Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 debu merah kota tak bertuan dan jejak wabah hitam
Gurun Kematian di wilayah Barat bukanlah gurun biasa. Pasirnya tidak berwarna kuning emas, melainkan merah bata yang pekat, seolah-olah tanah itu telah meminum terlalu banyak darah selama ribuan tahun. Di sini, angin tidak hanya membawa debu, tetapi juga "Suara Pasir"—bisikan-bisikan dari jiwa-jiwa yang tersesat yang terperangkap dalam badai abadi.
Sret...
Riak ruang muncul di atas bukit pasir yang tinggi. Dua sosok melangkah keluar dari kehampaan. Xing Shenyuan mendarat dengan anggun, meski wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Melakukan tiga lompatan dimensi berturut-turut sambil membawa Xiaoyue benar-benar menguji batas meridiannya yang baru saja pulih.
"Guru, apakah itu tempatnya?" Xiaoyue menunjuk ke arah celah raksasa di antara dua tebing batu di kejauhan.
Di sana, terjepit di antara dinding batu yang curam, berdirilah Kota Tak Bertuan (No Man’s City). Kota itu tampak seperti tumpukan barang rongsokan raksasa yang dibangun dari kayu hitam, logam berkarat, dan tulang belulang binatang purba. Tidak ada hukum kekaisaran di sini; hanya ada satu aturan: Siapa yang kuat, dia yang benar.
"Ya," jawab Shenyuan, menarik napas dalam. Udara di sini kering dan berbau belerang. "Tekan auramu, Xiaoyue. Di tempat seperti ini, seekor naga harus melingkar dan seekor harimau harus merunduk. Kita di sini untuk mencari informasi, bukan untuk menghancurkan kota."
Shenyuan mengaktifkan Topeng Wajah Seribu Ilusi. Wajahnya berubah menjadi seorang pria paruh baya yang tampak biasa dengan janggut tipis, sementara Xiaoyue mengenakan cadar hitam yang menyembunyikan cahaya dari Inti Salju Jiwa-nya.
Masuk ke Sarang Serigala
Gerbang Kota Tak Bertuan dijaga oleh sekelompok kultivator liar berwajah sangar. Mereka mengenakan zirah dari kulit kadal gurun dan memegang tombak yang dipasangi kristal api tingkat rendah.
"Berhenti!" salah satu penjaga, seorang pria dengan bekas luka bakar di wajahnya, menghalangi jalan mereka. "Biaya masuk: satu Batu Roh Kualitas Menengah atau sepuluh tetes Esensi Darah."
Xiaoyue mengerutkan kening. Mengambil esensi darah adalah praktik jahat yang sering digunakan oleh kultivator aliran hitam.
Shenyuan tidak membantah. Ia melemparkan satu Batu Roh Kualitas Menengah yang telah ia "kotori" sedikit dengan energi Yin agar terlihat seperti barang dari pasar gelap.
Penjaga itu menangkapnya, menggigit batu itu untuk memastikan keasliannya, lalu meludah ke tanah. "Masuklah. Tapi ingat, jika kau mati di dalam, barang-barangmu menjadi milik kota."
Saat mereka melintasi jalanan kota yang sempit dan kumuh, Shenyuan segera menyadari ada yang aneh. Kota ini biasanya sangat bising dengan teriakan pedagang dan perkelahian jalanan, tetapi sekarang... ada keheningan yang mencekam.
Banyak orang duduk bersandar di dinding bangunan dengan tubuh yang dibungkus kain lusuh. Mereka terbatuk-batuk, dan dari sela-sela kain itu, keluar uap hitam yang tipis.
"Guru... lihat mereka," bisik Xiaoyue, tangannya secara insting memegang busur di punggungnya.
Shenyuan menatap salah satu penderita. Dengan Mata Batin Penembus Ilusi, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Di dalam pembuluh darah orang-orang itu, terdapat serat-serat hitam kecil yang bergerak seperti cacing, memakan esensi kehidupan inangnya.
"Wabah Hitam," gumam Shenyuan. "Ini bukan penyakit alami. Ini adalah parasit energi. Sisa-sisa 'Pelahap Bintang' yang aku potong di Ibu Kota pasti telah jatuh di dekat sini dan mulai mencari inang untuk membangun kembali tubuhnya."
Login: Di Jantung Kota Terkutuk
Mereka sampai di sebuah kedai minum bernama "Tengkorak Pasir" yang merupakan pusat informasi paling terkenal di kota itu. Sebelum masuk, Shenyuan merasakan getaran akrab dari sistemnya.
