NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Ujian Masuk yang Rusak

Puncak Gunung Es Benua Utara bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Angin yang berhembus di sini bukan sekadar udara dingin, melainkan serpihan kristal es yang mampu menyayat kulit jika tidak dilindungi oleh hawa murni. Di atas puncak tertinggi yang menembus awan, berdirilah Akademi Pedang Langit, sebuah kompleks bangunan megah dengan arsitektur kuno yang seolah dipahat dari satu bongkah batu giok putih raksasa.

Ranu Wara dan Nara berdiri di kaki tangga utama. Di hadapan mereka, sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan anak tangga batu membentang ke langit. Ribuan pemuda dari berbagai penjuru lima benua telah berkumpul, menciptakan lautan manusia yang penuh dengan ambisi dan aroma keringat dingin.

"Lihat rombongan dari Kerajaan Barat itu," bisik seorang pemuda bertubuh tambun di samping Ranu, menunjuk ke arah sekumpulan pemuda yang menunggangi burung rajawali raksasa. "Mereka adalah pangeran-pangeran dari Sekte Elang Emas. Bakat mereka minimal adalah Ranah Otot Perunggu tahap 7."

Ranu, yang sedang sibuk mengorek sisa kacang tanah di saku jubahnya, hanya mengangguk-angguk kecil. "Hebat, hebat. Rajawalinya terlihat gemuk, pasti enak kalau dipanggang dengan bumbu madu."

Nara melirik Ranu dengan tatapan datar yang bisa membekukan air terjun. "Ranu, fokuslah. Kita di sini untuk menyusup, bukan untuk membuat daftar menu makan malam."

"Aku fokus, Nara! Fokus mencari energi tersembunyi sambil memastikan perutku tidak berdemo," bela Ranu.

Bagian 1: Batu Sukma yang Menjerit

Ujian pertama dipimpin oleh Penatua Galuh, seorang pria tua dengan jenggot putih panjang yang menjuntai hingga ke pinggang. Di sampingnya berdiri sebuah batu hitam setinggi tiga meter yang memancarkan aura kuno yang menekan. Ini adalah Batu Sukma purba, artefak yang mampu membaca potensi sumsum tulang dan kemurnian roh seseorang.

"Satu per satu, letakkan telapak tangan kalian pada batu ini!" suara Penatua Galuh menggelegar, dibantu oleh teknik Guntur Langit. "Cahaya Kuning berarti bakat rata-rata, Biru adalah jenius, dan Ungu... adalah Bakat Langit yang hanya muncul sekali dalam satu generasi!"

Satu per satu peserta maju. Kebanyakan hanya menghasilkan cahaya kuning redup. Beberapa pangeran dari Sekte Elang Emas berhasil memicu cahaya biru, membuat mereka membusungkan dada dengan angkuh.

Kini giliran Nara. Saat gadis itu melangkah maju, suasana mendadak hening. Kecantikannya yang dingin dan aura misteriusnya menarik perhatian semua orang. Begitu telapak tangan mungilnya menyentuh permukaan batu...

WUUUUUUNG!

Cahaya ungu yang sangat pekat, hampir mendekati hitam, meledak keluar dari batu tersebut. Suhu di sekitar pelataran turun drastis. Penatua Galuh sampai berdiri dari kursi kayunya, matanya membelalak. "Bakat... Bakat Langit Tingkat Murni! Suku Penjaga Hening ternyata benar-benar mengirimkan mutiaranya!"

Nara menarik tangannya dengan tenang dan kembali ke samping Ranu seolah tidak terjadi apa-apa. "Giliranmu," bisiknya pendek.

Ranu maju dengan langkah malas, sandalnya yang sedikit rusak mengeluarkan suara plok-plok yang kontras dengan keheningan agung di sana. Penatua Galuh menatap Ranu dari atas ke bawah, mengernyitkan dahi melihat jubah biru yang sedikit kotor dan wajah yang tampak "biasa saja".

