Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: SANG PENYELAMAT PALSU
Valerie menatap kanvas di depannya dengan binar mata yang sulit dijelaskan. Selama bertahun-tahun, ibunya selalu mencibir kegemarannya mencoret-coret kertas sebagai aktivitas "anak bodoh yang tidak tahu diri". Baginya, Valerie harusnya belajar bisnis agar bisa berguna bagi keluarga Adiwijaya, bukan menjadi pelukis yang dianggap tidak memiliki masa depan.
Namun hari ini, di bawah lampu studio yang terang, Valerie merasakan sensasi luar biasa saat kuas pertamanya menyentuh permukaan kain. Ia larut dalam dunia warna, seolah-olah setiap goresan itu adalah bentuk balas dendamnya terhadap masa lalu yang mengekang.
"Garis yang berani," sebuah suara berat tiba-tiba menginterupsi dari belakang.
Valerie menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya dengan rambut beruban namun bergaya trendi. "Saya Prof. Bramantyo. Kamu mahasiswi pindahan yang didaftarkan secara khusus itu?"
Valerie mengangguk kaku. "Iya, Prof. Saya Valerie."
"Bakatmu murni, tapi penuh kemarahan," Prof. Bram membingkai kanvas Valerie dengan jemarinya. "Simpan kemarahan itu di kanvas, jangan di hatimu. Lanjutkan."
Saat Valerie kembali asyik dengan dunianya, ia tidak menyadari bahwa dari balik kaca pintu studio yang buram, Revan sedang berdiri mematung. Revan sengaja tidak masuk. Ia hanya ingin memastikan keadaan Valerie yang mulai bisa kembali merajut mimpinya.
Kau terlihat jauh lebih cantik saat memegang kuas daripada saat memegang gelas alkohol di bar itu, Erie, batin Revan sebelum ia berbalik menuju kantornya di gedung seberang.
Setelah menghabiskan pagi yang indah di Studio Lukis, Valerie harus menghadapi kenyataan pahit: mata kuliah pilihan Pengantar Hukum Perdata. Ia melangkah masuk ke gedung Fakultas Hukum yang suasananya jauh lebih kaku dan formal dibandingkan fakultasnya.
Ruang kuliah 402 sudah penuh sesak. Valerie duduk di barisan paling belakang, mencoba bersembunyi di balik tudung hoodie-nya. Namun, suasana mendadak senyap saat pintu depan terbuka.
Revanza Malik masuk dengan langkah yang memancarkan otoritas. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, membawa tas kulit dan aura dingin yang sanggup menurunkan suhu ruangan. Ia tidak lagi tampak seperti pria yang tidur berantakan tadi pagi, saat ini ia adalah sang predator hukum.
"Selamat siang semuanya. Saya Pak Revan, saya akan kembali mengingatkan Di kelas saya, hanya ada tiga aturan, Jangan terlambat, jangan berisik, dan jangan pernah berpikir Anda bisa lulus tanpa membaca modul saya," ucapnya datar tanpa senyum.
Mata tajam Revan menyisir seluruh ruangan, hingga akhirnya ia berhenti tepat pada sosok gadis di barisan belakang yang sedang sibuk mencoret-coret buku sketsanya.
"Saudari yang mengenakan hoodie abu-abu di baris belakang," suara Revan menggelegar.
Valerie tersentak, ia mendongak dan mendapati seluruh kelas menatapnya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat tatapan dingin Revan yang tidak menunjukkan sedikit pun rasa kenal.
"Ya... saya?" jawab Valerie kaku.
"Di kelas saya, menggambar tidak akan membantu Anda memahami pasal-pasal. Letakkan pensil Anda, atau Anda bisa keluar sekarang juga," ucap Revan tegas.
Valerie menggigit bibir bawahnya. Paman tua ini benar-benar tidak main-main, batinnya kesal. Ia menutup buku sketsanya dengan kasar.
Namun, hukuman Revan belum berakhir. Sepanjang jam kuliah, Revan sengaja mencecar Valerie dengan pertanyaan-pertanyaan sulit.
"Saudari Valerie, jelaskan definisi subjek hukum dalam konteks perdata menurut Pasal 1320 BW," tuntut Revan.
Valerie ternganga. "Saya... saya baru hari pertama masuk, Pak."
