Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).
Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.
Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.
---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Happy Birthday!
##SELAMAT MEMBACA##
Tepat pukul delapan malam, tiba-tiba terdengar suara deru mobil masuk ke garasi. Arindi keluar dari mobil dalam keadaan sangat lelah. Namun saat akan menuju tangga teras rumah, dia kaget. Kenapa rumahnya gelap gulita, apakah terjadi sesuatu saat dirinya pergi. Dia mulai waspada...dengan pelan mencoba membuka pintu. Sepertinya ada hal yang tidak beres.
*Ceklek*
*Dor!*
"Selamat ulang tahun, Nyonya!"
"Ke-napa......kalian membuatku terkejut?" Arindi tidak menyangka para pelayan berkumpul di ruang tamu dan menyambutnya dengan kejutan yang meriah untuk merayakan ulang tahunnya ke-47 tersebut.
"Maafkan kami, Nyonya atas kejutan yang sederhana ini", para pelayan menunduk takut jika Arindi tidak menyukainya.
Mendengar kalimat tersebut, Arindi tersenyum haru. "Tidak apa-apa.....aku sangat berterima kasih pada kalian. Kejutan ini membuatku terkesan. Ternyata masih ada orang lain yang mengingat hari spesialku." Tiba-tiba dia meneteskan air mata, antara bahagia dan merasa dilupakan seperti melebur menjadi satu.
"Nyonya, jangan menangis. Anda tidak apa-apa kan? Kami sangat bahagia jika anda menyukai kejutan ini, Nyonya. Semoga anda diberi kesehatan, kebahagiaan serta kecantikan yang abadi" Para pelayan bingung dengan reaksi sang majikan, namun segera memberikan penghiburan diakhir ucapan mereka.
"Hmm.... Terimakasih. Doa baik akan kembali pada kalian juga." ucap Arindi, kemudian mengusap air matanya dan tersenyum manis pada mereka.
"Nyonya, untuk hadiah berikutnya izinkan saya membawa anda ke kamar utama. Disana akan ada kejutan selanjutnya. Kami harap anda mau", ucap salah satu pelayan wanita sambil menunduk hormat.
Arindi mengerutkan alisnya, kejutan apalagi batinnya. Namun, dia tetap mengikuti permintaan dari pelayan itu dengan memberikan anggukan kepala atas persetujuannya.
Beberapa pelayan mengantar Arindi ke kamar utama. Setelah membuka pintu kamar, Arindi terkejut. Dia melihat pajangan sebuah gaun panjang warna merah berbahan satin dan silk, dengan potongan model off-shoulder cantik, berhias bunga mawar di samping bagian pinggang, serta dilengkapi sepatu dengan warna yang sama. Terlihat anggun dan elegan jika Arindi memakainya.
"Nyonya, hari ini Anda akan kami rias secantik mungkin. Kami ingin melihat Anda memakai gaun ini", Ucap kepala pelayan wanita.
"Siapa yang menyiapkan ini semua, Bibi?" Tanya Arindi penasaran.
"Nanti Anda akan segera tahu. Jadi, kami mohon agar nyonya segera mengenakannya", Kepala Pelayan mencoba menyakinkannya.
"Baiklah, aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu", jawab Arindi lalu pergi ke kamar mandi.
*
*
*
Ritual Arrindi merawat tubuh dan berhias diri sudah selesai dengan dibantu beberapa pelayan wanita. Saat ini dia di depan cermin setelah memasang anting dan kalung berlian sebagai pelengkap gaunnya. Dia terlihat anggung dengan rambut disanggul sederhana, seakan siap untuk pergi ke pesta. Disaat mengagumi kecantikannya sendiri, dia ingat tentang siapa yang menyiapkan semua ini. Kemudian dia menoleh dan menanyakan kembali untuk mengobati rasa penasaran.
"Oiya, Bibi. Gaun ini siapa yang memilihkan untukku? Aku penasaran, ada kejutan apalagi setelah ini dari kalian?"