"Nak, jika kau merasa tidak memiliki hawa murni, lebih baik mundur. Batu ini bisa melukai jiwa yang kosong," peringat sang penatua.

"Tidak apa-apa, Kek. Saya hanya ingin numpang pegang, siapa tahu ketularan hoki," jawab Ranu santai.

Ranu meletakkan tangannya. Di dalam batinnya, ia harus bekerja keras. Ini adalah tantangan yang lebih sulit daripada membunuh iblis: Menahan Kekuatan. Baginya, Batu Sukma ini hanyalah mainan anak-anak. Jika ia melepaskan satu tetes saja esensi Sang Hyang Wira Candra, batu ini tidak hanya akan bersinar, tapi akan meledak dan menghancurkan seluruh puncak gunung ini.

Ranu menekan energinya sedalam mungkin ke dasar sukmanya, mencoba memancing "energi sisa" yang paling kotor dan lemah untuk ditunjukkan.

Namun, Batu Sukma itu seolah memiliki kesadarannya sendiri. Ia merasakan keberadaan sesuatu yang sangat agung yang mencoba bersembunyi. Batu itu mulai bergetar. Getarannya semakin cepat hingga menimbulkan suara berdengung ngeri, seperti suara logam yang diputar dengan kecepatan tinggi.

KRAK! KRAK!

Retakan-retakan emas muncul di permukaan batu hitam itu. Penatua Galuh panik. "Apa yang kau lakukan?! Tarik tanganmu!"

Ranu segera menarik tangannya. Tepat saat itu, batu itu berhenti bergetar, namun warnanya berubah menjadi putih bening yang hampa, lalu mengeluarkan asap tipis. Tidak ada warna kuning, biru, atau ungu.

"Hasilnya... Kosong?" Penatua Galuh memeriksa batu itu dengan tangan gemetar. "Tidak ada reaksi energi sama sekali? Tapi mengapa batunya retak dan berasap?"

"Mungkin batunya sudah kadaluarsa, Kek. Sudah saatnya diganti dengan yang baru," celetuk Ranu sambil nyengir.

Penatua Galuh bingung bukan kepalang. Secara teknis, Ranu gagal. Namun, fakta bahwa batu itu retak menunjukkan ada sesuatu yang salah. Demi menjaga reputasi akademi (dan karena Ranu datang bersama Nara yang jenius ungu), Galuh akhirnya membuat keputusan.

"Ehem! Hasilnya tidak terbaca. Kau akan dimasukkan ke kategori Murid Luar Istimewa... yang artinya kau tetap murid luar, tapi diizinkan mengikuti ujian kedua."

Bagian 2: Labirin Pedang Hampa yang Terkontaminasi

Ujian kedua adalah Labirin Pedang Hampa. Para peserta dimasukkan ke dalam sebuah lembah kabut yang dipenuhi oleh ribuan pedang karatan yang tertancap di tanah. Pedang-pedang ini adalah sisa dari para pendekar yang gugur, dan mereka mengeluarkan hawa mental yang mampu mengacaukan pikiran.

Ranu dan Nara berjalan berdampingan di tengah kabut tebal. Di sekitar mereka, peserta lain mulai berteriak-teriak, terjebak dalam ilusi ketakutan mereka sendiri.

"Ranu, ada yang aneh dengan kabut ini," bisik Nara, tangannya sudah memegang busur kayu hitamnya. "Ini bukan sekadar hawa pedang. Ada bau amis kehampaan dari Langit Kesepuluh."

Ranu menyipitkan mata. Ia melihat ke bawah, ke sela-sela pedang karatan. Tanah di bawah mereka tidak lagi cokelat, melainkan mulai menghitam dan berdenyut seperti daging.

"Segel naga di bawah gunung ini mulai bocor," gumam Ranu. "Para tetua akademi ini benar-benar bodoh atau sengaja menutup mata. Mereka menggunakan tempat ini untuk ujian, padahal ini adalah luka yang sedang meradang."

