Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Persiapan di Pasar Malam
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit mulai gelap di Kota Kabut Perak. Lampion-lampion merah mulai menyala di sepanjang jalanan utama, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan kegelapan langit. Pasar malam sedang ramai-ramainya. Pedagang berteriak menawarkan barang dagangan, aroma makanan jalanan memenuhi udara, dan orang-orang berjalan hilir mudik mencari kebutuhan mereka.
Haneen dan Yan Ling berjalan menyusuri kerumunan itu. Mereka mengenakan topeng kain sederhana untuk menutupi sebagian wajah. Ini bukan untuk menyamar total, tapi sekadar menghindari perhatian yang tidak perlu. Haneen memimpin jalan, matanya memperhatikan setiap toko yang mereka lewati. Dia mencari toko peralatan pertambangan dan peralatan kemah.
"Kita butuh alat standar," ucap Haneen pelan agar tidak didengar orang sekitar. "Palu batu, tali tambang, lampu minyak, dan baju perlindungan dasar. Jika kita membeli terlalu banyak senjata, orang akan curiga."
Yan Ling mengangguk. "Tapi kita juga butuh sesuatu untuk bertahan jika Zhang Wei benar-benar mengirim orang untuk menyerang kita di dalam tambang."
"Untuk itu, aku sudah punya rencana," jawab Haneen singkat. Dia tidak menjelaskan lebih detail. Semakin sedikit orang tahu tentang persediaan senjata sistemnya, semakin baik. Bahkan Yan Ling tidak perlu tahu setiap detail kemampuan Haneen.
Mereka berhenti di sebuah toko peralatan tua yang terletak di sudut gelap pasar. Pemilik toko adalah seorang kakek tua yang sedang membersihkan sebuah lampu kuningan. Dia melirik kedua wanita itu saat mereka masuk.
"Butuh apa?" tanya kakek itu serak.
"Alat tambang untuk misi penyelidikan," jawab Haneen sambil meletakkan beberapa batu spiritual di atas meja. "Yang berkualitas bagus, bukan barang rongsokan."
Kakek itu tersenyum melihat bayaran di depannya. Dia berdiri dan berjalan ke rak belakang. Dia mengambil dua set peralatan lengkap. Ada palu besi kecil, lampu minyak yang bisa dinyalakan dengan energi spiritual, tali serat kuat, dan baju kulit tebal.
"Ini barang bagus," ucap kakek itu. "Tahan benturan dan tidak mudah rusak. Cocok untuk tambang lama yang tidak stabil."
Haneen memeriksa barang itu sebentar. Kualitasnya cukup baik untuk standar dunia ini. Dia mengangguk dan membayar sesuai harga yang diminta. Tidak ada tawar-menawar yang mencurigakan. Transaksi cepat dan bersih.
Setelah keluar dari toko, mereka membawa tas berisi peralatan itu menuju area yang lebih sepi. Haneen ingin memeriksa barang-barang dari sistem tanpa gangguan. Mereka masuk ke sebuah gang buntu yang gelap di antara dua gudang besar.
Haneen membuka tas peralatan biasa itu, lalu pura-pura mengecek isinya. Padahal, diam-diam dia memanggil antarmuka sistem.
[Toko Sistem Terbuka. Kategori: Alat Taktis.]
Dia membeli dua unit Ranjau Kejut Mini dan satu unit Pelacak Gerakan. Alat-alat ini kecil, seukuran koin, dan bisa ditempelkan di dinding atau tanah. Jika ada musuh yang menginjak atau mendekat, alat itu akan melumpuhkan mereka dengan sengatan listrik non-mematikan.
"Simpan ini di saku bajumu," ucap Haneen sambil memberikan dua benda bulat kecil kepada Yan Ling. "Jika kita terpisah, aktifkan ini saat musuh mendekat. Cukup tekan tombol kecil di sampingnya."
Yan Ling menerima benda itu. Dia merasakan tekstur logam yang dingin dan aneh. Bukan bahan yang biasa dia kenal di dunia kultivasi. "Apa ini? Artefak listrik?"
