Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.35
...TANDA-TANDA YANG TAK DISADARI...
Hari itu dimulai dengan tenang, sampai suasana kampus memutuskan menciptakan konflik yang tidak diminta siapa pun. Pagi di kampus biasanya punya dua pilihan suasana: terlalu damai sampai membosankan, atau terlalu ramai sampai bikin pusing. Hari itu, sayangnya semua itu berada tepat di tengah-tengah keadaan yang cukup damai untuk membuat orang lengah, dan cukup ramai untuk memungkinkan kesalahpahaman lahir tanpa peringatan. Langit terlihat cerah tanpa awan yang berlebihan, matahari masih bersikap sopan dengan panasnya, dan angin pagi berembus dengan niat baik. Mahasiswa berlalu-lalang dengan ekspresi khas yang setengah sadar, setengah menyesal kenapa tidak tidur lebih lama. Gerbang kampus berdiri seperti biasa, megah tapi acuh tak acuh terhadap drama yang akan terjadi di depannya, dan di sanalah Ryn Moa berada. Gadis itu sedang menunggu Ida di depan gerbang kampus sambil memeluk bukunya. Angin pagi berembus lembut, dan dia sedang fokus membaca catatan yang ditulis Namjoon tempo hari, catatan itu rapi, terstruktur, dan dengan catatan-catatan kecil yang hangat. Buku itu bukan buku sembarangan, sampulnya sudah sedikit tertekuk di sudut kanan bawah karena terlalu sering dibuka. Ada sticky notes warna kuning yang menandai halaman penting, dan tulisan tangan Namjoon mengisi hampir setiap margin.
“Penjelasanmu bagus. Kamu hanya butuh percaya diri,” salah satu tulisannya.
Ryn Moa membaca itu sambil menghela napas malu sendiri. Ia tidak sadar bahwa mulutnya sudah membuat sebuah senyum kecil yang tidak dibuat-buat dengan sengaja, tetapi Senyum yang biasanya hanya muncul saat ia membaca pesan lama yang seharusnya tidak dibaca ulang. Dalam kepalanya, suara Namjoon seperti ikut membaca kalimat itu. Dengan nada tenang, sedikit rendah, dan selalu terdengar seperti sedang menenangkan orang, bahkan saat hanya menjelaskan teori yang membuat kepala pening. Sampai tiba-tiba ada bayangan tinggi menghalangi sinar matahari yang jatuh di wajahnya. Bayangan itu terlalu besar untuk hanya sekadar mahasiswa lewat.
“Masih suka baca catatanku?”
Ryn Moa mendongak. Namjoon berdiri di sana menggunakan hoodie hitam, rambutnya sedikit berantakan, dan pasti, senyum manis yang menampilkan lesung pipinya. Manis, hangat, seperti segelas coklat panas pagi-pagi. Ryn Moa langsung menutup buku dengan gerakan yang terlalu cepat sambil tersipu sehingga membuat buku itu hampir terjatuh dan ia harus memeluknya erat-erat seperti menyelamatkan rahasia negara.
“E,eh! Aku cuma… memastikan aku paham materi.”
Nada suaranya naik satu oktaf, Ia tahu itu. Ia selalu tahu saat gugupnya terlihat jelas.
“Kamu selalu sungguh-sungguh.” Namjoon tersenyum. “Itu membuatmu menarik, tahu?”
Ryn Moa merasa otaknya kosong, bukan seperti “lupa rumus”. Melainkan kosong seperti “tidak ada satu pun pikiran yang berfungsi”. Dia sampai lupa bernapas. Detik terasa pun terasa melambat. Suara kendaraan di kejauhan seperti dikecilkan suaranya. Bahkan angin pagi terasa berhenti sejenak, seolah ikut menunggu reaksi gadis manis itu. Sementara Namjoon sendiri seperti baru sadar ucapannya terlalu jujur. ia menoleh sambil menggaruk tengkuknya, tampak sedikit malu.
“Tapi, maksudku menarik… sebagai mahasiswa yang rajin. Tentu saja.”
Ryn Moa mengangguk cepat seperti boneka pegas.
“I, iy… iya. Tentu. Maksudku...aku paham.”
Ia tidak paham apa pun saat itu, tapi mengangguk terasa seperti keputusan terbaik. Namun dalam dalam hatinya berkata, Tolong berhenti manis. Itu tidak baik untuk jantungku !! Namjoon tertawa kecil seperti hembusan napas yang terdengar bahagia. Ia melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Ryn Moa.
“Temanmu belum datang?”
“Belum,” jawab Ryn Moa, kali ini suaranya sedikit lebih stabil. “Biasanya dia telat… lima sampai sepuluh menit. Atau dua puluh.”
“Ah, konsisten,” komentar Namjoon ringan.
Mereka berdiri berdampingan, jaraknya cukup dekat untuk membuat Ryn Moa sadar akan aroma parfum yang digunakan Namjoon saat ini. Tidak ada yang bicara selama beberapa detik. Dan anehnya hal itu tidak canggung.
