Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Langit pagi tampak cerah, kontras dengan tekanan yang terus menumpuk di dalam perusahaan.
Alya berdiri di ruang kerja mansion dengan laptop terbuka, menatap rangkaian data perjalanan luar negeri bulan April lima belas tahun lalu. Nama investor asing itu terus mengusik pikirannya. Perusahaan investasi tersebut bukan sekadar perantara biasa—jejak digitalnya menunjukkan keterlibatan dalam beberapa akuisisi gagal di Asia Tenggara.
Dan semuanya memiliki pola yang sama.
Merger besar.
Kebocoran informasi.
Kedua pihak saling menyalahkan.
Pihak ketiga mengambil keuntungan.
“Ini bukan insiden tunggal,” gumam Alya pelan.
Bima yang berdiri di dekat meja kerja mengangguk perlahan. “Ini pola sistematis.”
Jika benar begitu, maka proyek Aurora bukan sekadar kegagalan bisnis.
Itu bagian dari skema.
Dan keluarga mereka hanyalah pion yang saling bertabrakan sementara dalang aslinya tetap tersembunyi.
Siang hari, Alya mengatur pertemuan rahasia dengan Pak Rahmat di luar kantor. Bukan di ruang arsip. Bukan di gedung perusahaan. Tapi di sebuah restoran tua yang jauh dari pusat bisnis.
“Ada investor asing yang tidak pernah dicatat dalam laporan resmi,” ujar Alya tanpa basa-basi.
Pak Rahmat terdiam cukup lama.
“Aku pernah memperingatkan ayah Bima tentang kerja sama itu,” katanya akhirnya pelan. “Tapi saat itu situasinya rumit. Tekanan dari dewan. Tekanan pasar. Semua ingin merger itu berhasil.”
“Apakah investor itu punya akses ke informasi internal?” tanya Bima.
Pak Rahmat menatap mereka bergantian.
“Akses resmi? Tidak. Tapi dalam bisnis, akses tidak selalu tertulis.”
Jawaban itu cukup.
Jika ada akses tidak resmi, maka kebocoran bisa saja terjadi dari lingkaran luar—bukan dalam keluarga mana pun.
“Apakah keluarga Arsen tahu soal investor itu?” tanya Alya hati-hati.
Pak Rahmat menghela napas panjang.
“Ayah Arsen sempat menolak beberapa syarat tambahan dari pihak investor. Setelah itu hubungan mereka menegang.”
Benang merah semakin jelas.
Mungkin ayah Arsen mulai mencurigai sesuatu.
Mungkin ia menolak ikut dalam skema yang tidak bersih.
Dan mungkin kegagalan merger menjadi konsekuensi dari penolakan itu.
Sore hari, tekanan meningkat lagi.
Saham kembali turun—kali ini lebih tajam.
Media mulai mengaitkan investigasi internal dengan dugaan penyalahgunaan wewenang masa lalu.
Narasi mulai terbentuk:
Keluarga Wijaya menyembunyikan sesuatu.
Alya membaca komentar publik dengan wajah tenang, meski dadanya terasa berat.
“Mereka sedang mendorong opini sebelum fakta keluar,” katanya.
Bima menatap layar besar yang menampilkan grafik pasar. “Kalau ini terus turun, dewan bisa mengajukan mosi tidak percaya.”
Kalimat itu menggantung.
Posisi Bima sebagai CEO bisa terancam.
Dan jika ia lengser sekarang, kendali narasi akan sepenuhnya jatuh ke tangan pihak lain.
Malamnya, pesan baru masuk.
Bukan anonim kali ini.
Langsung dari Arsen.
“Kita perlu bicara. Sendiri.”
Bima menatap Alya.
“Kau ingin ikut?”
Alya menggeleng perlahan. “Tidak. Kalau dia ingin bicara sendiri, berarti ada sesuatu yang tidak ingin didengar pihak lain.”
Pertemuan diatur di kantor pusat, setelah jam kerja.
Gedung tinggi itu tampak hampir kosong saat Bima masuk ke ruang rapat kecil di lantai paling atas.
Arsen sudah duduk di sana.
Tanpa asistennya. Tanpa pengacara.
Hanya mereka berdua.
“Kalian bergerak cepat,” ujar Arsen tenang.
“Kau juga,” balas Bima datar.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Lalu Arsen berbicara lebih pelan.
“Kau benar tentang investor itu.”
Bima tidak menunjukkan reaksi.
“Ayahku menolak ikut dalam beberapa klausul tambahan yang diajukan investor tersebut,” lanjut Arsen. “Ia bilang terlalu berisiko. Terlalu banyak celah.”
“Lalu?”
“Dua minggu setelah penolakan itu, kebocoran terjadi.”
Keheningan turun.
“Apakah kau percaya ayahku melakukannya?” tanya Arsen tiba-tiba.
Pertanyaan itu tidak terdengar seperti tuduhan.
