Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut dengan Kontrak Sewa Rumah!
"Nona Emily Ainsley?" pria itu menyapanya. "Kau yang ingin menyewa kamar rooftop, bukan?"
"Ya, benar," jawabnya sambil berjalan mendekat untuk sedikit lebih dekat dan mencoba terlihat ramah.
Pria itu menatap Emily selama beberapa detik sebelum memperkenalkan dirinya.
"Aku Rogers, pemilik rumah ini," katanya dengan ramah dan sopan. "Aku akan menunjukkan rumah yang akan kau sewa. Silahkan ikuti aku."
Emily berjalan menuju pintu dan memperhatikan nomor rumah kecil—dua puluh. Ia juga melihat pintu dengan kunci digital di samping nomor rumah itu.
"Aku akan memberimu kode sandinya segera setelah kau menandatangani kontrak," kata Rogers seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Emily.
Emily tersenyum pelan saat melewati pintu itu. Ia terkejut melihat sebuah ruangan kecil di balik pagar yang menyerupai pos penjaga. Seorang pria dengan setelan taktis hitam yang duduk di dalamnya mengangguk sedikit kepada mereka.
Setelah berjalan beberapa meter menyusuri jalan batu, Emily akhirnya melihat sebuah rumah modern tiga lantai.
Taman halaman depannya terlihat menakjubkan, tetapi ia tidak punya waktu untuk menikmatinya. Langkah besar Rogers membuatnya tertinggal, dan ia harus berjalan lebih cepat untuk menyamai langkahnya. Jalan batu itu mengarah ke halaman belakang.
Tak lama kemudian, ia melihat pintu besi hitam di teras kecil belakang rumah.
"Ini akses langsung ke rooftop. Hanya penyewa kamar rooftop, yaitu kau, yang bisa mengaksesnya," jelas Rogers sambil melirik Emily. "Kata sandi pintunya sekarang empat nol, dan aku sarankan kau segera menggantinya. Keamanan penyewa selalu menjadi prioritasku disini," tambahnya.
Emily tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk dan mengikutinya menaiki tangga.
Ada dinding kaca panjang hingga ke lantai atas yang memungkinkan cahaya masuk dan membuatnya bisa melihat pemandangan halaman belakang sepanjang perjalanan ke atas.
Tak lama, mereka tiba di lantai empat, rooftop.
Sekali lagi, Emily terpana melihat hamparan bunga yang indah dan beberapa tanaman herbal di rooftop itu. Taman dan pemandangan di kejauhan cukup untuk membuatnya berhenti sejenak dan memanjakan matanya dengan pemandangan yang menakjubkan.
Namun, Emily tidak punya banyak waktu untuk menikmati pemandangan karena ia melihat tatapan tidak sabar Rogers yang mengarah padanya.
Ia segera berjalan lagi dan mengikutinya menuju rumah kecil yang menempati setengah dari rooftop bangunan; sisanya adalah taman dan teras terbuka.
"Aku menyewa tempat ini selama lima tahun, tetapi tiba-tiba perusahaanku memindahkanku ke cabang lain, jadi aku tidak bisa tinggal di sini," jelas Rogers. Ia membuka pintu dan memberi isyarat agar Emily masuk lebih dulu. Ia juga memberi tahu bahwa kata sandi pintunya sama dengan pintu di bawah.
Saat mereka masuk dan melakukan tur singkat rumah, Rogers melanjutkan, “Sayang sekali. Bosku memberitahuku setelah aku selesai merenovasi rumah ini. Dan aku juga tidak bisa membatalkan kontrak sewaku, atau aku akan kehilangan rumah ini selamanya, dan pemilik bangunan tidak akan mengembalikan biaya renovasiku."
Emily merasa kasihan mendengarnya, tetapi jauh di dalam hatinya ia juga merasa senang karena Rogers begitu tidak beruntung memiliki bos yang memindahkannya ke kota lain tepat setelah ia merenovasi rumah indah ini.
"Aku tidak punya pilihan selain menyewakannya kepadamu selama beberapa tahun sebelum aku kembali. Aku membutuhkanmu untuk menjaga tempat ini, itulah sebabnya aku setuju dengan harga yang kau tawarkan," kata Rogers sambil memberi isyarat agar ia duduk di sofa.
Setelah mendengar penjelasan Rogers, kecurigaan Emily bahwa ia mungkin penipu perlahan memudar.
Ia duduk di ruang tamu kecil namun nyaman itu sambil melihat sekeliling. Ia terkesan dengan kebersihan dan perabotan yang sederhana namun mewah.
"Tempat ini terlihat sangat indah, dan semua perabotannya masih baru," kata Emily sambil menatap Rogers yang duduk di seberangnya. "Aku berjanji akan menjaga rumah ini dengan baik dan tidak merusak perabotanmu, Tuan Rogers."
"Terima kasih, Nona Emily. Aku menghargainya. Aku menyewakan tempat ini kepadamu agar kau bisa menjaganya. Karena jika tidak aku sewakan, perabotannya akan rusak jika tidak ada yang tinggal di sini..."
Emily berusaha untuk tidak menunjukkan betapa bahagianya ia telah menemukan rumah ini dengan harga yang sangat murah.
"Itu benar, Tuan."
"Apakah kau ingin memeriksa kembali rumah ini sebelum menandatangani kontrak sewa?"
Emily menggelengkan kepala. Tur singkat tadi sudah cukup meyakinkannya bahwa tempat ini luar biasa. Tentu saja ia tidak akan menolaknya.
Tampilan keseluruhan rumah ini modern dan mahal, dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan kontemporer tergantung di sana. Hanya ada satu kamar tidur, dengan tempat tidur queen-size di tengah ruangan. Kamar tidur itu dihiasi perabotan baru, dan ada sebuah pintu di sudut ruangan, ia menduga itu pintu kamar mandi.
Nilai jual utama rumah ini adalah ruang tamu kecil yang nyaman yang terhubung dengan dapur modern dengan dinding kaca besar menghadap kota. Ia bisa membayangkan betapa indahnya tempat ini pada malam hari.
Dan tempat ini seratus kali lebih baik daripada apartemen lama Liam.
"Tidak perlu, Tuan," kata Emily. Ia bisa melihat pria itu tampak terburu-buru, dan ia tidak ingin membuang waktunya dengan tur rumah tambahan.
"Jadi, apakah kau bersedia menandatangani kontrak sekarang?" tanya Rogers sambil mengeluarkan map dokumen coklat ukuran A4 dari laci meja kecil di sampingnya. "Kau bisa membaca kontraknya dan menandatanganinya jika setuju."
"Ya, Tuan," jawab Emily sambil menerima map dokumen itu.
Ia menemukan dua rangkap kontrak sewa rumah yang disediakan oleh Skyline Realty, perusahaan yang ia pilih untuk mencarikan rumah untuknya, kantor Tuan Davis. Ia bisa melihat informasi detail tentang dirinya, seperti yang telah ia berikan kepada agen properti.
Namun, ketika Emily membaca harga yang harus ia bayar, ia tertegun, itu bukan bulanan, melainkan tahunan.
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk