Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama
Berhubung pengurusan rumah masih butuh waktu lama terpaksa mau tidak mau harus menjalani perjalanan cukup lumayan dari kost Lista, dan ya kalian tau sepertinya ke uangan Lista sedang tidak baik-baik saja saat ini, teman kamarnya untuk pertama kali menghampiri kamar ini katanya Lista terus mengulur waktu pembayaran padahal kan sudah dikasih waktu lebih. "Berapa yang harus dilunasi." Ia menunjukkan sejumlah uang kemudian aku selaku tau diri menumpang membayarkan nya, ya biar nanti itu urusan Lista dan aku.
Kenapa ya hal-hal seperti ini aja Lista harus enggak bertanggung jawab gitu, aku Taulah seberapa gaji Lista toh sesusah apa pun orang tuanya dia tidak pernah mengirimkan uang, jadi gak masuk diakal kalau tabungannya tidak ada untuk sekedar bayar kos apalagi untuk pulang kampung. Hadehhh jadi ngomongin keburukan orang kan, ahhh daripada terlambat aku pergi terlebih dahulu orang Lista juga sudah pergi dari tadi pagi.
[Lis, uang kontrakan sudah ku bayar. Kamu enggak usah bayar lagi.] kalian tau apa jawaban nya cuma bilang makasih, dan
kalau ada rezeki dia pasti ganti, sudah
cukup lah ya.
Waduhhh kota Jakarta ini tiada hari tanpa macet, jadi bayangkan aja untuk jarak sekian
Km bisa ditempuh hampir dua Jam, untung aku bukan staff on time di jam delapan pagi kalau enggak bisa putus kontrak aku dihari pertama, 'Miwa hosianna Saragih.' disingkat jadi Miwa Saragih saja di board tag ku sesuai dengan nama kantor lama, aku lebih baik menghilangkan Nama tengah ketimbang marga. Kelihatannya di sini tanggung jawab ku lebih besar, baik dari segi mengelola keuangan atau pun mengelola laporan-laporan keuangan harus lebih teliti.
Pukul 9 Malam aku baru pulang, andai rumah dekat pasti bisa langsung tidur, aku melewati halte terdekat dengan perumahan ku tuju, bayangkan aku sedikit saja berjalan sudah sampai disana. Dan kalian pikir sudah sampai di sini perjuangan belum, aku harus menyambung kereta api untuk sampai ke rumah. Itu rute terdekat yang Lista ajarkan padaku.
Lista sudah pulang terlebih dahulu, dia sudah rapi dan dia juga penuh perhatian. Ini yang kadang buat aku mikir bolak-balik buat buang dia jadi sahabat ku, "Mandi gih air panas ada makan tuh lauk dalam rice cooker, aku mau tidur dulu." Mungkin dia merasa tidak enak aku harus turun tangan dalam hal biaya hidup cuman ketutup gengsi aja, aku paham kok itu.
Malam hari rasanya betis ku sakit banget, benar-benar ketarik sampai untuk bangun malas banget jadinya menangis adalah cara ku mengungkapkan sakit. Rasanya di bagian dalam tumpukan daging itu ada urat putus yang bikin ngilu, Lista langsung paham, geraknya mengambil handuk kecil dan segera mengompres air hangat di kaki ku, aku dapat tidur lelap usai rasa sakit itu reda.
Pagi hari sebelum ke stasiun aku dan Lista masih sempat serapan pagi, dia amat baik padaku tidak ada persahabatan yang lebih tulus dari ini. "Kau kok diam Lis?" kataku mulai tidak nyaman dengan ketidak enakan nya–Enggak berbalas ucapan ku beberapa saat sampai ia menunduk kan wajah malu itu.
"Enggak Mi, lagi malu aja sama mu baru beberapa hari di rumah sudah harus menalangi."
Jangan menatap ke arah dia Miwa, tatapan mu seolah mendominasi dia. Biarkan tatapan lurus itu memberikan ruang untuk isi hati Lista. "Kan kalau ada rezeki kamu ganti." Entah kalimat menenangkan atau menyindir ucapan ku memang tertuju untuk rasa tanggung jawab nya, "Iya Mi, sabar ya." Aku paham sekarang kenapa tidak ada kata menabung di hidup Lista. Lihat parfum mereka L itu, untuk harga sebotol nya kita taulah ya gak seratus dua ratus ribu. Mengejar tenar atau paham kualitas aku gak bisa menilai itu, lagi pula cukup paham ke ranah oh dia memang lagi gak bisa hemat aja.