"Hukum tidak peduli apakah Anda baru atau lama. Ketidaktahuan bukanlah alasan," Revan berjalan mendekat ke arah meja Valerie, berdiri menjulang di depannya. "Karena Anda tidak bisa menjawab, silakan berdiri di samping meja Anda sampai kelas saya berakhir. Dan kerjakan rangkuman Bab 1 hingga 5, kumpulkan besok pagi di meja saya tepat pukul 7."
Seisi kelas berbisik-bisik, beberapa merasa kasihan, namun tak sedikit yang menahan tawa melihat mahasiswi seni yang malang itu "dikuliti" oleh dosen paling killer di kampus.
Valerie berdiri dengan kaki yang mulai pegal dan hati yang mendidih. Ia menatap punggung Revan dengan tatapan tajam. Semalam dia yang memintaku untuk tidur satu ranjang dengannya, bahkan tadi pagi dia mengusap keningku dengan lembut, sekarang dia menyiksaku seperti ini? Dasar pria berkepribadian ganda!
Setelah dua jam yang terasa seperti selamanya, kelas berakhir. Revan membereskan berkasnya tanpa menoleh sedikit pun pada Valerie.
"Kelas selesai. Saudari Valerie, jangan lupa tugas Anda. Terlambat satu menit, nilai Anda saya anggap nol," ucap Revan sebelum melenggang pergi meninggalkan ruangan.
Setelah meninggalkan ruang kuliah dengan langkah tegap yang dipenuhi wibawa, raut wajah Revan berubah total saat pintu ruang pribadinya tertutup rapat. Topeng dosen killer itu luruh, digantikan oleh gurat kecemasan dan kemarahan yang tertahan.
Ia melemparkan tas kulitnya ke atas meja dan segera menyalakan monitor komputer. Tangannya bergerak cepat, membuka sebuah folder terenkripsi yang berisi potongan-potongan bukti dari malam penangkapan gambar dan video mereka di kelab.
Revan meraih ponselnya dan melakukan panggilan melalui jalur pribadi. "Bimo, masuk ke ruanganku sekarang."
Tak lama, seorang pria dengan pakaian kasual namun memiliki sorot mata tajam masuk. Bimo adalah mantan intelijen swasta yang kini bekerja sebagai kepala keamanan sekaligus penyelidik kepercayaan Revan.
"Apa yang kau temukan?" tanya Revan tanpa basa-basi.
Bimo meletakkan sebuah tablet di meja Revan, menampilkan analisis metadata dari foto skandal yang dikirimkan ke Kakek Valerie. "Foto ini diambil menggunakan lensa tele dari jarak sekitar lima belas meter. Pelakunya tidak berada di dalam kerumunan, tapi sudah menunggu di lantai mezanin kelab sebelum kau dan Valerie sampai."
"Sudut pandangnya?"
"Sengaja diatur agar kau terlihat seolah sedang mencium paksa Valerie yang dalam kondisi mabuk, padahal dari sudut CCTV yang berhasil aku retas..." Bimo menggeser layar, "...kau hanya sedang mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai."
Revan menyipitkan mata. Kemarahannya mendidih saat melihat rekaman CCTV yang buram itu. Ia melihat seorang pria berdiri di sudut lantai mezanin, memegang kamera, lalu dengan tenang berjalan keluar melalui pintu staf tak lama setelah kilatan lampu kamera mengenai Revan.
"Pria ini," Revan menunjuk ke arah layar. "Dia bukan wartawan amatir. Dia tahu celah keamanan kelab itu."
"Benar, Bos. Dan aku sudah melacak aliran dana dari rekening siluman yang membayar fotografer itu. Uangnya berasal dari perusahaan cangkang yang terafiliasi dengan Arsenio Dirgantara."
Mendengar nama itu, rahang Revan mengeras. Arsenio. Rival abadi Revan sejak mereka masih berada di firma hukum yang sama. Arsen adalah putra dari salah satu pemegang saham utama di perusahaan keluarga Adiwijaya yang selalu merasa terancam dengan posisi Revan sebagai "anak angkat kesayangan" sang Kakek.
"Arsen..." desis Revan. "Dia tahu aku sangat menjaga martabat Valerie. Dengan memfitnahku seperti ini, dia pikir Kakek akan mengusirku dan ia bisa dengan mudah mengambil alih posisi tangan kanan sekaligus mendekati Valerie untuk menguasai warisannya."
Revan bangkit dan berjalan ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke gedung Fakultas Seni, tempat istrinya, yang baru saja ia hukum di kelas, dan saat ini sedang menimba ilmu di sana.
