Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Baru
"Gimana sekolahnya tadi?" Tanya Senja ke Angkasa yang sibuk menggambar.
"Asyik, Bu. Angkasa sudah banyak teman. Buk Dina juga baik banget." Jawab bocah tersebut antusias.
"Ibu ikutan senang, kalau anak ibu senang."
"Bu .." Ucap Angkasa menatap wajah Senja.
"Ada apa sayang?"
"Kata teman Angkasa, kalau Angkasa sudah gak punya ayah, ibu bisa carikan Angkasa ayah baru."
"Memangnya Angkasa mau ibu direbut orang lain?" Senja pun melontarkan nada candaan ke anaknya. Meski sebenarnya hatinya cukup mencelos mendengar ucapan anaknya.
"Gak mau. Cuma Angkasa kasihan sama ibu. Ibu capek-capek kerja untuk kita."
" Karena itu memang tugas ibu. Tugas kamu, sekolah yang rajin, biar kelak kamu sukses dan baru deh ibu bisa berhenti kerja."
"Iya, Bu. Angkasa akan belajar dan nanti bisa bahagiakan ibu."
Senja tersenyum menatap anaknya. Kesalahan dalam dirinya yaitu membuat Angkasa tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Jika saja dia tak berbuat salah, maka anaknya tak akan lahir sebagai anak tanpa wali.
**
Kegiatan Senja subuh-subuh begini menyiapkan bekal yang akan dibawa Angkasa ke sekolah. Untungnya soal permasalahan bekal, Senja sudah cukup handal. Menyiapkan bekal dengan gaya-gaya kekinian, agar nanti Angkasa semangat sekolahnya.
Setelah semuanya selesai, Senja membangunkan Angkasa dan memandikannya lalu mengganti seragam sekolahnya.
Ketika Angkasa sarapan, Senja pun akhirnya juga bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Seperti kemaren, Senja akan mengantarkan Angkasa dulu ke sekolah baru setelah itu dia berangkat kerja. Meski dia harus memutar jalan, baginya tak apa. Karena untuk pagi-pagi begini, mood anak kecil akan sering berubah, jadi Senja memilih menyenangkan mood anak nya dulu dipagi hari, sehingga nanti Angkasa semangat untuk belajarnya.
Setelah mengantarkan Angkasa ke sekolah,Senja kemudian pergi ke perusahaan. Di depan lift dia sudah berdiri menunggu lift terbuka. Tak berselang lama lift terbuka dan Senja masuk.
Saat pintu lift akan tertutup Dirgantara menghentikannya dan ikutan masuk ke dalam,siapa sangka di belakangnya juga ada Sean. Dan sekarang di dalam lift ada Senja,Sean dan Dirgantara.
Senja memilih berdiri dibelakang mereka berdua. Meski isu permusuhan antara Sean dan Dirgantara sudah menjadi rahasia umum,namun Senja masih penasaran. Apalagi melihat ekspresi mereka berdua yang sama-sama dingin.
Tiba-tiba Dirgantara mundur dan berdiri tepat di samping Senja.
"Senja ... Kamu terlihat cantik pagi ini." Godanya tiba-tiba.
"Hah?" Jelas Senja terkejut dengan sikap Dirgantara yang tiba-tiba seperti ini.
Dirgantara pun merangkul Senja.
"Kamu belum cerita, apa saja yang kamu obrolin dengan mama aku kemaren?"
"Pak!" Tegur Senja melepaskan tangan Dirgantara di bahunya.
"Kenapa Senja? Kamu malu sama pak Sean?".
Sean yang berdiri di depan mereka, mengepalkan tangannya. Meski sudah tak bertemu enam tahun dengan Senja, namun dia hafal betul dengan sifat Senja. Senja bukan tipe wanita yang begitu mudah dekat dengan pria lain, apalagi mudah di rayu laki-laki. Bahkan saat itu Sean yang begitu mengejar-ngejar Senja, sampai akhirnya Senja luluh dan menerimanya.
"Pak Dirgantara, anda.." Senja mulai mengerti dengan sikap Dirgantara yang seperti ini. Dia sengaja mau memanas-manasi Sean. Apalagi Dirgantara sudah tau dengan hubungan masa lalu mereka.
"Kalau anda ingin menggunakan saya demi tujuan anda, Anda salah!" Ujar Senja tegas.
"Antara pak Sean dan saya sudah tak punya hubungan apapun. Dengan cara apapun anda menggoda dia, dia tak akan marah atau kesal. Karen apa.. karena saya hanya masa lalunya. Sedangkan dia juga sudah punya pasangan!" Sambung Senja, tepat dengan pintu lift terbuka. Senja buru-buru keluar dengan perasaan kesal.