Tapi seperti pencarian jawaban.
Bima menatapnya lama.
“Aku tidak tahu lagi apa yang harus dipercaya.”
Arsen tersenyum tipis, namun kali ini tidak ada kemenangan di sana.
“Aku juga.”
Kalimat itu jujur.
Dan itu yang membuatnya berbahaya.
Di mansion, Alya berdiri di balkon seperti malam-malam sebelumnya.
Namun kali ini pikirannya lebih jernih.
Jika Arsen tahu tentang investor itu dan tetap memilih menyerang mereka—
Maka ada dua kemungkinan.
Ia ingin menghancurkan mereka sebelum kebenaran penuh muncul.
Atau ia juga sedang mencari dalang yang sama.
Pintu balkon terbuka.
Bima kembali.
Tatapannya berbeda.
“Dia tahu,” katanya pelan.
“Sejauh mana?”
“Cukup untuk menyadari bahwa kita mungkin bukan musuh utama.”
Angin malam berhembus pelan.
Untuk pertama kalinya, ada celah dalam konflik mereka.
Namun celah itu bukan berarti damai.
Ia bisa menjadi jembatan.
Atau jurang baru.
“Apa langkah berikutnya?” tanya Bima.
Alya menatap kota yang berkilau di kejauhan.
“Kita tarik benang ini sampai ujung.”
“Dan kalau ujungnya membawa kita pada nama yang lebih besar?”
Alya menoleh perlahan.
“Kalau ada dalang yang memanfaatkan dua keluarga selama lima belas tahun,” katanya tegas, “maka dia sudah terlalu lama merasa aman.”
Keheningan turun lagi.
Namun kali ini bukan keheningan penuh ketakutan.
Melainkan keheningan sebelum keputusan besar diambil.
Mereka tidak lagi hanya mempertahankan diri.
Mereka mulai berburu.
Dan di tempat lain, seseorang mungkin belum menyadari—
bahwa pion yang seharusnya saling menjatuhkan kini mulai berdiri di sisi yang sama.
Jika itu terjadi…
Maka permainan lima belas tahun itu akan berubah arah.
Dan ketika dalang sebenarnya menyadari perubahan itu—
Bukan hanya reputasi yang akan runtuh.
Tapi seluruh kekaisaran yang dibangun di atas konflik buatan.
Dan kekaisaran seperti itu tidak akan runtuh dengan tenang.
Ia akan melawan.
Dua hari setelah pertemuan Bima dan Arsen, pergerakan pasar menjadi semakin agresif. Ada pembelian saham dalam jumlah besar—diam-diam, tersebar melalui beberapa perusahaan investasi berbeda.
Namun setelah ditelusuri lebih dalam, semuanya bermuara pada satu jaringan keuangan yang sama.
Investor asing itu.
“Ada yang sedang bersiap mengambil alih,” ujar Alya sambil menunjuk laporan analitik di layar.
Bima berdiri di sampingnya, rahangnya mengeras. “Mereka menciptakan konflik, melemahkan reputasi, menekan harga saham… lalu masuk sebagai penyelamat.”
“Penyelamat yang memegang kendali.”
Skema klasik.
Dan mereka hampir terjebak sempurna di dalamnya.
Sore itu, Bima menghubungi Arsen lagi.
Bukan untuk berdebat.
Tapi untuk menguji sesuatu.
“Kau tahu saham sedang diborong?” tanyanya langsung begitu panggilan tersambung.
Hening beberapa detik.
“Aku tahu,” jawab Arsen akhirnya.
“Bukan dari pihakku.”
“Bukan juga dari pihakku,” balas Bima.
Keheningan itu berbeda dari sebelumnya.
Kini bukan penuh permusuhan.
Melainkan penuh perhitungan.
“Kalau mereka berhasil menguasai lebih dari tiga puluh persen,” lanjut Arsen pelan, “maka dewan bisa digeser.”
“Dan kita berdua hanya akan jadi catatan kaki sejarah,” ujar Bima dingin.
Untuk pertama kalinya, kepentingan mereka benar-benar sejajar.
Bukan karena cinta.
Bukan karena rekonsiliasi.
Tapi karena ancaman yang sama.
Malam itu, pertemuan rahasia diadakan.
Bukan di kantor.
Bukan di mansion.
Melainkan di sebuah gedung lama milik yayasan keluarga yang jarang digunakan.
Alya hadir.
Arsen juga.
Atmosfernya tegang, namun lebih rasional dibanding sebelumnya.
Tidak ada lagi sindiran tajam.
Hanya fakta.
“Perusahaan cangkang yang membeli saham terhubung dengan jaringan investasi yang sama dengan lima belas tahun lalu,” jelas Alya sambil meletakkan dokumen di meja.
Arsen membaca cepat.
“Ini bukan kebetulan,” gumamnya.
“Tidak pernah,” jawab Alya.
