Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Keluarga Brisbane
Dunia seolah punya cara paling sarkastik untuk menertawakan luka Takara. Di saat ia baru saja menyusun kepingan harga dirinya dan bersumpah untuk menjaga jarak profesional dari Jake, sebuah panggilan telepon dari Brisbane menghancurkan segalanya.
Leah, adik Jake yang ceria, dan Dami, ibu Jake yang sudah menganggap Takara seperti putrinya sendiri, mendarat di Incheon. Kedatangan mereka yang mendadak adalah tradisi keluarga setiap kali Jake menyelesaikan rangkaian konser besar. Dan bagi mereka, tidak ada kunjungan ke Korea tanpa kehadiran Takara.
Mau tidak mau, Takara harus menekan egonya dalam-dalam. Demi Leah yang sangat menyayanginya, ia setuju untuk datang ke apartemen mewah Jake malam itu.
Suasana di ruang makan apartemen Jake tampak kontras dengan pemandangan mewah di luarnya. Meja marmer itu penuh dengan masakan rumah yang dibawa Dami dari Australia, namun aromanya tidak sanggup mencairkan kebekuan di antara dua orang yang duduk berseberangan.
Takara duduk dengan kaku, sesekali memaksakan senyum saat Leah bercerita tentang sekolahnya. Di depannya, Jake lebih banyak menunduk, memainkan sumpitnya tanpa nafsu makan yang jelas.
"Ra, kamu kurusan ya? Proyek jembatannya bikin kamu nggak sempat makan?" tanya Dami lembut, matanya yang tajam menatap Takara dengan penuh selidik.
"Ah, nggak kok, Tante. Cuma lagi banyak ke lapangan aja, jadi agak capek," jawab Takara bohong. Suaranya terdengar sedikit parau, sisa dari tangis berhari-hari yang ia sembunyikan di balik concealer tebal.
Jake melirik Takara sekilas. Hatinya mencelos melihat betapa pucatnya gadis itu. Ia ingin bertanya, "Lo udah tidur?" atau "Mata lo kenapa masih sembab?", tapi lidahnya terasa kelu. Pengakuan Takara malam itu masih terngiang-ngiang, membuat setiap kata yang ingin ia ucapkan terasa seperti duri.
Leah, yang biasanya sangat cerewet, tiba-tiba terdiam. Ia memandang kakaknya, lalu beralih ke Takara. Atmosfer di ruangan itu terlalu berat untuk sekadar "lelah bekerja". Tidak ada lagi perdebatan konyol antara Jake dan Takara. Tidak ada lagi Jake yang menjahili makanan Takara.
"Oppa," panggil Leah tiba-tiba, membuat Jake tersentak. "Kalian berantem ya?"
Pertanyaan frontal itu membuat Jake tersedak air minumnya. "Nggak... siapa yang berantem? Kita cuma capek aja, Leah."
Dami meletakkan sendoknya pelan. Sebagai ibu, ia tahu persis setiap perubahan emosi putranya. Ia juga tahu bagaimana Takara selalu menjadi pelabuhan bagi Jake. Melihat mereka duduk seperti orang asing yang terpaksa satu meja adalah pemandangan yang mengkhawatirkan.
"Jake, kalau ada masalah sama proyek atau apa pun, jangan dilampiasin ke Takara," tegur Dami halus, namun mengandung peringatan. "Dan Takara, kalau Jake bikin kamu susah, kasih tahu Tante. Biar Tante yang jewer dia pulang ke Brisbane."
Takara hanya bisa tersenyum pahit. "Nggak ada apa-apa, Tante. Jake baik kok."
Saat makan malam selesai, Dami sengaja menyuruh Jake membantu Takara mencuci piring di dapur, sementara ia dan Leah membereskan meja. Itu adalah taktik kuno untuk memberikan ruang bagi mereka bicara.
Di depan wastafel, keheningan itu kembali menyerang. Suara air yang mengalir terasa memekakkan telinga.
"Ra," panggil Jake lirih, tanpa berani menoleh. "Maaf gue harus nyeret lo ke sini di saat lo lagi pengen menjauh."
Takara terus menggosok piring dengan gerakan mekanis. "Gue di sini buat Leah dan Tante Dami, Jake. Bukan buat lo. Jadi lo nggak perlu merasa bersalah."