Para pelayan tersenyum, setelah itu kepala pelayan menjawabnya. "Nyonya, apakah kami tidak boleh memberikan hadiah spesial untuk anda. Kami tahu anda dari tadi pagi merasa sedih. Karena Tuan, Tuan Muda dan Nona Muda sepertinya lupa dengan hari yang spesial bagi anda. Jadi kami ingin menambahkan hadiah kejutan agar anda kembali bahagia. Kami sedih melihat anda merenung, nyoya."
Mendengar ucapan kepala pelayannya, dia kembali berkaca-kaca. Tidak ingin merusak suasana yang telah dibangun para pelayan, segera dia mengalihkan topik.
"Ehem....oiya, setelah ini aku akan dibawa kemana? apakah aku akan diajak untuk meniup lilin diatas kue yang besar buatan kalian?" Tanya Arindi untuk menggoda para pelayan. Dan dia berhasil membuat mereka tertawa.
"Rahasia, nyonya. Mari ikut kami menuju acarra inti. Tapi anda harus menutup mata dengan pita hitam ini", Jawab salah satu pelayan.
"Yaaa....tidak seru. Aku kan jadi penasaran", rengek Arindi, namun tetap memakai penutup mata itu dan berjalan pelan mengikuti arah dari para pelayan menuju acara inti, kata mereka.
---
*Tak...tak...tak*
Arindi telah tiba, penutup pita sudah dilepas namun tetap diminta untuk menutup mata sampai menunggu aba-aba selanjutnya yaitu mendengar dentingan piano yang romantis. Ketika sudah mendengar dentingan itu, ia perlahan membuka mata.
"Apa ini?" Dia berada ditengah-tengah area dansa dan ruang tamu yang nampak sederhana saat tiba beberapa jam yang lalu, sudah terhias dengan aneka mawar dan lilin - lilin kecil yang tersusun indah.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik pinggangnya dari belakang dan terdengar suara bass seorang pria yang dia cintai.
"Selamat malam, Sayang. Selamat ulang tahun" Ankara tersenyum kagum melihat kecantikan istrinya.
"Kau sangat cantik...cahayaku. Kau memang candu untuk melepas dahaga kerinduan dan cinta matiku. Happy Birthday, My Wife", ucap Ankara yang kemudian mengecup kening Arindi.
Tidak mungkin mencium bibir, karena disaksikam oleh semua pelayan. Apalagi ada kedua anaknya. Kalau dulu mungkin sudah dimakan bibir merah sang istri. Ehhe....kembali ke pasangan yang hampir setengah abad usianya.
"Terimakasih, suamiku. Aku pikir kau tidak ingat dengan hari spesial ini. Bahkan....kalian seakan ingin menjauh dariku." Rasanya Arindi ingin merengek dan menangis dengan keras, tapi malu sudah tua.
"Selamat ulang tahun, Mama. Maafkan kami.... ini rencana Kak Arsen dan Papa. Aku dipaksa ikut main drama dengan mereka. Tapi, Mama senang dengan kejutannya?" Sahut Aurora yang sengaja mengakhiri adegan romantis kedua orangtuanya. Malu kalau dilihat banyak orang, menurutnya. Jadi harus segera di stop dulu.
"Hei, sembarangan kalau ngomong. Siapa yang mengancam, siapa pula yang diacam?!" Sinis Arsen. Tidak terima dengan ucapan adiknya, padahal sutradara drama ini adalah Aurora itu sendiri. Papa dan dirinya justru diancam olehnya. "Dasar adik laknat" gerutunya. Kemudian mendekati sang mama dan memeluknya.
"Happy Birthday, Mom. Wish you all the best. Maafkan Arsen ya ,tadi pagi telah membuat mama cantikku ini sedih", ucap Arsen sambil mengusap lembut pipi mamanya yang sudah terkena air mata bahagia.
Adegan ini terlihat sangat romantis, sehingga Ankara langsung memisahkan mereka berdua. Walaupun Arsen merupakan anak kandungnya, tetap saja dia seorang pria dan tidak boleh dekat terlalu dengan sang istri.
"Minggir, sudah cukup pelukannya!", Ankara melotot ke Arsen dan menyingkirkan tangan sang putra dari pinggang sang istri.
"Ck...pak tua menyebalkan", cibir sang putra.