"Sejenis itu," jawab Haneen menghindari penjelasan teknis. "Jangan ditanya caranya kerja. Cukup pakai saat darurat."
Yan Ling mengerti. Dia menyimpan benda itu di saku dalam bajunya. "Ada rencana lain?"
"Kita perlu informasi tentang keluarga Zhang," ucap Haneen sambil menutup tas. "Besok kita masuk ke wilayah mereka. Aku perlu tahu siapa saja orang kepercayaan Zhang Wei yang mungkin ikut dalam misi ini."
Haneen mengeluarkan beberapa koin informasi dari sistem. Koin ini bisa digunakan untuk membeli rumor dari jaringan intelijen sistem. Dia melempar koin itu ke udara secara halus, dan koin itu menghilang sebelum menyentuh tanah.
[Informasi Diterima: Zhang Wei memiliki tiga pengawal pribadi tingkat Kondensasi Qi tingkat lima. Mereka sering mengikuti perintah kotor keluarga Zhang. Nama kode: Serigala Hitam.]
Haneen menghela napas. Tingkat lima. Itu dua tingkat di atas mereka yang pura-pura tingkat tiga. Ini akan menjadi pertarungan sulit jika terjadi konflik terbuka.
"Kita berhadapan dengan tiga pengawal tingkat lima," bisik Haneen pada Yan Ling. "Mereka mungkin akan menyergap kita di dalam terowongan gelap."
Yan Ling mengeratkan pegangan pada sarung pedangnya. "Aku bisa menahan dua orang. Kau fokus pada yang ketiga."
"Tidak," koreksi Haneen. "Kita tidak bertarung adil. Lingkungan disana bisa kita pergunakan. Tambang gelap penuh dengan ranjau batu dan jalur sempit. Kita akan memancing mereka masuk ke jebakan."
Haneen menjelaskan rencana singkatnya. Yan Ling akan bertindak sebagai umpan di depan, sementara Haneen akan berada di belakang menyiapkan area kematian. Dengan bantuan ranjau sistem dan pengetahuan taktis, mereka bisa mengalahkan musuh yang lebih kuat tanpa harus menguras semua energi spiritual.
"Apakah kau yakin ini akan berhasil?" tanya Yan Ling. Dia pernah bertarung dengan kekuatan murni, bukan strategi licik seperti ini.
"Aku yakin," jawab Haneen tegas. "Kekuatan bukan segalanya. Informasi dan persiapan adalah kunci kemenangan. Mereka mengira kita murid luar yang bodoh. Kita akan buktikan mereka salah."
Mereka keluar dari gang gelap dan kembali ke jalan utama. Pasar mulai sepi karena pedagang mulai menutup toko. Haneen dan Yan Ling kembali ke penginapan mereka.
Di kamar, Haneen duduk di tepi tempat tidur. Dia memeriksa semua peralatan sekali lagi. Pistol silikon sudah tersembunyi di lengan baju. Pisau taktis ada di sepatu bot. Ranjau kejut sudah siap di saku.
"Besok adalah hari pertama," gumam Haneen. "Jika kita berhasil melewati ini tanpa membunuh mereka secara terbuka, kita punya alasan kuat untuk melaporkan keluarga Zhang ke otoritas kota."
Yan Ling duduk di kursi dekat jendela. Dia melihat ke luar, mengamati jalanan yang sepi. "Aku percaya padamu, Haneen. Tapi hati-hati. Keluarga Zhang punya banyak koneksi di pemerintahan kota. Jika kita terlalu agresif, kita bisa dituduh sebagai penyerang."
"Aku tahu," jawab Haneen. "Itu kenapa kita akan bertahan dulu. Biarkan mereka yang menyerang pertama. Dengan begitu, kita bertindak atas nama pertahanan diri."
Mereka menghabiskan sisa malam dengan istirahat bergantian. Haneen tidur tiga jam, lalu bangun menjaga keamanan. Yan Ling melakukan hal yang sama. Tidak ada insiden malam itu. Tidak ada penyusup yang mencoba masuk ke kamar mereka. Mungkin keluarga Zhang belum tahu di mana persisnya mereka menginap.