"Tapi gue ngerasa bersalah!" Jake mematikan keran dengan kasar dan memutar tubuh Takara agar menghadapnya. "Gue ngerasa bersalah karena setelah lo ngomong kayak gitu, gue malah diem kayak orang bodoh. Gue nggak tahu harus gimana, Ra!"
Takara menepis tangan Jake dengan halus. Matanya berkaca-kaca, menatap lurus ke arah Jake. "Lo diem karena lo tahu nggak ada masa depan buat kita, kan? Jadi tolong, biarin gue profesional. Biarin gue selesain proyek ini, lalu gue bakal pergi dari hidup lo sebelum semuanya makin hancur."
Tepat saat itu, Leah berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya yang tadi ceria kini tampak sedih. Ia mendengar kalimat terakhir Takara.
———
Suara klakson mobil yang sangat Takara kenali memecah keheningan di depan lobi apartemen Jake. Sebuah mobil SUV putih berhenti tepat di depan pintu masuk. Dari balik kemudi, Arlo keluar dengan senyum tipis yang menenangkan. Ia tidak bertanya banyak, ia hanya membukakan pintu untuk Takara, seolah tahu bahwa wanita itu baru saja melewati medan perang emosional di dalam sana.
Jake berdiri mematung di balkon lantai atas, mencengkeram pagar besi dengan buku-buku jari yang memutih. Dari ketinggian itu, ia melihat Takara masuk ke mobil Arlo tanpa menoleh lagi ke arah unitnya.
"Siapa itu, Jake? Teman Takara?" suara Dami, ibunya, terdengar dari belakang.
"Partner kerjanya, Ma," jawab Jake pendek. Suaranya terdengar kosong.
"Dia kelihatannya sangat bisa diandalkan," gumam Dami pelan, namun kalimat itu terasa seperti sembilu yang menyayat hati Jake. "Seseorang yang selalu ada di saat yang tepat adalah apa yang Takara butuhkan sekarang, bukan?"
Di dalam mobil Arlo, Takara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Aroma parfum maskulin Arlo yang lembut dan musik jazz pelan yang diputar pria itu perlahan-lahan menurunkan ketegangan di bahunya.
"Gimana makan malamnya? Lancar?" tanya Arlo lembut. Ia tidak memaksakan kontak mata, membiarkan Takara merasa nyaman dalam diamnya.
"Lancar. Ada tante Dami dan Leah. Tapi rasanya... sesak banget, Arlo," bisik Takara. "Makasih ya udah jemput. Gue bener-bener nggak sanggup kalau harus naik taksi sambil mikirin kejadian di dalam tadi."
Arlo mengangguk, tangannya tetap stabil di kemudi.
"Nggak masalah. Lo tahu gue bakal selalu datang kalau lo panggil."
Takara menoleh ke arah Arlo. Pria ini selalu ada. Saat ia butuh teman makan siang, saat ia butuh teman bicara soal semen dan baja, hingga saat ia butuh melarikan diri dari bayang-bayang Jake. Takara sadar, ia menjadikan Arlo sebagai pelampiasan, sebagai penawar rasa sakit atas cinta yang mustahil bersama Jake.
"Maafin gue, Arlo. Gue jahat banget karena gunain lo buat lupain dia," batin Takara perih.
Namun, Arlo bukan pria bodoh. Ia tahu persis posisi dirinya di hati Takara. Ia tahu bahwa setiap kali ia menjemput Takara, bayangan Jake selalu duduk di antara mereka. Ia tahu ia hanyalah tempat pelarian sementara.
Tapi bagi Arlo, itu tidak masalah. Baginya, melihat Takara aman dan tidak menangis sendirian sudah lebih dari cukup. Ketulusannya melampaui rasa gengsinya sebagai seorang pria. Ia rela menjadi "obat" meski ia tahu suatu saat nanti luka itu mungkin akan sembuh dan ia tidak lagi dibutuhkan.
"Gue tau apa yang ada di pikiran lo, Ra," ucap Arlo tiba-tiba saat mereka berhenti di lampu merah. "Jangan ngerasa bersalah karena gunain gue. Gue di sini atas kemauan gue sendiri. Gue tulus pengen jagain lo, entah sebagai partner, teman, atau apa pun yang lo butuhin saat ini."
Takara terdiam, matanya berkaca-kaca. Ketulusan Arlo justru membuatnya semakin merasa tidak pantas.