Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal bersama
Yuna sedang memasak di dapur. Perutnya keroncongan, setelah pertempuran ranjang panas bersama Bastian yang baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Tetapi pergerakan gadis itu terhambat, oleh tubuh dan tangan nakal Bastian yang sejak tadi terus memeluknya erat.
"Om gak ada niatan untuk duduk santai di kursi gitu?" ujar Yuna, lelah karena kedua tangannya fokus pada masakan, tapi punggungnya juga fokus menopang bobot tubuh Bastian yang besar.
"Gak!" jawabnya singkat.
Yuna menghela nafas panjang. Tak percaya jika Om-om yang sebelumnya super galak itu, ternyata sangat manja padanya.
"Belum siap masaknya? lama banget sih kamu! Lelet kay siput!" ucap Bastian santai, tapi kata-katanya membuat Yuna cukup kesal.
"Gimana mau siap... Om nempel terus kayak lintah!" cibir Yuna pelan hampir berbisik.
"Aku dengar Yuna!" kata Bastian, berdiri untuk merenggangkan pinggangnya yang pegal. Karena terus memeluk tubuh mungil Yuna.
"Dengar apanya? aku gak ada bilang apa-apa kok," Yuna bermaksud untuk melarikan diri dari pelukan Bastian... Tapi sayangnya, pergerakannya kalah cepat dari pria dewasa itu.
Yuna ingin protes, sangat ingin protes. Tapi kata-katanya seperti angin lalu yang sama sekali tidak di dengarkan oleh Bastian. Akhirnya Yuna hanya bisa pasrah, memasak sambil terus di peluk oleh Bastian yang mendadak manja. Karena ia seperti menemukan kenyamanan dan kedamaian saat bersamamu Yuna... yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan dari wanita manapun, termasuk mntan istri dan mantan tunangannya.
Setelah semua hasil masakannya selesai, Yuna dan Bastian makan mall bersama. Makan malam? Lebih tepatnya makan tengah malam. Karena sejak Bastian pulang, mereka langsung memadu kasih di ranjang sampai hampir tengah malam.
"Makannya pelan-pelan saja, gak ada yang minta makanan kamu!" ucap Bastian, melihat Yuna makan dengan lahap. Seperti tidak makan selama seminggu.
"Aku begini juga gara-gara Om..." jawab Yuna dengan mulut terisi penuh dengan makanan.
"Memangnya apa salahku?"
Ekspresi santai yang Bastian tampilkan, membuat Yuna geram bukan main. Jika Bastian bukan sumber uangnya, maka... piring ini pasti sudah melayang ke atas kepalanya.
"Ciiih! Tua Bangka gak ngaku!" cicit Yuna pelan, sangat-sangat pelan. Hingga Bastian hampir tidak bisa mendengarnya.
"Kamu bilang apa tadi?" Bastian menghentikan suapannya.
Yuna menggeleng cepat. "Gak bilang apa-apa kok, Om!" Yuna membuang pandangan ke arah lain. Jujur saja, sebenarnya Yuna tak kuat memandang wajah tampan nan tegas itu.
"Oh iya, Om malam ini nginap disini?" tanya Yuna disela makan.
Bastian mengangkat sebelah alisnya, merasa aneh dengan pertanyaan yang Yuna layangan kan. "Kalau gak tidur disini? Lalu aku mau tidur dimana?".
"Di rumah Om lah! Masa di kolong jembatan!"
"Inikan rumahku? Kita akan tinggal bersama" sambung Bastian.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Yuna terbatuk-batuk. Bastian memberikan segelas air panasnya.
"Udah dibilang pelan-pelan. Gak ada yang mau merebut makanan mu!" kata Bastian menggelengkan kepala.
Yuna langsung menandaskan semua air yang ada di dalam gelas itu. Tenggorokannya terasa cukup sakit gara-gara tersedak makanan.
"Jadi kita tinggal bareng disini gitu Om?" Yuna syok mendengarnya. Karena sebelumnya Yuna mengira ia akan tinggal sendirian di apartemen ini.
Bastian meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Ia membasahi tenggorokan dengan segelas air sebelum bicara.
"Menurut kamu... dengan samua fasilitas yang ku berikan, apakah cukup sepadan jika kita tinggal bersama?"
Yuna diam. Ia tampak berfikir. Jika dibandingkan, apa yang ia dapatkan dan yang ketiga sahabatnya dapatkan, memang perbedaannya sangat jauh. Hasya, Mega dan Lily hanya diberi uang jika mereka selesai melayani dsn menemani Om-om tersebut. Penghasilan mereka perbulan tidak pasti, kadang banyak dan kadang juga sedikit. Berbeda dengan dirinya yang mendapatkan jatah bulanan.
"Kenapa diam? Kamu keberatan?" Bastian kembali bersuara.
