Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gonggongan Sang Penjaga
Kantin universitas siang itu dipadati oleh mahasiswa dari berbagai fakultas, namun suasana seketika berubah menjadi sunyi yang tegang saat rombongan "segitiga maut" itu masuk. Jasen melangkah dengan dagu terangkat, tangannya masih melingkar protektif di pinggang Seraphina, seolah ingin memamerkan kepada seluruh dunia bahwa sang putri Aeru kini telah resmi menjadi miliknya.
Sera berjalan dengan tenang, wajahnya tertutup kacamata hitam, menyembunyikan binar kepuasan saat ia melihat sosok tegap yang sudah berdiri di sudut kantin yang paling strategis. Dareen Christ sudah berada di sana lebih dulu. Di atas sebuah meja panjang yang telah dikosongkan secara intimidatif oleh kehadirannya, terdapat dua nampan makanan.
Satu nampan berisi menu makan siang sehat kesukaan Sera—salad quinoa, ayam panggang tanpa lemak, dan jus jeruk segar. Satu nampan lagi berisi porsi besar karbohidrat dan protein untuk dirinya sendiri. Ini adalah rutinitas yang tidak berubah sejak hari pertama Dareen bertugas; ia selalu memastikan makanan Sera siap sebelum gadis itu merasa lapar.
"Oh, lihat ini," Jasen mencibir saat mereka sampai di depan meja tersebut. "Anjing penjagamu ternyata masih rajin melakukan pekerjaan kuli. Baguslah."
Jasen menarik kursi untuk Sera dengan gerakan yang berlebihan, lalu ia sendiri duduk di sampingnya, menatap nampan-nampan itu dengan kening berkerut. "Mana punyaku, Christ? Kau tahu aku ikut makan siang di sini."
Dareen berdiri tegak di samping meja, wajahnya sedatar papan tulis, namun matanya yang gelap menatap Jasen dengan intensitas yang mengerikan. "Maaf, Tuan Jasen. Saya dibayar oleh keluarga Aeru untuk melayani dan melindungi Nona Seraphina Aeru. Majikan saya adalah Nona Sera, bukan Tuan Muda dari keluarga Admire."
Suaranya yang bariton dan dingin menggema di area kantin, membuat beberapa mahasiswa yang menguping menahan napas. Penolakan terang-terangan itu adalah sebuah tamparan bagi harga diri Jasen yang setinggi langit.
"Apa kau bilang?" Jasen berdiri, wajahnya memerah karena amarah. "Seldin sudah merestui pertunanganku. Secara teknis, aku adalah calon tuanmu. Kau seharusnya menyiapkan makananku tanpa perlu diminta!"
"Kontrak kerja saya belum berubah, Tuan," sahut Dareen tanpa emosi. "Dan dalam protokol saya, Anda masih dikategorikan sebagai pihak eksternal."
"Brengsek kau!"
Dalam ledakan amarah, Jasen menyambar nampan milik Dareen—nampan yang berisi makanan jatah sang pengawal—dan dengan gerakan kasar, ia membaliknya hingga seluruh isinya tumpah berserakan di atas lantai kantin yang bersih. Bunyi dentang nampan aluminium yang menghantam lantai menciptakan gema yang menyakitkan telinga.
"Sekarang makan itu di lantai, Pelayan!" Jasen membentak, napasnya memburu.
Sera hanya diam, menyesap jus jeruknya dengan tenang di balik kacamata hitamnya. Ia sedang menikmati setiap detik pertunjukan ini. Ia ingin melihat sejauh mana "Babe"-nya akan bertahan, atau apakah dia akan akhirnya melepaskan rantai yang selama ini membelenggunya.
Dareen menatap makanan yang berceceran di lantai, lalu perlahan ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah Jasen. Ada kilatan berbahaya di mata Dareen, sebuah binar yang hanya muncul saat seorang predator siap untuk menerkam.
Dareen tidak menatap Jasen. Ia justru sedikit menunduk ke arah Sera, suaranya kini terdengar lebih rendah dan penuh makna. "Nona Sera ... dia sudah mengusik saya. Dia sudah mengganggu waktu makan saya dan merusak properti yang menjadi hak saya."
Dareen menjeda sejenak, membiarkan ketegangan memuncak. "Sebagai anjingmu yang setia, bolehkah saya 'menggonggong' di hadapannya? Jika saya melakukannya, apakah majikan saya akan membela saya nanti saat Tuan Seldin bertanya?"
Sera melepaskan kacamata hitamnya perlahan, memperlihatkan mata indahnya yang kini berkilat penuh kegembiraan yang gelap. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan kaki, dan memberikan senyuman maut yang paling manis yang pernah Dareen lihat.
"Tentu saja, Dareen," sahut Sera dengan nada santai namun tegas. "Anjing yang setia berhak membela dirinya jika ada orang asing yang mencoba menendangnya tanpa alasan. Aku akan membelamu di depan Kak Seldin. Lakukan apa yang harus kau lakukan."
Mendengar kata-kata itu, Dareen merasa seolah-olah seluruh beban protokol yang mengikatnya luruh seketika. Ia mendapatkan izinnya. Ia mendapatkan "restu" dari dunianya.
Tanpa peringatan, Dareen bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga mata awam tidak bisa mengikutinya. Dalam sekejap, tangan kekar Dareen sudah menyambar pergelangan tangan Jasen yang tadi digunakan untuk menumpahkan makanan.
"Argh! Apa yang kau lakukan?!" Jasen menjerit kesakitan.
Dareen tidak menggunakan borgol besi sungguhan, namun kedua tangannya yang besar dan berotot mengunci lengan Jasen dengan teknik penguncian militer yang sangat menyakitkan—sering disebut sebagai "borgol manusia." Ia memelintir lengan Jasen ke belakang punggung pria itu, sementara tangan satunya menekan titik saraf di siku Jasen.
"Tuan Jasen," bisik Dareen tepat di telinga Jasen, sementara pria itu mulai meringis dan berlutut karena tekanan yang luar biasa di persendiannya. "Anda mungkin bisa membeli perusahaan, tapi Anda tidak bisa membeli rasa hormat saya. Jangan pernah sekali lagi menyentuh apa yang menjadi milik saya."
Dareen meningkatkan tekanannya. Bunyi gemeretak kecil terdengar dari sendi bahu Jasen. Jasen meraung kesakitan, wajahnya yang tampan kini berubah menjadi pucat pasi dan berkeringat dingin. Dareen seolah hendak meremukkan tulang tangan Jasen dengan kekuatan murninya. Di mata Dareen saat ini, Jasen bukan lagi calon tunangan Sera, melainkan target eliminasi yang perlu diberi pelajaran.
Para mahasiswa di kantin berdiri dari tempat duduk mereka, beberapa menutup mulut karena ngeri melihat kekuatan fisik Dareen yang luar biasa. Jasen, sang pangeran kampus yang sombong, kini bertekuk lutut di bawah cengkeraman seorang pria yang ia panggil "pelayan."
Sera tertawa. Suara tawanya jernih dan merdu, memenuhi keheningan kantin yang mencekam. Ia merasa sangat puas melihat Jasen yang pecundang itu merintih di bawah kekuasaan pria yang ia cintai. Namun, ia tahu jika ini diteruskan, tulang Jasen benar-benar akan patah dan itu akan menyulitkan posisi mereka di depan Seldin.
"Sudah cukup, Dareen. Berhenti," ujar Sera sambil melambaikan tangannya dengan gerakan anggun.
Seketika itu juga, Dareen melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, kembali ke posisi siaga yang sempurna seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Wajahnya kembali dingin dan profesional, tanpa sisa kemarahan sedikit pun.
Jasen jatuh tersungkur ke lantai, memegangi lengannya yang kini gemetar hebat dan berwarna kemerahan. Ia berusaha berdiri dengan sisa-sisa harga dirinya, napasnya tersengal-sengal. Ia menatap Dareen dengan tatapan benci, sinis, dan penuh dendam, namun ada ketakutan yang mendalam di matanya.
"Kau ... kau akan membayar ini, Christ! Aku akan pastikan Seldin membuangmu ke selokan!" ancam Jasen dengan suara serak, meskipun ia tidak berani mendekati Dareen lagi.
Sera bangkit dari kursinya, merapikan bajunya, dan menatap Jasen dengan pandangan merendahkan. "Oh, Jasen. Jangan jadi pengadu. Bukankah kau yang memulai? Dareen hanya bereaksi terhadap agresimu. Kak Seldin pasti mengerti bahwa pengawal yang baik harus memiliki taring."
Sera melirik ke arah makanan yang tumpah di lantai, lalu menatap nampan miliknya yang masih utuh. "Aku sudah tidak selera makan di sini. Baunya jadi aneh karena makananmu yang berserakan di lantai, Jasen."
Sera menoleh ke arah Dareen. "Ayo, Dareen. Kita pergi. Tinggalkan pria lemah ini dengan mawar-mawarnya yang layu."
Dareen mengangguk. "Baik, Nona."
Saat mereka berjalan keluar dari kantin, Dareen sempat melirik Jasen untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan peringatan yang membuat Jasen membeku di tempatnya. Di koridor yang sepi menuju parkiran, Sera memperlambat langkahnya hingga sejajar dengan Dareen.
"Itu tadi sangat seksi, Babe," bisik Sera dengan seringai nakal. "Gonggonganmu jauh lebih keras dari yang kubayangkan."
Dareen sedikit menoleh, memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. "Saya hanya tidak suka dia merasa bisa melakukan apa saja hanya karena sebuah gelar pertunangan yang bahkan Anda tidak inginkan."
"Kau benar-benar ingin mematahkan tangannya tadi?" tanya Sera penasaran.
"Jika Anda tidak menghentikan saya, mungkin sekarang dia sedang dalam perjalanan ke ruang bedah ortopedi," jawab Dareen datar, namun ada nada protektif yang kuat di sana.
Sera tertawa kecil, melingkarkan lengannya di lengan kekar Dareen sejenak sebelum mereka sampai di area yang terpantau CCTV. "Ingat, ini baru permulaan. Jasen pasti akan mengadu pada Kak Seldin. Kita harus menyiapkan sandiwara yang lebih besar malam ini."
"Saya siap menghadapi apa pun, Sera. Selama majikan saya masih membela saya," sahut Dareen.
Mereka masuk ke dalam mobil, kembali ke peran masing-masing, namun di dalam hati mereka, kemenangan kecil di kantin tadi telah membuktikan satu hal: Jasen Admire mungkin memiliki kekuasaan dan harta, tapi ia tidak akan pernah memiliki kekuatan dan kesetiaan yang mengalir di antara Seraphina Aeru dan pengawalnya.
Semoga Seraphina juga bisa bahagia bersama Jasen...
Dan semoga Sera sdh sadar, dan bisa bahagia juga dengan Jasen..
Dan Sera, astaga,,, makin hari makin kelihatan sifat manipulatifmu jalang ... 😠
Darren jngn sampai goyah... hapus total perasaan pernah sukamu sama perempuan jalang itu...👊👊
Buktikan kepada Seldin Aeru yg sombong, bahwa kau bisa berharga sebagai manusia di luar kediaman megah mereka 💪
Kau terlahir dgn kecerdasan bisnis yg luar biasa, Kau pasti bisa... 💪💪
Dari awal kau yg gatal terhadap Darren. Saat Darren memutuskan berhenti jadi budak nafsu mu, kau ingin masih ingin menghancurkannya.
Kau salah... Lihat saja...Darren malahan akan perlahan membencimu...👊👊
Jangan biarkan Seraphina menang...👊👊
Ayo,, bicakan berdua, jngn buat celah utk wanita tak tau malu seperti Sera menghancurkan mimpimu...