Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Komandan
Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Malam Hari.
Daniel masuk ke ruangan Rafael dengan senyum tipis di wajahnya—senyum yang jarang muncul akhir-akhir ini. Rafael duduk di ranjang, membaca buku yang Kimberly berikan minggu lalu.
"Rafael," kata Daniel sambil menutup pintu.
"Gue punya kabar baik."
Rafael meletakkan buku. "Lo udah menemukan obatnya?"
"Lebih dari itu," jawab Daniel sambil menunjukkan data di tabletnya.
"Gue punya empat pasien DAI yang sudah sembuh hampir sempurna. Kalau di tambah sama lo, totalnya lima. Cukup untuk membuktikan ke publik bahwa treatment ini bekerja."
Rafael menatap data itu dengan seksama. Grafik pemulihan, scan otak sebelum dan sesudah, testimoni pasien—semuanya nyata. Semuanya solid.
"Kita bisa mulai merencanakan konferensi pers," kata Daniel.
"Mengumumkan penemuan ini ke dunia. Dan sekaligus mengumumkan bahwa Rafael Alkava—"
Pintu terbuka.
Tidak dengan ketukan.
Tidak dengan izin.
Hanya terbuka—seperti ada kekuatan tak terlihat yang mendorongnya.
Daniel berbalik dengan terkejut.
Rafael bangkit dari ranjang.
Di ambang pintu, berdiri Ryzen Zinhai.
Rambut peraknya bersinar di bawah cahaya fluorescent. Mata Merahnya menatap Rafael dengan tatapan yang sulit dijelaskan—campuran antara tidak percaya, lega, marah, hancur.
Dan di belakang Ryzen, satu per satu mereka muncul.
Kimberly dengan wajah khawatir.
Seraph dengan mata lebar.
Kael dengan ekspresi terkontrol tapi mata yang mengkhianati emosinya.
Zen dengan wajah dingin tapi rahang yang mengeras.
Draven yang berdiri seperti gunung batu.
Adrian yang untuk pertama kalinya tidak tersenyum.
Aurelia yang menatap lantai, tidak berani menatap Rafael.
Daniel membeku.
Ini tidak seharusnya terjadi.
Tidak sekarang.
Tidak seperti ini.
Ryzen melangkah pelan ke dalam ruangan. Setiap langkahnya terdengar keras di lantai yang sunyi. Dia tidak mengalihkan pandangan dari Rafael—tidak sedetikpun.
Rafael duduk bersandar di ranjang, menatap Ryzen dengan datar.
Tidak ada keterkejutan di wajahnya.
Seperti dia sudah tahu ini akan terjadi cepat atau lambat.
Ryzen berhenti tepat di samping ranjang Rafael. Jarak antara mereka hanya satu meter—tapi terasa seperti jurang yang sangat dalam.
"Lama tidak bertemu, Ryzen," kata Rafael.
Suaranya tenang, seperti sedang menyapa teman lama di kafe.
Dan di detik itu—di detik Rafael mengucapkan namanya dengan suara yang sangat familiar, dengan nada yang sangat hidup, ada sesuatu yang patah di dalam diri Ryzen.
Air mata mengalir.
Pelan.
Deras.
Kaki Ryzen melemas. Dia jatuh—berlutut di lantai, tubuhnya tertunduk, tangannya mencengkeram lantai sampai buku-buku jarinya memutih.
Lalu dia menangis.
Menangis dengan suara yang keras, yang pecah, yang tidak terkontrol.
Tangisan yang keluar dari tempat paling dalam di dadanya—tempat yang selama ini dia kunci rapat-rapat, tempat yang tidak pernah dia tunjukkan ke siapapun.
Ryzen Zinhai—komandan The Deadly Seven Sins, orang terkuat di Valhalla, pria yang tidak pernah menunjukkan kelemahan—sekarang menangis seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.
Semua orang di ruangan itu terdiam. Beberapa mengalihkan pandangan—tidak sanggup melihat pemandangan ini.
Kael menatap dinding dengan rahang yang mengeras.
Zen menutup mata.
Adrian menunduk.
Aurelia menggigit bibir bawahnya sampai berdarah.
