NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PARADOKS KEBOHONGAN PUTIH

Angin sore Surabaya yang biasanya gerah terasa menusuk tulang bagi Keyla Aluna. Langkah kakinya menuruni tangga rooftop perpustakaan lama terasa berat, kontras dengan genggaman tangan Bintang Rigel yang hangat dan mantap di jemari kanannya. Baru beberapa menit yang lalu, di bawah langit jingga yang menjadi saksi bisu, mereka berjanji untuk menjadi tim. Sebuah tim tanpa rahasia.

Namun, di saku blazernya, sebuah rahasia baru saja bergetar, panas seperti bara api.

"Kamu yakin nggak papa?" Bintang bertanya lagi saat mereka mencapai lantai dasar. Lorong sekolah mulai sepi, hanya menyisakan beberapa siswa yang piket atau mengikuti ekstrakurikuler. Tatapan Bintang menyiratkan kekhawatiran tulus yang membuat ulu hati Keyla nyeri. "Tanganmu dingin banget, Key. Pucat juga."

Keyla mengeratkan pegangannya pada tali tas, memaksakan tawa kecil yang terdengar sumbang di telinganya sendiri. "Efek adrenalin, Bin. Tadi kan abis... ya, kamu tahu. Debat sama Vanya dan terus... ketemu kamu."

Bintang tersenyum miring, sebuah senyum lega yang langka. Ia mengacak pelan puncak kepala Keyla. "Maaf ya. Harusnya aku ada di sana pas Vanya nyudutin kamu. Harusnya aku nggak biarin kamu ngelawan 'ratu lebah' itu sendirian."

"Aku nggak sendirian," elak Keyla pelan, matanya menatap lantai koridor yang bermotif catur. *Aku punya bukti korupsi, dan sekarang bukti itu jadi senjata makan tuan.*

"Mau aku antar pulang? Atau kita mampir makan dulu?" tawar Bintang saat mereka berjalan menuju parkiran. Mobil sedan hitamnya terparkir manis di sana, simbol status yang selama ini memisahkan dunia mereka, namun kini menjadi jembatan.

Keyla menggeleng cepat. Terlalu cepat. "Pulang aja. Aku... aku capek banget. Pengin langsung tidur."

Ia harus segera menjauh dari Bintang. Semakin lama ia berada di dekat cowok itu, semakin besar kemungkinan Bintang menyadari getaran panik yang merasuki tubuh Keyla. Bintang menatapnya sejenak, seolah memindai kejujuran di mata Keyla, sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Oke. Masuklah."

Perjalanan pulang dihabiskan dalam keheningan yang, untungnya, diisi oleh alunan musik jazz dari radio mobil Bintang. Keyla bersyukur Bintang bukan tipe yang memaksakan obrolan. Namun, pikiran Keyla berkecamuk lebih riuh dari pasar malam.

Reza. Ketua Klub Jurnalistik yang selama ini ia anggap sebagai sekutu—atau setidaknya, sesama pengamat dari pinggiran—ternyata adalah pemain catur yang licik. Dia tidak peduli pada keadilan atau Vanya. Dia hanya peduli pada *headline*.

"Minggu depan Ayah bakal datang ke pertandingan final," ucap Bintang tiba-tiba, memecah lamunan Keyla. Suaranya terdengar bangga, tapi ada nada cemas terselip di sana. "Tumben banget dia mau luangin waktu. Biasanya sibuk ngurusin yayasan atau bisnis propertinya."

Jantung Keyla serasa diremas tangan tak kasat mata. *Yayasan.* Data yang dipegang Reza bisa menghancurkan itu semua. Jika Reza merilis bukti korupsi Pak Haris dan mengaitkannya dengan donatur—termasuk ayah Bintang—bukan hanya reputasi sekolah yang hancur. Bintang akan kehilangan wajah di depan satu sekolah. Ayahnya mungkin akan terseret kasus hukum. Dan momen langka di mana Bintang bisa merasa didukung ayahnya di pertandingan final? Itu akan musnah.

"Itu... bagus kan?" suara Keyla tercekat.

"Banget," Bintang menoleh sekilas, matanya berbinar. "Makanya aku nggak mau ada skandal aneh-aneh lagi. Aku mau buktiin ke Ayah kalau aku bisa banggain dia, bukan cuma jadi sumber masalah."

Kalimat itu adalah paku terakhir di peti mati kejujuran Keyla. Ia tidak bisa memberitahu Bintang. Jika Bintang tahu Reza mengancam ayahnya, Bintang akan bertindak impulsif. Cowok itu akan melabrak Reza, dan Reza pasti akan langsung menekan tombol 'publish'.

Sesampainya di depan pagar rumah Keyla yang sederhana, Bintang menahan tangan Keyla sebelum gadis itu turun. "Key, janji ya? Kalau ada apa-apa, kalau Vanya atau siapa pun ganggu kamu lagi, bilang aku."

Keyla menelan ludah, merasakan pahitnya kebohongan di ujung lidah. "Iya, Bintang. Janji."

Begitu mobil Bintang menghilang di tikungan, Keyla berlari masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan melempar tasnya ke kasur. Ia menyambar ponselnya. Ada tiga pesan baru dari Reza.

**Reza (Jurnalistik):**

*Tik tok, Keyla. Matahari udah terbenam.*

*Gue udah siapin draft artikelnya: 'Skandal Gelap di Balik Megahnya Yayasan Cakrawala'. Judul yang seksi, kan?*

*Lo punya waktu sampe jam 9 malam buat kirim naskah 'Pengakuan Cassiopeia'. Eksklusif. Gue mau detail gimana lo nulis surat itu, kenapa lo sembunyi, dan gimana rasanya jadi pacar Bintang Rigel. Make it dramatic.*

Keyla merosot duduk di lantai, punggungnya bersandar pada pintu kamar. Napasnya memburu. Reza menginginkan dirinya menelanjangi jiwanya sendiri untuk konsumsi publik. Cassiopeia adalah satu-satunya bagian dari dirinya yang murni, ruang aman di mana ia bisa menjadi puitis dan berani tanpa dihakimi fisik atau status sosialnya. Memberikan itu pada Reza sama saja dengan melacurkan perasaannya.

Tangannya gemetar saat mendial nomor satu-satunya orang yang bisa ia percaya.

"Halo? Key! Ya ampun, akhirnya nelpon! Gimana? Udah baikan sama Pangeran Basket?" Suara cempreng Dinda langsung menyambar telinganya, diiringi suara kunyahan keripik yang nyaring.

"Din..." Suara Keyla pecah.

Kunyah keripik di seberang sana berhenti seketika. "Heh, lapo iki? Kon nangis ta? (Kenapa ini? Kamu nangis ya?) Vanya ngelabrak kamu lagi? Tak parani omah e saiki! (Aku datengin rumahnya sekarang!)"

"Bukan Vanya. Reza."

Keyla menceritakan semuanya. Tentang barter bukti korupsi di gudang perpustakaan, tentang ancaman Reza, dan tentang Bintang yang berharap ayahnya datang ke pertandingan tanpa skandal. Hening panjang terjadi di seberang sambungan telepon.

"Jancuk!" umpat Dinda keras, membuat Keyla menjauhkan ponsel dari telinganya. "Gateli tenan arek iku! (Kurang ajar banget anak itu!) Jadi dia manfaatin situasi? Dia tahu kamu nggak mungkin biarin Bintang hancur, makanya dia neken di situ."

"Aku harus gimana, Din?" isak Keyla. "Kalau aku nulis artikel itu, semua orang bakal tahu kalau Cassiopeia itu cuma cewek biasa yang nggak punya apa-apa. Vanya bakal punya bahan buat ngetawain aku seumur hidup. Tapi kalau enggak... Bintang..."

"Key, dengerin aku," suara Dinda melembut, tapi tegas. "Kamu nggak bisa ngasih apa yang dia minta. Sekali kamu kasih dia 'makan', dia bakal minta lagi. Ini namanya *blackmail*. Kalau kamu kasih tulisan itu, besok dia bisa minta hal lain lagi pake ancaman yang sama."

