ZUA CLAIRE, seorang gadis biasa yang terlahir dari keluarga sederhana.
Suatu hari mamanya meninggal dan dia harus menerima bahwa hidupnya sebatang kara. Siapa yang menyangka kalau gadis itu tiba-tiba menjadi istri seorang pewaris dari keluarga Barasta.
Zua tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah dalam semalam. Tapi menjadi istri Ganra Barasta? Bukannya senang, Zua malah ketakutan. Apalagi pria itu jelas-jelas tidak menyukainya dan menganggapnya sebagai musuh. Belum lagi harus menghadapi anak kedua dari keluarga Barasta yang terkenal kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 5 Tidak rela
Zua menutup pintu kamarnya dengan wajah jengkel. Heran deh, kenapa laki-laki semacam itu bisa terlahir di dunia ini. Ia masih ingat jelas bagaimana Ganra mengatainya semalam. Dan mengingat itu membuatnya makin kesal. Dia sudah tidak ada mood. Gara-gara pria itu dia jadi flu begini.
Ketika kamarnya kembali diketuk, Zua hampir melemparkan makian. Astaga, ini baru jam tujuh pagi. Ada apa dengan orang-orang di rumah ini sih?
"Nona Zua, ini bibi." emosi gadis itu sedikit mereda ketika mendengar suara bi Mirna. Suara itu sangat dia ingat.
"Masuk bi," katanya kemudian. Lalu pintu terbuka. Zua melihat bi Mirna masuk bersama seorang pelayan muda yang mungkin seumuran dengannya. Pelayan perempuan itu membawa nampan berisi makanan. Zua hanya menatap bingung. Kenapa mereka membawakan makanan ke kamarnya?
"Kata tuan muda Ganra nona sedang flu, dan tidak sanggup duduk lama di meja makan, jadi tuan besar memerintahkan membawakan makanan nona ke kamar. Katanya tidak apa-apa makan di kamar kalau lagi sakit." ujar bi Mirna. Zua jadi merasa tidak enak. Ganra sialan, kenapa harus bilang begitu sih. Kan jatohnya dia seperti cewek penyakitan. Padahal hanya flu biasa saja.
"Sindy, taroh di atas meja itu makanannya." suruh bi Mirna melirik pelayan muda bernama Sindy itu. Zua makin merasa tidak enak. Saat masih tinggal dengan mamanya, mereka tidak punya satu pun pembantu. Hidup mereka sangat sederhana, meski tidak bisa di bilang susah juga. Tapi tentu saja tidak kaya seperti pemilik rumah ini.
"Biar aku aja," Zua ingin mengambil nampan di tangan Sindy tapi tidak dibiarkan oleh gadis itu.
"Saya saja nona," kata gadis itu.
"Nona, kata tuan muda Ganra jangan lupa segera minum obat yang dia berikan pada nona sehabis nona makan."
"Iya bi, aku ingat kok." ucap Zua sebenarnya malas mendengar nama laki-laki itu selalu disebutkan.
"Tuan besar juga berpesan nona istirahat di rumah saja seharian ini. Biar cepat sembuh. Kalau butuh apa-apa panggil bibi." mau tak mau Zua mengangguk saja. Jadi begini rasanya punya pembantu. Jujur ia tidak terlalu nyaman. Ia lebih memilih mengurus diri sendiri. Tapi apa boleh buat, dia ada di rumah orang sekarang jadi tidak bisa melakukan apapun yang dia mau. Pokoknya dia harus cari cara agar pergi dari rumah ini. Sebelum menjadi istri dari laki-laki menyebalkan itu. Jangan sampai deh, dia tidak rela menikah dengan pria yang tidak dia cintai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di ruang tamu rumah keluarga Barasta,
"Mama yakin mau bantuin cewek itu?" ujar Narin. Ia melihat mamanya sibuk mencari-cari barang-barang online dari toko luar negeri. Dan sebagian besar yang di beli mamanya adalah pakaian dan sepatu untuk Zua. Bagaimana Narin tidak kesal coba. Mamanya bela-belain beli barang-barang mahal dari luar negeri untuk perempuan bertampang pas-pasan itu sedang dirinya sama sekali tidak dihiraukan.
"Ma, kenapa aku ngerasa tuh cewek kayak di anggap putri banget sih di rumah ini? Padahal kan aku cucu kandungnya kakek. Tapi kakek hanya peduli sama cewek itu." Narin makin sebal. Laya, sang mama langsung meliriknya.
"Jangan mikirin gitu Narin. Kakek sayang sama kamu juga. Kamunya aja yang terlalu bandel. Ingat, nggak lama lagi kakak sepupu kamu Ganra akan menikah dengan gadis itu. Kamu harus bersikap baik padanya. Walau dia lebih muda, tapi dia akan segera menjadi kakak ipar kamu. Jangan bertindak semaumu, paham?" mau tak mau, dengan berat hati Narin mengangguk. Mamanya paling tidak asyik. Papanya juga. Apalagi kakaknya si Leon. Mereka tidak pernah berada di pihaknya. Hanya tante Dian selalu mendukungnya.
Hufft ... Kenapa dia tidak menjadi adik kandungnya kak Ganra saja? Pasti dia akan senang kalau mamanya kayak tante Dian, bukan mama Laya yang hobinya belain orang lain dari pada belain anak sendiri.
"Sindy," panggil Laya saat melihat Sindy sih pelayan rumah itu turun dari lantai dua.
"Iya nyonya?"
"Keadaan Zua gimana, udah baikan?"
"Sudah nyonya. Pas saya turun ambilin piring bekas makannya, saya lihat nona Zua ketiduran." jawab Sindy. Laya mengangguk-angguk.
"Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang." katanya.
"Baik nyonya." Sindy menunduk hormat lalu berbalik. Saat ia berbalik, dirinya berpapasan dengan Leon dan Dante yang datang dari arah pintu depan. Gadis itu membungkuk hormat pada kedua tuan muda rumah itu dan buru-buru menghilang ke dalam dapur.
"Mama," Leon sudah duduk disamping mamanya, sedang Dante memilih duduk di dekat Narin. Laya tidak menghiraukan panggilan sang putra sulung, lebih fokus pada belanja onlinenya. Tapi Leon tidak seperti adiknya Narin yang suka ngambek kalau dicuekin.
"Kak Dante nggak kerja?" tanya Narin.
"Ada. Nanti siang." sahut pria berparas setengah bule itu. Karena mama papanya memang orang bule yang menikah dengan almarhum mama laki-laki itu. Mama Dante, putri kandung satu-satunya keluarga Barasta sudah lama meninggal karena kecelakaan.
Dulu Dante ikut papanya tinggal di luar negeri. Tapi saat tumbuh dewasa, pria itu lebih memilih pindah ke Indonesia dan tinggal bersama sang kakek dan keluarga lainnya. Dia bekerja di perusahaan ayahnya. Mereka sama-sama memiliki jabatan tinggi namun di perusahaan yang berbeda.
"Kalau begitu, kita jalan-jalan ke mall yuk." ajak Narin kemudian. Dante tertawa pelan mendengarnya. Begitupun dengan Leon.
"Narin, sekarang baru jam sepuluh pagi. Memangnya kamu nggak kesibukan lain selain ke mall? Ajaknya sih Dante lagi." Narin langsung melemparkan tatapan membunuh pada sang kakak.
"Biarin, ye!"
"Asal kamu tahu, kak Dante kamu ini sudah sangat capek karena lembur semalaman. Jangan bikin dia tambah capek karena temenin kamu ke mall." kata Leon lagi. Apalagi Narin maunya sangat banyak. Kalau gadis itu masuk mall, rasanya ia mau membeli semua isi dalam toko itu. Leon menggeleng-geleng tidak habis pikir, padahal barangnya sudah sangat banyak. Tapi tidak puas-puas juga.
"Maaf ya Rin, lain kali saja aku temenin." ujar Dante kemudian bangkit dari sofa. Matanya berhenti ke wanita yang paling dewasa antara mereka.
"Tante, aku naik dulu ya." katanya. Laya mengangguk.
"Iya, kamu istirahat yang benar Dante." lalu mereka melihat pria itu naik tangga dan menghilang dalam sekejap.
Dante sempat berhenti sebentar ke kamar sebelahnya dan memikirkan sesuatu, entah apa yang pria itu pikirkan. Ia menatap kamar tersebut cukup lama dengan wajah misterius, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Mama dian hanya mengucapkan selamat sikapnya msh dingin dan datar kezua.....
suatu hari nanti mama diam dibukakan hatinya melihat ketulusan hatinya zua....
pada dasarnya hati narin baik krn pernah dikecewakan tmn2nya dan dibully jd membentengi dirinya bersikap sombong dan arogan....
Baguslah narin berubah lbh baik lagi...
lanjut thor.....
semoga rencana Bunga ga berhasil utk menculik/mencelakai zua ya thor