NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SainganKu Dokter

...***************...

Pagi ini aku bersiap ke kantor seperti biasa.

Kemeja kusetrika rapi. Sepatu kupakai tanpa tergesa. Aku menarik napas panjang sebelum keluar kamar. Tinggal beberapa hari lagi aku pulang ke Bandung.

Kalimat itu terasa seperti jeda. Seperti ada garis akhir kecil yang membuat semuanya lebih ringan.

Linda?

Ah, sudahlah. Abaikan saja.

Aku harus tetap profesional.

Setiba di kantor, suasana masih belum terlalu ramai. Beberapa staf sudah duduk di meja masing-masing.

Dan seperti yang sudah kuduga Linda sudah sampai lebih dulu. Ia berdiri di dekat meja, memeriksa sesuatu di ponselnya.

Blazer warna hijau botol yang dikenakannya terlihat rapi, dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambutnya tertata. Wajahnya tenang.

Tenang… atau pura-pura tenang. Aku tidak berhenti. Tidak menyapa berlebihan.

Tidak juga menghindar.

“Hai,” ucapku singkat saat melewatinya.

Ia menoleh.

“Hai.”

Hanya itu.

Tidak ada nada tinggi. Tidak ada mata sembab. Tidak ada drama.

Aku masuk ke ruang live.

Lampu dinyalakan.

Mic dipasang.

Brief rundown dibuka.

Dengan kesadaran penuh, tanpa banyak pikiran liar, aku duduk di kursiku seperti biasa.

Hari ini bukan tentang perasaan.

Hari ini tentang pekerjaan.

Saat kamera menyala, aku berbicara seperti biasanya. Nada stabil. Gestur terukur.

Sesekali kami saling menimpali seperti host profesional.

Tidak canggung.

Tidak juga hangat.

Hanya… cukup.

Dan di tengah siaran itu, aku sadar ternyata aku bisa. Bisa duduk di samping seseorang yang pernah sangat dekat, tanpa harus runtuh.

Bisa berbicara normal, tanpa harus membenci.

Bukan karena rasa itu hilang sepenuhnya.

Tapi karena aku memilih untuk tidak membiarkannya menguasai diriku.

Hari ini berjalan seperti biasa.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Dan mungkin…inilah bentuk kedewasaan yang paling sunyi.

Setelah selesai live, aku keluar dari ruang siaran tanpa banyak bicara. Aku langsung bergabung dengan tim konten. Brief singkat.Ambil footage.

Revisi skrip. Ulang take beberapa kali.

Hari itu benar-benar ku habiskan untuk bekerja.

Tidak ada obrolan di luar pekerjaan dengan Linda.

Tidak ada tatapan yang perlu dijelaskan.

Jika pun kami saling bicara, hanya seperlunya.

“File-nya sudah masuk?”

“Sudah.”

“Rundown besok kirim ya.”

“Iya.”

Sesederhana itu. Dan anehnya, aku merasa lebih ringan.

Sore pun tiba.

Aku keluar kantor tanpa menoleh ke belakang.

Langit sudah mulai redup, matahari turun perlahan.

Mobil putihku melaju meninggalkan parkiran.

Entah sejak kapan, arah setir ku terasa otomatis menuju satu tempat.

Rumah Hana.

Di pinggir jalan, aku melihat penjual buah.

Tumpukan jeruk, apel, dan anggur tersusun rapi di bawah lampu gantung kecil.

Aku menepi.

“Jeruknya manis, Bang?” tanyaku.

“Manis, Pak. Baru datang pagi tadi.”

Aku memilih beberapa kilo. Tambah apel.

Sedikit anggur untuk anak-anak. Bukan sesuatu yang mahal. Tapi entah kenapa aku ingin membawa sesuatu.

Mungkin karena kemarin aku melihat Dimas makan dengan lahap. Mungkin karena Loly terlihat suka buah potong. Atau mungkin… karena aku mulai merasa nyaman datang ke rumah itu.

Kantong plastik berisi buah ku taruh di kursi samping. Mobil kembali melaju. Sambil menyetir, pikiranku sempat bertanya

apa ini sekadar membantu?

Atau aku mulai mencari alasan untuk datang?

Aku tersenyum kecil pada diri sendiri.

Ah, sudahlah. Untuk saat ini,

aku hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja.

Dan mungkin… itu saja sudah cukup. Aku mematikan mesin mobil.

Lampu garasi rumah Hana menyala terang.

Di dalamnya sudah ada dua mobil. Satu milik Hana.

Berarti satu lagi milik tamu. Mobilku tak cukup masuk, jadi aku menepi di pinggir tembok samping rumahnya.

Tanganku masih menggenggam setir.

Aku tidak langsung turun.

