Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Arlo dan Jake
Kesunyian apartemen Takara pecah oleh suara halus mesin elektrik di pintu depan.
Pip-pip-pip-ceklek.
Di dalam, Takara meringkuk di atas sofa abu-abunya. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya yang kusut. Di pelukannya, beberapa lembar cetak biru jembatan kayu dan laporan anggaran interior tampak berantakan. Ia tertidur karena kelelahan setelah berdebat dengan mandor hingga larut malam, ditambah beban pikiran akibat pesan sarkastik Jake yang belum sempat ia balas dengan benar.
Seseorang melangkah masuk dengan sangat pelan. Suara gesekan kain hoodie dan langkah sepatu kets di atas lantai kayu membuat indra pendengaran Takara yang tajam bereaksi.
Takara tersentak. Jantungnya berpacu hebat saat ia membuka mata dan melihat siluet tinggi berdiri di kegelapan ruang tamunya. Ia nyaris berteriak panik, namun sebuah aroma maskulin yang sangat spesifik, campuran cedarwood dan sisa parfum mahal yang sering Jake gunakan, meresap ke indranya.
"Jake?!" pekik Takara, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. ia duduk tegak, menjatuhkan semua berkasnya ke lantai. "Astaga... kenapa lo di sini?!"
Jake berdiri di sana, masih mengenakan masker hitam yang ditarik ke dagu dan topi yang menutupi rambut acaknya. Wajahnya terlihat sangat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh cahaya redup lampu jalan dari balik jendela.
"Gue... mau minta maaf karena kirim chat kayak gitu tadi," kata Jake pelan. Suaranya terdengar tulus, sekaligus penuh kecemasan.
Takara mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya. Ia melirik jam dinding digital di atas meja TV.
03.15 AM.
"Ya, lo emang keterlaluan ngirim chat kayak gitu, Jake. Gue kerja di sini, bukan main-main," gerutu Takara sambil memunguti berkas-berkasnya yang berceceran. "Tapi tingkah lo sekarang ini lebih keterlaluan! Lo nyelinap keluar dorm lagi? Di jam segini? Lo gila ya?"
Jake mendekat, lalu duduk di ujung sofa, menjaga jarak aman agar tidak membuat Takara semakin meledak. "Gue nggak bisa tidur, Ra. Kata-kata Jay sama Ni-ki di ruang ganti tadi bikin gue ngerasa kayak orang paling jahat sedunia. Gue takut lo beneran marah dan lebih milih temen baru lo itu daripada gue."
Takara menghela napas panjang, rasa kantuknya hilang digantikan oleh rasa frustrasi yang luar biasa.
"Jake, dengerin gue. Arlo itu partner kerja gue. Dia ada di sini, nyata, bantuin gue setiap jam di lapangan. Sementara lo? Lo adalah sahabat gue, tapi lo punya dunia yang beda. Gue nggak bisa terus-terusan nungguin notifikasi lo di saat ada orang lain yang beneran ngebantu gue kerja."
"Gue tahu," sahut Jake lirih. "Gue cuma cemburu, Ra. Gue nggak biasa liat ada cowok lain yang punya akses ke lo lebih gampang daripada gue."
Takara menatap Jake dengan tatapan nanar. "Kalau Jungwon tahu lo keluar, dia bakal pusing setengah mati sebagai leader. Lo nggak kasihan sama mereka?"
"Jungwon tahu," potong Jake cepat. "Dia liat gue keluar. Dia cuma bilang... 'Jangan lama-lama, Hyung, jam enam kita udah harus di makeup room'. Dia paham gue lagi nggak stabil."
Takara terdiam. Ia melihat betapa kerasnya Jake berjuang untuk mempertahankan satu-satunya hubungan yang membuatnya merasa seperti "manusia biasa". Namun, tepat saat suasana mulai mendingin, terdengar suara dehem keras dari arah balkon luar yang bersebelahan.
Itu suara Arlo. Sepertinya pria itu sedang menghirup udara malam atau baru saja selesai lembur di unitnya sendiri.
"Takara? Kamu sudah bangun? Aku dengar suara orang ngobrol di dalam," suara Arlo terdengar jelas menembus kaca balkon yang sedikit terbuka.
