NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume I — The Day the World Fell Chapter 5 — Rebirth

Rasa sakit adalah hal pertama yang kembali.

Bukan cahaya.

Bukan suara.

Melainkan sakit—kasar, padat, dan menyesakkan, seolah dunia memaksanya sadar dengan cara paling kejam.

Daniel tersedak.

Udara menghantam paru-parunya seperti benda asing. Ia terbatuk keras, tubuhnya melengkung refleks, dan cairan hangat menyembur keluar dari mulutnya. Tenggorokannya terbakar, dadanya berdenyut hebat.

Ia bernapas.

Kesadaran itu datang perlahan, disertai kepanikan.

Aku… hidup?

Matanya terbuka.

Langit kelabu menyambutnya—bukan ruang kosong tanpa batas, melainkan langit yang retak dan dipenuhi asap. Bau darah, debu, dan sesuatu yang hangus menusuk hidungnya.

Ia terbaring di tanah.

Di tempat yang sama.

Daniel mencoba bergerak dan langsung menjerit pelan. Setiap saraf di tubuhnya berteriak protes. Tulang rusuknya terasa retak, lengannya berdenyut, dan ada rasa dingin aneh di dadanya—bukan dingin udara, melainkan dingin dari dalam.

Ia memalingkan kepala dengan susah payah.

Wanita itu masih ada.

Ia terduduk bersandar di tembok, wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar. Namun ia hidup. Nafasnya pendek, tersendat, tapi nyata.

Iblis itu… sudah tidak ada.

Daniel tidak tahu berapa lama ia terbaring di sana. Detik? Menit? Atau mungkin waktu tidak lagi berarti seperti sebelumnya.

“A… aku…” suaranya keluar serak, hampir tak terdengar.

Wanita itu mendongak.

Matanya membesar.

“K-kau…?” suaranya pecah. “Kau hidup…?”

Nada suaranya bukan lega sepenuhnya. Ada ketakutan di sana. Seolah ia sedang menatap sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Daniel mencoba tersenyum, tapi wajahnya terlalu kaku untuk itu. Ia hanya mengangguk lemah.

“Pergi…” katanya terbata. “Cari… orang lain.”

Wanita itu ragu.

Lalu suara lain terdengar.

Raungan.

Jauh, tapi nyata.

Daniel merasakan sesuatu bergetar di dalam dadanya. Bukan rasa takut—melainkan peringatan. Naluri asing yang bukan miliknya sebelumnya.

Bahaya mendekat.

Wanita itu juga mendengarnya. Dengan susah payah, ia memaksakan diri berdiri, bersandar pada tembok sebelum tertatih pergi menjauh.

Daniel mengawasinya sampai ia menghilang di balik sudut gedung.

Baru setelah itu, tubuhnya benar-benar runtuh.

Ia terbaring telentang lagi, napasnya terengah. Pandangannya mengabur, namun di balik kabut kesadarannya, ia merasakan sesuatu yang lain.

Ada… denyut.

Di dalam dadanya.

Bukan jantung.

Lebih dalam.

Lebih tenang.

Lebih dingin.

Daniel menutup mata.

Dan saat itu, ia merasakannya.

Sebuah tanda.

Seperti ukiran tak terlihat yang menyatu dengan tulangnya, dengan darahnya, dengan pikirannya. Bukan simbol bercahaya seperti yang ia lihat di ruang antara—melainkan bekas hukum.

Segel Pertama.

Ia tidak tahu apa yang dibukanya.

Ia hanya tahu bahwa tubuhnya dipaksa bertahan.

Tulang rusuknya yang retak tidak sembuh seketika, namun berhenti memburuk. Pendarahan di dadanya melambat, lalu berhenti. Rasa sakit tetap ada—bahkan lebih tajam—namun ia tidak kehilangan kesadaran.

“Jadi… begini caranya,” gumamnya lemah.

Hidup.

Tapi tidak utuh.

Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Suara manusia. Teriakan panik, perintah singkat, suara logam beradu.

Daniel membuka mata lagi.

Sekelompok orang berseragam sederhana muncul di ujung jalan—beberapa membawa senjata darurat, beberapa lainnya menarik korban yang terluka. Wajah mereka tegang, mata mereka keras.

Manusia yang melawan.

Salah satu dari mereka melihat Daniel dan tertegun.

“Hey! Di sini masih ada yang hidup!”

Mereka mendekat dengan cepat. Saat salah satu dari mereka berlutut di samping Daniel, ekspresinya berubah—bingung, nyaris takut.

“Lukanya parah…” gumamnya. “Seharusnya dia sudah—”

“Jangan banyak bicara,” potong yang lain. “Angkat dia.”

Daniel ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Bahwa ia bisa berjalan sendiri.

Namun tubuhnya menolak.

Saat mereka mengangkatnya, rasa dingin di dadanya berdenyut lebih kuat. Sekilas, di balik kelopak matanya, Daniel melihat bayangan sepuluh simbol itu—diam, menunggu.

Sebuah suara bergema samar di kedalaman pikirannya.

Tanpa nada.

Tanpa emosi.

“Segel Pertama: Ketahanan Eksistensi.”

“Tubuhmu akan menolak kematian… sebelum waktunya.”

Daniel menggigit bibirnya.

Sebelum waktunya.

Ia tidak tahu kapan waktu itu akan tiba.

Yang ia tahu hanyalah satu hal—

Saat matanya tertutup dan kesadarannya kembali memudar, dunia yang ia kenal telah berakhir.

Dan ketika ia terbangun nanti…

ia tidak akan lagi menjadi manusia biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!