Siapa yang datang?

Kenapa rasanya seperti aku… tidak diundang?

Padahal aku tidak pernah merasa harus diundang untuk sekadar berkunjung.

Aku menatap rumah itu beberapa detik.

Apakah aku akan mengganggu?

Atau sebaiknya pulang saja?

Ponselku kuambil.

“Ka Loly…”

Pesan terkirim.

Tak lama, balasan muncul.

“Iya om?”

“Ada siapa di dalam?”

“Ini om dokter… namanya aku lupaaaa. Entah siapa. Nanti Loly tanya ya om? Mau Loly tanya sekarang?”

Aku tersenyum tipis membaca polosnya.

“Oh nggak usah, Ka. Nanti aja ya.”

“Udah lama atau baru, Ka?”

“Lumayan om.”

Lumayan.

Berarti bukan cuma mampir sebentar.

Aku menarik napas panjang.

Dokter.

Mungkin ini laki-laki yang semalam diceritakan Hana.

Yang datang membawa barang.

Yang menawarkan masa depan.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Kenapa aku harus gugup?

Aku ini siapa?

Aku hanya… teman.

Tamu.

Bukan siapa-siapa.

Tanganku memegang gagang pintu.

Turun… atau tunggu?

Kalau aku diam di sini terlalu lama, justru terlihat aneh.

Dan kalau aku pulang, itu berarti aku takut.Aku tersenyum kecil pada diri sendiri. Apa aku sedang cemburu?

Ah,Konyol.

Aku mengambil kantong buah di kursi samping.

“Sudahlah,” gumamku pelan.

Aku juga tamu.

Dan kalau hatiku bergetar hanya karena ada laki-laki lain di dalam rumah itu. mungkin aku perlu jujur pada diriku sendiri. Pintu mobil kubuka. Langkahku turun perlahan. Entah apa yang akan kutemui di dalam sana.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Hana dari balik pintu.

Pintu memang sudah sedikit terbuka.

“Ka… eh,” ia tersenyum kecil, sedikit terkejut.

“Kupikir siapa. Duduk, Ka. Aku panggil mbak buat bikinin teh ya, atau mau minum apa?”

“Air putih dingin aja, Han,” jawabku.

“Anak-anak mana? Aku bawa buah-buahan nih.”

“Oh iya,” katanya cepat.

“Aku panggil bentar ya.”

Hana melangkah ke dalam.

Tak lama kemudian, tiga anak itu berlari menghampiriku. Mata mereka langsung tertuju pada kantong di tanganku.

“Buah!” seru Dimas paling kecil.

Aku tersenyum dan menyerahkan kantong itu.

“Ini buat kalian.”

Loly langsung membuka plastiknya.

“Eh ada anggur!” katanya riang.

“Makasih ya, Om.”

Nada bahagianya sederhana, tapi entah kenapa menenangkan.

“Yang lain nanti dibagi rata ya,” kataku sambil mengusap kepala Dimas.

Mereka mengangguk serempak, lalu duduk di karpet sambil sibuk sendiri dengan buah-buahan itu. Aku menoleh ke dalam ruangan.

Di sana, seorang laki-laki duduk di sofa.

Rapi.

Tenang.

Posturnya tegak.

Seorang dewasa yang jelas tahu dirinya.

Hana mendekat ke arahnya.

“Mas,” katanya sopan,

“ini temanku. Namanya Raka.”

Ia lalu menoleh padaku.

“Ka, ini Mas Leo"

Hana menyebutkan namanya, seorang dokter.

Kami saling berdiri. Dan saling menjabat tangan.

Genggamannya mantap. Tatapannya tenang.

Tidak ada sikap berlebihan.

Tidak juga canggung.

Aku duduk di kursi yang agak terpisah.

Hana mondar-mandir sebentar, memastikan anak-anak tenang, lalu kembali ke ruang tamu.

Suasana seketika menjadi… berbeda.

Tidak tegang. Tapi juga tidak sepenuhnya santai.

Aku sadar satu hal. untuk pertama kalinya, aku duduk di rumah itu bukan sebagai satu-satunya laki-laki dewasa di sana.

Dan entah kenapa, perasaan itu terasa asing.

Aku meneguk air putih yang dihidangkan.

Aku beranjak dari kursi itu. Rasanya tidak perlu duduk terlalu lama di ruang tamu dengan suasana yang setengah resmi seperti itu.

Aku menghampiri anak-anak yang sudah duduk melingkar di karpet.

“Om bawa gitar nggak?” tanya Dimas tiba-tiba.

Aku tersenyum kecil.

“Bawa.”

Memang sengaja kubawa dari mobil.

Aku mengambil gitar itu, duduk di lantai bersama mereka. Ku petik pelan satu dua nada.