"Eh nggak kok Om!" sambung Yuna cepat.
Sial! bibirnya malah langsung menjawab lebih cepat, sebelum otaknya selesai berfikir.
"Bagus! tapi ingat... selama kamu masih jadi sugar baby ku, kamu tidak boleh berhubungan dengan pria manapun. Karena aku paling benci berbagi!" ucap Bastian, bukan hanya sekedar pemberitahuan... tetapi juga peringatan.
"Siap Om! tapi sesekali sahabat-sahabat aku boleh datang kan?"
Bastian mengangguk, membuat Yuna tersenyum senang.
"Boleh aja! tapi mereka sudah harus pergi, sebelum aku pulang, mengerti!" kata Bastian.
Yuna mengangguk, ia sangat kegirangan.
Cup!
Yuna mencium pipi Bastian.
"Hadiah karena Om baik sama aku!" jelas Yuna dengan pipi yang merona.
Bastian menggelengkan kepala. Tapi kedua sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyum. "Rasanya aku seperti kembali muda!" batin Bastian.
Tanpa pria itu sadari... hadirnya Yuna dalam hidupnya, memberikan warna yang berbeda dalam kesehariannya yang monoton dan kelabu. Perlahan-lahan, wajah kaku dan dingin yang sudah setia menemaninya... sekarang mulai mengendur dsn lebih sering tersenyum saat bersama dengan Yuna.
Yuna, gadis SMA yang tadinya hanya sekedar pelampiasan dari rasa sakit dan kecewa. Ternyata, sekarang malah memberikan kenyamanan, dan kedamaian yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan... akan ia rasakan.
Sedangkan di sisi lain...
Edo sedang berbaring di kamar besar yang ada di rumah Mala. Mala? Ya, sejak Yuna pergi... Mala meminta Edo untuk tinggal bersamanya. Bukan tanpa alasan, sebenarnya wanita itu kesepian sejak ditinggal oleh putri semata wayangnya. Tapi ego dan jiwa mudanya yang masih meronta-ronta, membuat akal sehatnya tertutup. Hingga mementingkan kesenangan sesaat, tinggal melupakan kebersamaan dengan putrinya yang ia kandung dsn ia besarkan dengan susah payah.
"Kamu sedang apa?" Mala masuk ke kamar Edo. Wanita itu Bru pulang sehabis lembur di kantor. Tapi saat melihat lampu kamar Edo yang menyala dan pintu yang tidak tertutup, membuatnya penasaran.
"Eh Tante! Aku gak bisa tidur," Edo bangkit dari posisi berbaring.
Mala melirik layar ponsel Edo yang masih memakai wallpaper foto putrinya.
"Masih mikirin Yuna?" Mala duduk di tepi ranjang. Hatinya sedikit panas, mengetahui pria muda itu masih memikirkan anaknya.
Edo mengangguk pelan. "Seharusnya semua ini gak terjadi Tante... Seharusnya aku gak kemakan bujuk rayu Tante!"
Sejak melihat Yuna yang sebelumnya manja jadi menjauh, bahkan sangat-sangat menjauh darinya. Membuat Edo merasakan penyesalan di dalam hati, yang tadinya tidak terlalunia hiraukan. Tapi semakin lama, semakin menjadi.
"Jadi kamu menyesal?" nada bicara Mala berubah ketus.
Edo diam. Ia sendiri juga tidak tau jawabannya. Apakah ia benar-benar menyesal, atau sebenarnya ini hanya rasa tak terima. Karena tidak bisa lagi memiliki Yuna.
Mala meraih tangan Edo, mengusap lembut punggungnya. "Jangan terlalu dipikirkan. Suatu saat nanti, Yuna pasti akan kembali. Gadis itu sejak kecil sudah hidup mewah dan berkecukupan. Tidak mungkin selamanya ia bertahan hidup pas-pasan di luar sama. Apalagi, aku sudah tidak lagi membayar uang sekolahnya. Disaat terjepit, kemana lagi dia harus pergi... jika bukan ke sini!" tutur Mala menenangkan.
Edo mengangguk. Sepertinya ia termakan bujuk rayu Mala. "Benar juga apa yang Tante katakan! Yuna pasti kembali!" Edo kembali bersemangat.
Mala tersenyum, ia senang mendengarnya. "Sekarang, lebih baik kita senang-senang saja!" Mala membuka blazer dsn kancing kemejanya satu persatu.
Edo yang memang memiliki ketertarikan lebih terhadap wanita yang jauh lebih tua langsung tergoda. Pria muda itu lngsung mencakup slah satu gunung kembar Mala, untuk ia masukkan ke dalam mulut.
Mala mendongak, mulutnya menganga... mengeluarkan suara desahan yang semakin memancing hasrat keduanya.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya