NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Lonceng Sukma dan Bayangan Masa Lalu

Setelah menempuh perjalanan laut yang melelahkan, kapal kayu yang membawa rombongan Ranu akhirnya merapat di pesisir Benua Barat. Berbeda dengan Kerajaan Durja yang hijau dan subur, benua ini terasa gersang dengan bebatuan hitam yang menjulang tinggi. Di kejauhan, di atas sebuah bukit karang yang seolah membelah langit, berdirilah Kuil Matahari Tenggelam.

"Tempat ini benar-benar tidak ramah bagi orang yang ingin pensiun dengan tenang," gumam Ranu saat kakinya menginjak pasir pantai yang berwarna abu-abu.

"Den Ranu, lihat itu," Ki Sastro menunjuk ke arah jalan setapak menuju kuil. Di sepanjang jalan, terlihat bekas-bekas pertempuran besar yang masih baru. Pohon-pohon kering tumbang dan tanah hangus menghitam.

Ranu mengendus udara. "Hawa panas yang dipaksakan. Ini adalah jejak Bayangan Keenam: Sang Penelan Bara. Dia mencoba memancingku dengan membakar apa pun yang ada di jalannya."

"Apakah kita akan menyergapnya, Den?" tanya Ki Ageng Jagat sambil mempererat pegangan pada tongkatnya.

Ranu menggeleng pelan. "Tidak perlu. Dia sudah ada di belakangmu, Pak Tua."

Seketika, suhu udara melonjak drastis hingga mencapai 100°C. Pasir di bawah kaki mereka mulai meleleh menjadi kaca. Dari balik sebuah batu karang besar, muncul pria bertubuh raksasa dengan kulit yang tampak memerah seperti besi yang baru ditempa. Di bahunya, ia memikul sebuah palu besar yang membara.

"Hahaha! Wira Candra! Aku tidak menyangka kau akan membawa kakek-kakek jompo sebagai pengawalmu!" teriak Sang Penelan Bara. Setiap kali ia bicara, percikan api keluar dari mulutnya.

Ranu menutup matanya sejenak, menahan hawa panas yang menyengat wajahnya. "Paman, bisakah kau mendinginkan dirimu sedikit? Kau membuat kawan-kawanku ini merasa seperti sedang dipanggang di dalam oven. Ini sangat tidak sopan bagi tamu yang datang dari jauh."

"Sopan santun adalah untuk yang lemah! Matilah dalam nyala apiku!" Sang Penelan Bara melompat tinggi dan menghantamkan palunya ke arah Ranu.

BUM!

Ledakan api raksasa menelan posisi Ranu. Ki Sastro dan Ki Ageng Jagat terlempar puluhan meter karena gelombang panas tersebut. Namun, saat api mulai memudar, Ranu terlihat masih berdiri tegak. Ajaibnya, ia memegang ujung palu raksasa itu hanya dengan satu tangan yang diselimuti cahaya perak.

"Kau tahu, Paman?" ucap Ranu dengan nada santai, seolah-olah suhu di sekelilingnya tidak lebih dari kehangatan mentari pagi. "Dulu di langit, aku sering menggunakan api yang sepuluh kali lebih panas dari ini hanya untuk merebus telur semesta. Api kecilmu ini bahkan tidak cukup untuk menyeduh teh."

Ranu memberikan sentakan kecil pada palu tersebut. Tenaga yang begitu besar merambat naik, membuat lengan Sang Penelan Bara retak seketika. "Jurus Bintang Kelima: Penekan Langit!"

Tanpa banyak gerakan, Ranu menekan telapak tangannya ke dada raksasa itu. Sang Penelan Bara terlempar menembus tiga bukit karang sebelum akhirnya terkubur dalam reruntuhan batu. Hawa panas mendadak lenyap, menyisakan kesunyian yang mencekam.

Ranu tidak membuang waktu. Ia segera berlari menuju puncak kuil diikuti oleh Sastro dan Ki Ageng yang masih terengah-engah. Di dalam kuil yang gelap, sebuah lonceng emas besar tergantung di tengah ruangan. Itulah Lonceng Sukma.

