Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Hasya
Di dalam kamar mandi itu, bukan hanya terdengar suara shower yang mengalir. Tapi juga terdengar suara desahan, bercampur dengan aduan kedua kulit yang masih menyatu.
"M-masih lama Om?" tanya Yuna terbata. Ia lelah dalam posisi seperti ini. Tapi sepertinya Bastian masih asik dengan gerakan-gerakannya yang kadang pelan tapi juga kadang kencang.
"Sebentar lagi sampai!" jawabnya dengan suara yang tertahan.
Racauan keduanya semakin keras terdengar. Apalagi saat Bastian mencapai puncaknya... Disaat itu pula, Yuna kehilangan keseimbangannya.
"Lelah ya?" tanya Bastian, menopang tubuh Yuna dalam pelukannya.
Yuna mengangguk, nafasnya ngos-ngosan. Ia benar-benar lelah. Bagaimana tidak lelah, jika acara mandi yang harusnya hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Sekarang, setelah hampir 2 jam baru selesai.
Karena tak tega. Bastian akhirnya memandikan Yuna, membawanya kembali ke ranjang, bahkan sampai memakaikan pakaiannya.
"Aku bisa sendiri Om!" ucap Yuna, dengan keadaan yang masih lemas. Tapi ia tidak enak, jika Bastian sampai harus memakaikannya pakaian.
"Jangan kebanyakan protes!" sahut Bastian, kembali ke mode galaknya.
"Galak banget sih!" Yuna mengerucutkan bibirnya. Tapi ia tetap menurut, ketika Bastian mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Yuna menatap cermin. Melihat pantulan diri mereka disana. "Om gak pakai baju dulu?" tanya Yuna. Ia malu, melihat Bastian yang hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang. Padahal pada kenyataannya, ia sudah melihat seluruh tubuh Bastian tanpa pakaian.
Bastian dengan telaten mengeringkan rambut Yuna. Hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan, bahkan pada mantan istrinya sekalipun.
"Kenapa? Takut tergoda? kalau mau nambah satu atau dua ronde lagi bisa!" kata Bastian siap membuka handuk yang ia kenakan.
Yuna langsung berteriak. "Aaaa! Jangan Om! Ampun. Aku bisa masuk angin kalau telanjang mulu!" sahut Yuna cepat.
Bastian tertawa. Karena sebenarnya ia juga hanya bercanda. Sebab, ia mana mungkin tega kembali menggempur Yuna yang sudah terlihat kelelahan.
Setelah selesai mengeringkan rambut Yuna. Bastian baru memakai pakaiannya sendiri. Pilihannya jatuh pada celana pendek dan kaos oblong yangblebih santai dan nyaman.
"Kamu malam ini mau makan apa?" tanya Bastian, duduk di tepi ranjang dekat Yuna.
"Terserah Om aja, yang penting kenyang dan cepat sampai, soalnya aku udah laper banget!" jawab Yuna, melingkarkan lengannya sambil bersandar di bahu pria itu.
Bastian memesan makanan lewat aplikasi online. Bisanya Yuna yang selalu memasak makan malam mereka. Tapi karena tadi Bastian sudah menganggu waktunya. Maka, Yuna tidak sempat memasak, karena sudah keburu lelah.
Setelah menunggu hampir setengah jam. Akhirnya makanan pesanan mereka sampai. Yuna makan dengan lahap. Tidak peduli dengan pandangan Bastian, yang mungkin saja jijik, melihatnya makan dengan rakus.
"Pelan-pelan! Tidak akan ada yang merebut makananmu!" kata Bastian terkekeh, melihat cara makan Yuna seperti orang yang tidak makan seminggu.
"Gak bisa Om! Aku laper binggo!".
Yuna bicara dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan. Hingga membuatnya tidak sengaja tersedak.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Bastian memberikan segelas air, yang langsung dihabiskan olehnya.
"Beu aja dibilangin!" Bastian menggeleng, ternyata Yuna cukup kerasa kepala juga.
"Namanya juga laper Om!" Yuna malah lanjut makan. Ia benar-benar tidak peduli dengan images buruk, yang akan ia dapatkan setelah ini.
Keesokan harinya...
Aktivitas mereka berjalan seperti biasa. Bastian berangkat ke kantor sedangkan Yuna pergi ke sekolah.
"Om nanti aku mau main sama teman aku ya?" pamit Yuna sebelum masuk mobil.
"Oke! Tapi jangan terlalu sore... nanti kalau aku kepengen gimana?" sahut Bastian frontal.
Yuna menutup mulut Bastian dengan cepat. "Mesum banget sih Om! Kawin mulu pikirannya!" wajah Yuna tiba-tiba merona.
"Namanya juga enak! Siapa yang nolak!" Bastian melepaskan tangan Yuna. Tersenyum, pada gadis muda yang sudah merubah dunianya.
Yuna semakin tambah malu. Ia langsung pergi, meninggalkan Bastian yang masih berdiri di parkiran.
"Apa aku benar jatuh cinta?" tanya Bastian pada dirinya sendiri. Sambil memegang dadanya yang berdegub kencang.
Setelah itu Bastian masuk ke dalam mobilnya sendiri, dan mulai melajukannya... membelah jalan pagi yang padat lancar.
45 menit kemudian...
Yuna sudah sampai di sekolahnya. Seperti biasa, ia bertemu dengan ketiga sahabatnya... tapi kali ini minus Hasya, yang belum datang.
"Loh baru kalian berdua... Hasya mana?" tanya Yuna, bergabung bersama mereka yang duduk di parkiran.
"Lo kemana aja semalam? dihubungi tapi gak aktif?" ekspresi keduanya terlihat serius sekaligus panik.
"Ponselku mati lupa ngecas. Memangnya ada apa sih?" Yuna penasaran.
Mega dan Lily menarik tangannya, berjalan menuju ke belakang sekolah yang relatif sepi. Yuna menurut, tapi ia juga penasaran... mengapa kedua sahabatnya ini terlihat sangat misterius.
"Ini sebenarnya ada apa sih? kalian kenapa misterius banget gini?" Yuna mulai terlihat tidak sabar.
Mereka celingukan, memastikan tidak ada siapapun disana kecuali mereka bertiga.
"Hasya kena masalah!" kata Lily.
"Masalah apa?" sambung Yuna cepat. Rasa khawatir mulai merayap dihatinya.
Mega menghela nafas panjang, sebelum bicara. "Tadi malam Hasya ketahuan jalan sama istrinya Om Joe!"
"What! Ketahuan? Jadi gimana keadaannya sekarang?"
"Babak belur. Habis dia di tampar, dipukul, ditendang sama istrinya!" jawab Lily sendu. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Terus Om Joe gak belain dia? Gak lindungi dia?"
Keduanya kompak menggeleng. "Gimana mau lindungi. Orang Om Joe nya aja takut sama istri!"
Mereka bertiga menangis, menangis bersama akan nasib salah satu sahabatnya. Apalagi Mega dan Lily, tangisan mereka yang paling kencang. Karena mereka berdua melihat sendiri, bagaimana saat Hasya di tampar, pukul, tendang. Tapi mereka tidak bisa menolong. Karena banyaknya orang yang menghalangi dan menghakimi Hasya.
"Jadi dia dimana sekarang?" Yuna memegang kedua bahu Mega. Ia ingin menjenguk sahabatnya itu sekarang juga.
"Dia di rawat, tapi keluarganya gak ada tahu. Tadi malam kita berdua yang bawa dia ke rumah sakit. Karena orang-orang gak ada yang mau nolongin... Kamu Taulah bagimana buruknya pelakor Dimata semua orang!"
Mega tahu apa yang dilakukan sahabatnya memang salah. Tapi dia juga tidak tega dan tidak mungkin membiarkan Hasya menanggung semua penderitaan itu sendirian.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Yuna.
"Gak bisa! Kita ada ulangan loh!" Lily mengingatnya.
"Ulangan masih bisa diulang. Kita temenin Hasya dulu, kasihan dia... pasti sedih di rumah sakit sendirian!"
Tanpa berfikir lama-lama. Mereka bertiga meninggalkan sekolah sebelum bel masuk. Yuna tidak peduli dengan teriakan satpam yang melarangnya untuk pergi. Tapi Hasya, sahabatnya... Jauh lebih membutuhkan mereka saat ini.
Sedangkan di rumah sakit, tangis Hasya tak kunjung reda. Masalah satu saja belum selesai, kini timbul masalah baru... yang membuat semangat hidup gadis itu menghilang.
"Lebih baik aku mati!"
Tatapan Hasya, tertuju pada pisau buah yang ada diatas meja. Tangannya terulur pelan, meraih benda tajam itu yang melambai-lambai ke arahnya.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya