seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 | keracunan
happy reading
keesokan harinya di keluarga BASKARA. tepatnya di meja makan, kini afan lian dan voke sedang menyantap makanan mereka masing masing. hingga voke membuka suara.
"fan, nanti ajak devi kesini ya, setelah pulang sekolah"ucap voke
Afan mengerutkan dahinya bingung. tak biasanya mamah voke menyuruh ia untuk mengajak devi kerumah nya.
"mamah gaada niatan buruk kan?" tanya afan
"tidak"jawab voke
"gimana fan, mau?"lanjut voke
"oke mah"jawab afan
"tidak mungkin aku menyuruh devi datang kesini terus tidak ada niatan apa apa"batin voke
"rencana apa yang voke fikirkan, sehingga menyuruh devi kesini?" batin lian
di sekolah
"dev"
"iya fan?"
"nanti sepulang sekolah Lo mau kerumah gua?"
"boleh?" tanya nya
"tentu boleh"
devi mengangguk
saat mereka sedang mengobrol ada suara yang memanggil nama afan. "afann" teriak Clarissa
"nenek lampir datang lagi" cibir devi
"enak aja gue bukan nenek lampir"sewot Clarissa
"emangg" jawab devi
"udah udah jangan berteman"lerai afan
"emang nggak berteman"ucap devi
"dih, gue juga ogah kalik temenan sama orang kek Lo"sambung Clarissa
"yaudah si, Lo pikir gue juga mau?"
"diamm"teriak afan
"clar, Lo ngapain kesini?"tanya afan
"gue bawain Lo bekal, makan ya nanti"ucap Clarissa
devi yang melihat itu mendengus kesal
"nggak usah*
"kenapa fan?"
"gue udah bawain loh"
"eh fan gue juga bawa loh bekal buat Lo juga, terima ya" ucap devi
afan mengangguk
"kok giliran devi mau?"ucap Clarissa
"emang Lo siapa gua?"tanya Afan
"calon istri Lo"jawab Clarissa dengan pedenya
"wkwk calon istri Lo bilang?" tanya devi sambil tertawa terbahak-bahak
"ngarep banget sih lo"sambung devi
"gue ngarep? dih mana ada, emang beneran"
"iya nggak fan?"
"nggak"
"Afan, aja jawab enggak tuh, makanya jangan ngarep dulu"
"Calok istri gue cuman devi"ucap Afan sambil menekan kata devi
"fan masih sekolah juga" ucap devi
"kalo lulus?"
"beneran kan?"
"iya devii"
"janji dulu dong"ucap devi sambil menyodorkan jari kelinting nya dan tersenyum manis. dengan senang hati Afan menautkan kelinting nya dengan milik devi, mereka berjanji.
sementara Clarissa gadis itu memilih pergi saja, daripada melihat ke bucinan mereka berdua. jika Clarissa memilih tetap disana pasti hati kecilnya akan merasa sakit lagi. ketika melihat orang yang ia cintai ternyata sudah memiliki pasangan. tapii Clarissa tidak akan pernah menyerah untuk menghancurkan hubungan keduanya.
ini sih namanya obsessed bukan cinta!.
skip aja langsung udh pulang sekolah
"dev, yuk"ajak afan
"tapi fan"
"tapi apa?"
"mendingan gue kapan kapan aja deh ke rumah Lo"
"kenapa? mamah gue katanya pengen ketemu sama Lo"
"tapi gue malu"
"ngapain malu dev"
"ya malu lah, soalnya baru peetama kali kerumah lu"
"gausah malu okey? ada gue"
devi mengangguk
kemudian mereka ke rumah Afan
sesampainya dirumah afan. devi dan Afan langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"ini pacar kamu fan?" tanya mamah voke
"iya mah"
"cantik ya"ucap voke
"makasih Tante"jawab devi
voke tersenyum menanggapi devi
"tunggu disini yah kalian berdua, mamah akan buat kan kalian minuman terlebih dahulu"ucap voke
"tan gausah repot repot"
"enggak repot kok, kamu duduk aja sama afan"
dengan terpaksa devi mengangguk
di dapur voke membuat teh untuk devi dan Afan. voke melihat keadaan sekitar dan aman, voke langsung mengeluarkan bubuk dan menuangkan nya di minuman Devi. kalian tau bubuk apa itu? itu racun. sepertinya sudah gila' voke ia mau mencelakai devi? kalo Afan tau bagaimana? bukannya afan sudah memperingati mamahnya agar tidak melukai devi. namun apalah seakan akan mamahnya itu tuli tidak mendengarkan apa kata Afan.
voke kembali ke ruang tamu dengan membawakan dua minuman. ia meletakkan nya di atas meja.
