NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 SANG KUPU-KUPU YANG TERBANG MENJAUH

​​Jumat, 8 Juli 2020, Musim Panas

​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang tidak tertutup rapat, menusuk langsung ke mata Hazel milik Olivia Elenora Aurevyn. Gadis itu mengerang kecil, merasakan denyutan hebat di kepalanya seolah ada ribuan palu yang menghantam secara bersamaan. Aroma alkohol yang menyengat masih tertinggal di indra penciumannya, bercampur dengan aroma asing yang terasa sangat maskulin campuran antara kayu cendana dan keringat yang tajam.

​Olive mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang luar biasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya, membuatnya tersentak bangun sepenuhnya. Kesadarannya kembali secara perlahan, namun paksa. Dia menatap langit-langit kamar yang mewah, lalu perlahan menoleh ke samping.

​Jantungnya seakan berhenti berdetak.

​Di sampingnya, tergeletak seorang pria dengan punggung lebar yang kokoh, tertutup sebagian oleh selimut satin abu-abu yang berantakan. Pria itu tidur dengan posisi membelakanginya, menyisakan pemandangan bahu yang kekar dan garis-garis otot yang jelas. Olive menutup mulutnya dengan tangan, menahan jeritan yang hampir lolos. Bayangan-bayangan mengerikan semalam mulai berputar di kepalanya seperti film horor: suara kain yang robek, napas yang memburu, kata-kata kasar tentang "harga", dan rasa sakit yang menghancurkan dunianya.

​"Ya Tuhan... apa yang sudah kulakukan?" bisik Olive dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Air mata mulai menggenang di matanya yang indah. Primadona Monako itu kini hancur dalam satu malam.

​Dia tidak berani melihat wajah pria itu. Ketakutan akan kenyataan bahwa dia mungkin mengenali pria itu atau pria itu mengenalinya membuat Olive panik. Dia harus pergi. Sekarang juga.

​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Olive menggeser tubuhnya ke tepi ranjang. Setiap gerakan kecil menimbulkan rasa perih yang luar biasa di pangkal pahanya, namun ketakutan akan tertangkap jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya. Saat kakinya menyentuh lantai, dia melihat gaun Chanel kesayangannya sudah hancur tak berbentuk di lantai. Robek di sana-sini, benar-benar tidak bisa dipakai untuk keluar dari hotel ini tanpa mengundang kecurigaan.

​Olive melirik ke arah kursi di sudut kamar. Di sana tersampir sebuah kemeja hitam berbahan katun berkualitas tinggi. Tanpa pikir panjang, Olive meraih kemeja itu. Ukurannya sangat besar di tubuh mungilnya, menjuntai hingga ke tengah paha. Dia teringat ikat pinggang kulit mungil miliknya yang masih utuh di dekat tasnya. Dengan tangan gemetar, dia mengenakan kemeja itu, melingkarkan ikat pinggangnya di pinggang untuk menciptakan kesan gaun pendek yang modis namun tertutup.

​Dia mengambil tasnya, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari, dan berjalan terhuyung-huyung menuju pintu. Sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi ke arah ranjang. Pria itu masih tidak bergerak. Dengan sisa tenaganya, Olive memaksakan diri berjalan normal di koridor hotel, meskipun setiap langkah terasa seperti menginjak duri. Dia harus pulang sebelum Brian menyadari dia menghilang sepanjang malam.

​Tiga jam kemudian, di dalam kamar yang sama.

​Liam Maximilian Valerius mengerang saat kesadarannya perlahan kembali. Efek obat perangsang dosis tinggi yang menjebaknya semalam meninggalkan rasa haus yang luar biasa dan kepala yang berat. Matanya masih terpejam saat tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya.

​Kosong, Dingin.

​Liam membuka matanya seketika. Pandangannya masih sedikit buram, namun dia bisa merasakan ada yang hilang. Ingatannya tentang semalam terasa seperti kabut tebal, namun dia ingat rasa kulit yang lembut, desahan yang memilukan, dan perlawanan yang perlahan melunak.

