Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi Pahit
Kantin Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada siang itu ramai seperti biasa. Deretan meja panjang memenuhi area terbuka dengan atap transparan yang membiarkan cahaya matahari masuk, menciptakan suasana hangat meski di bulan November.
Bau pecel lele, ayam goreng, soto, dan berbagai masakan kampus bercampur jadi satu, berkompetisi dengan aroma kopi dari gerai kecil di pojok kantin.
Kay duduk di meja dekat pilar, posisi strategis yang memungkinkannya melihat hampir seluruh area kantin tanpa terlihat mencolok.
Ia hari ini mengenakan tunik panjang motif bunga-bunga kecil dengan warna dasar biru dongker, dipadukan dengan legging hitam dan sneakers putih.
Rambut panjangnya dikepang samping dengan gaya santai, beberapa helai sengaja dibiarkan terurai membingkai wajah. Penampilan yang terlihat effortless, tapi sebenarnya sudah dipikirkan sejak semalam.
Di hadapannya, Mika sedang asyik menyendok pecel lele dengan lahap, sama sekali tidak peduli dengan misi rahasia mereka hari ini.
Mika memakai sweater oversized warna krem dengan celana jeans biru dan sepatu pantofel hitam, rambut pendeknya dijepit dengan klip lucu berbentuk bunga matahari.
"Mik, lo bisa nggak sih makan pelan-pelan? Gue jadi grogi liatnya," desis Kay, matanya tetap awas memindai sekitar.
Mika mengunyah dengan santai. "Gue laper. Tadi pagi cuma makan roti. Lagian, lo yang suruh gue dateng ke kantin teknik jam segini. Lo tahu sendiri dari FEB ke sini tuh jauh, apalagi gue jalan kaki."
"Naik ojek online, Mik. Lo kan bisa."
"Buang-buang uang. Lagian, jalan kaki sehat." Mika menyendok nasinya lagi. "Jadi, rencana lo apa? Cuma duduk di sini sambil liatin Bima makan?"
Kay menghela napas. "Gue nggak tahu. Gue cuma... mau lihat dia."
"Lo stalker."
"Bukan stalker! Gue cuma..."
"Penasaran. Iya, gue tahu." Mika menyeringai.
"Ngomong-ngomong, lo yakin dia bakal ke sini? Informan gue katanya Bima sering makan di kantin teknik karena dekat dengan kosnya."
Kay mengangguk, matanya masih awas.
"Katanya dia suka datang jam segini. Habis kelas siang."
Mika mengamati Kay dengan tatapan geli.
"Kay, lo sadar nggak sih, lo sekarang kayak agen rahasia yang sedang bertugas. Matanya jelalatan ke kiri kanan. Kalo ada dosen lewat, lo bisa dikira ujian."
Kay melempar sedotan plastik ke arah Mika. "Diem lo."
Tiba-tiba, jantung Kay berhenti berdetak. Di pintu masuk kantin, muncul sosok yang sudah ia tunggu-tunggu. Bima Wijaya berjalan dengan langkah santai, ransel hitam lusuh tersampir di satu bahu.
Hari ini ia mengenakan kemeja lengan panjang warna biru laut dengan celana bahan hitam yang kelihatannya sudah agak lusuh di bagian lutut. Sepatu kets putihnya sama seperti kemarin. Rambut ikalnya sedikit berantakan.
"Dia datang," bisik Kay, suaranya hampir tidak terdengar.
Mika langsung menegakkan punggung, ikut mengamati. "Mana? Oalah. Ya ampun, Kay. Lo nggak salah? Dia biasa banget."
"Tapi dia Bima."
Mika menggeleng-geleng. "Cinta itu buta. Atau dalam kasus lo, cinta itu bikin lo buta sama laki-laki lain yang lebih ganteng."
"Diem lo."
Bima berjalan menuju gerai nasi pecel di pojok kantin. Ia antre dengan sabar di belakang dua mahasiswa lain, sesekali mengeluarkan ponsel dan melihatnya.
Kay mengamati setiap gerakannya cara ia berdiri dengan berat badan bertumpu pada satu kaki, cara ia memasukkan ponsel ke saku belakang celana setelah selesai, cara ia memesan dengan suara pelan.
Setelah mendapat nasi pecel dengan lauk tempe saja, Bima membayar dengan uang pas—Kay bisa melihat ia mengeluarkan koin-koin receh dari sakunya, menghitungnya sebentar, lalu menyerahkannya. Tanpa menunggu kembalian, ia membawa nasi pecelnya ke meja kosong di pinggir, dekat tiang penyangga atap.
"Sendirian," komentar Mika. "Dia selalu sendirian?"
"Iya. Katanya gitu."
Bima duduk, mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya—buku tebal dengan sampul warna biru tua—lalu mulai makan sambil membaca. Ia benar-benar fokus, sesekali mengunyah pelan sambil matanya menyusuri baris-baris tulisan.
"Gila," desis Mika. "Makan sambil baca buku tebel. Itu namanya nggak bisa lepas dari dunia akademis."
"Atau mungkin dia nggak punya teman ngobrol."
Mika menatap Kay dengan iba. "Kay..."
"Apa?"
"Nada lo sedih. Lo kasian sama dia?"
Kay tidak menjawab. Ia memang merasa kasihan—tapi juga kagum. Bima tidak terlihat kesepian. Ia terlihat damai dengan dunianya sendiri.
Tiba-tiba, seorang gadis berjilbab pink dengan senyum lebar mendekati meja Bima. Tasya Namira—mahasiswi Komputer yang kemarin ada di story Instagram.
Hari ini Tasya mengenakan dress bahan warna cream dengan outer pink senada, jilbabnya dibiarkan panjang menutupi dada. Wajahnya bulat dengan pipi chubby yang membuatnya terlihat manis.
"Bim!" sapa Tasya ceria, suaranya cukup keras terdengar sampai ke meja Kay. "Lo lagi makan? Boleh gue gabung?"
Bima mengangkat kepala dari bukunya. Melihat Tasya, ekspresinya tidak berubah—masih datar, tanpa senyum, tanpa antisipasi. Tapi ia mengangguk. "Boleh."
Tasya duduk di hadapan Bima dengan semangat, mengeluarkan tas bekal dari ranselnya—sebuah kotak makan dua tingkat yang lucu. "Nih, gue bawa lauk tambahan. Kebanyakan. Lo bantuin"
Bima menatap bekal itu, lalu ke Tasya. Matanya menyipit sedikit dengan curiga dan ragu. "Gak usah."
"Ah udah, makan aja. Nanti mubazir." Tanpa menunggu izin, Tasya membuka kotak makannya dan mengambil sepotong ayam goreng, lalu meletakkannya di piring Bima. "Ini enak, gue masak sendiri."
Kay mengepalkan tangannya di bawah meja. Mika yang melihat itu nyaris tersedak.
"Kay, lo nggak papa?" tanya Mika pelan.
"Gue baik-baik aja."
"Wajah lo bilang sebaliknya."
Bima menatap ayam goreng di piringnya dengan ekspresi sulit diartikan. Beberapa detik ia diam, lalu mengucapkan, "Makasih."
Tasya tersenyum lebar, senyum kemenangan. "Sama-sama! Oh iya, Bim, lo udah selesai tugas besar Algoritma? Gue masih bingung sama looping-nya."
Bima mengunyah nasi pecelnya pelan, lalu menjawab, "Udah."
"Boleh gue pinjam buat referensi?"
"Boleh."
Tasya berseru senang. "Makasih, Bim! Lo emang baik banget. Nanti gue traktir es krim deh sebagai ucapan terima kasih."
"Gak usah."
"Ah, cuek banget sih." Tasya cemberut manja. "Boleh dong gue traktir. Temen tuh harus saling traktir."
"Kita bukan temen."
Tasya tersenyum—tidak tersinggung, justru tertantang. "Ya makanya, kita harus jadi temen dulu biar bisa saling traktir."
Percakapan itu berlanjut dengan Tasya yang terus mengoceh dan Bima yang sesekali menjawab singkat. Tapi ia tetap di sana. Tidak pergi. Kadang matanya masih ke buku, kadang ke Tasya, kadang ke sekeliling.
"Mereka akrab juga ya," komentar Mika hati-hati.
"Enggak," potong Kay. "Dia cuma... nerima. Tapi nggak ngasih."
"Apa maksud lo?"
"Dia dengerin Tasya, dia jawab kalau ditanya, dia terima ayam goreng itu. Tapi dia nggak ngajak ngobrol balik, nggak nanya kabar, nggak inisiatif apa-apa. Dia cuma... ada di sana."
Mika mengamati sebentar. "Lo bener. Itu interaksi satu arah. Tasya yang berusaha, Bima cuma ngalir aja."
"Nah."
Tapi tetap saja, Kay merasa tidak nyaman. Melihat Tasya begitu dekat, begitu bebas duduk di hadapan Bima, begitu leluasa menaruh lauk di piringnya—itu membuat dadanya sesak.
"Hei, lo ada di sini ternyata."
Suara berat menyapa dari belakang. Kay menoleh dan mendapati Rendra berdiri dengan dua gelas kopi di tangan. Hari ini Rendra tampil necis dengan kemeja putih lengan digulung hingga siku, celana chino beige, dan sepatu pantofel coklat mengkilap. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi yang lebar dan alis tebal.
"Gue cari lo ke FEB, kata orang lo ke sini. Ini gue beliin kopi kesukaan lo," Rendra meletakkan satu gelas kopi di depan Kay—caramel macchiato dengan foam art hati.
Mahasiswa lain mulai melirik. Rendra dan Kay—pasangan idola kampus versi mereka. Beberapa bahkan berbisik-bisik sambil tersenyum.
"Makasih, Ren. Tapi gue lagi—"
"Lo lagi ngapain di sini? Kantin teknik jauh banget." Rendra duduk di samping Kay tanpa diundang, menempatkan diri dengan percaya diri.
Kay menatap Mika minta tolong, tapi Mika hanya mengangkat bahu dengan ekspresi 'lo hadapi sendiri'.
"Gue lagi... riset," jawab Kay asal.
"Riset apa?"
"Riset..." Kay melirik ke meja Bima yang sekarang—oh tidak—Bima sedang menatap ke arah mereka. Matanya bertemu dengan Kay untuk sesaat, lalu kembali ke bukunya. "Riset perilaku laki-laki cuek."
Rendra mengerutkan kening. "Apa?"
Mika terkekeh. "Udah Ren, lo nggak akan ngerti."
Rendra tidak menyerah. Ia meraih tangan Kay, gerakan yang terlalu tiba-tiba dan terlalu akrab.
"Kay, gue udah lama pengen ngomong serius sama lo. Kapan lo ada waktu? Gue mau ngajak lo dinner."
Kay menarik tangannya dengan sopan tapi tegas. "Ren, gue lagi sibuk. Tugas numpuk."
"Tugas bisa diatur. Gue bisa bantu."
"Bukan cuma tugas. Gue ada urusan keluarga."
Rendra menghela napas, tapi masih tersenyum. "Lo selalu punya alasan, Kay. Tapi gue nggak akan nyerah."
"Makasih, Ren. Tapi jangan terlalu berharap."
Suasana menjadi canggung. Rendra masih berusaha memulai percakapan, bertanya ini itu, tapi Kay menjawab seadanya sambil matanya terus melirik ke meja Bima.
Di meja itu, Tasya masih mengoceh, sesekali tertawa kecil. Bima sudah selesai makan, menutup bukunya, dan bersiap pergi. Tasya ikut berdiri, masih melanjutkan obrolan.
Mereka berjalan melewati meja Kay—tidak sengaja, karena pintu keluar ada di dekat situ. Saat melewati, Tasya melambai pada Rendra.
"Hai, Ren! Lo di sini? Kenalan sama Bima, yuk. Bima, ini Rendra ketua BEM. Rendra, ini Bima temen gue."
Bima menatap Rendra sekilas, lalu matanya beralih ke Kay. Untuk kedua kalinya, mata mereka bertemu.
"Hei," kata Bima.
"Hei," balas Kay, suaranya lemah.
Rendra yang merasa diabaikan mengulurkan tangan. "Rendra Pratama. Salam kenal."
Bima menjabat tangannya sebentar. "Bima Wijaya."
"Lo anak mana?"
"Ilmu Komputer."
"Wah, pinter dong pasti." Rendra tersenyum ramah. "Gue denger-denger anak ILKOM tuh jago ngoding."
Bima mengangguk. "Makasih."
Tasya yang tidak mau ketinggalan menarik lengan Bima. "Bim, ayo kita ke perpus. Lo janji mau minjemin buku, kan?"
Bima mengangguk lagi. "Iya."
Sebelum pergi, Bima melirik Kay sekali lagi—lirikan singkat, hampir tidak terlihat. Tapi Kay menangkapnya. Lalu Bima pergi bersama Tasya yang masih berceloteh.
Kay menatap punggung Bima hingga menghilang di balik pintu. Rendra masih bicara sesuatu, tapi Kay tidak mendengar.
Pikirannya hanya pada lirikan terakhir itu—apa artinya? Apa Bima tahu ia memperhatikan? Atau hanya kebetulan?
"Kay, lo denger gue?" Rendra menyentuh bahunya.
Kay tersentak. "Apa?"
"Gue bilang, gue anterin pulang aja nanti. Lo kelihatan capek."
"Enggak usah, Ren. Gue bawa mobil."
Rendra menghela napas, lalu berdiri. "Oke. Tawaran dinner gue masih berlaku kapan pun lo mau." Ia tersenyum, lalu pergi.
Setelah Rendra pergi, Mika menghela napas panjang. "Gila, Kay. Lo tadi liat kan tatapan Bima?"
"Tatapan apa?"
"Itu loh, pas dia mau pergi. Dia liat lo kayak... kayak mau ngomong sesuatu tapi nggak jadi."
"Gue nggak tahu. Mungkin cuma kebetulan."
Mika menggeleng-geleng. "Bukan kebetulan, Kay. Gue liat. Ada sesuatu di matanya. Lo harus cari tahu."
Kay menunduk, menatap kopi caramel macchiato yang masih utuh di depannya. Rasa manis yang biasanya ia sukai, hari ini terasa tidak menarik.
"Mik, gue tadi ngeliat Tasya begitu deket sama dia. Lo pikir... mereka?"
Mika mengerti maksud Kay. "Kay, dari yang gue liat, Tasya yang berusaha. Bima cuma... ada. Tapi nggak tahu ya, bisa jadi Bima nggak enakan nolak."
"Tapi dia terima ayam goreng itu."
"Dia juga bilang makasih. Itu cuma sopan santun."
Kay menghela napas. "Gue nggak tahu harus ngapain, Mik. Gue kayak orang bodoh yang nungguin sesuatu yang mungkin nggak akan terjadi."
Mika meraih tangan Kay. "Lo bukan bodoh, Kay. Lo cuma jatuh cinta. Dan jatuh cinta itu emang bikin orang melakukan hal-hal nggak masuk akal. Tapi percaya gue, kalo Bima nggak tertarik sama Tasya, dia bakal nunjukkin. Cuma butuh waktu."
Kay mengangguk pelan. Ia menyesap kopinya—manis, terlalu manis. Berbeda dengan Bima yang pahit dan sederhana. Tapi entah kenapa, rasa manis itu terasa hambar dibandingkan dengan sekadar melihat Bima tersenyum—walaupun senyum itu bukan untuknya.
Sore itu, saat Kay dan Mika berjalan menuju parkiran, ponsel Kay bergetar. Sebuah notifikasi dari Instagram—permintaan follow dari akun tanpa foto profil dengan username @bima_wjy.
Jantung Kay hampir berhenti.
"Mik!" pekiknya.
"Apa?"
"Ini dia! Bima follow Instagram gue!"
Mika merebut ponsel Kay, melihatnya, lalu tersenyum lebar. "Lo bilang dia cuek? Cuek apanya kalau sampai cari Instagram lo?"
Kay tidak tahu harus merasa apa. Ia hanya bisa menatap layar ponselnya dengan senyum mengembang—senyum yang sama seperti saat pertama kali melihat lukisan dirinya di buku sketsa Bima.
---
Malam harinya, di kos sederhananya, Bima duduk di depan laptop. Ponselnya bergetar—pemberitahuan bahwa Kayana telah menerima permintaan follow-nya. Ia menatap layar beberapa saat, lalu membuka profil Kay.
Foto-foto Kayana—di kafe, di perpustakaan, di berbagai tempat wisata. Semuanya cantik, semuanya sempurna. Tapi Bima tidak tertarik pada foto-foto itu. Ia scroll ke bawah, mencari sesuatu yang lebih... nyata.
Ia berhenti di satu foto lama—foto Kayana sedang tidur di meja perpustakaan, rambutnya berantakan, mulutnya sedikit menganga. Caption-nya: "Maba dulu, begadang demi uts 😴".
Bima tersenyum tipis. Ini dia—Kay yang asli. Bukan Kay yang sempurna di depan kamera.
Ia menyimpan foto itu—bukan untuk apa-apa, hanya untuk mengingatkan dirinya bahwa di balik topeng putri konglomerat, ada manusia biasa yang juga lelah, juga berjuang.
Lalu ia membuka galeri ponselnya, mencari satu file—sketsa Kay yang sudah ia selesaikan diam-diam semalam. Gambar itu sudah jadi, lengkap dengan arsiran dan detail yang sempurna. Ia menatapnya lama, lalu menutup galeri.
"Belum waktunya," gumamnya.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Tapi Bima tidak peduli. Pikirannya ada pada sepasang mata yang penuh tanya, pada senyum yang tulus saat melihat sketsanya, pada nama yang terus berulang di kepalanya.
Kayana.