Saat Ranu berdiri di depan lonceng itu, denyut di punggungnya menjadi sangat hebat. Bintang keenam seolah-olah berteriak ingin dibangkitkan.

"Sentuhlah, Den Ranu," bisik Ki Sastro yang merasa aura kuil itu sangat suci.

Ranu mengulurkan tangannya. Saat jarinya menyentuh permukaan logam lonceng, suara dentingan yang dahsyat menggema bukan di telinga, melainkan di dalam jiwa mereka.

TENG...

Seketika, pandangan Ranu berubah. Ia tidak lagi berada di kuil, melainkan di sebuah padang kristal di Alam Dewa. Di depannya berdiri seorang pria dengan jubah emas yang sangat ia kenal: Dewa Amangkrat.

"Wira Candra," ucap Amangkrat dalam visi tersebut. "Kau terlalu keras kepala. Dunia fana ini adalah tempat pembuanganmu, mengapa kau masih mencoba untuk kembali?"

"Karena keseimbangan bukan milik satu orang yang haus kekuasaan, Amangkrat," jawab Ranu dalam wujud dewa agungnya. "Kau telah meracuni langit dengan ambisimu."

"Hahaha! Langit sudah lama membusuk! Aku hanya memberinya pemimpin yang berani!" Amangkrat mengacungkan tangannya, dan tiba-tiba bayangan Sang Hyang Wira Candra di masa lalu hancur berkeping-keping.

Ranu tersentak kembali ke dunia nyata. Napasnya memburu. Namun, di saat yang sama, cahaya biru safir meledak dari punggungnya. Bintang keenam telah terbuka sepenuhnya.

Kekuatan yang luar biasa besar mengalir ke seluruh saraf Ranu. Tubuh remajanya kini tampak lebih padat, dan matanya yang putih perak kini memiliki gurat-gurat cahaya emas yang membentuk formasi bintang yang rumit. Ia kini telah mencapai puncak Ranah Setengah Dewa, hanya selangkah lagi menuju kedaulatan dewa yang sesungguhnya.

"Den Ranu! Anda baik-baik saja?" seru Ki Ageng Jagat dengan wajah cemas.

Ranu berdiri tegak, auranya kini begitu berat hingga lantai kuil itu retak. "Aku baru saja melihat masa lalu... dan aku melihat kelemahan Amangkrat. Dia tidak menyerangku sendirian. Ada seseorang yang lebih tinggi darinya yang membantunya mengunci ingatanku."

Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk kuil.

"Luar biasa. Benar-benar luar biasa. Membuka enam bintang dalam waktu kurang dari sepuluh tahun," ucap sesosok pria kurus dengan jubah hitam yang memiliki sulaman rasi bintang yang terbalik.

Ranu menajamkan pandangannya. "Kau... Bayangan Pertama: Sang Penguasa Takdir."

"Benar, Wira Candra. Aku adalah puncak dari tujuh bayangan. Dan aku datang bukan untuk bertarung dengan fisikmu," pria itu tersenyum licik. "Aku datang untuk memberitahumu bahwa saat kau di sini, Kerajaan Durja sedang dikepung oleh pasukan iblis yang sesungguhnya. Orang tuamu, ibumu yang malang... mereka sedang menunggu ajalnya."

Rahang Ranu mengeras. "Jika kau menyentuh mereka, aku akan merobek langit ini dengan tangan kosong."

"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa cepat kau bisa kembali," ucap Sang Penguasa Takdir sebelum menghilang menjadi asap hitam.

Ranu berbalik ke arah Ki Sastro dan Ki Ageng. "Kita tidak punya waktu lagi. Kita tidak akan naik kapal. Kita akan terbang."

"Terbang, Den? Tapi jaraknya ribuan mil!" seru Sastro kaget.

Ranu memegang pundak kedua pengikutnya. "Di Ranah Bintang Keenam, jarak hanyalah ilusi."

Dengan satu hentakan kaki, cahaya biru safir membungkus mereka bertiga dan melesat ke angkasa, membelah awan dengan kecepatan yang melampaui suara, menuju Kerajaan Durja yang sedang berada dalam lautan api.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!