Bima menyilangkan tangan. “Pertanyaannya sekarang bukan siapa yang salah di masa lalu.”
“Tapi siapa yang ingin kita tetap saling menyalahkan,” lanjut Arsen pelan.
Keheningan turun.
Ada sesuatu yang pahit dalam kesadaran itu.
Lima belas tahun kebencian.
Lima belas tahun prasangka.
Dan mungkin semuanya diarahkan.
“Kenapa sekarang?” tanya Arsen akhirnya.
Alya menjawab dengan tenang. “Karena kita akhirnya mulai menggali terlalu dalam.”
Namun ancaman tidak berhenti di sana.
Keesokan paginya, berita besar meledak.
Sebuah media internasional merilis laporan investigasi tentang proyek Aurora.
Mereka memuat dokumen lama.
Memo internal.
Surat pengunduran diri direktur lama.
Dan potongan rekaman percakapan.
Namun yang ditampilkan hanyalah bagian yang menyiratkan bahwa keluarga Wijaya mengetahui kebocoran dan memilih diam.
Nama investor asing tidak disebut sama sekali.
Transaksi mencurigakan tidak muncul.
Narasi dibentuk dengan sangat presisi.
Dan efeknya langsung terasa.
Saham anjlok tajam.
Telepon dari dewan masuk bertubi-tubi.
Beberapa investor besar meminta klarifikasi resmi dalam waktu 24 jam.
Di ruang kerja, Alya berdiri diam menatap layar televisi yang menampilkan berita itu berulang kali.
“Mereka menyerang lebih dulu,” katanya pelan.
Bima mengepalkan tangan.
“Karena mereka tahu kita sudah dekat.”
Arsen yang ikut menyaksikan laporan itu hanya berkata satu kalimat.
“Mereka ingin kita panik.”
Dan di titik itulah Alya membuat keputusan yang berbeda dari ekspektasi siapa pun.
“Kita tidak akan menyangkal,” katanya tegas.
Bima menoleh cepat. “Alya—”
“Kita akan buka semuanya. Termasuk investigasi transaksi luar negeri. Termasuk nama investor.”
Arsen menatapnya tajam. “Itu berarti keluargamu dan keluargaku sama-sama terekspos.”
Alya tidak goyah.
“Lebih baik kita kehilangan citra karena kejujuran, daripada kehilangan perusahaan karena manipulasi.”
Keheningan turun.
Keputusan itu berisiko besar.
Namun untuk pertama kalinya sejak konflik ini dimulai, mereka tidak lagi bereaksi.
Mereka mengambil kendali.
Konferensi pers diumumkan untuk dua hari kemudian.
Pengumuman itu mengejutkan pasar.
Bukan klarifikasi defensif.
Bukan bantahan.
Melainkan pernyataan bahwa perusahaan akan membuka arsip penuh proyek Aurora dan melaporkan temuan kepada otoritas independen.
Langkah itu mengguncang.
Beberapa pihak menyebutnya bunuh diri korporat.
Namun pembelian saham misterius tiba-tiba melambat.
Seolah pihak di baliknya sedang menghitung ulang strategi.
Di mansion malam itu, Alya duduk sendirian beberapa menit sebelum Bima menghampirinya.
“Kau sadar apa yang kita lakukan?” tanyanya pelan.
Alya mengangguk.
“Kita sedang mengguncang fondasi yang sudah lama berdiri.”
“Dan kalau fondasi itu runtuh?”
Alya menatapnya lurus.
“Kalau ia dibangun di atas konflik buatan, maka ia memang pantas runtuh.”
Bima tidak menjawab.
Namun untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, ia merasa bukan hanya sedang bertahan.
Ia sedang melawan balik.
Di sisi lain kota, di kantor tinggi dengan dinding kaca gelap, seorang pria paruh baya menatap layar yang menampilkan pengumuman konferensi pers itu.
Ekspresinya tidak panik.
Namun jelas tidak puas.
“Mereka memilih transparansi,” gumamnya pelan.
Asistennya berdiri menunggu instruksi.
“Siapkan langkah kedua,” lanjut pria itu tenang. “Jika mereka ingin membuka semua kartu… maka kita pastikan ada kartu yang belum siap mereka lihat.”
Layar televisi menampilkan wajah Alya dan Bima dalam pengumuman resmi.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun,
dua keluarga yang seharusnya terus bertikai—
mulai bergerak dalam arah yang sama.
Permainan berubah.
Konflik buatan yang menjadi fondasi kekaisaran itu mulai retak.
Namun retakan tidak selalu berarti runtuh.
Kadang ia berarti—
ledakan yang jauh lebih besar sedang disiapkan.
Dan kali ini,
bukan hanya reputasi atau saham yang dipertaruhkan.
Melainkan kebenaran yang, jika salah satu bagian saja salah ditarik,
bisa menyeret semua pihak—
termasuk Alya dan Bima—
jatuh tanpa sempat berdiri kembali.