Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. AMSALIR
Malam itu, di kamar Zhen Yi, aroma rempah menguar tajam. Tangan lentik namun terlatih itu dengan cekatan meracik obat di dalam cawan. Peluh mulai membasahi pelipisnya, uap panas dari tungku kecil di hadapannya seolah membakar udara di ruangan itu.
"Sari cabai," pinta Zhen Yi dengan tangan terulur ke arah Dali.
Dali segera menyerahkan botol kecil berisi ekstrak pedas yang pekat. Zhen Yi menuangkannya ke dalam air mendidih, lalu kembali mengulurkan tangan tanpa menoleh. Dali dengan sigap menyerahkan wadah berisi serbuk kayu manis tua dan jahe merah pilihan.
Saat bahan-bahan itu menyatu, warna ramuan berubah menjadi merah pekat. Inilah Pil Bara, mahakarya yang sanggup mengusir dingin paling beku sekalipun dari sumsum tulang.
"Ini dia yang kita butuhkan, Dali. Dengan pil ini, hawa dingin bukan lagi masalah," bisik Zhen Yi seraya mengangkat sebuah pil bulat berwarna merah delima.
Dali mendekat dengan rasa penasaran yang besar. "Apa Nona yakin pil ini mampu melindungi Anda? Kuil itu berada di puncak tertinggi, dikepung salju abadi yang mematikan."
Zhen Yi menyimpan pil itu ke dalam kotak kayu cendana. "Tentu saja, Dali. Pil ini akan memaksa jantung berdetak lebih cepat dan mengalirkan darah lebih kencang, membuat panas yang melindunginya dari hipotermia meski aku hanya mengenakan sutra tipis. Aku bahkan bisa bertahan hingga lima hari."
Bertahun-tahun latihan keras telah menempa Zhen Yi menjadi tabib sekaligus peracik racun yang mumpuni. Semua demi satu tujuan, membalaskan dendam keluarganya.
"Tuan dan Nyonya pasti bangga. Anak mereka kini tumbuh menjadi seorang jenius, bahkan mampu membalas rasa sakit mereka." ucap Dali, pelupuk matanya mulai digenangi air mata.
Zhen Yi bangkit dan menggenggam erat kotak obatnya. "Tinggal selangkah lagi, Dali. Aku akan masuk ke lingkaran mereka, lalu menghancurkannya satu per satu dari dalam."
"Saya mengerti, Nona. Selama Anda berada di kuil, saya akan menyelidiki kebenaran di balik kematian Ibunda Nona di istana ini. Fokuslah pada rencana Anda."
Zhen Yi mengangguk mantap. Namun, keheningan malam itu tiba-tiba pecah oleh seruan dari luar kamar.
"Yang Mulia Permaisuri mengundang Selir Zhen Yi untuk menikmati teh musim semi dan melihat bunga di taman belakang istana!"
Suara itu bergema, dingin dan penuh otoritas. Dali bergegas membuka pintu. Seorang kepala dayang berdiri kaku di sana dengan tatapan tajam. "Mohon Nona Zhen Yi segera ikut saya."
'Untuk apa dia memanggilku di jam seperti ini?' batin Zhen Yi gusar. Saat ia hendak melangkah, Dali menahan lengannya dengan cemas.
"Bagaimana jika ini jebakan, Nona? Ini sangat berbahaya!" bisik Dali gemetar.
Zhen Yi mengusap lembut bahu pelayannya, mencoba menyalurkan ketenangan. "Jangan khawatir. Jika sesuatu terjadi padaku malam ini, dialah orang pertama yang akan dituduh Kaisar. Dia tidak sebodoh itu untuk mengotori tangannya sekarang."
Dengan kepala tegak dan tatapan yang kembali tenang namun waspada, Zhen Yi melangkah keluar siap menghadapi Permaisuri.
Langkah kaki Zhen Yi bergema pelan di sepanjang koridor batu menuju Istana Musim Semi. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun ia tetap tenang.
Di sebuah paviliun terbuka yang dikelilingi bunga krisan putih, Permaisuri duduk dengan anggun. Ia sedang menuangkan teh, wajahnya tenang namun matanya sedingin es.
"Duduklah, Selir Zhen," suara Permaisuri memecah kesunyian.
Zhen Yi memberi hormat dengan sangat sempurna. "Hamba memenuhi panggilan Yang Mulia. Suatu kehormatan bagi hamba bisa menikmati teh di malam yang sesunyi ini."
Permaisuri mendorong secawan teh ke arah Zhen Yi. "Teh ini berasal dari pegunungan jauh. Rasanya pahit di awal, namun meninggalkan jejak manis yang lama. Persis seperti kehidupan di istana ini, bukan?"
Zhen Yi menyesap tehnya, membiarkan uap panas menyapu wajahnya.
"Benar, Yang Mulia. Namun terkadang, ada orang yang terlalu terbiasa dengan rasa pahit hingga mereka lupa bagaimana rasanya manis."
Mata Permaisuri sedikit menyipit. "Atau mungkin, ada orang yang terlalu pandai menyembunyikan rasa pahit di balik senyum yang manis. Aku dengar kau dekat dengan Putra Mahkota... luar biasa. Benar-benar mengingatkanku pada bunga beracun yang tumbuh di tepi jurang."
"Yang Mulia terlalu memuji. Bunga di tepi jurang hanya mencoba bertahan hidup dari terpaan angin. Ia tidak berniat menyakiti siapa pun, kecuali jika ada tangan yang mencoba memetiknya secara paksa," ucapnya, senyum manis menghiasi bibirnya.
"Bertahan hidup?" Permaisuri tertawa kecil. "Harem ini adalah taman yang tertutup. Semua bunga di sini adalah milik Kaisar. Jika ada bunga yang mencoba menarik perhatian matahari lain, seperti Putra Mahkota, maka bunga itu bukan lagi penghias, melainkan gulma yang harus dicabut."
Zhen Yi mengangkat kepalanya sedikit, menatap langsung ke arah manik mata sang penguasa istana belakang.
"Gulma seringkali lebih kuat dari bunga hiasan, Yang Mulia. Ia bisa tumbuh kembali meski akarnya telah dipangkas berkali-kali. Bukankah lebih baik membiarkannya tumbuh berdampingan daripada mempertaruhkan seluruh taman hanya untuk satu tunas kecil?"
Suasana mendadak menjadi sangat kaku. Sindiran halus itu kini terasa seperti sabetan pedang yang tajam. Permaisuri meletakkan cawannya dengan denting yang keras di atas meja batu.
"Kau sangat berani, Zhen Yi. Keberanian seperti itu biasanya berakhir di dua tempat, tahta yang tinggi, atau liang lahat yang dingin."
Zhen Yi bangkit, kembali bersujud dengan sangat rendah hati, menyembunyikan kilat kemenangan di matanya. "Hamba hanya seorang wanita lemah yang mencoba memahami kebaikan hati Yang Mulia. Semoga rembulan malam ini memberikan kedamaian bagi tidur Yang Mulia."
Zhen Yi berbalik pergi, meninggalkan Permaisuri yang kini meremas sapu tangannya hingga memutih.
Di kegelapan malam, Zhen Yi berbisik dalam hati, "Ini barulah awal, Permaisuri. Mari kita lihat, siapa yang akan layu lebih dulu."
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