"Dia menggunakan Valerie sebagai umpan," suara Revan merendah, penuh ancaman. "Arsen tahu Valerie adalah titik lemahku. Dia ingin menghancurkan reputasiku sekaligus merusak masa depan Valerie."
"Apa rencana kita, Bos? Haruskah kita lapor kepada Pak Adiwijaya?" tanya Bimo.
"Jangan dulu. Kakek sedang dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil. Jika dia tahu Arsen dalangnya, akan terjadi perang terbuka yang membahayakan posisi Valerie di keluarga," Revan membalikkan tubuh, matanya berkilat dingin. "Biarkan Arsen merasa dia menang. Biarkan dia berpikir bahwa pernikahan paksa ini adalah hukuman bagiku."
Revan mengambil secarik kertas yang berisi jadwal harian Arsenio.
"Terus awasi setiap langkah Arsen. Dan satu lagi, Bimo... pastikan tidak ada satu pun orang suruhannya yang bisa mendekati gedung Seni. Jika Arsen berani menyentuh Valerie sedikit saja, aku tidak akan menggunakan hukum untuk menghadapinya, tapi dengan caraku sendiri."
Valerie melangkah keluar dari gedung Fakultas Hukum dengan kaki yang masih terasa kaku. Harga dirinya terluka lebih dalam daripada otot kakinya yang pegal akibat dihukum berdiri. Ia berjalan menuju taman belakang gedung seni, tempat yang biasanya sepi, hanya untuk menumpahkan kekesalannya sendirian.
"Anjing penjaga keluarga yang tidak punya perasaan," umpat Valerie sambil menendang kerikil di jalannya. "Dia pikir dia siapa? Mentang-mentang Kakek memberikan kekuasaan padanya, dia bisa seenaknya mengatur hidupku dan mempermalukanku di kelas?"
"Dia memang selalu begitu, bukan? Kaku, haus kekuasaan, dan tidak pernah mempedulikan perasaanmu, Valerie."
Valerie tersentak. Ia menoleh dan menemukan seorang pria bersandar di bawah pohon beringin besar. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu yang modis, wajahnya dihiasi senyum tipis yang tampak begitu ramah dan penuh simpati.
"Arsen?" Valerie mengerutkan kening. "Sedang apa kau di sini?"
Arsenio melangkah mendekat, menjaga jarak yang sopan namun cukup intim untuk menciptakan suasana rahasia. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari tasnya dan menyodorkannya pada Valerie.
"Aku dengar kau akhirnya masuk jurusan seni. Aku ingat dulu kau pernah bercerita sangat menginginkan kuas bulu musang handmade ini saat kita tidak sengaja bertemu di persembunyianmu. Anggap saja ini hadiah selamat datang," ucap Arsen lembut.
Valerie tertegun. Ia menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Di saat Revan menyiksanya dengan rangkuman lima bab hukum, pria di hadapannya ini justru mengingat detail kecil tentang mimpinya.
"Arsen... kau masih memegang janjimu? Kau benar-benar tidak memberi tahu keluargaku tempatku bersembunyi waktu itu?" tanya Valerie lirih.
Arsen menghela napas panjang, memasang wajah penuh penyesalan. "Tentu saja. Tapi maafkan aku, Valerie. Aku gagal mencegah Revan malam itu di kelab. Aku tidak menyangka dia akan bertindak sejauh itu."
"Maksudmu?"
Arsen mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang menghasut. "Revan tahu aku melindungimu. Dia sengaja membawa fotografer ke sana agar dia punya alasan sah untuk menjebakmu dalam pernikahan. Dengan menikahi cucu Adiwijaya, posisinya sebagai ahli waris di perusahaan kakekmu tidak akan tergoyahkan. Dia bosan hanya menjadi 'anak ART' yang diberi kemeja mahal. Dia ingin memiliki segalanya, Valerie. Termasuk dirimu, hanya sebagai tiket emas menuju kekuasaan."
Dunia Valerie seolah runtuh. Kata-kata Arsen terasa seperti kepingan puzzle yang pas untuk menjelaskan sikap dingin Revan di kampus.
"Jadi... pernikahan ini bukan karena kecelakaan?" suara Valerie bergetar karena marah.
"Pikirkan saja sendiri," Arsen tersenyum licik sambil mengusap bahu Valerie sekilas. "Pria mana yang tega menghukum istrinya sendiri berdiri di depan kelas jika bukan karena dia ingin menunjukkan dominasinya? Dia tidak mencintaimu, Valerie. Dia hanya mencintai status yang kau bawa."