Area 21+
Anak di bawah umur dilarang mendekat.
Tentang Bianca yang memendam perasaan cinta terhadap Alexander Valentino sahabat kakaknya. Ia rela dijadikan partner di atas ranjang bagi pria itu meski ia tau hati Alex begitu kuat berpaut pada kekasih yang sangat dicintainya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Bianca terbangun saat merasakan tiupan lembut di wajahnya. Senyum dari bibir Alex yang terasa membekukan langsung menyapa matanya. Bianca menyusupkan wajah nya pada dada Alex karena merasa malu melihat tatapan intens dari pria yang telah merebut keseluruhan hatinya itu.
Namun Alex menangkup wajah Bian agar tetap menatap padanya, lalu pria itu mendaratkan kecupan di bibir gadis itu dan menyesapnya dengan gemas. Wajah bersemu merah dari Bianca membuat Alex semakin mendamba padanya.
"Abang nggak tahan" Ucap Alex serak, ia meraih tangan Salsa agar menyentuh aset kebanggan pria itu.
"Abang..." Protes Bianca, wajah nya semakin memerah karena malu.
"See kamu ngerti kan kalo dia uda kangen banget sama pasangan nya?" ucap pria itu dengan tatapan berkabut. Bianca memalingkan wajahnya karena menahan malu, namun lagi-lagi Alex menahan wajah Bian agar terus menatap padanya.
"Abang selalu menginginkan kamu sayang" bisik Alex sembari kembali mendaratkan kecupan-kecupan pada seluruh bagian wajah Bianca tak terkecuali bibir mungil gadis itu. Alex begitu menikmati bibir Bianca yang terasa manis sehingga menenggelamkan Bianca dalam hasrat yang tak terbendung.
"Ayo sayang, sebut namaku" bisik pria itu, ia kembali menenggelamkan bibir nya pada bibir Bianca lalu kemudian turun ke bagian-bagian yang mampu membangkitkan sesuatu pada diri gadis itu
"A_abang..."
Bian merasa begitu terlena akan sentuhan lembut Alex yang terasa berbeda. Pria itu memperlakukan nya dengan lembut dan penuh pemujaan.
"Teruslah sebut namaku sayang" bisik Alex lagi, hangat nafasnya yang menerpa telinga membuat tubuh Bianca meremang.
Alex kini melucuti apa yang melekat padanya dan juga Bianca hingga tak ada lagi yang menutupi pertemuan kulit mereka, saling merasakan kehangatan yang membangkitkan perasaan berbeda dan terasa indah.
Alex semakin bersemangat bersamaan dengan getaran dan ceracauan Bianca. Ia terus mendaratkan kecupan pada bagian sensitif gadis itu. Bianca benar-benar kewalahan menghadapi sentuhan Alex yang semakin memabukkan.
Senyum Alex tersungging saat melihat tubuh polos Bianca terus menggeliat menahan gejolak di tubuhnya. Melihat wajah Bianca yang memerah dengan rintihan halus nya membuat bagian tubuh pria itu ingin segera menemui pasangan nya. Keduanya mengeram secara bersamaan saat Alex menghujamkan tubuhnya hingga menyentuh bagian luar biasa dari inti gadis itu. Alex menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam, menikmati kehangatan yang Bianca alirkan.
Tubuh Bianca menegang saat mendengar ketukan di pintu kamar Alex,
"Babe kamu uda bangun belum" Suara Salsa terdengar lembut dan manja.
Keduanya bertatapan namun Alex tak melepaskan penyatuan tubuh mereka.
"B-bang" Bisik Bianca lirih dengan mata yang memancarkan kecemasan. Namun entah apa yang ada dalam fikiran Alex, melihat raut ketakutan di wajah Bianca dengan tubuh polos yang berada di bawah kendalinya membuat Alex menyeringai.
Ia membopong tubuh Bianca membawa gadis itu menuruni ranjang dan berjalan ke arah pintu.
"Apa yang akan abang lakuin?" tanya Bian semakin cemas, terlebih saat Alex menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu.
Gadis itu menegang saat Alex kembali melanjutkan kegiatan yang sebelumnya sempat terjeda tak peduli pada Salsa yang terus mengetuk dan memanggil nya. Bianca menutup mulutnya untuk menghindari suara nya agar tidak keluar, atau Salsa akan mendengar nya. Bianca sungguh merasa kesulitan meredam kenikmatan dan ketakutan yang saling berlomba memenuhi dirinya. Sementara Alex seolah tanpa takut terus beraksi tanpa berniat sedikitpun untuk menghentikan nya.
