Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Baru
Seminggu setelah menerima surat rekomendasi dari akademik, Bima masih bergulat dengan keputusan berat. Ia sudah menjauh dari Kay—membalas pesan seadanya, menolak ajakan bertemu, dan sibuk dengan alasan tugas. Kay jelas bingung dan sakit hati, tapi Bima tidak tahu cara menjelaskan.
Hari itu, Kamis pagi, Bima duduk di kos dengan kertas di tangan—nomor kontak dosen yang diberikan Tasya. Ia sudah menatapnya berjam-jam, menimbang-nimbang. Akhirnya, dengan napas panjang, ia mengambil ponsel dan menekan nomor itu.
"Halo, selamat pagi. Dengan Bapak Dr. Hartono?" suaranya berusaha tenang.
"Iya, benar. Ini siapa, ya?" suara pria di seberang terdengar ramah.
"Saya Bima Wijaya, Pak. Mahasiswa UGM. Saya dapat kontak Bapak dari Tasya Namira. Katanya Bapak butuh asisten penelitian?"
"Oh, iya-iya. Tasya sudah cerita. Kamu Bima yang katanya jago coding itu, ya?"
Bima terkejut. Tasya sudah cerita? "Iya, Pak. Saya mahasiswa Ilmu Komputer."
"Bagus, bagus. Kebetulan saya memang butuh asisten untuk project AI. Gimana kalau kita ketemu langsung? Saya bisa jelasin detailnya."
"Bisa, Pak. Kapan dan di mana?"
"Besok jam 10 di kampus saya, Universitas Sanata Dharma. Kamu tahu?"
Bima mengerutkan kening. Sanata Dharma? Itu kampus swasta di Jogja, bukan UGM. Tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh. "Tahu, Pak. Nanti saya datang."
"Baik, saya tunggu."
---
Universitas Sanata Dharma, Jum'at pagi. Bima datang lebih awal, mengenakan kemeja kotak-kotak biru—satu-satunya yang layak—dan celana bahan hitam yang sudah disetrika seadanya. Ia membawa map berisi transkrip nilai, CV, dan surat rekomendasi dari UGM, berjaga-jaga jika diperlukan.
Kampus Sanata Dharma terasa berbeda—lebih kecil, lebih tenang, dengan arsitektur khas yang asri. Bima berjalan menuju gedung Fakultas Teknik, mencari ruangan Dr. Hartono.
"Selamat pagi, Mas Bima?" sapa seorang pria berusia 50-an dengan kacamata tebal dan kemeja batik lengan panjang. Senyumnya ramah.
"Iya, pagi Pak. Dr. Hartono?"
"Iya, iya. Mari masuk."
Ruang dosen itu sederhana, penuh tumpukan jurnal dan buku. Dr. Hartono duduk di kursinya, mempersilakan Bima duduk di hadapannya.
"Tasya cerita banyak tentang kamu. Katanya kamu jago coding, IPK pernah 4.0, tapi sekarang dapat masalah?"
Bima menunduk. "Iya, Pak. Saya sakit cukup parah, IPK turun, beasiswa dicabut."
Dr. Hartono mengangguk simpatik. "Saya dengar. Tasya juga cerita kamu kerja ojek sambil kuliah. Perjuangan banget."
Bima tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk.
"Bima, saya nggak akan bertele-tele. Saya memang butuh asisten penelitian. Tapi setelah lihat CV dan track record kamu, saya punya tawaran lain."
Bima mengerutkan kening. "Tawaran lain, Pak?"
Dr. Hartono membuka laci, mengeluarkan berkas. "Kamu tahu, di sini kami juga punya program beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu tapi berprestasi.
Dengan rekomendasi dari UGM, kamu bisa pindah ke sini. SPP lebih murah, dan saya bisa usulkan kamu dapat beasiswa bantuan."
Bima terperanjat. "Pindah, Pak?"
