Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERESMIAN ANALOGUE HEART
10:00 AM. Depan Toko Buku Analogue Heart, Pesisir Selatan Yunani.
Pagi itu, aroma laut Mediterania yang biasanya mendominasi, kalah telak oleh aroma kue almond panggang dan kopi kental yang disiapkan oleh Ibu Kostas. Hari ini bukan sekadar hari Sabtu biasa. Hari ini adalah peresmian resmi Analogue Heart. Di atas pintu masuk, papan nama berbahan kayu ek yang dicat biru laut berkilau tertimpa cahaya matahari, menampakkan guratan urat kayu yang indah hasil kerja keras Raka menghaluskan permukaannya selama berhari hari.
Raka berdiri di samping pintu, mengenakan kemeja putih bersih yang pas di tubuhnya, memperlihatkan postur tegaknya yang tak bisa hilang. Di sebelahnya, Liana tampak luar biasa. Ia mengenakan gaun midi berwarna kuning pucat yang cerah, senada dengan semangatnya pagi ini. Rambutnya disematkan bunga melati kecil di satu sisi, membuatnya terlihat seperti penduduk lokal yang paling mempesona.
"Raka, kau terlihat seperti sedang menjaga gerbang kedutaan, bukan toko buku," bisik Liana sambil menyenggol lengan Raka dengan sikunya. "Santai sedikit. Senyum. Ingat, kita bukan sedang memindai ancaman, kita sedang menyambut tetangga."
Raka menarik napas panjang, mencoba melemaskan rahangnya yang kaku. "Aku sedang tersenyum, Li. Secara internal."
Liana tertawa, suara yang jernih dan penuh kebahagiaan. Ia meraih tangan Raka, menjalin jemari mereka erat alih. "Lakukan secara eksternal, Kapten. Untukku."
Sesaat kemudian, warga desa mulai berdatangan. Pak Kostas datang dengan kumis tebalnya yang rapi, membawa sebotol Ouzo sebagai hadiah. "Untuk keberuntungan, anak muda! Semoga toko ini membawa lebih banyak cerita ke desa kita daripada gossip di pelabuhan!"
Raka menerima botol itu dengan anggukan hormat. "Terima kasih, Pak Kostas. Silakan masuk, Liana sudah menyiapkan pojok baca yang nyaman."
Di tengah keramaian kecil itu, sebuah suara klakson yang sangat berisik dan tidak asing terdengar dari arah jalan menanjak. Sebuah jip terbuka berwarna merah menyala yang entah didapat dari mana berhenti tepat di depan kerumunan.
Bimo melompat turun dari kursi kemudi, mengenakan topi kapten kapal dan kacamata hitam dengan bingkai emas yang sangat mencolok.
"MINGGIR SEMUA! PEMEGANG SAHAM MAYORITAS DATANG!" teriak Bimo dengan gaya teatrikalnya yang biasa. Ia membawa sebuah kotak besar yang dibungkus kertas kado perak berkilau.
Liana menepuk jidatnya. "Oh Tuhan, Bimo... bisakah kau tidak mencolok sehari saja?"
"Tidak bisa, Sayangku! Hari besar butuh gaya yang besar!" Bimo menghampiri mereka, memeluk Liana hingga wanita itu hampir terangkat, lalu memberikan fist bump keras pada Raka. "Selamat, Bro. Akhirnya mimpi toko buku biru ini jadi nyata. Aku bangga pada kalian, meski kalian masih terlihat terlalu serius untuk ukuran penjual fiksi."
Bimo meletakkan kotak peraknya di atas meja utama di dalam toko. "Ini hadiah dariku. Jangan dibuka sekarang, tapi percayalah, ini akan membuat sistem keamanan maksudku, kenyamanan toko ini meningkat drastis."
Raka menatap Bimo dengan curiga. "Bim, kau tidak memasang jammer sinyal di dalam kado itu, kan?"
"Hush! Jangan bocorkan rahasia dapur di depan warga lokal!" Bimo mengedipkan mata, lalu segera berbaur dengan penduduk desa, menceritakan kisah bohong yang sangat meyakinkan tentang bagaimana Raka dan Liana adalah pelarian dari korporasi teknologi yang membosankan di Asia.
Saat pesta kecil berlanjut di teras depan, Raka dan Liana menyelinap masuk ke dalam toko yang sepi sejenak. Cahaya matahari masuk miring melalui jendela, menyinari deretan punggung buku yang tertata rapi. Di sini, di antara bau kertas baru dan lem kayu, segalanya terasa sangat nyata.
Raka menarik Liana ke sudut terjauh, di balik rak Sastra Klasik. Ia menyandarkan tubuhnya ke rak, menatap Liana dengan tatapan yang sangat dalam dan emosional.
"Apa kau ingat setahun yang lalu?" tanya Raka pelan.
Liana mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di dada Raka, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini tenang. "Setahun yang lalu kita sedang terjebak di bunker bawah tanah, menghitung sisa oksigen dan berharap bisa melihat matahari satu kali lagi."
"Sekarang kita memilikinya, Li. Mataharinya, toko bukunya... dan kita memiliki waktu," Raka mengangkat wajah Liana, menangkup pipinya dengan tangan yang besar. "Tadi, saat aku melihatmu menyapa warga desa, aku sadar satu hal. Kau bukan hanya menyelamatkan nyawaku di Arktik. Kau menyelamatkan jiwaku dari kegelapan."
