Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Xavier Datang
Bryan baru saja selesai meeting. Ethan menyerahkan ponsel Bryan, karena biasanya saat dia memulai rapat, Bryan akan menyalakan mode pesawat dan menyerahkan ponselnya pada Ethan.
Saat Bryan mendapatkan ponsel miliknya, ia langsung menyalakan data selulernya dan betapa kagetnya dia saat ada 10 panggilan dari Adam, lima panggilan dari pengasuh dan dua pesan dari Queen.
Bryan segera menghubungi Adam, karena dia yakin pasti sesuatu terjadi pada Ellara. Tidak biasanya Adam menghubunginya sampai sebanyak ini.
"Ada apa menghubungiku? Aku tadi sedang ada rapat."
"Ella beberapa waktu yang lalu menangis dan sulit ditenangkan, tapi beruntung Queen datang di waktu yang tepat."
"Queen datang?" alis Bryan berkerut. Bukankah pagi tadi dia baru saja pulang ke rumah ayahnya? Kenapa tiba-tiba kembali.
"Ya, dia datang. Mungkin itu yang disebut ikatan batin. Dia bilang sejak tadi dia merasa gelisah memikirkan Ella. Makanya dia datang."
Setelah mendengar penjelasan Adam, Bryan segera menghubungi Queen. Saat itu Queen sudah berada di rumah dan sedang menyusui Sofia. Ponsel wanita itu bergetar di atas meja. Queen segera mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, ku dengar dari Adam kamu datang ke rumah saat Ella sulit ditenangkan."
"Tidak masalah. Aku kebetulan saja kepikiran dia. Makanya aku datang ingin memastikan."
"Maaf aku tidak membalas pesanmu tadi karena ada rapat."
"Tidak masalah."
Setelah mereka berbasa-basi sebentar, Queen mengakhiri panggilan Bryan.
Bryan menoleh pada Ethan. "Tolong carikan hadiah untuk Queen. Aku tidak bisa menerima kebaikannya secara cuma-cuma."
"Tetapi bukankah jika seperti ini, anda seperti memberi jarak pada nyonya Queen? Seolah semua perhatiannya harus diukur dengan barang. Maaf jika saya lancang berbicara seperti ini, Tuan."
Bryan terdiam segenak, dia mengusap bibirnya sambil memejamkan mata, tapi sialnya dia justru terbayang akan kelembutan bibir merah muda yang hangat dan lembut itu. Bibir milik Queen.
"Oh, Sial." Bryan tiba-tiba membuka mata sambil memukul meja. Ethan kaget. Dia berpikir ada yang salah dengan ucapannya. Ethan buru-buru meminta maaf, tetapi lalu Bryan berkata, "Kamu benar. Aku tidak boleh memperlakukan dia seperti itu."
Ethan menatap atasannya dengan bingung. Namun, dia memilih untuk meninggalkan atasannya dan kembali ke ruang kerjanya.
Bryan mengusap wajahnya kasar. Dia mengambil satu berkas di mejanya dan mulai membaca, tetapi sayangnya tidak ada satu pun kalimat di dalam berkas itu, yang mampu di proses oleh otaknya. Pria itu pun menyandarkan tubuhnya di kursi dan melonggarkan dasinya.
Di sisi lain, Xavier saat ini kembali ke Villa milik istrinya. Namun, dia tidak mendapati Queen dan Sofia ada di sana. Dia ingat terakhir kali Queen dan Sofia dibawa oleh Blake. Jadi selama dua hari ini Queen tidak pulang. Xavier mengumpat dan mengambil ponselnya dengan kasar. Dia mencoba menghubungi Queen, tetapi lagi lagi tidak terhubung. Jelas saja tidak terhubung, karena Queen sudah memblokir nomor Xavier.
Xavier akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke mansion milik keluarga Celeste. Dia membawa bunga matahari untuk Queen. Menurutnya, selama dia meminta maaf pada Queen dan membujuknya. Queen pasti akan luluh dan kembali padanya seperti biasa.
Sesampainya Xavier di kediaman Celeste. Petugas keamanan yang menjaga gerbang tidak segera membukakan gerbang untuk Xavier.
"Tolong buka gerbangnya!"
"Maaf. Kami tidak bisa melakukan hal itu. Ini perintah Pak Issac. Kami harus meminta ijin beliau untuk membuka gerbang."
l"Dasar si*alan! Buka matamu baik-baik. Aku menantu di keluarga ini. Beraninya kalian memperlakukan aku seperti ini." Xavier marah sambil berkacak pinggang dan berteriak di depan gerbang kediaman Queen.
Allan ayah Queen menatap dari balik jendela besar dengan ekspresi suram. Di belakangnya ada kepala pelayan yang bersiap menunggu perintah.