"Dasar laki-laki sinting!" Gumam Senja yang masih bisa di dengar Dirgantara.
Dirgantara yang di dalam lift tersenyum licik menahan Sean agar tak keluar dan membiarkan pintu lift kembali tertutup.
"Dirgantara!" tegur Sean.
"Ada apa Sean, kamu terlihat kesal dan marah." Ucapan Dirgantara santai, namun jelas dia sedang memancing Sean.
" Urusan kamu dan aku, tak ada hubungannya dengan Senja!" Ucap Sean menatap tajam Dirgantara.
" Aku tau! Namun apa salahnya kalau aku ada hubungan dengan Senja? Dia singgel dan aku juga. Apalagi aku sudah memperkenalkan dia dengan mama aku."
"Dirgantara!!" Sean tersulut emosi memegang krah kemeja Dirgantara.
Sementara Dirgantara bukannya marah, tetapi malah puas melihat reaksi Sean yang seperti ini!
"Aku peringatkan, jangan kamu ganggu Senja. Dia dan anaknya tak ada hubungannya dengan ini semua!" Tegas Sean.
Dirgantara melepaskan tangan Sean di krah bajunya.
"Tentu saja ada hubungannya dengan anak Senja. Karena anak itu adalah anak kamu!" Dirgantara langsung terkekeh.
"Tapi kamu tenang saja. Aku tak akan melakukan apapun kepada darah dagingmu itu. Cuma ... Aku tau harus menggunakan anak itu untuk apa nanti!" Lanjut Dirgantara dan keluar dari lift.
Sean terlihat kesal. Dia terus mengepalkan tangannya. Dia takut Dirgantara punya rencana licik dan menggunakan Angkasa nantinya. Sebenarnya dia tak peduli dengan jabatan dan harta ini jika memang mau diambil Dirgantara. Baginya dia hanya ingin mengabulkan permintaannya Senja, agar hidup tenang dengan Angkasa.
***
Dengan perasaan tak tenang,Sean memilih tak jadi masuk kantor. Dia bergegas ke sekolahannya Angkasa. Sebelumnya dia sudah meminta Dina agar membuat dirinya bisa bertemu dengan Angkasa tanpa memberitahu Senja.Karen kalau Senja tau,pasti dia tak akan mengizinkan dirinya bertemu Angkasa.
Sean saat ini menunggu di ruangannya Dina. Dia begitu antusias ingin mengajak Angkasa bermain,meski hanya sebentar saja.
Tak lama kemudian Dina datang membawa Angkasa. Untungnya ojek langganan yang menjemput Angkasa sedang rusak motornya dan lagi di bengkel.
"Om tampan.." ucap Angkasa menatap Sean yang duduk di dalam ruangan Dina.
Sean langsung berdiri dan memeluk Angkasa.
"Om kangen sama kamu." lirih Sean.
"Pasti om kangen anaknya ya? Makanya om mau ketemu Angkasa." Ucap Angkasa polosnya membuat Dina tersenyum. Namun ada rasa sedih melihat Sean yang harus menjadi orang lain di depan anaknya sendiri.
"Kalian aku tinggal dulu. Aku ada urusan di kelas." Ucap Dina memberikan ruang untuk Sean dan Angkasa.
"Thanks Din.." Ucap Sean.
"Iya." Angguk Dina kemudian pergi duluan.
"Bagaimana sekolahnya tadi?" Tanya Sean mengangkat tubuh Angkasa dan duduk di patas pahanya.
"Senang,om." Jawab Angkasa.
"Angkasa sudah punya banyak teman. Angkasa belajar angka,huruf,mengambar dan bercerita." Oceh bocah laki-laki itu.
" Syukurlah..Om senang mendengarnya." Ucap Sean tersenyum haru mendengar cerita Angkasa .
"Om.." ucap Angkasa dengan wajah serius menatap Sean tiba-tiba.
"Ada apa Angkasa?" Sean penasaran dengan maksud tatapan Angkasa.
" Om ..Ayah Angkasa kan sudah di surga. Kat teman-temannya Angkasa, Angkasa bisa cari ayah baru. Om mau gak jadi ayah barunya Angkasa?" Tanyanya polos.
Mata Sean langsung berkaca-kaca. Dia memeluk erat Angkasa.
"Aku ayahmu,nak. Kamu tak perlu ayah baru. Ada aku." Lirih Sean dalam hati.