Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pulang dan Pernikahan
Perjalanan pulang dari Klan Utara terasa lebih ringan.
Mungkin karena beban di pundak berkurang—kesepakatan dengan Patriark Utara memberi kami waktu. Atau mungkin karena aku semakin dekat dengan Hyerin. Setiap langkah kuda membawaku kembali padanya.
Tapi di sisi lain, ada beban baru. Aku baru saja berjabat tangan dengan iblis. Klan Utara mungkin mitra sekarang, tapi mereka tetaplah pemangsa. Suatu hari, mereka pasti akan menagih lebih dari sekadar mesiu.
Gong Jinsung berkuda di sampingku, diam sejak pagi. Baru setelah matahari mulai condong, dia buka suara.
"Kau tahu, aku sudah puluhan tahun jadi utusan. Bertemu dengan berbagai pemimpin klan. Tapi baru kali ini aku melihat seseorang membuat kesepakatan dengan Patriark Utara tanpa kehilangan muka."
Aku menoleh. "Apa maksudmu?"
"Biasanya, klan yang bernegosiasi dengan Utara akan keluar sebagai bawahan. Mereka terpaksa menerima syarat-syarat yang merugikan. Tapi kau... kau malah dapat perjanjian dagang yang setara. Itu... luar biasa."
Aku tersenyum tipis. "Aku hanya beruntung."
"Bukan keberuntungan. Kau tahu apa yang kau lakukan. Kau tunjukkan nilaimu, tapi tidak memberi semua. Itu seni negosiasi tingkat tinggi." Dia menatapku. "Kau yakin bukan diplomat di kehidupan sebelumnya?"
Aku hampir tertawa. Diplomat? Tidak. Aku hanya insinyur yang terbiasa berhadapan dengan klien korporat. Mereka tidak beda jauh dengan Patriark Utara—sama-sama buas, hanya caranya berbeda.
---
Dua minggu kemudian, kami tiba di markas Klan Gong.
Gerbang perak terbuka lebar. Di belakangnya, ratusan pendekat berjajar memberi hormat. Bukan untukku—untuk Gong Jinsung, mungkin. Atau untuk keberhasilan misi.
Tapi di ujung barisan, ada satu sosok yang membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Gong Hyerin.
Dia berdiri di tangga Aula Utama, berpakaian biru langit, rambutnya tertata rapi. Matanya langsung menemukanku di antara rombongan.
Aku turun dari kuda. Tanpa sadar, langkahku semakin cepat. Hampir berlari.
"Oppa!"
Dia berlari juga. Kami bertemu di tengah halaman, berpelukan erat. Untuk beberapa saat, aku lupa di mana aku berada. Hanya ada dia.
"Aku kira kau tidak akan kembali," bisiknya.
"Aku bilang akan kembali."
"Aku takut."
"Sekarang tidak perlu takut lagi."
---
Pertemuan dengan Patriark dilakukan segera setelah itu.
Di Aula Utama, para tetua berkumpul. Wajah mereka tegang menanti laporan. Gong Jinsung berdiri di tengah, membacakan hasil perjalanan dengan detail.
Kesepakatan dengan Klan Utara. Ekspor mesiu secara eksklusif. Harga yang disepakati. Jaminan keamanan untuk Klan Gong dan desa Jin.
Reaksi para tetua beragam. Ada yang lega, ada yang curiga, ada yang iri. Tetua Jang, seperti biasa, menjadi sumber ketidakpuasan.
"Ini perjanjian yang merugikan!" protesnya. "Kita jadi pemasok bahan mentah untuk musuh potensial! Cepat atau lambat, mereka akan gunakan senjata ini untuk melawan kita!"
Aku angkat bicara. "Tetua Jang, aku mengerti kekhawatiran Tuan. Tapi izinkan aku menjelaskan."
Dia mendengus, tapi tidak memotong.