"Ba*ingan itu berani berteriak di depan rumah kita. Dia seperti anjing yang sulit ditenangkan."
"Apa saya keluar saja dan mengusirnya?"
"Tidak. Kamu temui nona dan tanyakan padanya apa yang harus dilakukan jangan sampai merusak rencana besarnya."
Issac keluar dari kamar tuan Allan dan segera mencari Queen. Saat itu Queen baru saja hendak turun ke bawah, Issac buru-buru mendekat.
"Paman Issac, biar aku temui dia dulu. Tidak perlu melakukan apapun."
"Baiklah, Nona."
Queen keluar dari rumah. Para penjaga gerbang memberi hormat padanya.
"Tolong buka gerbangnya, biarkan suami saya masuk."
Ekspresi kemarahan Xavier langsung berubah. Dia tersenyum melihat istrinya keluar demi dirinya.
"Queen, akhirnya kamu keluar. Kamu seharusnya memecat mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang menghargaiku." Xavier mengadu sambil menatap para penjaga gerbang dengan tatapan penuh permusuhan.
"Mereka hanya menjalankan tugas dari papa. Lagi pula mereka orang baru. Wajar jika tidak mengenalimu."
Queen berbalik berjalan masuk ke rumah, sentara Xavier melemparkan kuncinya pada salah satu penjaga gerbang. "Parkirkan mobilku, jangan sampai rusak."
Setelah Xavier menyusul Queen masuk ke dalam rumah, salah satu penjaga yang bernama Paul menggerutu, "Dia pikir dia siapa bersikap begitu sombong pada kita. Nona Queen bahkan tidak mau berlama-lama menatapnya, tetapi kepercayaan dirinya begitu besar."
"Sudah, parkirkan saja mobilnya. Jangan banyak protes."
Queen duduk di kursi tamu. Gerakannya begitu tenang. Namun, membawa kesan memikat. Xavier menatapnya sesaat. Meski dia tidak tahu apa yang berubah dari Queen, tetapi dia merasa memang ada yang berbeda dari istrinya ini.
"Queen, aku minta maaf." Xavier menyodorkan buket bunga matahari pada Queen. Queen menerimanya sambil tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai mata.
"Minta maaf untuk apa, Xavier?"
"Aku minta maaf karena aku sudah berbuat salah padamu. Aku mengabaikanmu saat itu. Seharusnya aku lebih memperhatikan kamu ketimbang benda-benda itu."
"Aku tahu. Aku tidak marah padamu. Hanya saja aku memang ingin tinggal di sini sementara waktu. Aku masih agak takut untuk kembali pulang. Jika kamu mau, kamu bisa tinggal di sini juga."
Saat Xavier ingin menjawab, Tuan Allan yang duduk di kursi roda, keluar dari lift di dorong oleh Issac.
"Ada tamu rupanya."
"Ayah mertua." Xavier menyapa dengan canggung. Allan hanya mengangguk ringan tanpa benar-benar peduli pada laki-laki itu.
Xavier merasa ingin pergi saat melihat ayah Queen. Dia tidak bisa menutupi kilatan kebencian di matanya, sehingga dia memilih menundukkan kepala saat berhadapan dengan kepala keluarga Celeste ini.
Yang tidak disadari oleh Xavier, Queen menangkap ekspresi kebencian itu walau pun sesaat. Queen merasa ingin membenturkan wajah Xavier ke meja kaca di depannya.
"Ayah mengapa turun? Di sini dingin."
"Tidak apa-apa. Xavier ada di sini, sebagai tuan rumah tidak sopan rasanya mengabaikan kedatangannya."
Xavier hanya bisa diam, dia tahu pasti ayah Queen menyimpan dendam padanya, karena selama dua tahun, dia dan Queen sama sekali tidak pernah berkunjung, entah untuk merayakan Natal, thanksgiving atau bahkan hanya sekedar kunjungan menantu pada mertuanya.
"Issac, bilang pada koki untuk menambahkan menu makanan malam ini. Bilang pada mereka kita kedatangan menantuku."
"Baik, Tuan."
"Kamu juga akan menginap di sini, kan? Maaf jika aku menahan Queen dan Sofia di sini. Aku terlalu merindukan mereka, jadi aku meminta pada Queen untuk tinggal lebih lama."
"Maaf, aku tidak bisa menginap. Ada pekerjaan penting besok. Jadi aku hanya akan makan malam di sini. Aku sekarang sedang menangani kerja sama dengan perusahaan grup Lewis. Jadi perhatianku mungkin akan berkurang pada Queen dan Sofia. Mereka memang lebih baik tinggal di sini sementara waktu.