Rafael turun dari ranjang. Dia berlutut di samping Ryzen, tangan kanannya terangkat, mengusap pelan kepala Ryzen—gerakan yang lembut, seperti sedang menenangkan seseorang yang terluka.
"Lo sudah berjuang dengan keras, Ryzen," kata Rafael pelan.
"Lo sudah melakukan yang terbaik."
Ryzen menggelengkan kepala dengan brutal—masih menangis, masih tidak bisa bicara.
Kata-kata tersangkut di tenggorokannya, tercampur dengan isakan yang tidak terkontrol.
Karena Ryzen tahu, dia tahu, setelah apa yang sudah dia lakukan, dia tidak punya hak untuk berdiri di hadapan Rafael.
Dia tidak punya hak untuk menatap mata Rafael dengan kepala tegak.
***
Enam Bulan Yang Lalu – Satu Hari Setelah "Kematian" Rafael.
Ryzen berdiri di depan gedung Alkava Global Enterprises—gedung yang Rafael bangun dari nol, yang sekarang terasa kosong tanpa kehadirannya.
Tangannya gemetar.
Matanya merah.
Dia belum tidur sejak Kael mengumumkan kematian Rafael dua puluh empat jam lalu.
Rafael mati.
Rafael Alkava—sahabatnya, partner-nya, orang yang dia hormati lebih dari siapapun—mati karena melawan Lyra Vantross.
Mati karena operasi yang Ryzen rencanakan.
Mati karena Ryzen tidak cukup kuat untuk melindunginya.
Rasa bersalah menghantam Ryzen seperti tsunami. Tapi di balik rasa bersalah itu, ada sesuatu yang lebih gelap—kemarahan yang membakar.
Null Order.
Organisasi yang mengirim Lyra Vantross untuk membunuh Rafael.
Organisasi yang bekerja untuk elite global—orang-orang yang membuat hidupnya dan teman-temannya menjadi neraka.
Ryzen membuat keputusan di malam itu.
Keputusan yang akan mengubah segalanya.
Dia akan menghancurkan Null Order. Sampai ke akarnya. Sampai tidak ada yang tersisa.
Tidak peduli berapa biayanya.
Tidak peduli berapa nyawa yang harus dia korbankan.
Ini adalah perang.
***
Bulan Pertama – Ekspansi Brutal.
Ryzen mulai dengan AGE. Dia mengambil alih kendali penuh—dengan izin Kimberly yang hancur sama beratnya dengan dia.
Ekspansi brutal dimulai. AGE yang tadinya fokus pada tiga divisi utama sekarang berkembang ke berbagai sektor—real estate, teknologi militer, farmasi, bahkan senjata.
Revenue naik tiga kali lipat dalam sebulan. AGE menjadi monster korporat yang tumbuh dengan kecepatan yang menakutkan.
Dan dengan uang itu, Ryzen memulai proyek yang lebih besar—membangun kantor AGE sendiri di New York. Bukan lagi menyewa, tapi memiliki.
Gedung pencakar langit dengan seratus lantai, dengan teknologi tercanggih, dengan simbol kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Tapi itu bukan yang paling penting.
Yang paling penting adalah Valhalla.
Ryzen membuka rekrutmen massal—tertutup, rahasia, hanya untuk orang-orang terpilih.
Orang-orang yang punya alasan untuk membenci elite global.
Orang-orang yang kehilangan keluarga, yang kehilangan masa depan, yang punya api balas dendam di dada mereka.
Dalam sebulan, Valhalla Gen 3 yang awalnya hanya punya anggota kurang dari seratus orang sekarang punya hampir lima ratus anggota.
Lima ratus orang yang siap mati untuk tujuan yang sama.
Lima ratus senjata hidup yang Ryzen arahkan ke satu target—Null Order.
***
Bulan Kedua – Deklarasi Perang.
Ryzen mengumpulkan semua anggota Valhalla di markas rahasia—gudang luas yang diubah menjadi training ground.
Lima ratus orang berdiri dalam formasi rapi, menatap Ryzen yang berdiri di atas platform.
"Null Order membunuh Rafael Alkava," kata Ryzen dengan suara yang terdengar di seluruh ruangan.
"Mereka membunuh orang yang seharusnya memimpin kita. Orang yang punya visi untuk dunia yang lebih baik."
Keheningan total.
Hanya nafas lima ratus orang yang terdengar.
"Hari ini," Ryzen melanjutkan,
"aku menyatakan perang kepada Null Order. Kita akan menghancurkan mereka. Kita akan membakar markas mereka. Kita akan membunuh setiap orang yang bekerja untuk mereka."
Dia menatap setiap wajah di hadapannya.
"Ini bukan operasi biasa. Ini adalah perang total. Dan dalam perang, ada yang akan mati."
Tidak ada yang mundur.
Tidak ada yang ragu.
Karena mereka semua sudah kehilangan sesuatu. Dan mereka siap kehilangan lebih banyak lagi untuk balas dendam.
***
Bulan Ketiga Sampai Kedelapan – Neraka Di Bumi.
Perang dimulai.
Valhalla menyerang markas Null Order di Los Angeles pertama kali. Serangan malam hari—seratus anggota Valhalla vs tiga ratus pasukan Null Order.
Gedung terbakar. Peluru berterbangan. Darah mengalir di koridor-koridor yang dulunya steril.
Valhalla menang—tapi dengan bayaran dua puluh tujuh anggota tewas. Dua puluh tujuh nyawa yang hilang dalam satu malam.
Ryzen tidak punya waktu untuk berduka. Dia langsung menuju target berikutnya—markas Null Order di Chicago.
Lalu Miami. Lalu Seattle. Lalu Houston.
Setiap kota, setiap markas, sama brutalnya. Null Order tidak mudah dikalahkan—mereka punya senjata canggih, pasukan terlatih, dan informan di mana-mana.
Tapi Valhalla punya sesuatu yang lebih kuat—kemarahan yang tidak padam.
Ryzen memimpin dari depan. Dia tidak pernah bersembunyi di belakang. Dia yang pertama masuk ke setiap gedung, dia yang menghadapi musuh paling berbahaya, dia yang mengambil risiko paling besar.
Zen selalu di sampingnya—menciptakan senjata baru, gadget baru, cara baru untuk membunuh lebih efisien.
Kael mengatur strategi dari jauh—menentukan waktu serangan, rute infiltrasi, exit plan.
Draven menjadi tembok pertahanan—melindungi anggota yang terluka, menghadapi musuh yang terlalu banyak.
Adrian bergerak seperti bayangan—membunuh target dari jarak dekat dengan kecepatan yang mata tidak bisa ikuti.
Dan anggota-anggota baru—ratusan wajah yang Ryzen bahkan tidak sempat hapal namanya—berjuang dengan sepenuh jiwa.
Tapi perang tidak pernah tanpa korban.
Setiap minggu, jumlah anggota Valhalla berkurang. Sepuluh orang. Dua puluh orang. Tiga puluh orang.
Ryzen melihat mereka mati satu per satu. Melihat peluru menembus dada mereka. Melihat darah mereka mengalir di tanah asing. Melihat mata mereka menutup untuk terakhir kalinya.
Dan setiap kematian terasa seperti Rafael mati lagi. Lagi. Dan lagi.
***
Bulan Keenam – Akhir Perang.
Lima ratus anggota sekarang tinggal kurang dari seratus.
Empat ratus nyawa hilang. Empat ratus keluarga yang kehilangan anak, saudara, orang tua.
Tapi Null Order hancur total. Setiap markas mereka di seluruh dunia terbakar. Setiap pemimpin mereka mati atau melarikan diri. Organisasi yang dulunya perkasa sekarang hanya tinggal nama.
Ryzen berdiri di atas reruntuhan markas Null Order terakhir—di Berlin, Jerman. Api masih menyala di belakangnya. Bau darah memenuhi udara.
Dia menang. Tapi kemenangan ini terasa sangat kosong.
Karena Rafael tidak ada di sini untuk melihatnya. Dan empat ratus orang mati untuk perang yang mungkin tidak perlu terjadi.
Ryzen jatuh berlutut di tengah reruntuhan.
Tangannya gemetar.
Matanya kosong.
Dia menang perang.
Tapi kehilangan segalanya.
***
BERSAMBUNG...