"Hufft, Ma...mereka ingin merusak momen bahagia mama. Tidakkah mama berinisiatif mengusir mereka berdua?" Sindir Aurora. Sedangkan Arindi langsung tertawa mendengarnya.
"Siapa yang ingin dansa dengan mama? Kalau kalian masih tetap berdebat, aku cari pengganti Papa dan Kakak baru saja buat Mama cantikku ini!", Auorara lelah melihat kelakuan kedua pria yang berbeda usia itu.
"HAH?!! Jangan coba-coba ya!", Sentak sang ayah.
"Aku yang akan cari adik baru", Begitupula Arsen tidak terima mendengar ucapan sang adik.
"Makanya, peri cantikku jangan di anggurin!" sahut Aurora. Arindi langsung mengela nafas panjang.
"Ehem.....Istriku. Maukah kau berdansa denganku?" Ankara mengulurkan tangannya kepada Arindi.
"Dengan senang hati", Ucap Arindi dan tersenyum lembut ke sang suami.
Arsen, Aurora dan para pelayan sangat bahagia saat menyaksikan Arindi dan Ankara berdansa, yang diringi musik indah dari Perancis.
~Love Story~ Indila
L'âme en peine
Il vit mais parle à peine
Il attend devant cette photo d'antan
Il il n'est pas fou
Il y croit, c'est tout
Il la voit partout
Il l'attend debout
Une rose à la main
À part elle, il n'attend rien
Rien autour
N'a de sens et l'air est lourd
Le regard absent
Il est seul et lui parle souvent
Oui, il n'est pas fou
Il l'aime, c'est tout
Il la voit partout
Il l'attend debout
Debout, une rose à la main
Non, non, plus rien ne le retient
Dans sa love story
Dans sa love story
Dans sa love story
Sa love story
Prends ma main
Promets-moi que tout ira bien
Serre-moi fort
Près de toi, je rêve encore
Oui, oui, je veux rester
Mais je n'sais plus aimer
J'ai été trop bête
Je t'en prie, arrête
Arrête, comme je regrette
Non, je ne voulais pas tout ça
Je serai riche
Et je t'offrirai tout mon or
Si tu t'en fiches
Je t'attendrai sur le port
Et si tu m'ignores
Je t'offrirai mon dernier souffle de vie
Dans ma love story
Dans ma love story
Dans ma love story
Ma love story
Une bougie
Peut illuminer la nuit
Un sourire
Peut bâtir tout un empire
Et il y a toi
Et il y a moi
Et personne n'y croit
Mais l'amour fait d'un fou un roi
Et si tu m'ignores
J'me battrai encore et encore
C'est ta love story
C'est ta love story
C'est l'histoire d'une vie
Love story
Des cris de joie
Quelques larmes, on s'en va
On vit dans cette love story
Love story
Love story
Love story
Love story
Love story
Love story
Love story
Love story
Love story
Love story
Tepukan meriah datang dari para penonton yang menyaksikan dansa romantis mereka.
"Thankyou so much, My Wife and My Sweet heart. Once again, Happy birthday for you. I wish you always love me and me always love you forever", bisik Ankara dan mengecup bibir Arindi singkat.
"Ck....Paman!!! Ingat....bumi ini dihuni banyak mahkluk hidup!", tiba-tiba Ankara merusak suasana romantis tersebut dan membuat Ankara mengumpat kesal.
Disana, Arindi tidak sadar bahwa keromantisannya dengan Ankara disaksikan banyak orang yang tiba-tiba datang untuk memberikan kejutan ulang tahun padanya. Antara malu dan terkejut menjadi satu dalam hati Arindi.
"Anak-anak, jangan dicontoh adegan barusan ya!", tekan Alan dan Galih kepada Arsen, Aurora, Arkan dan Wira.
Mendengar nasihat tersebut, mereka berempat hanya mendengus saja. Dipikirnya, sia-sia saja mengatakan teguran tersebut.
"Percuma, sudah terlambat", sahut anak-anak secara kompak. Reyna dan Dania langsung tertawa. Arindi....jangan ditanya lagi. Wajahnya seperti tomat rebus, sedangkan Ankara mengumpat dalam hati.
----
Bersambung.....