​"Hanya mimpi?" gumam Liam dengan suara serak.

​Dia mencoba duduk, dan saat itulah matanya tertuju pada seprai putih yang kini berantakan. Di tengah-tengahnya, terdapat bercak merah tua yang sudah mengering, Bercak darah.

​Jantung Liam berdegup kencang, Itu bukan mimpi. Dia benar-benar telah mengambil kesucian seorang gadis semalam. Amarah dan rasa penasaran bergejolak di dadanya. Siapa gadis itu? Bagaimana dia bisa masuk? Dan kenapa dia pergi tanpa meminta satu sen pun darinya?

​Liam meraih ponselnya di atas nakas dan menekan nomor dengan cepat.

​"Marcus! Ke kamarku sekarang!" perintahnya dengan nada dingin yang mematikan.

​Hanya butuh waktu lima menit bagi Marcus, asisten pribadi Liam yang selalu sigap, untuk berdiri di depan pintu kamar. Liam saat itu sudah mengenakan kimono hitam, berdiri di balkon sambil menatap pemandangan Monte Carlo dengan tangan mengepal.

​"Tuan Liam," ucap Marcus membungkuk hormat.

​Liam berbalik, matanya yang tajam bak elang menatap Marcus dengan kebencian yang murni. "Di mana gadis yang semalam ada di sini?"

​Marcus tampak bingung. "Gadis? Maaf Tuan, menurut laporan keamanan, tidak ada wanita bayaran yang masuk ke lantai ini semalam. Kami sudah memblokir semua akses karena insiden penyusupan musuh Anda."

​BRAKK!

​Liam menghantam meja kayu di sampingnya hingga retak. "Lalu kau pikir darah di ranjang itu muncul sendiri?! Kau bilang keamanan sudah diblokir, tapi ada seorang gadis yang masuk ke kamarku, melayaniku, dan pergi begitu saja tanpa ada satu pun orangmu yang melihatnya?!"

​"Maafkan saya, Tuan. Saya akan segera memeriksa rekaman CCTV," ucap Marcus dengan peluh dingin bercucuran di dahinya. Dia tahu betul bahwa Liam yang marah adalah bencana bagi karirnya.

​"Kau tidak becus, Marcus! Jika dalam satu jam kau tidak mendapatkan identitasnya, kau tahu konsekuensinya!" teriak Liam. Suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Dia merasa terhina karena seseorang bisa masuk ke ruang pribadinya tanpa terdeteksi, terlebih seseorang yang kini telah mengambil sebagian dari dirinya.

​Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Marcus segera membukanya. Seorang pelayan hotel berdiri di sana dengan sikap kaku, membawa sebuah baki perak. Di atasnya terdapat sebuah surat yang dilipat rapi dan satu set pakaian resmi yang baru selesai di-laundry.

​"Pesan untuk Tuan kamar 999," ucap pelayan itu singkat.

​Marcus mengambil surat itu dan menyerahkannya pada Liam. Liam merobek amplopnya dengan kasar. Di dalamnya, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi namun tampak ditulis dengan terburu-buru.

​“Lupakan kejadian semalam. Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Aku tidak butuh uangmu, dan aku tidak butuh tanggung jawabmu. Kita impas kau memberiku perlindungan dari ketidakwarasanku semalam, dan aku memberikan apa yang kau ambil secara paksa. Jangan pernah mencariku.”

​Di ujung surat itu, ada sebuah inisial huruf ‘E’ kecil dengan gambar siluet kupu-kupu di bawahnya.

​Liam terdiam. Kemarahannya yang tadinya meledak-ledak tiba-tiba mereda, digantikan oleh rasa tertarik yang aneh. Dia mengusap permukaan kertas itu, mencium aroma parfum bunga lili yang samar aroma yang sama dengan yang dia hirup dari leher gadis itu semalam.

​Sebuah senyum smirk muncul di wajah tampan Liam. "E... Kupu-kupu..." gumamnya. "Kau pikir bisa lari dariku setelah meninggalkan jejak semudah ini?"

​Liam melirik Marcus yang masih berdiri ketakutan. "Cari tahu semua gadis bangsawan di Monako yang memiliki inisial E dan keterkaitan dengan simbol kupu-kupu. Dan Marcus..."

​"Ya, Tuan?"

​"Cari tahu siapa yang mengirimkan obat itu semalam. Aku ingin kepala mereka ada di mejaku sebelum matahari terbenam. Aku tidak suka dijebak, apalagi jika itu membuatku melakukan kesalahan pada gadis yang... menarik seperti ini."

​Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Aurevyn, Olive berhasil masuk melalui pintu belakang yang jarang digunakan. Dia berlari menuju kamarnya dengan napas tersengal-sengal. Beruntung, orang tuanya, Bram dan Feli, sedang berada di Paris untuk urusan bisnis, sehingga hanya ada Brian dan para pelayan di rumah.

​Namun, harapan Olive untuk tidak bertemu siapa pun sirna saat dia melihat Brian Sterling Aurevyn berdiri di puncak tangga dengan tangan bersedekap.

​"Dari mana saja kau, Olivia?" tanya Brian dengan suara berat yang penuh wibawa. Tatapannya tertuju pada pakaian yang dikenakan adiknya. "Itu bukan bajumu. Itu kemeja pria. Dan kenapa kau jalan seperti itu?"

​Olive membeku. Otaknya berputar cepat. "A-aku... semalam Zee merayakan ulang tahunku terlalu berlebihan, kak. Aku menumpahkan minuman ke gaunku dan Zee meminjamkan kemeja milik... milik Kenzo padaku agar aku bisa tidur di hotel dengan nyaman. Aku... aku hanya sedikit pegal karena salah posisi tidur."

​Brian menyipitkan mata Deep Amber-nya. Dia sangat protektif terhadap Olive. "Kemeja Kenzo? Kenapa bukan Zee yang meminjamkan bajunya?"

​"Zee... dia juga mabuk, kak. Vera yang mengurus semuanya," sahut Olive cepat, mencoba terdengar meyakinkan meski hatinya hampir meledak karena ketakutan. "Aku mau mandi dan tidur. Kepalaku sakit sekali."

​Olive langsung berlari melewati Brian, mengabaikan tatapan curiga kakaknya. Begitu sampai di kamar, dia mengunci pintu dan merosot ke lantai. Dia menangis dalam diam, meratapi harga dirinya yang hancur. Dia benci pria itu, pria tanpa wajah yang telah merusak malam legalnya.

​"Aku benci kamu... siapapun kamu, aku harap kita tidak pernah bertemu lagi," isak Olive sambil memeluk lututnya.

​Kembali ke kantor pusat Valerius Defense & Security Group. Liam duduk di kursi kebesarannya, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV hotel semalam yang berhasil dipulihkan Marcus setelah sempat dihapus oleh seseorang.

​Namun, hasilnya nihil. Gadis itu sangat pintar atau mungkin beruntung. Dia menundukkan kepala dan menutupi wajahnya dengan rambut saat melewati kamera di koridor. Satu-satunya hal yang terlihat jelas adalah saat gadis itu keluar dari lift menuju lobi hotel: dia mengenakan kemeja hitam Liam, berjalan dengan langkah tertatih namun berusaha tetap tegak.

​"Sial!" Liam menggebrak mejanya lagi. "Kenapa kualitas kamera di hotel bintang lima itu sangat buruk saat fokus pada wajahnya?!"

​"Tuan Liam, kami sudah memeriksa daftar tamu. Kamar 666 dipesan atas nama keluarga Caelmont, namun semalam terjadi kekacauan sistem yang membuat kunci kamar 999 bisa diakses oleh tamu lain karena kesalahan sinkronisasi server yang diretas oleh musuh Anda," lapor Marcus.

“Keluarga Caelmont?” Liam mengernyitkan dahi. “Maksudmu Zaylee Caelmont? Tapi semalam… gadis itu terasa jauh lebih murni. Sedangkan Zaylee adalah kekasih Kenzo. Tidak masuk akal jika Kenzo yang seusia denganku belum pernah menidurinya.”

​Liam teringat inisial 'E'. Elenora? Elizabeth? Elena? Ada terlalu banyak nama dengan inisial E di kalangan elit Monako.

​"Tuan, ada satu informasi lagi," Marcus menambahkan. "Semalam adalah ulang tahun putri dari Aurevyn Global Group, Olivia Elenora Aurevyn. Geng mereka, The Royal Lustre, merayakannya di klub bawah hotel tersebut."

​Liam tertegun. Olivia Elenora. Inisialnya memang E, tapi Olivia dikenal sebagai The Golden Butterfly primadona yang sangat dijaga ketat, elegan, dan hampir mustahil tersentuh skandal. Tidak mungkin gadis sepolos Olivia masuk ke kamarnya dalam keadaan mabuk dan membiarkan dirinya disentuh secara kasar.

​"Olivia?" Liam bergumam. Dia mengambil kertas surat tadi dan melihat gambar kupu-kupu di sudutnya. The Golden Butterfly.

​"Marcus, siapkan jadwal pertemuan dengan Bramasta Aurevyn minggu depan. Katakan padanya aku tertarik untuk berinvestasi di proyek hotel baru mereka di pesisir Monte Carlo," perintah Liam dengan mata berbinar penuh rencana.

​"Tapi Tuan, bukankah Anda tidak tertarik pada bisnis perhotelan?"

​Liam berdiri, membetulkan jas tiga lapis buatannya yang sempurna, dan menatap keluar jendela ke arah kediaman Aurevyn yang terlihat dari kejauhan.

​"Aku tidak tertarik pada hotelnya, Marcus. Aku tertarik pada kupu-kupu yang bersembunyi di dalamnya. Jika benar itu dia, aku akan memastikan dia tidak akan bisa terbang jauh dariku lagi."

​Liam tidak tahu bahwa di sisi lain kota, Olive sedang mencoba menghapus semua jejak kejadian semalam, membuang kemeja hitam itu ke tempat pembakaran sampah dan bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki di klub itu lagi. Namun, takdir di Monte Carlo tidak pernah sesederhana itu. Kesalahan yang seharusnya tidak terjadi itu kini telah berubah menjadi benang merah yang mulai menjerat mereka berdua dalam permainan kucing dan tikus yang berbahaya.

​"Kau menantangku untuk melupakanmu, E," desis Liam sambil membayangkan kembali desahan seksi Olive semalam. "Tapi kau lupa bahwa aku adalah penguasa keamanan di kota ini. Tidak ada yang bisa bersembunyi dari Liam Maximilian Valerius."

​Liam segera memanggil tim IT miliknya untuk melacak semua transaksi dan pergerakan di sekitar hotel semalam dengan lebih detail. Dia tidak akan membiarkan asistennya bersantai sebelum gadis itu ditemukan. Amarahnya pada musuh yang meracuninya masih ada, namun obsesinya pada sang "E" kini jauh lebih besar.

​Di tempat lain, Zee menelpon Olive dengan suara panik. "Olive! Kau tidak apa-apa? Kenapa kau pulang duluan tanpa memberitahu kami? Dan... kau melihat kunci kamarku? Aku mencarinya ke mana-mana!"

​Olive menggigit bibirnya, menahan tangis. "Aku... aku menjatuhkannya, Zee. Maafkan aku. Aku sangat pusing semalam. Jangan tanya apa-apa lagi, oke? Aku hanya ingin istirahat."

​Olive menutup teleponnya. Dia tahu, mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia bukan lagi gadis polos yang hanya memikirkan matcha dan gaun bunga. Ada rahasia gelap yang kini terkunci di dalam rahimnya, rahasia yang melibatkan pria dingin paling ditakuti di Monako.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!