...⭐⭐⭐...
Keheningan di antara mereka bukan jenis yang menekan, bukan pula yang terasa janggal seperti saat dua orang kehabisan topik. Ini lebih seperti jeda alami sebuah ruang yang nyaman, seolah dunia mengizinkan mereka berdiri tanpa tuntutan untuk mengisi apa pun. Ryn Moa menggenggam bukunya sedikit lebih erat, bukan karena gugup semata, tapi karena ia mendadak sadar bahwa jarak mereka terlalu dekat untuk ukuran “sekadar menunggu teman”.
Kedekatan yang terjadi bukanlah dekat yang menyentuh. Tapi cukup dekat untuk menyadari detail kecil. Seperti bagaimana Namjoon berdiri dengan berat badan bertumpu pada satu kaki. Bagaimana jemarinya sesekali bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkan niat. Bagaimana ia tidak memainkan ponsel, tidak melirik sekitar dan perhatiannya sepenuhnya ada di hadapannya yaitu pada gadis bernama Ryn Moa.
Ryn Moa menelan ludah pelan. Ia mencoba kembali membaca buku, tapi huruf-huruf di halaman seperti menari tanpa aturan. Fokusnya pecah oleh kehadiran Namjoon di sampingnya, oleh kesadaran bahwa orang yang menulis catatan rapi itu kini berdiri nyata terlalu dekat.
“Kamu kelihatan lelah..”
Suara Namjoon pelan, tapi cukup untuk membuat Ryn Moa mendongak untuk menatap wajahnya.
“Hah? Oh..tidak kok,” jawabnya spontan. “Aku cuma… begadang sedikit.”
“Sedikit versi kamu atau sedikit versi orang normal?”
Ryn Moa tersenyum kaku. “Sedikit versi mahasiswa panik.”
Namjoon mengangguk seolah itu penjelasan yang sangat masuk akal.
“Kamu harus tidur lebih cukup.”
“Kamu juga,” balas Ryn spontan.
Namjoon terkekeh. “Ketahuan, ya?”
Ryn Moa terkejut sendiri karena jawabannya keluar begitu saja. Biasanya, ia akan berpikir dua kali sebelum berbicara. Tapi entah kenapa, bersama Namjoon spontanitas nya terasa jujur. Mereka berdua kembali diam. Di sekitar mereka, kampus perlahan hidup sepenuhnya. Kelompok mahasiswa melintas sambil bercanda keras, suara motor lewat di jalan depan gerbang, dan satpam kampus berdiri di pos dengan ekspresi bosan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun di antara semua itu, ruang kecil tempat mereka berdiri terasa terpisah seperti sebuah gelembung.
“Ryn!”
Suara itu datang dari kejauhan, terdengar nyaring, ceria, dan sama sekali tidak mengenal konsep timing dramatis. Ryn Moa menoleh dan melihat Ida berlari kecil ke arah mereka, tas selempangnya bergoyang-goyang, rambutnya berantakan seperti baru saja kalah perang dengan alarm pagi.
“Maaf! Maaf! Aku ketiduran lagi!” Ida berhenti tepat di depan mereka, terengah-engah. “Alarmku bunyi, tapi aku mimpi alarmku rusak, jadi aku matiin..eh.”
Ida terdiam, tatapannya berpindah dari Ryn Moa ke Namjoon, lalu kembali ke temannya itu lagi. Ada jeda dua detik yang sangat berarti.
“Oh.”
Nada suaranya terdengar pendek, Ryn Moa merasa ada sesuatu yang berubah di udara.
“Pagi...” sapa Namjoon pada Ida dengan sopan dan tersenyum kecil seperti biasa.
“Pagi…” jawab Ida, masih menatap mereka berdua dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Bukan kaget, bukan pula curiga, tapi lebih seperti menghitung. Ryn Moa langsung merasa panas di wajah.
“Kami baru aja ketemu,” katanya cepat, terlalu cepat. “Aku lagi nunggu kamu.”
Ida mengangguk pelan, lalu tersenyum, senyum yang terlalu manis untuk terasa alami. “Iya. Kelihatan.”
Namjoon melirik Ryn Moa sekilas, lalu kembali ke Ida. “Kalian mau ke kelas yang sama?”
“Eh..iya,” jawab Ryn Moa “Kelas metodologi.”
“Oh, aku juga ke arah sana,” kata Namjoon ringan. “Kalau begitu, kita sama-sama saja kesana.”
Bareng? Ryn Moa melirik kearah Ida, berharap menemukan dukungan, tapi yang ia dapat justru tatapan yang penuh arti. tatapan yang berkata, Oh. Jadi begini.
Mereka bertiga mulai berjalan masuk ke area kampus. Formasinya cukup canggung. Ryn Moa di tengah, Namjoon di kanan, Ida di kiri. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Ryn Moa merasa seperti pusat dari sesuatu yang tidak ia minta. Ida memecah keheningan lebih dulu diantara mereka.
“Namjoon ah..” tanyanya, meski jelas ia tahu sendiri jawabannya.
“Iya,” jawab Namjoon ramah.
“Selama ini, kamu kan~ yang sering bantu Moa belajar ?”
Ryn Moa tersedak kecil.
“Ida...!” gerutunya
Namjoon tertawa pelan melihat reaksi Ryn Moa yang tiba-tiba.
“Kadang-kadang Moa cepat paham, sebenarnya.” ucap Namjoon sembari melirik ke arah Ryn Moa.
Ida mengangguk, matanya menyipit sedikit. “Kelihatannya.”
Ryn Moa ingin menghilang. Ia bisa merasakan konflik kecil mulai tumbuh. bukan konflik besar yang meledak-ledak, tapi konflik jenis paling merepotkan yang halus, tak terucap, dan penuh asumsi. Mereka berjalan melewati taman kecil di tengah kampus. Daun-daun bergerak pelan tertiup angin, dan beberapa mahasiswa duduk di bangku sambil membuka laptop atau sekadar mengobrol. Ryn Moa mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Eh, Namjoon ah… tentang tugas kemarin, aku udah coba kerjain ulang bagian yang kamu koreksi.”
“Oh ya?” Namjoon menoleh padanya. “Gimana hasilnya?”
“Lebih masuk akal,” jawab Ryn Moa. “Walau aku masih ragu di bagian kesimpulan.”
“Kita bisa bahas nanti,” kata Namjoon santai. “Kalau kamu mau.”
Ida berdeham pelan.
“Wah, rajin banget,” kata ida. “Aku aja masih belum buka modul.”
“Kamu jarang buka modul,” balas Ryn Moa.
“Dan aku hidup,” jawab Ida cepat.
Namjoon tersenyum melihat tingkah kedua sahabat itu, tapi Ryn Moa menangkap sesuatu di matanya, kesadaran bahwa dinamika ini rumit. Mereka tiba di depan gedung fakultas. Mahasiswa mulai berhamburan masuk, dan suara langkah kaki bercampur menjadi satu irama yang sibuk.
“Sepertinya kita harus berpisah di sini” kata Namjoon. “Kelasku di lantai dua.”
“Oh,” kata Ryn Moa, entah kenapa terdengar kecewa. “Iya.”
Namjoon berhenti melangkah, menoleh padanya. “Kita ketemu lagi nanti?”
Ryn Moa mengangguk. “Iya.”
Ida mengangkat alis melihat adegan yang ada dihadapannya ini. Namjoon tersenyum sekali lagi dengan senyum kecil yang hangat,lalu berbalik dan masuk ke gedung. Ryn Moa menatap punggungnya sampai ia menghilang di kerumunan. Sementara Ida tidak langsung bicara pada Ryn Moa. Mereka berjalan menuju kelas metodologi dalam diam beberapa langkah, sampai akhirnya Ida berhenti mendadak.
“Oke,” katanya. “Sekarang jelaskan ?!.”
Ryn Moa tersentak. “Jelaskan apa?”
“Itu,” jawab Ida, menunjuk ke arah pintu masuk gedung yang baru saja dilewati Namjoon. “Sejak kapan kalian sedekat itu?”
“Kami nggak sedekat itu,” bantah Ryn Moa cepat.
Ida menyilangkan tangan. “Moa... Aku kenal kamu sejak semester satu. Kamu tidak berdiri sedekat itu dengan seorang pria kecuali kamu merasa nyaman.”
Ryn Moa membuka mulut lalu menutupnya lagi. Karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Dia cuma bantu aku belajar,” akhirnya Ryn Moa berkata pelan.
“Dan bilang kamu menarik?”
Ryn tersedak. “Kamu dengar?”
“Sebagian,” jawab Ida tanpa rasa bersalah. “Cukup untuk menarik kesimpulan.”
Ryn Moa menunduk, pipinya memanas lagi. “Itu bukan seperti yang kamu pikir.”
“Justru itu,” kata Ida lembut sekarang. “Aku belum tahu harus mikir apa.”
Mereka masuk ke kelas dan duduk di bangku tengah. Dosen belum datang, dan ruangan masih dipenuhi suara obrolan ringan. Ryn Moa membuka bukunya, tapi pikirannya tertinggal di luar, di depan gerbang kampus, di senyum Namjoon, di kalimat sederhana yang terlalu berdampak.
Kamu hanya butuh percaya diri.
Dan sekarang, ia mulai menyadari sesuatu yang mengganggu. Hari itu memang dimulai dengan tenang. Tapi ketenangan itu sudah retak. Bukan karena pertengkaran besar atau karena pengakuan dramatis. Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya. perasaan yang tumbuh pelan-pelan, dilihat oleh orang lain lebih dulu, dan mulai menciptakan garis-garis halus yang tidak semua orang siap lewati. Dan di sudut lain kampus, tanpa Ryn Moa sadari, sepasang mata lain memperhatikan. Bukan dengan senyum hangat dan niat baik. Konflik itu belum muncul, tapi ia sudah memilih targetnya.
...⭐⭐⭐...
Bersambung ...