"Tapi aku nggak punya pilihan!"

"Bilang ke Bintang. Sekarang."

"Nggak bisa!" potong Keyla cepat. "Bintang baru aja bilang dia nggak mau ngecewain ayahnya. Kalau dia tahu ayahnya korupsi—atau setidaknya dituduh korupsi—dia bakal hancur, Din. Dan dia bakal nyalahin aku karena nyimpen bukti ini dari awal."

Keyla mematikan sambungan telepon sepihak karena merasa semakin terpojok. Dinda benar secara logika, tapi salah secara emosi. Keyla tidak bisa mengambil risiko Bintang terluka.

Ia membuka laptopnya. Kursor berkedip-kedip di layar putih kosong Microsoft Word, mengejek ketidakberdayaannya.

*Judul: Pengakuan Cassiopeia.*

*Oleh: Keyla Aluna.*

Jarinya melayang di atas keyboard. Menulis ini berarti membunuh mitos yang ia bangun. Menulis ini berarti menyerahkan kendali narasi hidupnya pada Reza, si oportunis licik. Tapi bayangan wajah Bintang yang tersenyum bangga saat membicarakan ayahnya terus menghantui.

*Demi Bintang,* batinnya.

Keyla mulai mengetik. Paragraf pertama. Paragraf kedua. Air matanya menetes ke keyboard. Rasanya salah. Sangat salah. Kalimat-kalimatnya kaku, tidak memiliki jiwa seperti surat-surat yang ia tulis tangan untuk Bintang. Ini bukan surat cinta; ini surat pengakuan dosa di bawah todongan senjata.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar laptopnya. Email masuk dari Reza.

Subjek: Preview untuk besok pagi

Lampiran: Foto dokumen kwitansi dengan tanda tangan Rendra Rigel dan stempel Yayasan, tertanggal dua tahun lalu.

Keyla menutup mulutnya menahan jeritan. Dokumen itu terlihat asli. Reza tidak menggertak.

Jam menunjukkan pukul 20.15. Waktu tersisa 45 menit.

Keyla menghapus semua tulisan di layar laptopnya. Ia tidak akan menulis artikel sampah itu. Ia tidak akan membiarkan Reza menang dengan mudah. Jika Reza ingin perang, Keyla akan memberinya perang, tapi bukan dengan cara yang Reza harapkan.

Keyla menyambar jaket *hoodie*-nya yang kebesaran, menyembunyikan seragam sekolah yang belum sempat ia ganti. Ia menyelinap keluar kamar, menuruni tangga dengan hati-hati agar tidak membangunkan ibunya yang sudah tertidur di depan TV.

*Maaf, Bu. Keyla harus keluar sebentar.*

Ia membuka aplikasi ojek online, mengetik tujuan: **Warung Kopi Cak Doel**, tempat nongkrong anak-anak jurnalistik di belakang sekolah. Reza pasti ada di sana jam segini, menikmati kekuasaannya.

Saat menunggu ojek di depan pagar rumah, ponselnya bergetar lagi. Bukan Reza. Kali ini dari Bintang.

Bintang Rigel (❤️):

Baru nyampe rumah abis dari gym. Perasaan aku nggak enak. Kamu beneran udah tidur, Key? Mimpi indah ya. Besok aku jemput.

Rasa bersalah menghantam dada Keyla seperti truk tronton. Ia sedang berdiri di pinggir jalan yang gelap, bersiap menemui 'iblis' demi melindungi cowok yang sedang mengkhawatirkannya di rumah yang nyaman. Ironi ini begitu pekat hingga terasa pahit di lidah.

"Maafin aku, Bin," bisik Keyla pada layar ponselnya. "Aku lakuin ini biar kamu tetap bisa mimpi indah."

