Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan di Skytown
Langit di atas distrik Skytown seolah tumpah. Hujan deras yang turun sejak sore hari telah mengubah jalanan aspal menjadi sungai-sungai kecil yang memantulkan lampu neon berwarna biru dan merah dari gedung-gedung pencakar langit. Di tengah kemacetan yang mengular, sedan mewah Aeru Group yang dikemudikan Dareen tiba-tiba mengeluarkan suara batuk mekanis yang kasar sebelum akhirnya mesinnya mati total tepat di bawah jembatan layang yang sepi.
"Dareen? Kenapa berhenti?" Seraphina mendongak dari ponselnya, keningnya berkerut saat menyadari keheningan yang janggal dari mesin mobil.
Dareen mencoba memutar kunci kontak beberapa kali. Suara dinamo yang memaksa terdengar menyedihkan, namun mesin itu tetap dingin. "Sepertinya ada masalah dengan sistem kelistrikan akibat genangan air yang terlalu tinggi tadi, Nona," jawab Dareen, suaranya tetap tenang meski situasi sedang kacau.
Dia mencoba memanggil bantuan melalui radio internal mobil, namun hanya suara statis yang terdengar. Badai listrik di luar sana tampaknya mengganggu sinyal komunikasi di wilayah itu.
"Jadi kita terjebak?" Sera bertanya, suaranya sedikit meninggi. Dia menatap ke luar jendela, di mana air hujan menghantam kaca dengan suara yang memekakkan telinga. "Di sini? Di tengah badai?"
"Saya akan memeriksa mesinnya di luar. Tetaplah di dalam, Nona," ujar Dareen. Dia membuka pintu, membiarkan angin dingin dan tempias hujan masuk sejenak sebelum dia keluar ke bawah guyuran air.
Seraphina memperhatikan dari balik kaca yang mulai berembun. Dia melihat Dareen, yang kini hanya mengenakan kemeja putih tipis karena jas hitamnya ditinggalkan di kursi depan, sibuk membuka kap mesin di bawah guyuran hujan yang ganas. Kemeja itu dalam sekejap melekat pada tubuh atletisnya, menonjolkan setiap lekuk otot punggung dan lengannya yang keras.
Sepuluh menit berlalu, Dareen kembali masuk ke dalam mobil. Tubuhnya basah kuyup. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini jatuh menutupi dahinya, tetesan air mengalir dari ujung hidung dan rahangnya yang tegas.
"Sistemnya mati total. Kita harus menunggu tim bantuan, tapi mungkin butuh waktu satu jam karena banjir di jalan utama," lapor Dareen sambil terengah sedikit. Dia meraih sebuah jaket dari kursi depan—bukan jas pengawal kaku yang biasa dia pakai, melainkan jaket hoodie universitas berwarna abu-abu yang dia beli untuk keperluan akademisnya.
Dareen berbalik ke kursi belakang, menyodorkan jaket itu kepada Seraphina. "Suhu di dalam kabin akan turun karena mesin mati. Pakailah ini, Nona. Anda tidak boleh jatuh sakit."
Sera menerima jaket itu. Saat dia menyarungkannya ke tubuhnya yang mungil, sebuah sensasi aneh menjalar di sarafnya. Jaket itu masih menyimpan sisa panas tubuh Dareen. Namun, yang paling membuatnya terpaku adalah aromanya. Berbeda dengan jas pengawal yang selalu berbau deterjen dry cleaning yang dingin dan netral, jaket ini berbau "Dareen" yang asli—campuran antara aroma sabun cendana, kertas buku perpustakaan, dan sedikit bau maskulin yang hangat.
Aroma itu terasa begitu nyata, begitu manusiawi. Itu adalah bau seorang pria bernama Dareen, bukan bau seorang pengawal bernama Christ.
"Baunya ... enak," gumam Sera tanpa sadar, menenggelamkan wajahnya ke kerah jaket yang tinggi.
Dareen yang sedang mengusap wajahnya dengan sapu tangan membeku sejenak. Dia tidak menjawab, namun telinganya tampak sedikit memerah di bawah temaram lampu kabin yang redup.
"Duduklah di sini, Dareen. Kau kedinginan," perintah Sera sambil menepuk kursi di sampingnya. "Jangan duduk di depan sana seperti sopir. Mesinnya mati, kontrakmu sebagai sopir sedang ditangguhkan oleh alam."
Dareen ragu sejenak, namun melihat Seraphina yang terus menatapnya dengan pandangan menuntut, dia akhirnya menyerah. Dia berpindah ke kursi belakang, duduk dengan jarak yang cukup jauh dari Seraphina. Keheningan di dalam kabin yang sempit itu terasa lebih berat daripada suara hujan di luar.
Seraphina melihat bibir Dareen sedikit membiru. Tanpa peringatan, dia menggeser duduknya hingga paha mereka bersentuhan.
"Nona, tolong—"
"Sshh. Kau kedinginan, Robot. Jangan membantah," potong Sera. Dia meraih tangan Dareen yang besar dan dingin, lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya yang hangat di bawah balutan jaket besar itu. "Lihat, tanganmu sampai gemetar."
"Itu karena suhu, bukan karena Anda," dusta Dareen, meskipun dia tidak menarik tangannya.
Seraphina tersenyum licik. Dia merasa memiliki kendali penuh di ruang sempit ini. Dia mulai menggerakkan jemarinya, menelusuri garis-garis telapak tangan Dareen, lalu perlahan menyusupkan jemarinya ke sela-sela jari pria itu.
"Katakan padaku, Dareen ... di dalam perpustakaan dan di bawah meja itu ... apa kau benar-benar melakukannya karena terpaksa?" bisik Sera. Dia mencondongkan tubuhnya, membiarkan rambutnya yang wangi menyentuh bahu Dareen yang basah.
Dareen menelan saliva dengan susah payah. Pandangannya lurus ke depan, ke arah dasbor yang gelap, namun seluruh indranya terpusat pada gadis di sampingnya. "Saya menjalankan tugas saya, Nona. Kadang batasannya memang menjadi kabur."
"Hanya kabur?" Sera tertawa kecil, suara tawanya terdengar menggoda di antara deru hujan. "Lalu kenapa kau menciumku seolah-olah kau ingin menelanku hidup-hidup? Apa itu juga bagian dari kurikulum hukum internasional?"
Sera melepaskan tangan Dareen, namun hanya untuk melingkarkan lengannya ke leher pria itu. Dia menarik tubuhnya hingga hampir duduk di pangkuan Dareen di kursi yang sempit itu. "Di sini tidak ada Seldin. Tidak ada Julian. Tidak ada Profesor Maxwell. Hanya ada kita berdua, mesin yang mati, dan jaket yang berbau sepertimu."
Seraphina meniup pelan telinga Dareen, membuat pria itu memejamkan mata dengan rahang yang terkatup rapat. "Katakan kau menginginkanku, Dareen. Katakan bahwa kau benci fakta bahwa kau harus menjagaku untuk pria lain."
"Nona Seraphina ... Anda tidak tahu apa yang Anda minta," suara Dareen terdengar pecah. Tangannya yang besar kini mencengkeram pinggiran kursi mobil dengan begitu kuat hingga kulit joknya berderit.
"Aku tahu persis apa yang kuminta," balas Sera. Dia menarik tudung jaket Dareen yang dipakainya ke atas kepala, menciptakan ruang privat kecil bagi wajah mereka. "Aku ingin kau melupakan sejenak bahwa kau adalah pria miskin yang butuh beasiswa. Aku ingin kau menjadi pria yang tangannya nakal di mobil kemarin."
Sera mulai mengecupi rahang Dareen, bergerak perlahan menuju sudut bibirnya yang masih sedikit luka. Dia melakukannya dengan sangat lembut, seolah-olah dia sedang mencoba menyembuhkan bekas perkelahian itu dengan bibirnya.
Pertahanan Dareen yang sudah retak sejak di perpustakaan akhirnya hancur lebur di bawah guyuran hujan Skytown.