"Minum jamu Mi, biar awet muda."
Sejak kapan pula sahabat ku suka jamu-jamu an gini, rasanya aneh tapi aku suka banget.
Ku kirim gambar dan ya Josua hanya tertawa geli membalasnya, ia amat sibuk dengan kehidupan nya okelah paham.
Akhirnya satu jam sebelum jam sibuk seluruh pekerjaan selesai senang rasanya bisa pulang masih berteman langit terang, kesibukan Jakarta sampai ingin singgah ditempat ke damai-an seperti ada kesunyian ada ilmu yang didapat tapi dimana ya, ahh di depan ada toko buku apa lebih baik kesana ya. Toko buku adalah pilihan terbaik ku, mengambil kursi dan duduk di antara mereka si Kutu buku. Kisah manisnya cinta menghentikan langkahku sejenak kemudian mata ku tertuju pada salah satu karyawan kian lama ia menatapku dengan serius, mungkin aku terlalu lama disini sampai akhirnya aku membayar dua buah buku.
"Rp 320.000 kak," kasir tersenyum ramah padaku, ia juga tersenyum ramah. "Terimakasih."
Senyum lembut itu menarik perhatianku, aku tersenyum tipis membalas nya. Tak banyak bicara sampai akhirnya perpisahan itu seperti akan ada pertemuan panjang selanjutnya.
Jaraknya lebih jauh sih cuman ada kepuasan di dapat setelah dari sini, okelah hari malam kembali lagi. Di saat itu Lista mengajak ku dalam komunitas Batak remaja ya komunitas remaja suku Batak bersatu di Jakarta. Dimulai dengan latihan badminton awal pengenalan ku dengan mereka, aku menikmati itu dan ya aku ketemu lagi dengan bang Dean kemungkinan kah bang Dean mengajak ku pulang bersama lagi.
Kami bermain bagaimna bisa aku ikut celana keper dan kemeja tidak matching dengan permainan badminton, ntar robek gimana?
Aku duduk dan bang Dean menghampiri ku untuk berbincang bersama anggota yang lainnya. "Mau main." Tawar mereka mengundang ku, aku menolak dengan gerakan tangan cara paling anggun menurut ku. "Capek baru pulang kerja ." basa-basi menolak ajakan itu. "Sama, semua di sini juga baru pulang kali kak," kata seorang perempuan gayanya glamor tapi tidak menarik menurutku.
Aku hanya tersenyum,salah seorang pria menghampiri kami kebetulan juga itu pacarnya "Maaf ya biasa nya Boru Parna." Oh semarga dengan ku, aku menarik alis sedikit memandang ia."Boru apa ito," Sapaan ito singkatnya untuk lawan jenis, bisa juga sebutan untuk semarga sepengetahuan ku sih gitu."Saragih ito," ekspresi terkejut lucu sampai ke hati ku. "Adek mu La," Lah dia malah berubah ekspresi usai mendengar marga yang ku bawa. "Sama kita," waduhhh keramahan di awali validasi. "Aku Simbolon dek,dek nya?" Angguk ku menolak basa-basi.
" Miwa," sebagian disekitar dapat ku jabat tangannya dan ya sedikit pengenalan." Ikutlah kegiatan ini," tawar mereka. Sebenarnya ada rasa gak nyaman sih cuman apa salahnya di coba."untuk biaya administrasi dan kegiatan serta peraturan nya apa aja?" Dean melirik ke arahku "Mar-bahasa Batak ko." Spontan rasa malu keluar dari ubun-ubun, kan jadi kena pukulan manja ku bang Dean. "Enggak bisa," entah kenapa setiap ketemu bang Dean rasa manja ku itu keluar seolah sifat itu di akui olehnya.
Mereka mengadakan makan minum bersama lagi-lagi bang Dean duduk dekat dengan ku, ia seorang yang pendiam namun bila menemukan kenyamanan pasti langsung menganggap kenyamanan itu dunia nya.
"Bang ambilkan minum ku," ini bedanya aku ketika bersama Josua dan laki-laki lain, bila bersama Josua, Josua itu sangat protektif terhadap apa yang ku butuhkan kalau dia tidak ada inisiatif nya sama sekali, heran jangan sampai dapat jodoh seperti dia.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