Motor ojek online tiba. Keyla naik, membelah malam Surabaya yang hiruk pikuk. Tekadnya sudah bulat. Dia akan menawarkan sesuatu yang lain pada Reza. Sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar cerita cinta remaja. Dia akan menggunakan hukum ketiga Newton yang pernah ia kutip pada Vanya: *Untuk setiap aksi, ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah.*

Reza pikir dia memegang kartu As. Dia lupa bahwa Keyla adalah pengamat bintang; dia tahu cara memetakan kegelapan.

Sampai di Warkop Cak Doel, suasana cukup ramai. Asap rokok mengepul di udara. Di sudut, Reza duduk menghadap laptop, menyeringai sambil menyeruput kopi hitam. Ia tampak begitu percaya diri, seolah dunia ada di saku celananya.

Keyla berjalan mendekat, bayangannya jatuh menutupi layar laptop Reza. Cowok itu mendongak, sedikit terkejut, lalu seringainya melebar.

"Wow. Sang Cassiopeia turun ke bumi," ejek Reza, merentangkan tangannya. "Mana naskahnya? Gue nggak liat lo bawa flashdisk."

Keyla menarik kursi plastik di depan Reza, duduk dengan punggung tegak. Tatapannya dingin, berbeda jauh dari Keyla yang pemalu di kelas. "Gue nggak nulis naskahnya."

Reza tertawa remeh. Tangannya bergerak ke arah mouse. "Oke. Berarti lo milih opsi nuklir. Sayang banget, padahal bokapnya Bintang—"

"Gue nggak nulis naskahnya," potong Keyla tajam, meletakkan ponselnya di meja dengan layar merekam suara. "Karena gue punya tawaran yang lebih menarik buat lo. Tawaran yang bakal bikin lo jadi jurnalis beneran, bukan cuma tukang gosip sekolah."

Reza berhenti. Ketertarikan menyala di matanya. "Oh ya? Apa yang lebih menarik dari skandal yayasan elit?"

"Akses," kata Keyla datar. "Gue bisa kasih lo akses langsung ke 'dapur' Vanya. Gue tahu siapa admin akun gosip sekolah yang sebenernya, dan gue tahu gimana caranya ngebongkar jaringan jual-beli nilai di kelas unggulan yang selama ini cuma jadi rumor."

Itu adalah bluffing terbesar dalam hidup Keyla. Dia hanya punya dugaan, bukan bukti. Tapi dia harus terdengar meyakinkan.

Reza mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit. "Lo bluffing."

"Coba aja," tantang Keyla, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. "Lo post soal bokap Bintang, gue pastikan Bintang dan seluruh tim basket bakal boikot wawancara sama klub jurnalistik selamanya. Lo bakal kehilangan narasumber paling populer di sekolah. Tapi kalau lo terima tawaran gue... lo dapet berita investigasi real."

Reza terdiam, menimbang-nimbang. Suasana tegang di antara mereka begitu kental hingga bisa diiris dengan pisau.

Namun, sebelum Reza sempat menjawab, sebuah suara berat yang sangat familiar terdengar dari arah pintu masuk warkop, membekukan darah Keyla seketika.

"Keyla?"

Keyla menoleh kaku. Di sana, berdiri di bawah lampu neon warkop yang berkedip-kedip, adalah Bintang Rigel. Masih mengenakan celana basket, napasnya sedikit terengah, dan matanya menatap horor bergantian antara Keyla dan Reza.

"Kamu... ngapain malem-malem di sini sama dia?" tanya Bintang, suaranya pelan namun menusuk. Tatapannya jatuh pada laptop Reza yang masih menampilkan dokumen yayasan. "Dan itu... itu tanda tangan Ayah?"

Skakmat. Semesta baru saja meruntuhkan papan catur Keyla.

1
Mariana Silfia
😍😍😍
Mariana Silfia
eh ya ampun si othor iki sllu bisa bikin dag dig dug kok w🤣🤣 ok ok lanjut kak q setia menunggu bab selanjutnya
Mariana Silfia
kak q nunggu'n bab lanjut nya yak tolong jangan di gantung🤭q gak bisa tdr ini klo blm tau ending nya
Mymy Zizan
bagussssssssss
S. Sage: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!