> [Sistem Login Harian Makam Bintang]
> [Lokasi: Kota Tak Bertuan (Zona Terinfeksi Parasit Kosmos)]
> [Status: Siap untuk Check-in.]
> [Peringatan: Konsentrasi energi Void terdeteksi di sekitar.]
>
"Login," batin Shenyuan.
> [Ding! Check-in berhasil!]
> [Selamat, Tuan mendapatkan: "Cairan Pemurni Cahaya Bintang" (Anti-Parasit) dan "Jubah Penekan Aura Langit".]
> [Deskripsi Item:]
> * Cairan Pemurni Cahaya Bintang: Larutan yang dapat membunuh parasit energi Void dalam sekejap. Dapat digunakan untuk melindungi diri atau menyembuhkan orang lain.
> * Jubah Penekan Aura Langit: Jubah yang secara aktif menyembunyikan fluktuasi Jiwa Baru Lahir. Bahkan ahli tahap Transformasi Dewa pun akan mengira pengguna hanyalah orang biasa tanpa kultivasi.
>
Shenyuan segera mengenakan jubah itu secara internal. Seketika, beban pada meridiannya berkurang. Jubah ini membantu "mengunci" retakan pada jiwanya, membiarkannya pulih lebih cepat tanpa harus menguras energi secara konstan untuk menekan aura.
Konflik di Kedai Tengkorak Pasir
Di dalam kedai, suasananya remang-remang. Bau arak murah dan keringat menusuk hidung. Di pojok ruangan, seorang pria raksasa dengan tato kalajengking di kepalanya sedang memukuli seorang pedagang tua.
"Di mana kau menyembunyikan mutiaranya, pak tua?! Aku tahu kau membawanya dari Timur!" teriak si tato kalajengking.
Pedagang tua itu terbatuk darah hitam. "Aku... aku tidak punya... wabah itu telah memakan segalanya..."
Xiaoyue hendak melangkah maju, tetapi Shenyuan menahan bahunya. "Sabar. Lihat siapa yang berdiri di belakang pria itu."
Di balik si raksasa, ada tiga pria berjubah abu-abu dengan simbol pedang patah di dada mereka. Shenyuan menyipitkan mata. Murid buangan Sekte Pedang Langit. Tampaknya pengaruh sekte itu telah menjalar jauh hingga ke sini.
Si tato kalajengking kehilangan kesabaran dan mengangkat palu besarnya. "Kalau begitu, matilah!"
Wush!
Sebuah tusuk sate kayu melesat dari meja Shenyuan, membelah udara dengan kecepatan yang tidak masuk akal, dan menancap tepat di lubang palu tersebut, membuat palu itu terlepas dari tangan si raksasa.
Keheningan seketika melanda kedai.
Si tato kalajengking berbalik, wajahnya memerah. "Siapa?! Siapa yang berani mencampuri urusan Geng Kalajengking Merah?!"
Shenyuan menyesap araknya yang hambar, matanya tidak sekalipun menatap si raksasa. "Duduklah. Suaramu mengganggu ketenangan tehku."
"Kau mencari mati!" Si raksasa menerjang ke arah Shenyuan.
Xiaoyue tidak menunggu perintah lagi. Ia bergerak seperti bayangan putih. Dengan satu putaran kaki yang dilapisi Qi es, ia menghantam ulu hati si raksasa.
BUM!
Pria raksasa itu terpental melewati meja-meja dan menghantam dinding hingga retak. Ia pingsan seketika.
Tiga pria berjubah abu-abu di belakangnya berdiri serempak. Salah satu dari mereka, yang tampaknya pemimpin, mengeluarkan pedangnya. "Inti Emas? Gadis kecil, kau punya nyali. Tapi di sini, Inti Emas hanyalah makanan untuk kami."
Pemimpin itu berada di ranah Inti Emas Tahap Menengah, lebih tinggi dari Xiaoyue.
"Xiaoyue, gunakan ini sebagai latihan," ucap Shenyuan pelan. "Fokus pada kontrol suhu. Jangan biarkan Qi-mu bocor sia-sia."
Pertempuran pecah. Xiaoyue bertarung melawan tiga murid buangan itu. Meskipun ia kalah dalam jumlah dan tingkat energi, teknik Sembilan Penjuru yang diajarkan Shenyuan membuatnya sangat licin. Setiap gerakannya meninggalkan jejak kristal es di lantai, membuat lawan-lawannya terpeleset dan melambat.
Shenyuan mengamati dengan cermat. Jiwa Baru Lahir-nya sedang menganalisis setiap gerakan musuh.