"Iya. Saya sudah bicara dengan bagian akademik. Mereka setuju menerima mahasiswa pindahan dengan rekomendasi. Kamu nggak perlu mengulang dari awal—mata kuliah yang sudah lulus akan dikonversi. Kamu tinggal lanjut semester 5 di sini."
Bima terdiam. Otaknya bekerja cepat. Pindah ke Sanata Dharma. Bukan keluar Jogja, tapi pindah kampus. Lebih murah, dapat beasiswa, tetap di kota yang sama.
"Tapi, Pak... bukankah Sanata Dharma swasta? SPP-nya pasti—"
"Lebih murah dari UGM untuk mahasiswa pindahan dengan beasiswa," potong Dr. Hartono. "Saya sudah hitung. Dengan beasiswa bantuan, kamu cukup bayar sekitar 2 juta per semester. Bandingkan dengan UGM yang sekarang 7 juta tanpa beasiswa."
Bima menarik napas. 2 juta. Masih berat, tapi jauh lebih ringan. Dan ia bisa tetap di Jogja, tetap dekat dengan...
"Bima, saya tahu ini keputusan besar. Tapi saya lihat potensimu. Kamu anak cerdas, pekerja keras. Sayang kalau sampai putus kuliah cuma karena masalah biaya."
Bima menatap Dr. Hartono. "Pak, kenapa Bapak mau bantu saya?"
Dr. Hartono tersenyum. "Karena dulu saya juga seperti kamu. Kuliah sambil kerja, hampir putus di tengah jalan. Ada dosen yang membantu saya, dan saya ingin membantu yang lain. Itu saja."
Bima terharu. Ia tidak menyangka akan menemui kebaikan seperti ini.
"Terima kasih, Pak. Saya... saya terima tawaran Bapak."
Dr. Hartono mengangguk puas. "Bagus. Nanti saya urus administrasinya. Kamu tinggal siapkan surat rekomendasi dari UGM dan beberapa berkas lain. Saya kabari lewat WA."
---
Bima keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Ada lega, karena ada jalan keluar. Ada sedih, karena pindah kampus berarti meninggalkan lingkungan UGM—dan mungkin, meninggalkan Kay.
Ia duduk di taman kampus, menatap langit Jogja yang cerah. Ponselnya bergetar berkali-kali—pesan dari Kay yang tidak dibalas, panggilan tidak dijawab. Ia tahu Kay pasti bingung, marah, sedih. Tapi ia belum siap bicara.
---
Sementara itu, di sebuah kafe dekat kampus, Kay duduk berhadapan dengan Mika. Wajahnya kusut, mata sembab, rambut diikat asal-asalan. Ia memakai hoodie abu-abu kebesaran yang dulu pernah ia pinjam dari Bima—dan belum dikembalikan.
"Mik, gue bingung." Kay memainkan sedotan es kopinya. "Bima berubah total. Dia nggak pernah bales chat, kalo dijawab cuma 'iya' atau 'nggak'. Kalo gue ajak ketemu, selalu alasan sibuk. Padahal dia udah nggak narik ojek tiap hari."
Mika mengamati sahabatnya dengan iba. "Lo udah coba dateng ke kosnya?"
"Udah. Tiga kali. Pertama, dia bilang lagi keluar. Kedua, dia bilang lagi sakit. Ketiga, pintu dikunci. Gue yakin dia di dalem, tapi nggak mau buka."
Mika menghela napas. "Kay, mungkin dia lagi banyak pikiran. Beasiswa ilang, biaya rumah sakit, tekanan dari mana-mana. Laki-laki kadang kayak gitu—menarik diri kalau stres."
"Tapi kenapa dari gue? Gue kan pacarnya! Seharusnya gue jadi tempat curhat, bukan yang dijauhin!"
"Itu masalahnya, Kay. Bima tipe laki-laki yang nggak mau ngerepotin orang yang dia sayang. Makin besar masalahnya, makin dia jauhin lo."
