NovelToon NovelToon
Sajadah Di Empat Benua

Sajadah Di Empat Benua

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Sajadah di Garis Khatulistiwa

Setelah pertemuannya dengan Syeikh Mansyur, Adam Al-Fatih merasa jiwanya seperti baru saja dibasuh oleh air pegunungan yang jernih. Ia menyadari bahwa sebelum ia melangkah lebih jauh ke benua-benua asing, ia harus memperkuat akar di tanah airnya sendiri. Nusantara, dengan ribuan pulau dan jutaan jiwa yang membutuhkan uluran tangan, adalah tempat di mana "Sajadah" pertamanya harus benar-benar terbentang luas.

"Rez, tunda dulu kepulangan kita ke kantor pusat. Kita akan melakukan perjalanan darat dan udara menyisir pelosok nusantara," ujar Adam saat mereka meninggalkan pesantren. "Aku ingin melihat langsung di mana masjid-masjid yang hampir roboh berdiri, dan di mana anak-anak bangsa belajar tanpa atap yang layak."

Perjalanan dimulai dari ujung timur Indonesia. Di tanah Papua yang eksotis, Adam berdiri di bawah langit yang biru bersih. Di sana, ia tidak hanya membangun masjid, tetapi juga sebuah pusat pendidikan terpadu yang ia namai Al-Fatih Nusantara. Ia melihat anak-anak dengan mata berbinar menyambutnya. Adam terjun langsung, ikut memanggul semen dan meletakkan batu pertama pembangunan madrasah. Baginya, setiap rupiah dari keuntungan bisnis bajanya harus berubah menjadi amal jariyah yang abadi.

Perjalanan berlanjut ke pedalaman Kalimantan. Adam menyusuri sungai-sungai besar menggunakan perahu motor untuk mencapai desa-desa terpencil. Di sana, ia mendapati banyak lembaga sosial yang mati suri karena kekurangan biaya. Adam tidak hanya memberikan dana, ia membangun sistem. Ia mendirikan koperasi berbasis masjid agar masyarakat bisa mandiri secara ekonomi.

"Bisnis yang hebat bukan yang hanya menambah angka di rekening bank, tapi yang mampu menghidupkan dapur orang-orang kecil," ucap Adam kepada para pengusaha lokal di sana.

Sepanjang perjalanan di nusantara, Adam tetap menjaga komunikasi yang intens dengan Khadijah. Ia sering melakukan panggilan video dari tepi hutan atau pesisir pantai, menunjukkan keindahan alam Indonesia kepada istrinya.

"Lihat ini, Dijah. Di sini ada madrasah kecil yang baru saja kita renovasi. Anak-anak di sini mendoakanmu," ujar Adam dengan suara penuh keharuan.

Khadijah, di ujung telepon, tersenyum dengan air mata bahagia. "Itulah alasan mengapa aku mencintaimu, Mas. Karena kau tidak pernah lupa bahwa kekayaanmu adalah jembatan menuju surga, bukan hanya untuk dirimu, tapi untuk banyak orang."

Meski ia sedang dalam misi mulia, godaan tetap membayangi. Di beberapa kota besar yang ia singgahi, Adam seringkali ditemui oleh putri-putri pejabat atau pengusaha kaya yang mencoba mencari perhatiannya. Namun, Adam tetap pada prinsipnya. Pikirannya tetap terjaga, dan hatinya tetap terkunci. Ia selalu teringat pesan Syeikh Mansyur tentang menjaga marwah dan kehormatan.

Puncak dari perjalanan nusantara ini adalah ketika Adam tiba di sebuah desa di pelosok Nusa Tenggara Barat. Di sana, ia membangun sebuah panti asuhan besar untuk anak-anak korban bencana. Saat meresmikan bangunan itu, Adam teringat pada Isabelle di Turki dan dokumen panti asuhan di Paris. Ia menyadari satu hal: penderitaan manusia tidak mengenal batas benua. Perjuangannya di nusantara ini adalah bekal mental sebelum ia kembali menghadapi badai konspirasi internasional yang masih menantinya.

"Pak Adam," panggil Reza di tengah suasana haru peresmian panti. "Baru saja ada pesan dari Istanbul. Isabelle dalam keadaan aman, namun situasi di Paris semakin memanas. Paman Isabelle secara resmi menggugat kepemilikan lahan panti asuhan kakek Anda di pengadilan internasional."

Adam menarik napas dalam, menatap anak-anak panti yang sedang tertawa riang. Ia merasakan energi baru yang luar biasa dari perjalanannya di nusantara. "Biarkan mereka menggugat di dunia, Rez. Kita sudah membangun 'pembela' kita di akhirat lewat anak-anak ini. Siapkan keberangkatan. Setelah ini, kita akan selesaikan urusan di Eropa dengan cara yang bermartabat."

Sajadah Adam kini telah terbentang luas dari Papua hingga ujung Sumatera. Ia telah membangun lebih dari sekadar bangunan fisik; ia telah membangun harapan. Dan dengan doa-doa dari ribuan anak yatim di nusantara, Adam merasa lebih siap dari sebelumnya untuk kembali ke panggung dunia, membawa misi perdamaian dan perlindungan yang telah diamanahkan kepadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!