Anak-anak langsung mendekat.

“Lagu yang kemarin, Om!” pinta Loly.

Aku mulai memainkan lagu anak-anak yang sederhana. Dimas bernyanyi paling keras.

Raihan ikut bersenandung pelan tapi tepat nadanya. Tawa mereka memenuhi ruangan.

Aku tidak menoleh ke arah ruang tamu.

Biarlah. Pak dokter masih duduk di dalam.

Kenapa dia belum juga pulang?

Pertanyaan itu sempat muncul.

Lalu aku tersenyum tipis pada diri sendiri.

Kenapa aku yang harus pergi?

Aku juga tamu. Dan aku datang bukan sembunyi-sembunyi.

Jika ia mau duduk sampai malam, silakan.

Aku pun tak akan pulang hanya karena merasa tersisih.

Adzan Maghrib terdengar dari masjid ujung gang.

Hana menoleh ke arah jam dinding.

“Udah Maghrib,” katanya pelan.

Anak-anak langsung bergerak.

Raihan berdiri lebih dulu.

“Wudhu dulu ya, Bu.”

Tanpa disuruh.

Aku ikut bangkit.

“Aku ke kamar mandi dulu ya, Han,” ucapku singkat.

Ia mengangguk. Di sudut ruang tamu, Leo masih duduk. Ia melirik ke arah kami.

“Mas Leo sholat di sini juga?” tanya Hana sopan.

“Iya, boleh,” jawabnya.

Sajadah digelar. Anak-anak berbaris rapi.

Raihan di belakangku. Loly dan Dimas di saf kedua.

Aku berdiri di depan tanpa banyak bicara.

Bukan karena ingin. Bukan juga karena merasa paling pantas. Tapi karena anak-anak itu menatapku seolah sudah tahu posisinya.

Aku menjadi imam. Takbir pertama terdengar pelan tapi mantap.

“Allahu Akbar.”

Suasana rumah mendadak hening.

Tenang. Aku membaca Al-Fatihah dengan Tartil, ayat demi ayat mengalir tanpa tergesa.

Di belakangku, saf rapat. Aku bisa merasakan kekhusyukan yang jarang kutemui akhir-akhir ini.

Bukan karena aku hebat. Tapi karena rumah itu… hidup dengan sholat.

Selesai salam, anak-anak berdoa sendiri-sendiri.

Dimas mengusap wajahnya lama. Loly menengadahkan tangan dengan khusyuk.

Hana mengaminkan pelan.

Leo berdiri beberapa langkah di belakang.

Ia menyimpan sajadahnya rapi.

Kami saling pandang singkat.

Tidak ada senyum menang.

Tidak ada tatapan kalah.

Hanya pengakuan diam-diam.

Bahwa di rumah itu, ada nilai yang tidak bisa dibeli dengan status, profesi, atau niat baik yang tergesa.

Leo berkata dengan jelas

“Anak-anaknya disiplin sekali.”

Hana tersenyum kecil.

“Almarhum ayahnya tegas soal sholat.”

Aku diam. Leo menoleh ke arahku.

“Mas Raka sering jadi imam?”

Aku mengangkat bahu sedikit.

“Kalau dibutuhkan.”

Jawabanku sederhana.

Tidak merendahkan.

Tidak meninggikan diri.

Leo mengangguk pelan.

Dan di momen itu, aku tahu ini bukan soal siapa yang lebih pantas. Ini soal siapa yang lebih siap.

Hana keluar dari dapur, berdiri sebentar memperhatikan kami.

Wajahnya… lembut.

Entah apa yang ia pikirkan melihat dua dunia berbeda di rumahnya malam itu.

Beberapa saat kemudian ia bersuara,

“Anak-anak, makan malam dulu ya.”

Hana memanggil kami satu per satu.

“Ka… Mas Leo… ayo makan.”

Aku mengangguk pelan dan duduk.

Leo juga bangkit dari ruang tamu dan ikut ke meja makan. Sekarang kami duduk dalam satu meja.

Anak-anak di tengah. Hana di ujung.

Aku dan Leo saling berhadapan.

Suasana hening beberapa detik.

Lalu Dimas memecahnya,

“Om Raka tadi main gitarnya keren banget!”

Aku tersenyum kecil.

Leo tersenyum sopan.

“Bagus ya, main musik,” katanya tenang.

Aku mengangguk.

“Lumayan.”

Tidak ada nada sindiran. Tidak ada sindir-menyindir. Tapi ada sesuatu yang tidak terlihat dua laki-laki dewasa yang sama-sama menjaga sikap.

Dan malam itu, aku sadar… persaingan paling tenang justru yang paling terasa.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!