Mata Jake dan Takara membelalak. Jika Arlo masuk atau melihat ke jendela sekarang, ia akan menemukan idola paling populer di Korea sedang duduk di sofa Takara pada jam tiga pagi.
Jantung Takara seolah merosot ke lantai. Ia baru saja hendak menarik lengan hoodie Jake untuk menyuruhnya sembunyi di balik tirai atau kamar mandi, namun Jake bergerak lebih cepat. Dengan langkah menantang, Jake justru menggeser pintu kaca balkon dan berdiri tegak di sana, berhadapan langsung dengan Arlo yang sedang menyesap kopi di balkon sebelah.
Udara dingin pukul tiga pagi mendadak terasa membeku.
"Iya, dia ngobrol sama gue," kata Jake dengan nada suara yang sengaja dibuat rendah dan berat, tanpa rasa takut sedikit pun.
Arlo sedikit terkejut melihat sosok bermasker dan bertopi itu muncul, namun ia segera menguasai diri. Ia meletakkan cangkirnya di pagar balkon dengan tenang.
"Oh! Hai, Jake. Gue udah tahu lo sahabatnya Takara," ujar Arlo. Kalimat itu meluncur begitu santai, namun bagi Jake, itu adalah serangan telak. Arlo seolah ingin menegaskan bahwa ia dan Takara sudah sedekat itu sampai-sampai rahasia terbesar pun sudah dibagikan.
"Gue baru tahu kalau seorang idol bisa juga keluar diem-diem gini," ucap Arlo lagi, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang memprovokasi.
"Ya kalau gue mau, pasti bisa," jawab Jake singkat. Ia melangkah lebih dekat ke batas pagar balkon yang memisahkan unit mereka.
Takara hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu balkon, menatap kedua pria itu dengan perasaan campur aduk antara panik dan lelah. "Kalian berdua... tolong, ini jam tiga pagi," bisik Takara lirih, namun diabaikan.
Jake mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Arlo hingga jarak mereka hanya terhalang sekat besi. Dengan suara yang nyaris tak terdengar oleh Takara namun sangat jelas di telinga Arlo, Jake berbisik tajam.
"Oh iya. Gue bukannya ngebiarin lo deketin sahabat gue begitu aja. Gue peringati, lo jangan macam-macam sama dia."
Arlo tidak mundur. Ia justru terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan di telinga Jake.
"Jangan macam-macam?" Arlo mengulangi kata-kata itu dengan volume normal. "Jake, gue rasa lo salah paham. Gue di sini tiap hari bareng dia, bantuin dia ngerjain proyek yang lo kasih. Gue yang ada saat dia pusing mikirin fondasi atau saat dia kelaparan habis lembur."
Arlo menatap Jake tepat di matanya. "Bukannya lo yang harusnya jangan 'macam-macam'? Datang jam tiga pagi cuma buat bikin dia panik dan nggak bisa tidur? Itu namanya bukan jagain sahabat, itu namanya egois."
Wajah Jake memerah di balik maskernya. Kalimat Arlo benar-benar memukul telak di bagian yang paling sensitif: kenyataan bahwa Jake seringkali menjadi beban bagi Takara.
"Cukup!" Takara akhirnya melangkah maju dan menarik jaket Jake dengan paksa masuk ke dalam unitnya. "Arlo, maaf. Tolong lupakan kejadian malam ini. Dan Jake, lo pulang sekarang. SEKARANG!"
Takara menutup pintu balkon dengan bantingan keras dan menguncinya. Ia berbalik menatap Jake dengan mata yang berkilat marah.
"Lo liat kan? Ini yang gue maksud dunia kita beda! Lo cuma bakal bikin masalah buat gue kalau lo terus-terusan kayak gini!"
Jake terdiam, bahunya merosot. Untuk pertama kalinya, ia melihat Takara benar-benar terlihat sangat kecewa padanya. Di sisi lain, Arlo di balkon sebelah masih berdiri diam, menatap pintu kaca yang tertutup itu dengan tatapan yang sulit diartikan, setengah puas, setengah merasa bersalah.