Kay menunduk. "Tapi gue sayang dia. Gue nggak peduli direpotin"
"Dia tahu. Tapi harga dirinya nggak bisa terima."
Kay mengusap matanya. "Gue takut, Mik. Gue takut dia ngambil keputusan bodoh. Kayak... ninggalin gue."
Mika meraih tangan Kay. "Lo udah ngomong sama mama lo?"
Kay menggeleng. "Mama lagi sibuk. Tapi ada yang aneh, Mik. Waktu gue cerita tentang Bima sakit, mama diam aja. Nggak komentar negatif kayak biasanya. Malah bilang, 'Nak, kalo memang berat, lepasin aja.'"
Mika mengerutkan kening. "Aneh. Biasanya mama lo sibuk ngejelek-jelekin Bima."
"Iya. Itu yang bikin gue curiga."
Mereka diam beberapa saat. Mika berpikir keras.
"Kay, gue nggak mau nuduh, tapi... jangan-jangan mama lo ngomong sesuatu sama Bima?"
Kay menatap Mika. "Maksud lo?"
"Lo tahu sendiri, mama lo nggak setuju dari awal. Mungkin dia nemuin Bima, ngasih 'saran' tertentu."
Kay merenung. Itu masuk akal. Mama punya koneksi di mana-mana, pasti bisa lacak Bima. Dan dengan kondisi Bima yang rentan, satu percakapan dari ibu Kay bisa jadi palu godam.
"Gue harus ngomong sama mama," desis Kay.
"Tapi lo nggak punya bukti."
"Gue bisa nebak dari reaksinya."
Kay berdiri, mengambil tasnya. "Mik, makasih udah dengerin. Gue pulang dulu."
"Hati-hati, Kay. Jangan emosi."
---
Di rumah, Kay langsung mencari ibunya. Lydia sedang duduk di ruang kerja, membaca laporan keuangan. Ia mengangkat kepala saat Kay masuk tanpa mengetuk.
"Nak, ada apa?"
Kay duduk di hadapan ibunya. "Ma, Aku mau tanya sesuatu. Jujur."
Lydia meletakkan pena. "Tanya apa?"
"Mama nemuin Bima?"
Lydia diam sejenak. Ekspresinya tidak berubah. "Kenapa tanya begitu?"
"Jawab, Ma. Mama nemuin dia?"
Lydia menghela napas. "Iya. Beberapa minggu lalu."
Kay merasa dadanya diremas. "Ngapain?"
"Ngobrol. Sebagai ibu yang khawatir sama anaknya."
"Mama ngomong apa?" suara Kay mulai tinggi.
"Nak, tenang—"
"MAMA NGOMONG APA?" Kay hampir berteriak.
Lydia menatap putrinya dengan tenang. "Aku bilang dia ninggalin kamu. Demi kebaikan kalian berdua."
Kay terpukul. Ia mundur selangkah. "Mama... Mama nyuruh dia putus sama aku?"
"Aku nggak nyuruh. Aku minta dia pertimbangkan. Lihat kenyataan, Nak. Dia sakit, IPK hancur, beasiswa ilang, kamu keluar uang banyak buat dia. Itu bukan hubungan sehat."
"ITU BUKAN URUSAN MAMA!" Kay berteriak. Air matanya jatuh. "Ini hidup aku! Ini pilihan aku! Mama nggak berhak campur tangan!"
Lydia berdiri, wajahnya tegang. "AKU IBU KAMU! Aku punya hak buat lindungin kamu dari kesalahan!"
"Bukan kesalahan! Bima bukan kesalahan!"
"Dia bawa kamu ke jurang, Kay! Lihat dirimu! Kamu kurus, kamu nangis tiap hari, kamu bolos kuliah! Itu semua karena dia!"