> [Analisis Mata Batin:]
> * Lawan A: Lemah di pinggang kiri.
> * Lawan B: Aliran Qi tersendat karena infeksi parasit tahap awal.
> * Lawan C: Menggunakan teknik pedang Sekte Pedang Langit yang tidak sempurna.
>
"Xiaoyue, serang bagian bawah mereka. Parasit di tubuh mereka sudah mulai memakan tulang kaki mereka," perintah Shenyuan.
Xiaoyue menurut. Ia merendahkan tubuhnya, melakukan sapuan kaki yang memancarkan gelombang es.
Krak! Krak! Krak!
Kaki ketiga pria itu membeku dan patah karena rapuhnya tulang mereka akibat parasit. Mereka jatuh mengerang kesakitan.
Informasi dari si "Mata Satu"
Setelah keributan mereda, pemilik kedai—seorang pria tua bermata satu dengan kaki kayu—mendekat ke meja Shenyuan. Ia tidak tampak takut; sebaliknya, ada binar kekaguman di matanya yang tersisa.
"Kalian bukan orang biasa," ucap si Mata Satu sambil meletakkan botol arak kualitas terbaik di meja. "Hanya orang gila atau orang yang sangat kuat yang berani menyentuh orang-orang Sekte Pedang Langit di kota ini."
"Aku butuh informasi," Shenyuan meletakkan lima Mutiara Roh Yin di meja.
Mata Satu tersentak melihat mutiara itu. "Mutiara Yin murni... ini barang langka dari Timur. Apa yang ingin kau ketahui, Tuan?"
"Tentang 'Benda Jatuh' dari langit dua bulan lalu. Dan hubungannya dengan wabah ini."
Mata Satu merendahkan suaranya. "Benda itu jatuh di Lembah Tengkorak, jauh di dalam Gurun Merah. Sejak saat itu, wabah ini menyebar. Tapi yang paling mengerikan bukan penyakitnya, Tuan."
"Lalu?"
"Gumpalan daging itu... ia telah menemukan inang. Bukan manusia, tapi seekor Cacing Pasir Kuno tingkat tinggi. Makhluk itu sekarang memiliki kecerdasan dan memerintahkan parasit ini untuk mengumpulkan esensi kehidupan dari seluruh kota. Mereka menyebutnya sebagai 'Dewa Hitam'."
Mata Satu menunjuk ke arah murid-murid buangan yang baru saja dikalahkan Xiaoyue. "Mereka itu adalah penyembahnya. Mereka membawa korban manusia ke lembah setiap malam purnama agar tidak dibunuh oleh wabah."
Shenyuan mengetuk meja. "Lembah Tengkorak. Berapa jauh?"
"Tiga hari perjalanan dengan unta. Tapi malam purnama... adalah besok malam."
Penutup Bab: Strategi di Tengah Badai
Malam itu, Shenyuan dan Xiaoyue menyewa kamar di bagian atas kedai. Shenyuan mengeluarkan Cairan Pemurni Cahaya Bintang yang ia dapatkan dari sistem.
"Xiaoyue, oleskan ini pada senjatamu dan panahmu. Parasit itu sangat sensitif terhadap cahaya bintang murni."
"Guru, apakah kita akan langsung menuju lembah besok?"
"Tidak. Kita akan mengikuti rombongan 'korban' yang dikirim oleh kota ini. Aku ingin melihat bagaimana parasit itu berinteraksi dengan inang utamanya," Shenyuan menatap ke arah jendela, ke arah gurun yang memerah di bawah sinar bulan yang mulai penuh.
"Fondasiku sudah mencapai 80% stabil," batin Shenyuan. "Jika aku bisa menyerap inti energi dari parasit itu, aku mungkin bisa menambal retakan jiwaku sepenuhnya dan menerobos ke Tahap Menengah lebih cepat dari perkiraan."
Namun, di kegelapan gurun, sesuatu yang besar sedang menggeliat di bawah pasir. Ribuan mata kecil berwarna merah terbuka, menatap ke arah Kota Tak Bertuan. Sang "Dewa Hitam" merasakan kehadiran dua jiwa yang sangat lezat yang baru saja memasuki wilayahnya.
* Kultivasi Shenyuan: Jiwa Baru Lahir Tahap Awal (Stabilisasi: 80%).
* Kultivasi Xiaoyue: Inti Emas Tahap Awal (Konsolidasi Teknik Es).
* Item Baru: Jubah Penekan Aura, Cairan Pemurni.
* Tujuan: Lembah Tengkorak (Malam Purnama).