"Kesepakatan ini hanya untuk mesiu mentah, bukan senjadi. Mereka tidak tahu cara merakit bom atau meriam. Mereka tidak tahu cara mencampur dengan perbandingan tepat. Mereka hanya dapat bubuk hitam yang bisa meledak, tapi tidak terkendali."
"Jadi?"
"Jadi, mereka tetap tergantung pada kita. Kalau mereka ingin senjata jadi, mereka harus kembali pada kita. Itu posisi tawar."
Tetua Jang diam. Yang lain mulai mengangguk-angguk.
Patriark Gong tersenyum puas. "Keputusan tepat, Jin Tae-kyung. Kau tidak hanya selamat, tapi juga membawa keuntungan."
Dia berdiri, berjalan mendekat.
"Dan karena jasamu, aku setuju dengan satu hal lagi."
Semua tegang.
"Pernikahanmu dengan putriku, Gong Hyerin, akan dilaksanakan bulan depan."
---
Suasana Aula Utama berubah menjadi gempar.
Sebagian bersorak—mereka yang mendukungku. Sebagian diam—mereka yang ragu. Sebagian lagi—termasuk Tetua Jang—wajahnya merah menahan marah.
Tapi Patriark sudah memutuskan. Tidak ada yang berani membantah.
Hyerin meremas tanganku erat. Aku menoleh, melihat wajahnya yang merah padam. Entah karena malu atau bahagia.
"Ayah, ini terlalu cepat..." gumamnya.
"Cepat? Kau sudah tinggal bersama pria ini berbulan-bulan. Apa lagi yang kau tunggu?"
"Ayah!"
Para tetua tertawa. Suasana yang tadinya tegang berubah cair.
Patriark menepuk pundakku. "Selamat datang di keluarga, calon menantu. Tapi ingat: kalau kau sakiti anakku, kau tahu konsekuensinya."
Aku menunduk sopan. "Aku tidak akan menyakitinya, Patriark."
---
Empat minggu. Itu waktu yang kumiliki untuk persiapan pernikahan.
Di dunia modern, empat minggu cukup untuk mengurus administrasi. Di Murim, empat minggu adalah waktu singkat untuk pesta besar. Ribuan undangan dikirim ke klan-klan sahabat dan bawahan. Persiapan dekorasi, makanan, dan ritual dimulai.
Aku sendiri sibuk dengan urusan lain.
Setiap pagi, ke bengkel. Mengawasi produksi mesiu untuk pengiriman pertama ke Utara. Juga mengembangkan senjata baru—kali ini, meriam sungguhan, bukan meriam bambu.
Setiap siang, ke paviliun. Bertemu dengan utusan klan-klan kecil yang ingin menjalin hubungan. Aku jadi semacam "penghubung" antara mereka dan Klan Gong.
Setiap malam, bersama Hyerin. Kadang bicara, kadang diam. Cukup berada di dekatnya.
---
Suatu malam, seminggu sebelum pernikahan, Hyerin bertanya.
"Oppa, kau bahagia?"
Aku menatapnya. Kami duduk di taman belakang, ditemani cahaya bulan.
"Bahagia? Aku tidak pernah memikirkan itu."
"Tidak pernah?"
"Di duniaku dulu, bahagia adalah kemewahan. Yang penting bertahan hidup. Bekerja, digaji, mati." Aku menjeda. "Tapi di sini... denganmu... mungkin ini yang disebut bahagia."
Dia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Aku juga. Sejak kecil, aku selalu merasa sendiri. Banyak orang di sekitarku, tapi tidak ada yang benar-benar bersamaku. Sampai kau datang."
Aku meraih tangannya.
"Nanti kita akan selalu bersama."
---
Tapi kebahagiaan tidak pernah datang tanpa gangguan.
Malam itu juga, Baek Dongsu datang. Dengan surat dari desa.
