Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Setelah Dirgantara pergi, Senja masuk ke dalam rumah dan menatap Angkasa yang sudah terlelap tidur. Senja langsung menghampiri Angkasa dan mengecup kening anak laki-lakinya itu.
"Maafkan ibu, nak. Meski kamu tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah, ibu janji kasih sayang ibu, akan sepenuhnya untuk kamu."
"Jangan kabur-kaburan lagi kayak tadi. Ibu jadi cemas dan takut. Hanya kamu yang ibu punya di atas dunia ini." Lirih Senja pelan dengan berlinang air matanya.
Tanpa sadar Angkasa membuka matanya dan menatap ibunya yang menangis. Dia kemudian langsung duduk dan memeluk ibunya.
"Ibu jangan nangis. Angkasa janji gak kan nakal lagi, asal ibu gak nangis kayak gini lagi." Angkasa pun ikutan menangis.
"Kamu tadi kemana nak?" Tanya Senja.
"Angkasa hanya ingin cari kuburan ayah Angkasa. Agar tak ada yang hina Angkasa dan bilang Angkasa anak... "
Senja langsung memeluk anaknya lagi agar anaknya tak melanjutkan ucapannya.
" Angkasa gak perlu dengar ucapan mereka. Angkasa anak ibu yang pintar, baik dan sempurna. Mereka hanya iri sama kamu, dan bicara tak baik tentang kamu."
"Kamu paham kan?"
"Paham Bu." Angkasa mengangguk.
"Sekarang kamu tidur lagi. Besok sekolah kan?"
" Iya Bu.. "Angkasa mengangguk dan kembali tidur ke atas kasur sederhana tersebut.
***
Seperti kemaren, Senja sudah mengantarkan Angkasa ke sekolah lalu pergi ke kantor. Dia cukup lega karena Angkasa sudah kembali ceria seperti hari biasanya. Dan dia juga melarang Angkasa untuk bermain dengan teman-temannya yang suka menghina dan berbicara kasar.
" Senja.. Hari ini kita tim pemasaran kayaknya harus ke lapangan dan nyebarin brosur sambil promo pruduk popok terbaru kita. "Ucap Nia yang sudah bersiap-siap.
"Sekarang mbak?"
"Iya Senja. Ayo bersiap-siap."
" Baik, mbak."Ucap Senja kembali merapikan meja kerjanya dan menyusul Nia ke ruang persiapan.
Beberapa orang dari tim pemasaran memang akan ke lapangan untuk memperkenalkan produk popok terbaru. Salah satunya yang akan ikut yaitu Senja.
Saat senja baru keluar dari lift bersama tim yang lain,mereka malah bertemu Dirgantara yang baru datang.
"Kalian mau pergi sekarang?" tanyanya,namun sorot matanya jelas ke arah Senja.
" Iya,pak!"jawab Nia.
" Saya akan ikut."Ucapnya lagi.
" Bapak yakin? Nanti bapak akan panas-panasan loh."Ucap Nia lagi.
" Gak masalah." Dirgantara terlihat begitu santai dan tak mempermasalahkan nanti kepanasan atau tidak.
"Bapak naik mobil sendiri atau satu mobil d dengan kami?" Tanya Nia lagi.
"Saya satu mobil dengan kalian saja."
"Hah?" Para karyawan di tim pemasaran pun saling menatap tak percaya.
"Yaudah kalau gitu,kita berangkat sekarang." Ucap Nia agar yang lainnya tak canggung.
Dirgantara pun satu mobil dengan Senja dan karyawan yang lainnya. Bahkan bus mini sederhana tersebut cukup panas dan sempit.
Mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah taman. Setelah turun dari mobil,mereka pun membawa perlengkapan ke stan yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
"Senja..kamu mau bagian yang bawa acara atau apa?" Tanya Nia menyusun brosur yang siap dibagikan.
" Aku bagian nyebarin brosur aja,mbak."
" Kamu yakin? Ini cuaca panasnya full loh."
"Gak apa-apa,mbak. Aku sudah sering kerja ke lapangan dan panas-panasan kayak gini."
" Yaudah..ini brosurnya. Kamu bisa bagikan sekarang." Ucap Nia menyerahkan satu pack brosur ke Senja.
Setelah menerima brosurnya,Senja langsung pergi membagikannya.
Sementara itu, Dirgantara yang duduk di stan terus menatap Senja yang berpanas-panasan menyebarkan brosur. Bahkan sesekali Senja ngelap dahinya yang basah karena keringat.
" Sudah jelas panas kayak gini,malah gak pakai topi."gumam Dirgantara kesal sendiri.
Merasa tak tenang melihat Senja seperti itu, Dirgantara akhiran berdiri dan berjalan ke arah penjual payung. Diapun membeli payung yang cukup besar dan setelah itu menghampiri Senja.
" Bapak mau ngapain?" Senja sedikit terkejut tiba-tiba Dirgantara malah memayunginya.
"Saya orangnya gak tegaan. Jadi lihat kamu kayak gini,hati kecil saya langsung terketuk dan memayungi kamu!" ujar Dirgantara membuat Senja kebingungan. Mana banyak yang melihat mereka.
"Pak..gak ada orang yang lagi brosur dipayungi kayak gini."
" Ada..kamu orangnya!" Dirgantara masih berdiri di samping Senja sambil memayunginya.
Karyawan yang lainnya pun saling berbisik melihat tingkah Dirgantara.
"Mbak Nia..aku yakin ada sesuatu di antara pak Dirgantara dan Senja." Ucap salah satu karyawan.
"Ssstttt jangan mikir yang aneh-aneh. Bisa saja pak Dirgantara memang perhatian gitu ke karyawannya." Nia masih berfikiran positif.
" Kenapa pak Dirgantara gak memayungi Ruli juga? Mengapa harus Senja seorang?"
"Iya juga ya??" Nia pun juga jadi ikutan curiga.
"Tapi aku malah mengira Senja itu ada sesuatu dengan pak Sean." Ucap Nia lagi.
"Wah..jadi cinta segi berapa itu ya mbak?" Nia dan karyawan yang tadi pun tertawa bareng.
-
-
"Nih minum dulu!" Dirgantara menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dia buka tutupnya ke pada Senja.
" Makasih pak." Jawab Senja mencoba tersenyum meski sedikit tak nyaman dengan tatapan yang lainnya.
Saat ini mereka lagi istirahat di stan.
" Kalian mau makan apa?" Tawar Dirgantara.
"Apa aja deh pak." Sahut Ruli semangat.
" Yaudah aku pesenin kalian makanan dulu." Dirgantara kemudian mengetik sesuatu di ponselnya.
Tak lama kemudian makanan pun datang. Karena para karyawannya tak bilang ingin pesan apa,jadi dia memutuskan pesan makanan satu jenis saja. Dirgantara memesan nasi goreng seafood.
" Senja..ini untuk kamu!'Ucap Nia memberikan sebungkus nasi goreng.
" Makasih mbak." Senja yang sudah lapar langsung membukanya dan menyantapnya. Dia tak sadar kalau itu nasi goreng seafood dan dia alergi dengan seafood.
Beberapa menit setelah menghabiskan nasi goreng tersebut,Senja mulai merasakan agak lain pada tubuhnya. Dia mulai merasa gatal di seluruh tubuhnya. Wajahnya pun terasa panas.
" Senja..wajah kamu kok memerah dan ada bentol-bentolnya?" Ruli menatap perubahan di wajah Senja.
" Aku juga gak tau."lirih Senja mulai kerajaan tenggorokan nya terasa terbakar dan susah bernafas.
" Senja..kamu kenapa?" Ruli panik dan berteriak sehingga yang lainnya menghampiri Senja.
"Senja..Senja.." panggil Nia panik menatap Senja.
Dirgantara yang baru kembali dari toilet bergegas menghampiri mereka.
"Ada apa?" tanyanya heran.
"Itu pak,kayaknya Senja alergi sesuatu." ucap karyawannya.
Dirgantara bergegas menghampiri Senja dan menatap Senja yang wajahnya memerah dan lemah.
"Kamu kenapa Senja?"
" Sepertinya Senja alergi sesuatu pak. Setelah makan nasi goreng,dia jadi kayak gini."jawab Nia panik.
" Kamu bukakan pintu mobil. Biar saja yang bawa dia ke rumah sakit." Dirgantara langsung menggendong Senja dan membawanya ke dalam mobil.
"Kalian gak usah panik. Kalian lanjutkan pekerjaan ini semua. Senja biar saya yang jaga." Ucap Dirgantara dan melajukan mobil sekencang mungkin menuju rumah sakit atau klinik terdekat.