Kay menggeleng keras. "Bukan karena dia. Tapi karena keadaan. Dan aku milih buat hadapin bareng dia. Tapi Mama malah hancurin dari belakang!"
Lydia terdiam. Kay melanjutkan dengan suara bergetar.
"Mama tahu apa yang dia rasakan sekarang? Dia sakit, dia jatuh, dia butuh dukungan. Tapi Mama dateng, ngasih dia alasan buat ngerasa nggak pantas. Mama hancurin harga dirinya yang udah rapuh. Mama... Mama jahat."
Lydia terpukul. Ia tidak pernah melihat Kay semarah ini.
"Kay, Mama cuma—"
"Aku nggak mau denger." Kay berbalik. "Aku akan cari Bima. Dan kalo hubungan kami hancur karena Mama, aku nggak akan pernah maafin Mama."
Kay pergi, membanting pintu. Lydia terduduk lemas di kursinya.
---
Kay langsung menuju kos Bima. Kali ini ia tidak akan terima ditolak. Ia mengetuk pintu keras-keras.
"Bim! Buka! Gue tahu lo di dalem!"
Hening.
"Bim, please! Gue udah tahu mama ngomong sama lo. Buka pintu, kita ngomong!"
Masih hening. Kay mengetuk lagi, kali ini sambil menangis.
"Bim, jangan gini. Lo nggak sendiri. Kita hadapin bareng. Please..."
Pintu tidak kunjung terbuka. Kay mendengarkan, tidak ada suara dari dalam. Ia menekan handle pintu—tidak terkunci.
Ia masuk. Kamar itu kosong. Dipan rapi, buku-buku tersusun, laptop tidak ada. Di meja, sebuah amplop coklat besar dengan namanya.
Kay mengambilnya dengan tangan gemetar. Ia membuka amplop itu. Di dalam, buku sketsa Bima—buku yang selalu ia bawa ke mana-mana. Dan sebuah surat.
Kay membuka surat itu, membaca dengan air mata mengalir.
"Kay,
Maaf gue pergi tanpa bilang. Maaf gue nggak cukup kuat buat lawan semua ini. Mama lo bener—gue cuma jadi beban. IPK hancur, beasiswa ilang, sakit-sakitan, dan lo harus keluar uang banyak buat gue. Gue nggak pantas.
Gue pindah kampus. Bukan ninggalin Jogja, tapi pindah ke kampus lain. Ada dosen yang mau bantu gue. Gue akan mulai dari nol. Dan gue janji, suatu hari nanti, gue akan jadi orang yang layak buat lo. Tapi untuk sekarang, lepaskan gue.
Jangan cari gue. Gue butuh waktu buat perbaiki diri. Kalo Tuhan berkenan, kita ketemu lagi di waktu yang lebih baik.
Buku sketsa ini buat lo. Semua gambar lo ada di sana. Biar lo inget, bahwa pernah ada laki-laki cuek yang sayang banget sama lo.
Makasih buat semuanya. Makasih udah mau nerima gue apa adanya. Makasih udah berjuang buat gue.
Maaf, dan selamat tinggal.
Bima."
Kay jatuh berlutut di lantai kos Bima. Ia memeluk buku sketsa itu, menangis sejadi-jadinya. Jeritannya memenuhi ruangan kosong.
"BIMA! BIMA KEMBALI! JANGAN TINGGALIN GUE!"
Tapi hanya angin yang menjawab.
---
Di sebuah kos baru di daerah Demak, Bima duduk di kamar sempitnya. Ia menatap ponsel, menunggu—apa pun. Tapi tidak ada panggilan, tidak ada pesan. Ia sudah mengganti nomor.
Di depannya, satu lembar foto Kay—foto yang dulu ia ambil diam-diam di perpustakaan. Ia menatapnya lama, lalu menyimpannya di dompet.
"Maafin gue, Kay. Ini yang terbaik."
Air mata jatuh di pipinya. Tapi kali ini, ia tidak menahannya.