"Jika dunia membuangmu, ingatlah ada satu orang yang akan menghancurkan dunia demi menjemputmu kembali."
Bagi Kyrania Ruella, masa kecil di desa Sukamaju adalah satu-satunya memori indah yang tersisa. Di sana ada Herjuno Allegra, bocah dekil pembawa ketapel yang selalu melindunginya dari nyamuk hingga anak-anak nakal. Namun, takdir memisahkan mereka secara paksa saat Kyra diseret kembali ke kota oleh ayahnya yang serakah. Hidup Kyra bak di neraka. Menjadi istri dari Nathan Sagara, pria kaya yang patriarki dan pelit, Kyra diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia terjebak dalam pernikahan hampa, bahkan nyaris dijual oleh suaminya sendiri demi menutupi hutang keluarga.
Di saat Kyra nyaris menyerah pada hidupnya, Juno kembali. Namun, ia bukan lagi bocah desa pembawa ketapel. Ia kini adalah Herjuno Allegra, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang dingin, berkuasa, dan sangat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malaikat Berkaos Kusam
[FLASHBACK ON]
Udara sore itu lembap, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan yang tertinggal di pucuk-pucuk padi. Bagi Kyrania Ruella, aroma itu adalah pengingat akan kemiskinan. Ia berdiri di depan teras rumah kayu milik neneknya yang catnya sudah mengelupas, memeluk erat tas ranselnya yang berisi beberapa potong baju dan satu set cat air yang sudah mulai mengering.
Jakarta yang bising dan penuh lampu kini terasa seperti mimpi buruk yang jauh. Ayahnya bangkrut, Kenzo dibawa pergi karena dianggap "aset" masa depan, dan Kyra dibuang ke antah-berantah ini bersama ibunya yang terus-menerus mengunci diri di kamar sambil meratapi pengkhianatan suaminya.
"Heh! Anak baru ya?"
Suara lantang itu membuat Kyra tersentak. Bahunya menciut refleks. Ia menoleh perlahan dan menemukan seorang remaja laki-laki berdiri di balik pagar bambu yang memisahkan rumah mereka.
Laki-laki itu memakai kaos oblong putih yang sudah agak kekuningan di bagian leher, celana pendek hitam yang talinya menjuntai sebelah, dan kakinya kotor oleh lumpur kering. Rambutnya berantakan seperti habis diterjang badai, namun matanya bersinar liar—penuh energi.
Kyra tidak menjawab. Ia justru mundur selangkah, masuk lebih dalam ke bayangan teras. Ia takut. Anak desa ini terlihat... berbahaya dalam pikirannya yang masih terbiasa dengan lingkungan sekolah internasional yang steril dan penuh tata krama palsu.
"Woi! Ditanya malah melamun. Kamu denger nggak sih? Apa telingamu kemasukan nyamuk sawah?" cowok itu nyengir, menunjukkan barisan gigi yang rapi. Tanpa permisi, ia melompat pagar dengan sekali sentakan kaki, mendarat di halaman rumah Kyra dengan suara gedebuk yang mantap.
"Jangan dekat-dekat!" suara Kyra keluar sangat kecil, hampir tenggelam oleh suara jangkrik sore.
Langkah remaja itu terhenti. Ia memiringkan kepala, menatap Kyra dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan penasaran yang jujur. "Galak amat. Namaku Juno. Herjuno. Kamu siapa? Kata mbah Darmi, namamu Kyra ya? Beneran?"
Kyra tetap diam, jemarinya meremas tali ransel sampai buku jarinya memutih. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, penuh kecemasan. Ia merasa seperti kelinci yang terjebak di depan serigala yang... entahlah, serigala ini kelihatannya terlalu bersemangat untuk ukuran pemangsa.
Juno menyadari ketakutan itu. Ia menghentikan langkahnya, tidak lagi mencoba mendekat. Ekspresinya yang tadinya jenaka sedikit melunak, meski tetap terlihat nakal.
