NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan benua kelam

Penghancuran Station 211 ternyata memicu ketidakseimbangan gravitasi yang luar biasa, menyebabkan kerak bumi di wilayah Triple Junction (pertemuan tiga lempeng tektonik) di Samudera Hindia terangkat. Kita akan melihat bagaimana semua konspirasi ini ternyata bermuara pada satu tempat yang selama ini dianggap dongeng.

Pesawat taktis Liora meraung melintasi khatulistiwa, meninggalkan hawa beku Antartika menuju panasnya Samudera Hindia yang mendidih. Di layar navigasinya, sebuah massa daratan raksasa muncul secara tiba-tiba, membelah ombak setinggi gedung pencakar langit. Radar menunjukkan bahwa daratan ini bukan sekadar pulau karang, melainkan sebuah struktur geometris sempurna yang telah terkubur di bawah sedimen laut selama belasan milenium.

"Hendrawan, kau melihat anomali ini?" Liora mengatur masker oksigennya yang mulai menipis.

"Liora, ini di luar nalar! Pengangkatan tektonik ini tidak alami. Sepertinya kehancuran pangkalan di kutub tadi melepaskan 'pasak magnetik' yang selama ini menahan daratan ini tetap tenggelam. Satelit menunjukkan struktur itu menyerupai... sirkuit raksasa yang terbuat dari batuan obsidian," suara Hendrawan terdengar gemetar di sela-sela suara gemuruh air.

"Adam pernah menyebutnya," gumam Liora. "Dia menyebutnya 'The Blueprint'. Daratan yang menjadi cetak biru bagi semua peradaban Borobudur, Gunung Padang, dan Muara Takus hanyalah tiruan kecil dari tempat ini."

Liora mendekati daratan yang kini mulai terlihat jelas dari balik kabut uap laut. Di tengah pulau itu, berdiri sebuah menara hitam yang puncaknya menembus awan. Menara itu tidak memiliki jendela, hanya garis-garis cahaya biru yang mengalir seperti aliran darah elektrik.

Saat Liora mendaratkan pesawatnya di sebuah pelataran datar yang nampak seperti landasan, ia merasakan getaran yang berbeda di dalam dadanya. Batu memori Adam yang ia bawa mulai bersinar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Liora... hati-hati... tempat ini adalah 'Lumbung Frekuensi' yang asli..."

Suara Adam terdengar sangat jernih, seolah-olah dia sedang berdiri tepat di samping Liora. Tapi Liora tahu, Adam tidak lagi memiliki tubuh.

"Adam? Apa tempat ini?"

"Para elit menyebutnya Kumari Kandam... atau sebagian menyebutnya lerian. Tapi bagi Unit 731, ini adalah 'The Motherboard'. Semua rahasia tentang bagaimana mengendalikan jiwa manusia melalui frekuensi radio berasal dari sini. Mereka menemukannya saat ekspedisi laut tahun 1930-an dan mencoba mereplikanya, tapi mereka gagal karena mereka tidak memiliki 'Kunci Organik'."

"Dan kunci itu adalah kau?"

"Bukan hanya aku, Liora. Kunci itu adalah hubungan antara kesadaranku dan darahmu. Itulah sebabnya kakekmu AI di Antartika begitu menginginkan kita bersatu di bawah kendali mereka."

Liora berjalan menuju pintu masuk menara hitam tersebut. Di depannya, berdiri barisan sosok yang membuatnya terkesiap. Mereka bukan Arc.hon, bukan pula prajurit Area 51. Mereka adalah sosok yang nampak seperti manusia purba, namun mengenakan zirah transparan yang memancarkan teknologi yang jauh lebih maju dari apa yang dimiliki elit Bulan.

"Siapa mereka?" bisik Liora.

"The Guardians of the Blueprint. Mereka adalah manusia yang tidak pernah terpengaruh oleh eksperimen Unit 731. Mereka menunggu seseorang untuk menghentikan 'The Silence' sebelum frekuensi itu menghapus sisa-sisa kemanusiaan di dunia luar."

Salah satu penjaga itu melangkah maju. Ia tidak membawa senjata, melainkan sebuah bola kristal yang berisi rekaman sejarah yang tidak pernah tertulis di buku mana pun. Tanpa bicara, ia menyentuhkan bola itu ke dahi Liora.

Seketika, Liora melihat kilasan balik: Ia melihat bagaimana ribuan tahun lalu, manusia menggunakan suara dan musik untuk membangun peradaban, sebelum sebuah faksi haus kekuasaan (nenek moyang para elit) menemukan cara untuk membalikkan frekuensi itu menjadi senjata pemecah belah. Unit 731 hanyalah perpanjangan tangan dari kelompok kuno ini yang telah bersembunyi selama ribuan tahun di balik berbagai alibi sejarah.

"Jadi... selama ini kita berperang melawan bayangan dari masa lalu?" Liora terengah-engah setelah penglihatan itu berakhir.

"Bukan bayangan, Putri Samudera," suara berat muncul dari dalam menara.

Seorang pria dengan jubah perak keluar. Ia nampak sangat mirip dengan Adam, namun dengan tatapan yang jauh lebih tua dan bijaksana. "Kami adalah sisa-sisa dari mereka yang menolak untuk menjadi dewa palsu. Kami membiarkan para elit membangun pangkalan di Bulan, di Nevada, dan di Antartika hanya untuk melihat seberapa jauh keserakahan mereka akan membawa mereka pada kehancuran sendiri."

"Dan sekarang?" tanya Liora.

"Sekarang, 'The Silence' dari Bahtera Bulan yang jatuh tadi sedang bocor ke inti bumi melalui pangkalan bawah laut yang kau hancurkan. Kau pikir kau telah menang, Liora? Kau justru secara tidak sengaja memicu 'Protokol Kiamat' yang akan menghancurkan atmosfer bumi dalam 48 jam jika jantung pulau ini tidak diaktifkan."

Liora menatap batu memori Adam. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: Untuk mengaktifkan jantung pulau ini dan menyelamatkan atmosfer bumi, ia harus menyerahkan batu memori itu yang berarti ia akan kehilangan Adam untuk selamanya. Bukan hanya suaranya, tapi sisa-sisa keberadaan Adam di alam semesta ini.

Pembaca kini dihadapkan pada pilihan moral yang mustahil bagi Liora: Menyelamatkan seluruh umat manusia dari sesak napas atmosfer, atau menyimpan satu-satunya fragmen dari pria yang ia cintai?

"Apakah ada jalan lain?" Liora bertanya, air mata mulai mengalir.

Pria berjubah perak itu menggeleng. "Arsitektur membutuhkan pengorbanan, Liora. Adam sudah tahu ini saat dia menanamkan dirinya ke dalam batu itu. Dia tidak ingin hidup sebagai memori; dia ingin hidup sebagai keselamatan bagi duniamu."

Liora menatap pulau yang baru muncul itu, sebuah daratan yang penuh dengan kebenaran yang menyakitkan. Di kejauhan, ia melihat sisa-sisa Bahtera elit Bulan yang terbakar di cakrawala, perlahan tenggelam ke dalam laut, membawa serta semua kebohongan mereka.

"Lakukan," bisik Liora, sambil meletakkan batu itu ke altar pusat menara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!