"Tuan,
Maaf mengganggu. Tapi ada masalah. Beberapa hari lalu, utusan dari Klan Utara datang ke desa. Mereka bilang diperintahkan memeriksa langsung produksi mesiu. Aku tidak bisa menolak—mereka utusan resmi.
Tapi setelah mereka pergi, aku periksa persediaan. Beberapa karung mesiu hilang. Juga catatan-catatan Tuan yang disimpan di gudang rahasia.
Aku takut... mereka mencuri rahasia Tuan.
Maafkan aku, Tuan. Aku gagal menjaga.
Baek Dongsu"
---
Darahku mendidih.
Klan Utara. Mereka mengaku mitra, tapi mencuri di belakang. Ini pengkhianatan.
Tapi... apakah ini perintah Patriark Utara, atau ulah orang lain? Mungkin ada faksi di dalam Utara yang tidak setuju dengan kesepakatan.
Aku harus ke desa.
---
Pagi harinya, aku minta izin pada Patriark.
Dia mengerutkan kening. "Seminggu lagi pernikahan, kau mau pergi?"
"Ini penting, Patriark. Mesiu kita dicuri. Catatanku hilang."
Dia diam sejenak. Lalu menghela napas.
"Pergi. Tapi bawa pengawal. Dan kau harus kembali tiga hari sebelum pernikahan."
"Terima kasih, Patriark."
---
Hyerin memelukku erat sebelum berangkat.
"Hati-hati, Oppa."
"Aku akan cepat kembali."
"Kalau kau terlambat, aku akan datang menjemputmu sendiri."
Aku tersenyum. "Aku tunggu."
---
Perjalanan ke desa memakan waktu dua hari.
Saat tiba, suasana berbeda. Penduduk desa berkumpul, wajah mereka cemas. Baek Dongsu berlari menyambut.
"Tuan! Syukurlah Tuan datang!"
"Bawa aku ke gudang."
Gudang rahasia itu terletak di belakang rumahku—tersembunyi di balik semak-semak. Pintunya rusak. Di dalam, karung-karung mesiu berserakan. Beberapa hilang.
Aku memeriksa dengan teliti. Catatanku—buku catatan berisi resep dan desain—juga hilang.
"Ini bukan pencuri biasa," gumamku. "Mereka tahu persis apa yang dicari."
"Mereka utusan Utara, Tuan. Aku lihat sendiri seragamnya."
Aku menganggut. "Aku tahu. Tapi pertanyaannya: apakah ini perintah Patriark Utara, atau oknum?"
---
Aku menghabiskan tiga hari di desa.
Memeriksa semuanya, mengamankan sisa mesiu, dan membuat catatan baru—dengan kode yang lebih rumit. Juga memasang perangkap di gudang, kalau-kalau pencuri kembali.
Aku juga bicara dengan penduduk. Mereka ketakutan. Beberapa ingin pindah. Aku meyakinkan mereka bahwa desa ini aman—setidaknya untuk sementara.
Tapi di dalam hati, aku tidak yakin.
---
Hari keempat, aku kembali ke Klan Gong.
Tepat waktu—tiga hari sebelum pernikahan. Hyerin menyambut dengan lega.
"Oppa! Aku khawatir..."
"Maaf. Ada urusan."
Kuceritakan semuanya. Wajahnya berubah.
"Klan Utara... mereka mengkhianati kita?"
"Aku belum tahu pasti. Tapi kita harus waspada."
---
Pernikahan dilaksanakan sesuai rencana.
Aula Utama dihias megah. Ribuan tamu datang. Ritual demi ritual dilalui. Dan akhirnya, aku dan Hyerin resmi menjadi suami istri.
Saat malam tiba, di kamar pengantin, Hyerin bertanya.
"Oppa, apa kau bahagia?"
Aku menatapnya. Di bawah cahaya lilin, wajahnya bersinar.
"Sangat bahagia."
Tapi di dalam hati, bayangan Klan Utara masih menghantui.
---
[Bersambung ke Bab 18]