"Nggak usah takut. Aku nggak gigit manusia. Paling cuma gigit kerupuk kalau lagi lapar," Juno tiba-tiba duduk bersila di atas rumput liar, sekitar tiga meter dari Kyra. "Kamu cantik, tapi kayak orang sakit. Di kota nggak dikasih makan ya? Apa di sana makanannya cuma kabel listrik makanya mukamu setruman gitu?"
Kyra menggigit bibir bawahnya, menahan isak yang hampir lolos. Kenapa orang ini begitu lancang? Di saat dunianya hancur, cowok ini malah bercanda soal kabel listrik?
"Pergi..." bisik Kyra.
"Nggak mau. Ini wilayahku. Di desa ini, semua orang temanku. Dan karena kamu tetanggaku, berarti kamu juga harus jadi temanku. Itu peraturan tidak tertulis di sini," Juno mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang menggembung. Sebuah ketapel kayu dan segenggam buah kersen merah yang masih segar. "Nih, mau nggak? Manis lho, lebih enak dari permen di kota yang cuma bikin gigi bolong."
Juno melempar satu buah kersen itu ke arah Kyra. Pluk. Buah itu mendarat tepat di atas sepatu flat bermerek milik Kyra yang kini sudah berdebu.
"Makan aja. Aku yang petikin tadi di pohon belakang, sampai harus rebutan sama ulat bulu. Jangan diem terus, nanti kamu bisu lho. Kalau kamu bisu, nanti aku ngobrol sama siapa? Masa sama pohon pisang?" goda Juno lagi sambil tertawa renyah.
Kyra menatap buah kecil merah itu, lalu menatap Juno yang sedang nyengir lebar. Meskipun Juno terlihat sembrono, dekil, dan berisik, ada sesuatu di matanya yang terasa... jujur. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada tatapan menilai seperti yang biasa Kyra temui di pergaulan sosialita orang tuanya dulu.
Untuk pertama kalinya dalam seminggu sejak kehancuran keluarganya, Kyra berani menatap mata seseorang sedikit lebih lama.
"Aku... Kyrania," suaranya hampir tak terdengar, serak karena terlalu lama diam.
Juno menepuk pahanya dengan keras sampai terdengar bunyi plak. "Nah! Akhirnya bunyi juga! Kirain tadi kamu radio rusak. Kyrania... kepanjangan ah. Aku panggil Kyra aja ya? Kayak nama dewi-dewi di buku komik."
Juno berdiri dengan gerakan tiba-tiba yang membuat Kyra kembali kaget. Ia berbalik menuju pagar, tapi sebelumnya ia menoleh lagi.
"Besok pagi aku ke sini lagi. Jangan telat bangun! Kalau kamu nggak bangun jam lima, aku bakal lempar kerikil ke jendela kamarmu sampai kamu bangun. Aku mau tunjukin tempat paling bagus buat liat matahari terbit. Jangan takut lagi ya, Anak Kota. Selama ada Juno di sini, nggak akan ada yang berani gangguin kamu. Bahkan hantu sawah pun takut sama aku!"
Juno melompat pagar lagi dengan lincah, hampir tersangkut tapi berhasil selamat, lalu menghilang ke arah rumahnya sambil bersiul nyaring lagu dangdut yang nadanya berantakan.
Kyra masih berdiri di teras yang sama, menatap buah kersen di kakinya. Perasaan takutnya belum sepenuhnya hilang, tapi entah kenapa, ruang hampa di dadanya baru saja terisi sedikit getaran aneh. Ia mengambil kersen itu, membersihkannya sedikit, lalu memasukkannya ke mulut.
Manis. Ternyata Juno benar, kersen ini jauh lebih jujur daripada permen mahal di Jakarta.
😍😍😍
didunia nyata ada gak sihh cowok kayak juno 🤭🤭🤭
kasihan kyra udah terlalu banyak menderita apalagi lg hamil skrng 🥹🙏
cintanya ugal-ugalan bet daahh....
baguslah.... buang eek ayam dapet berlian nih si Kyra.. /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
daripada sama cowok pelit/Bye-Bye/