"silahkan di minum nak"ucap voke lembut
"makasih Tante"jawab devi
voke mengangguk
devi langsung meminum minuman nya.
"bagus, minum devi, sampai habis" batin voke
"setelah ini kamu akan pingsan"batin voke
setelah meminum minuman nya hingga tersisa setengah devi merasa kepalanya pusing pandangan nya mulai kabur.
"kenapa kepala gue pusing banget"batin devi
Afan melihat devi yang memegang kepalanya.
"dev, kenapa?"
"kepala gue pus-"belum sempat devi menjawab ia sudah jatuh pingsan.
"dev, Lo kenapa?"ucap Afan panik
afan seketika menoleh ke arah mamahnya yang sedang tersenyum kemenangan
"mah?"
"ini ulah mamah?"
"kalo iya kenapa?"
"mah, aku udah bilang jangan lukain devi mah"
"kenapa kamu sebegitu khawatir nya pada gadis itu, Afan.?"
afan bungkam ia tidak bisa menjawab ucapan mamahnya.
"apa kamu sudah mulai cinta sana gadis itu?"
afan tidak mendengar kan ucapan mamahnya ia langsung mengangkat tubuh devi dan menggendong nya ala bridal style. Afan membawa devi ke dalam mobil. Afan akan membawa devi ke rumah sakit, karna Afan khawatir sekali jika devi kenapa napa.
sesampainya di rumah sakit. devi langsung di periksa oleh dokter.
"Lo bodoh afan, kenapa Lo bisa terjebak dalam rencana mamah Lo?" batin Afan
"pasti keluarga devi bakal nyalahin gue, kalo tau mamah yang udah ngeracunin Devi"batin afan
dokter keluar dari ruang icu dengan wajah yang serius.
"gimana dok keadaan nya?"tanya afan
"pasien mengalami keracunan, dan untung saja anda bisa membawa pasien ke sini tepat waktu"
"kalo keracunan gue udah tau, tapi gue perlu tau keadaan devi"batin afan
"terus keadaan nya gimana dok?"
"keadaan nya sudah membaik, anda cuman perlu menunggu pasien sadar saja"
Afan mengangguk
"kalo bisa pasien di rawat dulu untuk tiga hari"
lagi dan lagi afan mengangguk
"nanti pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, nanti kamu bisa kabarin keluarga nya"
"iya dok"
"dev cepet sembuh"ucap afan sambil mengelus rambut devi
"gara gara mamah gue Lo jadi gini"
"harusnya tadi gue gausah ngajak Lo ke rumah"
"gue gatau harus bilang gimana ke bokap sana nyokap Lo dev"
"gue takut mereka marah sama gue"
devi membuka matanya perlahan dan menetralkan penglihatkan nya.
"fan?"
"iya Dev? gue disini"
"gue kenapa?"
"Lo keracunan dev"
"keracunan?"
"iya"
"kok bisa? perasaan gue gak makan yang aneh aneh deh kok bisa keracunan"
"gue gatau mau jawab apa" batin afan
"mungkin Lo salah makan aja mangkanya Lo bisa keracunan"
"iya juga ya"
"bunda sama ayah enggak kesini fan?"
"nanti kesini kok, gue tadi udh kasih tau"
devi mengangguk
"mau makan?"tanya Afan pada devi
"nggak deh gak laper"
"yakin?"
"sebenarnya gue laper, tapi malu kalo jujur" batin devi
seketika perut devi berbunyi menandakan ia sedang lapar. Afan pun terkekeh kecil
"kalo laper jujur aja biar gue suapin"
"gue bisa makan sendiri"
"gue suapin pokonya"
"gak Nerima penolakan"
"huft, yaudah deh" devi hanya pasrah
Afan mengambil bubur yang terletak di atas nakas samping brangkar devi.
"bubur?"
"iya"
"nih aa"Afan mulai menyuapi devi dengan telaten