Dia mengeluarkan suara geraman rendah—suara yang keluar dari naluri terdalam seorang pria yang sudah terlalu lama ditekan. Dareen memutar tubuhnya, mencengkeram pinggang Seraphina dengan kedua tangannya yang kuat dan mengangkatnya hingga gadis itu benar-benar duduk di atas pangkuannya, menghadap ke arahnya.
"Anda yang memulainya, Nona," desis Dareen sebelum membungkam bibir Sera dengan ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya.
Ciuman itu terasa berbeda. Di dalam balutan jaket miliknya sendiri, Dareen merasa memiliki hak lebih atas Seraphina. Dia menciumnya dengan rasa lapar yang putus asa, seolah-olah ini adalah malam terakhir mereka di dunia. Lidahnya menuntut akses, dan Seraphina memberikannya dengan senang hati, mengerang pelan saat dia merasakan tangan Dareen meremas pinggulnya dengan posesif.
Kabin mobil itu terasa semakin panas. Uap dari napas mereka mulai menutupi kaca jendela sepenuhnya, mengisolasi mereka dari dunia luar. Tangan Dareen yang tadinya berada di pinggang, kini mulai bergerak liar. Dia menyusupkan tangannya ke bawah jaket yang dipakai Sera, mencari kulit hangat yang selalu membuatnya kehilangan akal sehat.
Sera membusungkan dadanya saat merasakan telapak tangan Dareen kembali menyentuh area sensitifnya di balik pakaian tipisnya. Sensasi kasar dari telapak tangan seorang prajurit dan hangatnya perasaan dilindungi bercampur menjadi satu kenikmatan yang memabukkan.
"Dareen ... ahh ..." Sera membisikkan namanya, bukan lagi sebagai majikan, tapi sebagai seorang wanita yang sedang memuja prianya.
Dareen terus memberikan kecupan-kecupan panas di leher Sera, meninggalkan tanda kemerahan yang samar di bawah cahaya lampu jalan yang masuk menembus kaca berembun. Dia seolah sedang menandai wilayahnya, memastikan bahwa tidak akan ada "kuman" lain yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya malam ini.
Namun, di tengah kemelut gairah itu, sebuah sorot lampu terang dari arah belakang menyinari kabin mereka. Suara sirine tim bantuan Aeru Group terdengar mendekat.
Dareen tersentak, seolah tersengat listrik. Dia segera melepaskan pelukannya, menurunkan Seraphina kembali ke kursinya dengan gerakan yang sangat cepat dan profesional. Dia merapikan rambutnya yang berantakan dan menarik napas panjang berkali-kali untuk menetralkan detak jantungnya yang menggila.
"Bantuan sudah sampai, Nona," ujar Dareen, suaranya sudah kembali datar, namun ada nada kepedihan yang tersisa di sana.
Sera terduduk lemas, bibirnya merah dan bengkak, wajahnya sangat kontras dengan tudung jaket abu-abu yang masih menutupi kepalanya. Dia menatap Dareen yang kini sudah kembali duduk tegak, menatap ke arah kaca spion seolah tidak terjadi apa pun.
"Kau benar-benar ahli dalam memasang topeng, ya?" sindir Sera, suaranya masih sedikit parau.
Dareen tidak menoleh. Dia hanya menggenggam erat kemudi yang mati. "Topeng ini adalah satu-satunya hal yang menjaga kita tetap hidup di dunia kakak Anda, Nona."
Pintu mobil diketuk dari luar oleh petugas bantuan. Saat Dareen membuka jendela untuk berbicara dengan mereka, Seraphina mengeratkan jaket abu-abu itu ke tubuhnya. Dia tersenyum kecil. Meskipun tim bantuan telah datang, dia tahu satu rahasia besar: di bawah hujan Skytown tadi, Dareen Christ bukan lagi seorang pengawal yang menjalankan tugas. Dia adalah seorang pria yang baru saja menyerahkan jiwanya pada wanita yang seharusnya dia jaga.
Dan jaket itu? Seraphina tidak akan pernah mengembalikannya. Dia ingin menyimpan bau "nyata" Dareen di dalam kamarnya yang dingin dan sepi, sebagai bukti bahwa sang robot bisa mencintai dengan cara yang paling brutal sekalipun.