Alex meredam leng*h*n nya dengan membenamkan bibirnya pada bibir Bianca, ia selalu dibuat gila pada sensasi yang tubuh Bianca suguhkan hingga seolah ia tak akan sanggup jika tak menyentuhnya hingga waktu yang lama. Beberapa waktu kemudian suara ketukan di pintu tak lagi terdengar membuat Bianca merasa lega. Seringai jahil Alex membuat gadis itu memanyunkan bibirnya, namun tanpa Bianca duga Alex menghujamkan tubuh nya lebih dalam hingga membuat gadis itu memejamkan matanya. Alex tersenyum bangga karena berhasil membawa Bianca pada petualangan yang tak ada duanya. tangan nya mengusap keringat Bianca yang memercik namun sama sekali tak menghentikan aksinya
"Bi-bian uda mau sampai bang" Lirih Bianca saat merasakan gelombang rasa yang terasa melumpuhkan nya.
"Keluarkan sayang, abang juga akan sampai" Alex semakin mempercepat hentakan tubuhnya hingga akhirnya keduanya menegang dan meleng**h melepaskan gairah terakhirnya hingga mencapai pelepasan yang begitu sempurna.
Alex segera menahan tubuh Bianca yang hampir meluruh karena lemas setelah mengalami gelombang yang menyita seluruh tenaganya, pria itu menggendong Bianca dan membawanya ke ranjang lalu merebahkan nya. Alex menatap wajah Bianca yang bersemu merah dengan nafas terengah, gadis itu masih memejam kan matanya, masih meresapi sisah-sisah pelepasan yang baru saja melandanya.
"Abang gila" ucap Bianca setelah berhasil menguasai dirinya. Alex terkekeh sambil menyeka keringat gadis itu lalu Mendaratkan ciuman di kening dan bibir nya.
"Kenapa?" Ucap Alex pura-pura tak mengerti.
"Kalau ketauan kak Salsa gimana? abang tu suka gitu" Rajuk Bian dengan manja.
"Tapi luar biasa kan sensasinya?" Alex malah berencana menjawab panggilan Salsa sembari menggarap tubuh Bianca, namun ia sadar hal itu terlalu beresiko. Ia tak mau Bianca mengalami kesulitan nantinya.
"Bang gimana kalo kak Salsa curiga karena Bian nggak ada di kamar?" Bianca panik seketika saat menyadari hal itu.
"Uda tenang aja. Tidur lagi yuk, sekarang baru jam 5" Alex dengan santai memeluk tubuh Bian dan kembali menyelimuti tubuh polos mereka dengan selimut.
"Bang nanti ketauan, Bianca keluar sekarang sebelum semua nya bangun" Rengek Bian, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan hangat Alex, namun pria itu sama sekali tak melonggarkan dekapan nya.
"Abang please jangan gini" rengek Bian lagi, Alex masih tak peduli ia memejamkan matanya sembari menyesap aroma tubuh Bian yang berada dalam dekapan nya.
Bianca akhirnya pasrah, percuma melawan Alex yang begitu keras kepala. Ia mencoba memejamkan matanya namun tiba-tiba ia merasakan perutnya begitu tidak nyaman seperti ada sesuatu yang naik ke tenggorokan hingga
"Hoek..." Bianca menutup mulutnya, ia merasakan mual yang luar biasa.
"Kamu kenapa sayang?" Alex segera melepaskan dekapan nya dan menatap pada gadis itu, Bianca tak menjawab dan segera berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perut yang terasa begitu mengganggunya.
Bianca merasakan pijatan lembut di tengkuknya. Terasa kehangatan itu mengalir di hatinya merasakan perhatian dari pria itu.
Bian mencuci mulutnya dengan air lalu berbalik menghadap pada Alex yang terlihat begit khawatir. Ia merasa terharu hingga tak bisa menahan diri. Ia memeluk Alex sambil menangis, ia juga tak mengerti kenapa.
"Kamu kenapa sayang? kita ke dokter ya?" Alex mengusap rambut Bianca yang terus terisak dalam dekapan nya.
🍁🍁🍁