Liana merasakan matanya memanas. Ia meraih pergelangan tangan Raka, mencium telapak tangannya. "Kita saling menyelamatkan, Raka. Jangan pernah merasa kau berutang padaku. Toko ini adalah bukti bahwa kita berhak bahagia. Bahwa orang orang seperti kita bisa berhenti berlari."
Raka menunduk, mencium bibir Liana dengan kelembutan yang menyakitkan sebuah ciuman yang merangkum semua rasa sakit, perjuangan, dan harapan yang telah mereka lalui. Di antara rak buku ini, mereka merasa seperti karakter utama dalam cerita mereka sendiri yang akhirnya menemukan happy ending yang mereka susun sendiri, satu huruf pada satu waktu.
Momen romantis mereka terganggu saat terdengar suara denting nyaring dari meja tengah. Bimo ternyata tidak sabar. Ia telah membuka kadonya sendiri.
"VOILA!" seru Bimo.
Raka dan Liana bergegas keluar. Di atas meja, terdapat sebuah proyektor holografik kecil yang sangat canggih teknologi yang jelas jelas tidak seharusnya ada di toko buku pedesaan Yunani. Proyektor itu memancarkan gambar 3D yang berputar sebuah logo gabungan antara simbol unit mereka dulu (09) dan sebuah buku yang terbuka.
"Bimo! Matikan itu!" desis Raka, matanya segera memindai sekeliling, memastikan tidak ada warga desa yang melihat teknologi militer kelas atas tersebut.
"Tenang, Kapten! Aku sudah mengubah frekuensinya menjadi spektrum cahaya yang hanya terlihat seperti lampu hias biasa bagi mata awam," bela Bimo sambil tertawa. "Tapi lihat ini..."
Bimo menekan tombol di samping alat itu. Tiba tiba, di dinding toko, muncul sebuah dedikasi digital yang sangat emosional. Nama nama anggota Unit 09 yang telah gugur muncul satu per satu dalam tulisan emas yang elegan, lalu perlahan memudar menjadi latar belakang gambar toko buku mereka.
"Untuk mereka yang tidak sempat pulang. Cahaya ini untuk kalian."
Liana menutup mulutnya, air mata mengalir bebas. Pak Kostas dan warga lainnya masuk, menatap cahaya itu dengan kagum, mengira itu hanya instalasi seni modern yang keren.
"Sangat indah," gumam Pak Kostas. "Seperti rasi bintang yang turun ke bumi."
Raka menepuk bahu Bimo. Amarahnya hilang, digantikan oleh rasa terima kasih yang mendalam. Bimo telah memberikan cara bagi mereka untuk mengenang masa lalu tanpa harus terbebani olehnya. Tempat ini sekarang benar benar menjadi sebuah kuil memori.
Malam harinya, setelah pesta berakhir dan Bimo akhirnya menyerah pada kantuknya dan dua botol Ouzo, Raka dan Liana kembali ke kesunyian mereka. Namun, atmosfer di dalam rumah telah berubah. Keberhasilan hari ini, ditambah dengan nostalgia emosional dari hadiah Bimo, memicu gairah yang lebih intens.
Di dapur, saat Liana sedang mencuci gelas gelas terakhir, Raka datang dari belakang. Ia tidak memeluknya dengan lembut kali ini. Ia memutar tubuh Liana, mendudukkannya di atas meja dapur yang dingin, dan mengunci gerakannya dengan kedua tangan.
"Raka..." napas Liana memburu.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu sepanjang hari tadi," suara Raka berat, penuh dengan keinginan yang tertahan. "Melihatmu di sana, begitu bersinar... aku ingin menunjukkan padamu betapa bangganya aku memilikimu."
Liana menarik kerah kemeja Raka, menariknya hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. "Tunjukkan padaku, Kapten. Jangan beri aku laporan. Beri aku kenyataan."
Raka mencium Liana dengan gairah yang membakar, tangannya merayap di bawah gaun kuningnya, menyentuh kulit paha Liana yang halus. Sentuhan mereka malam ini terasa lebih liar, seolah olah peresmian toko ini telah melepaskan belenggu terakhir yang menahan perasaan mereka.
Setiap gerakan Raka adalah sebuah pernyataan bahwa pria ini, yang dulu hanya mengenal kehancuran, kini adalah pria yang mendedikasikan seluruh kekuatannya untuk mencintai. Liana merespons dengan keberanian yang setara, kakinya melingkar erat di pinggang Raka, menarik pria itu semakin dalam ke dalam dunianya.
Di atas meja dapur, di bawah cahaya lampu yang temaram, mereka merayakan kemenangan mereka yang paling besar bukan karena berhasil membangun toko buku, tapi karena berhasil tetap menjadi manusia di tengah dunia yang mencoba mengubah mereka menjadi mesin.
"Kau... milikku..." gumam Raka di sela ciumannya.
"Selamanya, Raka," sahut Liana, suaranya parau oleh kenikmatan. "Selamanya."
Fajar mulai menyingsing saat mereka akhirnya terlelap dalam dekapan satu sama lain. Toko buku Analogue Heart telah resmi dibuka. Di bawah papan nama biru itu, dua hantu telah menemukan pelabuhan mereka. Dan meski masa lalu mungkin akan selalu membayangi, malam ini mereka tahu bahwa masa depan jauh lebih cerah daripada lampu holografik mana pun.