Tiba-tiba, dari balik kabut, tiga sosok makhluk dengan tubuh setinggi dua meter muncul. Mereka tampak seperti manusia, tapi kulit mereka adalah cangkang hitam keras, dan wajah mereka hanya memiliki satu lubang besar yang mengeluarkan uap ungu.

"Manusia Kerak Tingkat Prajurit!" Nara bersiap melepaskan panah.

"Tunggu, Nara!" tahan Ranu. "Jangan gunakan kekuatan Suku Penjaga. Lihat ke atas, ada Mata Pengintai milik para tetua di balik awan. Jika kau menghancurkan mereka dengan satu panah cahaya, penyamaran kita berakhir."

"Lalu bagaimana?!"

Ranu melihat sebuah pedang karatan yang sudah patah di dekat kakinya. Ia memungutnya dengan gerakan yang seolah-olah ketakutan. "Kita gunakan cara 'orang beruntung'."

Manusia Kerak itu menerjang dengan kecepatan tinggi, sabit di tangannya mengarah ke leher Ranu. Ranu berteriak kaget (yang sangat dibuat-buat), lalu ia terpeleset. Saat ia jatuh, pedang patah di tangannya secara ajaib menusuk tepat ke celah cangkang di bawah ketiak makhluk itu—satu-satunya titik lemahnya.

SREKK!

Cairan hitam menyemprot keluar. Ranu berguling-guling di tanah, pura-pura panik, namun setiap gerakannya secara presisi mematahkan sendi-sendi makhluk tersebut. Nara yang melihat itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia pun mengikuti sandiwara Ranu; ia bertarung menggunakan teknik bela diri dasar murid akademi, berpura-pura kewalahan namun selalu berhasil memberikan serangan fatal secara "kebetulan".

Setelah sepuluh menit "bertahan hidup" dengan penuh drama, ketiga makhluk itu hancur. Ranu berdiri, mengibas-ngibaskan debu dari jubahnya sambil mengelap keringat palsu.

"Wah, Nara, kita benar-benar beruntung ya? Makhluk-makhluk tadi sepertinya sedang mengantuk," ucap Ranu dengan suara keras agar terdengar oleh alat pengintai tetua.

Bagian 3: Akhir Ujian yang Mencurigakan

Di luar labirin, para tetua akademi sedang berdebat sengit. Mereka melihat rekaman Ranu melalui cermin air.

"Pemuda itu... dia membunuh tiga Manusia Kerak hanya dengan terpeleset dan menusuk secara asal?" tanya seorang penatua wanita. "Apakah keberuntungannya melampaui logika?"

"Jangan bodoh," sahut penatua lainnya. "Batu Sukmanya saja rusak. Dia hanya sampah yang beruntung. Tapi gadis di sampingnya... dia benar-benar berlian. Kita harus memisahkan mereka agar pemuda itu tidak menghambat potensi sang gadis."

Ranu dan Nara keluar dari labirin sebagai peserta pertama yang berhasil mencapai garis finis. Ranu menyeringai saat melihat wajah para penatua yang tampak bingung sekaligus meremehkan.

"Selamat, kalian diterima," ucap Penatua Galuh dingin. "Nara, kau akan langsung masuk ke Paviliun Bintang Inti. Dan kau, Ranu... karena kau 'beruntung' dan bakatmu tidak jelas, kau akan ditempatkan sebagai Murid Luar Divisi Kebersihan."

Ranu membungkuk dalam, matanya berkilat nakal. "Terima kasih, Penatua. Saya sangat suka menyapu. Kebersihan adalah sebagian dari iman, bukan?"

Nara menatap Ranu dengan pandangan yang mengatakan Kau akan menyesali sandiwara ini saat kau harus mencuci seribu kuali nanti. Ranu hanya mengangkat bahu. Di dalam kepalanya, ia sudah memetakan lokasi bocornya segel di bawah akademi. Penyamarannya sebagai penyapu halaman akan memberinya akses ke tempat-tempat yang bahkan para pangeran sekalipun tidak bisa masuki.

Permainan besar di Akademi Pedang Langit baru saja dimulai.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!