasakan hal yang nyata untuk pertama kali.

Kegelapan jatuh perlahan, seperti tirai malam.

Dari kedalaman gelap, sebuah kekuatan tak bernama menariknya masuk, menyeret kesadarannya menjauh dari cahaya.

Ketika ia membuka mata kembali, dunia terasa sempit.

Ia tersadar.

Ia berada di dalam tubuh sang bayi, sebagai pengamat dan sebagai bagian dari bayi itu sendiri.

***

Di sebuah kamar yang temaram oleh cahaya lampu malam, seorang wanita duduk di kursi kayu dekat jendela. Ia mengenakan jubah panjang putih polos, sederhana namun anggun. Rambut putihnya yang panjang menjuntai hingga ke pinggang, memancarkan kilau kelembutan, yang seolah tak berujung.

Namanya Mu Lanxing, putri kedua dari sebuah kekaisaran.

Di dalam pelukannya, seorang bayi kecil tertidur dengan sangat nyenyak. Pipi mungilnya yang hangat menempel di dada Mu Lanxing. Namun, kulit bayi itu memancarkan cahaya lima warna yang berdenyut perlahan-lahan.

Entah berapa lama waktu berlalu…

Perlahan-lahan, cahaya lima warna itu memudar, menampakkan kulit bayi yang seputih susu dan selembut giok.

Tepat pada saat itu, sebuah suara dingin tanpa emosi tiba-tiba terdengar.

“Nyonya, segel telah dipasang dan koneksi jiwa telah berhasil terhubung. Berdasarkan perhitungan, Tuan membutuhkan waktu paling cepat dua puluh tahun untuk mendapatkan kembali jati dirinya. Selain itu, saat ini, pecahan jiwa Tuan melahirkan kesadaran mandiri. Silahkan beri instruksi.” 

Suara itu berasal dari Xiaoshi, roh manik dunia tersegel.

Mu Lanxing mengangguk, paham.

“Xiaoshi! Keluarkan batu teleportasi!” katanya pelan namun lirih.

Begitu dipanggil, sebuah bola kecil bercahaya lima warna perlahan keluar dari tubuh bayi itu. Tanpa berkata apa pun, Xiaoshi mengeluarkan tiga batu yang dipenuhi ukiran rune-rune aneh dan kuno.

“Tujuanmu ternyata wilayah barat,” kata Mu Lanxing dengan nada kecewa. “Kupikir, setelah semua masalahmu selesai, kamu akan datang mencariku… istrimu sendiri.”

“Lanxing, apa kamu sudah mengambil keputusan?” suara lain terdengar, dingin namun lembut.

“Bibi! Kenapa tidak membawa dia ke istana?” Tanya Mu Lanxing dengan kekhawatiran yang mendalam.

“Sistem kekaisaran terlalu rumit,” kata sang bibi. “Dia pasti akan kesulitan beradaptasi. Selain itu, kamu juga harus ingat statusmu saat ini.” Ia menghela nafas ringan. “Sudahlah! Lempar saja dia ke wilayah barat, bukankah kamu sangat membencinya?”

Mu Lanxing tidak menanggapi.

Ia menundukkan kepala, menatap bayi dalam pelukannya untuk terakhir kali. Di matanya, api kemarahan dan ketidakpuasan bercampur menjadi satu. 

“Kau sangat jahat, kau pria bodoh…. kau menolakku…. menikah lagi tanpa izin dariku…” 

Umpatan demi umpatan terus keluar dari bibir indahnya, bahkan membuat alis sang bibi berkedut. 

Setelah puas, ia menghancurkan salah satu Batu Teleportasi.

Lingkaran-lingkaran aneh di bawah kakinya terbentuk, lalu menghilang dalam sekejap mata, meninggalkan kamar sunyi… 

Dalam kesunyian, sang bibi, mengamati semua yang terjadi dalam ruang ini.

Kalian begitu luar biasa… namun juga begitu bodoh.

Ia tersenyum tipis, getir. 

Benar saja, cinta di dunia ini selalu menghancurkan segalanya… tetapi… kenapa aku iri?

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

TINGKATAN KULTIVASI BENUA AWAN:

Alam Manusia Fana (Mortal Realm)

Alam Tempering Fisik (Physical Body Realm) : Persiapan tubuh dimulai dari merasakan, penyerapan, penguatan tubuh dan pengendalian Qi spiritual.

Alam Laut Spiritual (Spiritual Sea Realm) : Pemadatan Dantian dan pembentukan Qi Sejati (True Qi)

Alam Jiwa (Soul Realm) : Pembentukan dan pemurnian kesadaran; energi jiwa hingga melahirkan esensi sejati.

Alam Genesis Inti (Core Genesis Realm) : Penyatuan tubuh, Qi, dan jiwa menjadi satu inti eksistensi sejati.

Alam Kelahiran Jiwa (Soul Birth Realm) : Dari inti lahir jiwa baru.

Alam Semi-Surga (Quasi-Heaven Realm)

Alam Surga (Heaven Realm)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!