Fajar mulai menyingsing. Langit berubah dari hitam menjadi ungu tua. Haneen bangun dan membangunkan Yan Ling. Mereka mandi cepat, berganti pakaian kerja tambang yang sudah dibeli, dan mengemas peralatan.
Mereka turun ke lantai dasar untuk sarapan cepat. Pemilik penginapan melirik mereka dengan penasaran. Dua wanita muda hendak pergi ke tambang tua bukan hal biasa. Tapi dia tidak bertanya. Di kota ini, orang belajar untuk tidak terlalu banyak tahu urusan orang lain.
"Siap berangkat?" tanya Haneen setelah meneguk teh hangat terakhir.
"Aku siap," jawab Yan Ling sambil berdiri. Tas peralatan digantung di bahu. Pedang disembunyikan di dalam gulungan tikar agar tidak mencolok.
Mereka keluar dari penginapan. Udara pagi terasa segar dan dingin. Kota Kabut Perak mulai bangun. Pedagang mulai membuka toko, dan kereta kuda mulai lalu lalang.
Haneen dan Yan Ling berjalan menuju gerbang utara kota. Di sana, sebuah kereta barang sudah menunggu. Pengemudi kereta adalah seorang pria tua yang tampak mengantuk. Dia memegang tali kekang kuda dengan malas.
"Kalian tim misi tambang?" tanya pengemudi itu.
"Benar," jawab Haneen.
"Naik. Kita berangkat sekarang. Jangan sampai terlambat," ucap pengemudi itu.
Mereka naik ke bagian belakang kereta yang terbuka. Ada beberapa peti kayu di sana. Mereka duduk di atas peti itu. Kereta mulai bergerak, roda berderit di atas jalan batu.
Haneen melihat ke belakang. Kota Kabut Perak semakin menjauh. Di kejauhan, menara penjaga sekte masih terlihat samar di atas gunung. Itu pengingat bahwa musuh lama mereka masih ada. Tapi untuk sekarang, fokus mereka adalah musuh di depan mata.
Perjalanan menuju Distrik Utara memakan waktu dua jam. Jalanan semakin sepi dan pemandangan berubah menjadi bukit-bukit batu yang tandus. Tidak ada pohon besar, hanya semak-semak kering.
"Kita hampir sampai," ucap pengemudi kereta sambil menunjuk ke depan.
Di lembah di depan mereka, terlihat beberapa bangunan kayu sederhana dan lubang masuk tambang yang gelap. Asap tipis keluar dari beberapa cerobong asap. Itu adalah Tambang Batu Hitam.
Kereta berhenti di depan gerbang tambang. Seorang pria gemuk dengan pakaian sutra mahal sudah menunggu. Dia tersenyum saat melihat Haneen dan Yan Ling turun dari kereta. Senyuman itu tidak mencapai matanya.
"Selamat datang," ucap pria itu. "Saya Manajer Liu. Saya yang akan mengawasi misi kalian."
Haneen menatap pria itu. Dia tidak merasakan aura kultivasi dari manajer ini. Tapi cara berdirinya menunjukkan dia terbiasa memberi perintah.
"Kami siap mulai misi," ucap Haneen singkat.
"Bagus," ucap Manajer Liu. "Ikuti saya. Saya akan tunjukkan area yang perlu diselidiki."
Mereka mengikuti manajer itu menuju lubang tambang utama. Angin dingin berhembus dari dalam lubang itu, membawa bau tanah basah dan logam. Haneen mengaktifkan mode pemindai sistem. Ada anomali energi di dalam sana. Bukan energi spiritual biasa.
"Ingat aturan," bisik Haneen pada Yan Ling saat mereka akan masuk ke kegelapan. "Jangan terpisah lebih dari lima meter. Dan jangan percaya siapa pun di dalam sana kecuali kita berdua."
Yan Ling mengangguk kecil. Mereka melangkah masuk ke dalam perut bumi, meninggalkan cahaya matahari di belakang. Kegelapan tambang menyambut mereka seperti mulut raksasa yang siap menelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share 😁